6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Situasi Keperempuanan dalam “Cerita Perempuan Paruh Baya”

Helmi Y Haska by Helmi Y Haska
July 4, 2019
in Ulasan
Situasi Keperempuanan dalam “Cerita Perempuan Paruh Baya”

Crop poster Bentara Budaya Bali

Minggu terakhir bulan Juli 2019. Hari Sabtu dan Minggu. Dua malam. Mengenal lima perempuan paruh baya. Vidya Bagchi, Juliette, Glo, Umay dan Malena. Mencoba memahami tiga sosok protagonis tiga filem, dari lima filem yang ditayangkan pada layar sinema Bentara Budaya Bali, yang mengusung tema “Cerita Perempuan Paruh Baya”.

Dari pengalaman lima perempuan itu, seluruh praktik diskriminasi membekas. Pada medan kebudayaan kiwari, mengandung narasi, kontruksi besar ketidakadilan.

Film-film yang ditayangkan diantaranya : Malèna (Italia, 2000) garapan sutradara Giuseppe Tornatore, La Vie Domestique (Perancis, 2012) karya sutradara Isabelle Czajka, Kahaani (India, 2012) buah cipta Sujoy Ghosh, Die Fremde (Jerman, 2010)  disutradarai Feo Aladag, tak ketinggalan film dari Indonesia, Demi Ucok (2012).

Program ini diselenggarakan dengan konsep Misbar, mengedepankan nonton bersama di ruang terbuka yang hangat, guyub, dan akrab. Acara ini didukung oleh Bioskop Keliling Kemendikbud RI – BPNB Bali Wilayah Bali, NTB, NTT, Institut Français d’Indonésie, Alliance Française Bali, Konsulat Kehormatan Italia di Denpasar, Goethe Institut Indonesien Jakarta, dan Udayana Science Club.

Baiklah. Saya mulai mulai dari Glo, panggilan Gloria Sinaga dari filem Demi Ucok (2012). Glo, sosok yang lincah dan cerdas. Perempuan yang diandaikan mandiri. Ia terobsesi menjadi seorang filmmaker. Ia ingin merdeka. Bebas menentukan haluan hidupnya. Namun selalu mendapat tekanan dari keluarga yang memegang teguh adat Batak. Ibunya, yang telah lama menjanda, ingin putri satu-satunya, itu segera menikah dengan lelaki Batak tulen.

Glo menentang. Ia yang tumbuh besar di kota, dan mereguk kebebasan di luar rumah, harus bersitegang dengan “orang rumah”, yang mempertahankan budaya bahwa perempuan berkedudukan di bawah laki-laki. Dialog atau celotehan ringan nan jenaka,yang bahkan dilengkapi dengan info grafis, membuat narasi menjadi cerdas dan bernas.

Ikhtiar Glo sebagai film-maker menabrak kenyataan. Bahwa industri filem ditentukan kapital. Produksi sebuah filem dihadang pajak, dan dibegal para pembajak. Ia menggempur sarang patriarki yang ada di dalam institusi kita hari ini: partai, birokrasi dan media. Pun ia menghadapi prasangka yang tumbuh dalam masyarakat, yang mengaitkan lingkaran pergaulan dalam industri filem dengan isu LGBT.

Problem klasik keluarga dalam filem yang dibesut sutradara Sammaria Simanjuntak , menghadirkan komedi siatuasi. Hubungan Glo dan sang ibu. Setengah-dungu. Setengah-angkuh. Dan saling mencurigai, siapa di antara mereka akan berkhianat lebih dulu. Konflik kian yang meruncing mengakibatkan merosotnya kesehatan sang ibu. Merosot pula ekonomi keluarga. Dalam kemiskinan, mereka tinggal satu atap, menempati kamar kos yang pengab. Seperti Kartini, kita diajak percaya bahwa habis gelap terbitlah terang.

Medan konflik antara anak dan ibu, itu sirna dengan kompromi. Sang ibu yang pada masa belianya terobsesi menjadi artis tenar, akhirnya dilibatkan dalam produksi filem putrinya. Filem sukses di pasar. Kapital yang menang dalam kisah melodrama ini. Sang ibu berubah pikiran. Ia membebaskan sang anak menentukan jodohnya.

Tidak demikian dengan Umay. Protagonis dalam filem Jerman, Die Fremde (When We Leave) karya Feo Aladag (2010). Pada sosok Umay, segala tragedi hadir. Ia lahir dan tumbuh dari keluarga migran keturunan Turki di Jerman. Ia yang dijodohkan keluarga. Ikut suami bermukim di Istambul. Mereka dikaruniai seorang putra. Sang suami bengis. Pemukul. Pun ia harus submisif dalam seks. Menyadari biduk rumah-tangga yang remuk.

Umay kabur ke Jerman. Kepada ibunya, ia ceritakan semua deritanya. Ia memohon agar diterima kembali di tengah keluarganya. “Kau bisa tinggal di sini tiga hari. Kau harus kembali ke suamimu,” ujar saudara lelakinya dengan dingin, ketika jamuan makan malam. Umay menatap ibunya dengan dalam. Memohon dukungan. Ibunya hanya diam menunduk.

Hanya sang ayah, sebagai kepala keluarga yang dapat memutuskan. “Apa yang terjadi sesungguhnya?” tanya sang ayah menyelidik. Umay mengadu. Tak dapat hidup kembali dengan suami yang bengis. Hari-hari hanya menerima tonjokan dan tonjokan. Dengan suara lantang, sang ayah berkata bahwa Umay harus kembali. Terima saja perlakuan suamimu. Titik. Habis perkara.

