6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bukan Bentuk Tubuh, Tapi Kesadaran Tubuh – Catatan Guyub Kalangan

Gede Gus Khrisna Bayu by Gede Gus Khrisna Bayu
July 30, 2019
in Esai
Bukan Bentuk Tubuh, Tapi Kesadaran Tubuh – Catatan Guyub Kalangan

Pentas hasil proses Guyub Kalangan di acara Bali Yang Binal yang ke 8.

Guyub Kalangan merupakan proses latihan keaktoran yang diberikan oleh Teater Kalangan. Proses latihannya dilakukan selama sebulan lebih. Latihan yang diberikan merupakan latihan olah tubuh, menonton film, dan membaca buku keaktoran. Proses latihan olah tubuh yang digunakanan berada di Lapangan Puputan Badung. Latihan dimulai pada pukul 18.00 hingga 20.00, proses latihannya hanya 2 jam setiap harinya. Sedangkan menonton film dan membaca buku dilaksanakan di Canasta Creativespace.

Kawan-kawan yang mengikuti guyub ada lima orang yaitu Dedek Surya, Aguk, Jacko, Iin dan tentu saja saya. Awal mula diajak proses Guyub Kalangan yaitu ketika saya mengikuti program Olah yaitu kegiatan melatih menulis naskah yang dilakukan di Canasta. Ketika itu saya bertemu dengan I Wayan Sumahardika atau biasa saya sapa Bli Suma selaku narasumber. Dari pertemuan perdana kami, Bli Suma mengajak saya untuk mengikuti Guyub Kalangan.

Dari mulai saat itu saya bersedia untuk mengikuti proses Guyub Kalangan yang dilakukan selama sebulan. Yang mana setiap hari akan dibagi menjadi menonton film dan latihan olah tubuh. Hari Senin dan Rabu kami mendapatkan jadwal untuk menonton film, kemudian hari Selasa, Kamis, Jumat akan menjadi hari latihan olah tubuh, kemudian hari Sabtu akan menjadi hari diskusi bahan bacaan yang dibagi oleh Bli Suma, dan hari Minggunya pada pagi harinya kami latihan di pantai Sanur. Saya tidak sepenuhnya mengikuti latihan selama sebulan penuh karena ada kegiatan yang tidak bisa ditinggalkan. Jadinya, saya minta izin kepada Bli Suma untuk tidak mengikuti latihan tersebut.

Latihan perdana dilakukan pada tanggal 10 Juni 2019, pada awal pertemuan latihan kami menonton sebuah film yang berjudul “Black”, film India yang diadaptasi dari naskah The Miracle Worker karya William Gibson. Pemeran utama dalam film ini ialah Amitabh Bachchan dengan Rani Mukerji. Film tersebut menceritakan tentang dunia yang dirasakan oleh seorang perempuan bisu, buta, dan tuli. Karena kekurangan yang dimiliki, ia mempunyai dunia yang berbeda dengan orang normal pada umumnya. Dunianya dinamakan black.

Filmnya begitu emosianal sehingga tetesan air mata tidak bisa dibendung oleh kelopak mata sehingga berjatuhan membasahi pipi. Setelah menonton kami berkumpul diruang tamu untuk mendiskusikan apa yang sudah kami tonton tadi. Karena kami baru pertama kali melakukan diskusi ini, saya begitu canggung untuk menyampaikan pendapat saya sehingga saya hanya mendengarkan saja apa yang disampaikan teman-teman. Ketika saya menyampaikan pendapat saya begitu terbata-bata dan malu untuk mengatakannya.

Ternyata teman-teman mempunyai pendapat yang begitu beragam sehingga saya mulai memikirkan pendapat dari teman-teman yang lain. Hal yang saya dapatkan dari diskusi tersebut ialah hal-hal yang tidak pernah saya pikirkan yang kemudian membuat saya ingat pada hal-hal yang lebih detail lagi.

Kemudian kami menonton film “Pina”. Film ini adalah film documenter tentang Pina Bausch, seorang seniman tari kontemporer Jerman. Karya-karyanya kerap menggunakan Bahasa tubuh untuk menyampaikan pesan yang ingin disampaikan. Selanjutnya, kami juga menonton film “The Man Without A Past”. 

