25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Teater, Megalitikum dan Diri – Renungan dari Sebuah Candi Batu di Tejakula

Agus Noval Rivaldi by Agus Noval Rivaldi
July 11, 2019
in Esai
Teater, Megalitikum dan Diri – Renungan dari Sebuah Candi Batu di Tejakula

Repertoar Hari Megalitikum di Tejakula

Hari menjelang sore, matahari tepat berada setara dengan mata saat memandang lurus. Saya sedang duduk di pinggir pantai, suara deburan ombak saling kejar-kejaran. Angin sepoi-sepoi, bau amis air laut menyengat ke hidung.

Di belakang saya tepat ada candi berbentuk kubus kira-kira tingginya 10 meter, dan ada beberapa anak tangga di tengahnya. Tepat di depan candi ada tugu penyu, dan di sekitarnya ada batu-batu besar berukuran genggaman tangan sampai sebesar kepala.

Saat itu, Jumat 5 Juli 2019, saya sedang berada di desa sebelah timur kota Singaraja, yaitu Desa Tejakula. Dari kota Singaraja menuju Desa Tejakula kurang lebih 45 menit perjalanan menggunakan motor.

Ada acara yang sangat kecil sedang berlangsung di sana, acara memperingati peradaban megalitikum sedunia, saya tidak tau pasti apa arti peradaban megalitikum tersebut. Tapi sempat dijelaskan sedikit oleh Ibed Surgana Yuga atau yang sering saya akrab memanggilnya Bli Ibed, dia menjelaskan bahwa memperingati peradaban megalitikum tersebut adalah seperti menghormati sebuah fenomena alam berbentuk batu besar.

Hari itu adalah perayaan peradaban megalitikum sedunia, yang tentunya tidak hanya diperingati di Indonesia saja.


Repertoar kecil dalam peringatan Hari Megalitikum Sedunia di Tejakula

Tapi saat berangkat ke Tejakula saya malah tidak mengetahui hal tentang tersebut, karena awalnya saya mendatangi acara itu berawal dari ajakan teman teater saya. Katanya sih hanya sekedar pentas repertoar kecil saja. Saat sampai di sana baru saya mengetahui hal tersebut.

Saat acara berlangsung kebetulan juga kedatangan salah satu maestro tari Bali bernama Ibu Putu Menek, kebetulan juga beliau sedang menjadi salah satu maestro yang dipilih dalam program Kemendikbud bernama BBM (Belajar Bareng Maestro). Para pesertanya adalah siswa SMA-SMK sederajat yang kebetulan menggulati kesenian. Dan mereka juga berasal dari berbagai daerah di Indonesia seperti Lampung, Aceh, Maluku dan berbagai propinsi lainya.

Acara berlangsung sangat sederhana, hanya mementaskan repertoar kecil atau bisa dikatakan seperti hasil persentasi belajar. Dan itupun dilakukan karena kemauan sendiri saja, tanpa ada paksaan.

Karena kalau kita lihat juga pada era kesenian saat ini. Jarang sekali ada ruang yang seperti ini, sangat sederhana apalagi di daerah terpencil. Tak ada undangan pasti, tak ada lebel penonton pasti. Banyak juga latar belakang berbeda pada acara kali ini, ada penari, aktor bahkan pemusik sekalipun bergabung secara suka-suka disini.

Sepertinya misalnya saya, yang datang ke acara ini menggunakan kaca mata saya sebagai aktor. Banyak sekali pengalaman yang saya dapatkan di ruang seperti ini, ketika saya disadarkan oleh perkataan dari Bli Ibed.

“Pada biasanya ketika menjadi seorang perform pasti langsung belajar atau mencari contoh bentuk tarian atau apapun di internet seperti youtube, Instagram, atau facebook. Coba sesekali sekarang kita mencari contoh dari alam sekitar. Karena orang-orang tradisi dulu belajarnya langsung dari alam”.

Setelah mendengar perkataan seperti itu, saya membayangkan diri saya seperti orang yang sangat patut diprihatinkan. Jauh dari kota yang serba cepat, tak ada bising suara motor dan klakson. Tak ada bau polusi kendaraan, tak ada lagu disko, tak ada internet. Dan hanya mendengarkan suara deburan ombak, dan angin yang sepoi-sepoi berhembus dari laut ke daratan.

Saya seperti menjadi aktor yang sangat kedap suara, jauh dari label penonton jauh dari interpretasi sutradara hanya sendiri dalam keramaian yang mencoba mencari sebuah maksud dan contoh dari alam.

Saya seperti menemukan suatu perasaan yang sangat nyaman, benar-benar merasa sangat mencari sesuatu dan diberikan ruang untuk melepas penat. Apalagi setelah acara bergerak bebas ada acara sharing atau sedikit berbagi cerita dari Bu Menek, dia bilang bahwa belajar tari itu tidak mudah dan perlu intensitas dan keinginan yang besar di manapun dan kapanpun. Tidak hanya saat latihan tari saja, tapi seberusaha mungkin untuk memliki kesadaran sebagai penari.