Seorang isteri yang kabur dari suami adalah aib bagi keluarga perempuan. Bahkan keluarga sang suami mencemooh, menjuluki Umay sebagai,”German whore”. Pelacur, jalang. Umay telah bulat tak mau kembali ke Istambul. Ia membakar pun paspornya. Akibatnya, ia mendapat hukuman dari keluarga. Harus menjalani pingitan. Hingga sang suami datang menjemput. Umay pun berusaha minggat dari rumah. Ia menelpon polisi, minta perlindungan. Hukum Jerman melindungi warganya yang menjadi korban kekerasan domestik.

Polisi membawa ibu dan anak itu ke sebuah rumah singgah, save house. Di rumah perlindungan, Umay mulai menata hidupnya. Bekerja sebagai staf bakery dan melanjutkan sekolah. Dengan bekerja dan menempuh pendidikan yang lebih tinggi, ia berkeyakinan dapat melanjutkan kehidupan mandiri sebagai orangtua tunggal. Walau negara telah menjamin perlindungan dan kesetaraan dalam ekonomi dan pendidikan, perempuan masih mendapatkan diskrimanasi dan ditindas budaya komunal.

Umay memiliki putera yang senantiasa merengek ingin bertemu dengan ayahnya, ingin bertemu kakek-neneknya, ingin bertemu dengan paman dan bibinya. Umay pun galau. Setelah kehilangan keluarganya, pantaskah puteranya yang sedang bertumbuh mengalami hal yang sama. Kehilangan keluarga. Umay berusaha menjalin tali silaturahmi. Demi sang anak. Memohon dibukakan pintu maaf. Permohonan ditolak di depan pintu.

“Bukankah ayah pernah berkata kepadaku. Bahwa darah dalam keluarga lebih kental dari air. Terimalah maafku. Demi anakku,” pinta Umay.

Sang ayah menatap kosong, lalu menutup pintu rumah. Umay pun menuntun anaknya terseok pergi. Umay adalah aib, yang merusak kehormatan keluarga. Nilai kehormatan keluarga yang tumbuh dalam suasana patriarkis, feodalistik dan doktriner. Dan diakhir cerita, kehormatan keluarga pun ditegakkan. Dengan rencana melenyapkan Umay.Pembunuhan yang dilakukan saudara kandungnya, itu justru merenggut nyawa anaknya.

Di adegan akhir, Umay menggendong jasad anaknya yang berlumur darah. Berjalan menyusuri jalan raya. Pergi menuju nun. Sedangkan dalam filem Prancis, La Vie Domestique (2012), menyelami kehidupan Juliette. Ia perempuan kulit putih. Menikah. Punya dua anak. Hidup mapan. Ia berpendidikan dan berpengalaman hidup di perantauan. Pernah cukup lama bermukim di Amerika. Karena suami harus pindah pekerjaan.

Akhirnya tinggal di pinggiran kota Paris. Wilayah yang Sepi. Membosankan. Sebagai ibu rumahtangga, ia menjalankan tugas rutin: memasak, bersih-bersih rumah, memandikan anak-anak, mengantar ke sekolah, dan membacakan dongeng untuk anaknya menjelang tidur, melayani suami yang selalu pulang larut malam dari kantor. Ego suami yang kembung. Asyik omong tentang hasratnya. Percakapan dengan suami penuh perintah. “jangan lupa ini… jangan lupa itu…”

Itulah gambaran kehidupan sehari-hari Juliette. Garing. Pun di luar rumah, ia harus menghadapi budaya dominan patriakhis. Di kantor, ia dipermainkan boss, yang laki-laki. Serta dilecehkan oleh kolega laki-laki, yang merendahkan kualifikasi pekerjaannya. Pun para kenalan perempuan, para ibu rumahtangga, yang acap ditemuinya ketika di pekarangan sekolah ketika antar-jemput anak ke sekolah, hanya asyik berkutat memuaskan hasrat para suami mereka. Mulai dari urusan mengurus rumah, pakaian dan tutur kata.

Dengan apik filem yang dibesut sutradara Isabelle Czajka,secara realis, itu mampun menukik pada konflik psikologis, sekaligus menyelusuri ruang batin Juliette. Sebagai pribadi , ia terbelah. Mengerjakan apa yang ia tak sukai. Menerima apa yang tidak ia maui. Dalam gejolak amarah yang ia bungkam sendiri itu, Julliette hanya menatap kekosongan sambil menghisap sigaret. Ia cemas.

Filem ini mengajak kita masuk dalam situasi keperempuanan. Kecemasan eksistensial seorang perempuan. Peradaban telah berbuat curang kepada separuh umat manusia, hanya karena ia bukan laki-laki. Pada perempuan melekat seluruh jenis ketidakadilan: ekonomi, politik, seksual, hokum, kultur, teologi. Dari sinisme sehari-hari hingga kebijakan publik. [T]

Tags: Bentara Budayafilmfilm layar lebarPerempuansinema
Share45TweetSendShareSend
Previous Post

Lestari Ledok, Lestari Jagung – Makanan Kampung Nusa Penida Go to Jakarta

Next Post

Kegembiraan Pewaris Bungbang dari Banjar Tengah, Sesetan, Denpasar

Helmi Y Haska

Helmi Y Haska

Sastrawan

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Kegembiraan Pewaris Bungbang dari Banjar Tengah, Sesetan, Denpasar

Kegembiraan Pewaris Bungbang dari Banjar Tengah, Sesetan, Denpasar

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co