Film ini begitu aneh bagi saya karena mmiliki tempo yang flat. Tidak ada konflik yang dipermasalahkan begitu berat. Setiap konflik hanya ditanggapi dengan kondisi apa adanya. Tidak ada tekanan terhadap setiap konflik sehingga menghadirkan cerita yang begitu detail untuk diperhatikan dan menuntut para penonton untuk merasakan ketegangan yang dirasakan oleh tokoh di dalam benak pribadi.

Latihan olah tubuh yang diberikan oleh Bli Suma dimulai dengan melakukan pemanasan mengitari trek joging lapangan puputan sambil berlari. Yang menarik dari Bli Suma yaitu sebelum latihan, kami akan duduk melingkar di dekat joging trek. Bli Suma kemudian  menanyakan apa yang kami rasakan ketika kami duduk. Saya yang baru pertama kali ditanyakan seperti itu langsung saja menjawab apa yang saya rasakan pada waktu itu.

Yang saya rasakan ialah suasana yang kelam. Langit yang mendung namun tidak hujan dan hembusan angin yang lumayan dingin. Setelah ditanyakan, kami kemudian berdoa dan setelah itu saya dan teman-teman lari mengitari trek joging. Barang-barang kami dijaga oleh Bli Suma di tempat kami memarkirkan motor kami. Awalnya kami hanya berlari selama 5 menit akan tetapi pada hari selanjutnya kami diminta berlari selama 10 menit.

Setelah berlari, kami akan pergi ke lapangan. Adapun latihan selanjutnya adalah latihan yang diadaptasi dari metode A Beat oleh Anwari, seorang seniman teater dari Madura yang dimulai dari Soka 1, 2, 3, dan 4. Pada metode Anwari kami latihan selama 10 menit setiap Soka. Metode ini berfokus terhadap respon tubuh dan pernafasan. Yang dimaksud tubuh ialah pikiran, badan, dan perasaan.

Metode ini melatih kita untuk fokus, konsentrasi dan sadar terhadap pernafasan. Melatih kekuatan badan agar selalu tegap dan siap. Kemudian melatih perasaaan untuk siap melakukan latihan. Saya baru pertama kali mengikuti latihan semacam ini. Hal yang saya rasakan pada awalnya lumayan campur aduk dimana pada saat itu konsentrasi sangat dibutuhkan sedangkan pada diri saya, saya susah berkonsentrasi. Jadi, pada latihan soka ini saya belum bisa melakukan dengan baik sehingga masih harus berlatih lagi.

Memang latihan ini sangatlah melelahkan. Kita harus fokus pada latihan. Apalagi kita akan terus mengulangi soka 1 terus menerus selama 10 menit. Dimana soka 1 harus lari sekencang-kencangnya ditempat, kemudian jatuh menyamping dan kemudian berdiri lalu berlari lagi. Itu sangat membutuhkan pernafasan dan tenaga kuat pada tumpuan yang tepat. Bli Suma selalu mengingatkan kita untuk memberikan tenaga ke setiap gerakan dan selalu siaga terhadap tubuh kita.

Selain melatih tubuh, soka 1, 2, 3, dan 4 juga melatih pernafasan. Setiap melakukan soka pastilah pernafasan yang paling utama. Dibutuhkan pernafasan yang setabil untuk memompa tenaga agar bisa mengulang-ulang gerakan soka. Oh, iyaa, kesadaran tubuh juga dilatih didalam metode Anwari ini dimana kita harus sadar terhadap tangan, kaki, kepala, dan badan. Untuk kepala kita harus sadar dan fokus memandang ke arah depan.

Pada metode ini tangan juga penting untuk menyeimbangkan badan dan menambahkan tenaga di setiap soka. Kaki menjadi hal yang harus disadari karena setiap metode menggunakan kaki sebagi tumpuan. Saya pernah mengalami tidak sadar terhadap kaki yang membuat saya susah melakukan metode soka tersebut. Tenaga yang dihasilkan menjadi tidak seimbang sehingga saya kewalahan dalam melakukan soka.