Maestro Tari Ni Luh Menek bersama peserta Belajar Bersama Maestro (BBM)

Saya menarik obrolan tersebut ke dalam persepektif keaktoran saya. Bahwa benar bagi saya, perasaan-perasaan yang diperlukan saat mempersiapkan pentas atau memainkan suatu peran harus ada perasaan yang kita perlihatkan untuk memainkan peran. Dan itu saya rasa tidak bisa di dapatkan hanya sekedar menonoton pentas teater di Youtube saja.

Seperti contoh yang diberikan Bu Menek teknis kecil saat menjadi penari Bali, ada istilah nyeledep mata. Kalau kita melihat contoh tersebut di youtube bentuk hanya memelototkan mata tanpa tau dari mana asal dan motivasinya. Tapi kalau dari kata Bu Menek dia malah memperumpamakan nyeledet-kan mata itu ibarat kita memarahi anak kecil berumur 5 tahun yang sedang bermain api. Memang ada perasaan yang hebat ketika saya membayangkan.

Saya jadi mencoba menafsirkan sendiri apa yang dicontohkan tersebut, bahwa semisal saya kebutuhanya menajadi aktor teater, semisal semacam merekam semua perasaan yang sewaktu-waktu dibutuhkan untuk naskah. Atau mencari perasaan ketika kita berhadapan dengan naskah.

Saya menemukan perumpamaan itu ketika di jalan menuju pulang dari Desa Tejakula menuju Denpasar. Saya melewati wilayah Kintamani, saat tepat di Desa Batur angin sangat kencang saat malam hari ditambah berkabut, dingin sekali saya rasakan bahkan rasanya jaket itu tidak mempan untuk membendung perasaan dingin tersebut.

Kaki gemetar, seperti pemain Drumers band Metal. Jari-jari seperti semutan, jika di gesek-gesekan antar jari seperti sudah tidak terasa apa. Gigi beradu secara otomatis, seperti pisau seorang koki handal yang sedang memotong sebuah bawang atau cabe.

Di pikiran saya hanya ada perasaan dan membayangkan perasaan hangat, sampai saya lupa bagaimana bentuk perasaan hangat tersebut. Di tambah mata berair, sepertinya akibat kabut yang tebal. Ketika saya mencoba mengecek suhu derajat desa Batur, ternyata suhunya 17 derajat celcius.

Kemudian saya memutuskan untuk istirahat di depan Pura Ulun Danu Batur, untuk sekedar menikmati semangkuk bakso dan segelas kopi. Di saat sudah istirahat baru saya berpikir dan mencoba mengingat perasaan dan apa yang terjadi pada tubuh saya saat kedinginan, untuk sekiranya nanti ketika dihadapkan oleh adegan teater yang kebetulan ada adegan kedinginan sekiranya saya sudah punya bayangan dan kamus tentang perasaan kedinginan.

Semenjak dari Desa Tejakula tersebut dan mengikuti sharing oleh beberapa teman-teman di sana saya mencoba untuk menjaga intensitas dan kesadaran saya sebagai aktor. Karena mungkin kesadaran seperti itu memnag perlu untuk sebuah observasi dan interpretasi seorang aktor saat berhadapan dengan naskah. Karena saya sangat merasa sangat susah akan hal itu dan selalu mencari-cari bagaimana caranya untuk menyampaikan teks tersebut agar benar tersampaikan maksudnya yang jelas.

Akhirnya setelah sampai di Denpasar saya masih teringat apa saja yang saya coba rasakan dijalan, dan igin cepat-cepat menulisnya. Mungkin menjadi sebuah sharing juga untuk teman-teman yang lain, tapi saya sendiri juga belum berani mencetuskan diri bahwa sudah menjadi aktor yang menjadi. Saya juga masih berada yang sangat dasar. Mari kita sama-sama belajar dari hal sekitar dan jangan hanya meniru saja tanpa mempertimbangan hal kemungkinan lainya.

Sepertinya saya sudahi dulu tulisan sharing kali ini, karena saya sepertinya kelelahan setelah perjalanan. Dan ingin istirahat dan tidur sepertinya, dan mencoba meremkam perasaan apa yang di perlukan menjelang tidur dan saat tidur. Memang bisa? Sepertinya saya sudah mulai sedikit gila teman-teman. Salam. [T]

Tags: megalitikumNi Luh MenekrenunganTeaterTejakula
Share61TweetSendShareSend
Previous Post

Tenganan Pegringsingan dan Dunia yang Terikat Adat – Dari Kunjungan Industri FE Unipas Singaraja

Next Post

Perlukah Menjadi Hindu Untuk Disebut “Bali” ?

Agus Noval Rivaldi

Agus Noval Rivaldi

Adalah penulis yang suka menulis budaya dan musik dari tahun 2018. Tulisannya bisa dibaca di media seperti: Pop Hari Ini, Jurnal Musik, Tatkala dan Sudut Kantin Project. Beberapa tulisannya juga dimuat dalam bentuk zine dan dipublish oleh beberapa kolektif lokal di Bali.

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Perlukah Menjadi Hindu Untuk Disebut “Bali” ?

Perlukah Menjadi Hindu Untuk Disebut “Bali” ?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co