Setelah mengikuti latihan, hal yang saya dapatkan ialah ketegapan badan. Saya merasakan perubahan pada badan saya. Dalam hal kesadaran, sebelum melakukan latihan badan saya terasa tidak ada ketegangan alias tidak ada kesadaran di dalam setiap anggota tubuh dalam melakukkan kegiatan. Setelah latihan, badan saya berasa lebih hidup dan lebih dirasakan.

Selain latihan Metode Anwari, kami juga latihan ngukur tubuh yang diadaptasi dari metode latihan Ibed Surgana Yuga, seniman teater dari Jogja. Dimana latihan ngukur tubuh ini bertujuan untuk mengenal anggota badan kita. Awalnya saya tidak mengerti apa yang dimaksud dengan ngukur tubuh ini. Setiap melakukan ngukur tubuh, yang saya rasakan hanyalah kebingungan sehingga saya tidak mendapatkan apa-apa dari ngukur tubuh ini.

Namun setelah melakukannya berulang-ulang dan mendapatkan momennya, saya menjadi mengerti apa yang dimaksud dengan ngukur tubuh ini. Ketika kita mengukur tubuh, kita berdialog dengan tubuh kita, mengenal siapa saja anggota badan kita sehingga saya lebih akrab lagi dengan badan saya. Saya menjadi lebih sadar lagi terhadap badan saya. Saya bisa menumpu pada posisi yang saya inginkan karena sudah akrab dengan badan saya. Namun saya masih perlu belajar lagi agar bisa lebih menyadari tubuh saya.

Latihan berakhir pada tanggal 14 juli 2019, dimana kami mempresentasikan hasil proses Guyub Kalangan di acara Bali Yang Binal yang ke 8. Saya berserta teman-teman melakukan gerakan abstrak mengikuti alunan lagu band Cassadaga yang bergendre Rock.

Ini pengalaman yang sangat menarik karena baru pertama kali ini saya mencoba teater menggunakan gerak tubuh. Bli Suma selalu bilang bukan bentuk yang dicari melainkan kesadaran terhadap tubuh itu. Sadar terhadap nafas, sadar terhadap anggota tubuh, dan sadar terhadap pikiran. [T]

Tags: Canasta Creative SpacedenpasarTeaterTeater KalanganTubuh
Share17TweetSendShareSend
Previous Post

Seleksi Pemuda Pelopor Provinsi Bali, Sebuah Catatan dan Refleksi…

Next Post

Film Kartun Berimajinasi Tinggi dan Kekerasan Berkarakter Lucu, Apakah Cocok Ditayangkan untuk Anak-anak?

Gede Gus Khrisna Bayu

Gede Gus Khrisna Bayu

Nama Panggilan De Gus. Mahasiswa Jurusan Peternakan Universitas Udayana. Pertama kali berproses di Teater Orok. Mulai serius menekuni teater di Teater Kalangan.

Related Posts

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
0
Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

Read moreDetails

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

Read moreDetails

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
0
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

Read moreDetails

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

Read moreDetails

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
0
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

Read moreDetails

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
0
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

Read moreDetails

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

Read moreDetails

Suryak Siu

by Dede Putra Wiguna
March 2, 2026
0
Suryak Siu

DALAM bahasa Bali, ‘suryak’ berarti bersorak dan ‘siu’ berarti seribu. ‘Suryak siu’ secara harfiah berarti ‘sorakan seribu’ ─ gambaran tentang...

Read moreDetails

Konflik Iran dan Ujian Kedewasaan Diplomasi Indonesia

by Elpeni Fitrah
March 2, 2026
0
Refleksi di Hari Media Sosial Nasional

SAYA menulis ini pada Minggu, 1 Maret 2026, tepat sehari setelah dunia dikejutkan oleh serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel...

Read moreDetails

Tatkala Duta Pariwisata Indonesia Mengulik Bali

by Chusmeru
March 1, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MENJELANG tutup tahun 2025 jagat media sosial diramaikan dengan unggahan video yang mengabarkan Bali sepi wisatawan. Langsung saja memicu perdebatan....

Read moreDetails
Next Post
Film Kartun Berimajinasi Tinggi dan Kekerasan Berkarakter Lucu, Apakah Cocok Ditayangkan untuk Anak-anak?

Film Kartun Berimajinasi Tinggi dan Kekerasan Berkarakter Lucu, Apakah Cocok Ditayangkan untuk Anak-anak?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co