26 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Siddharta Gautama: Pangeran yang Meninggalkan Tahta

Putu Arya Nugraha by Putu Arya Nugraha
May 20, 2019
in Esai
Nyepi: Terapi Kesehatan, Terapi Kita, Bumi dan Peradaban

“When the weather is hot, keep a cool mind. When the weather is cold, keep a warm heart.”      – Ajahn Brahm

***

Tak ada satupun, raja dalam sejarah dunia, yang paling dihormati dan menjadi figur abadi umat manusia, melampaui pangeran Siddharta Gautama. Ia abadi dalam kebesaran dam kemuliaan, bukanlah karena menguasai tahtanya dalam cengkraman kekuatan tak terkalahkan, namun karena hal sebaliknya, ia meninggalkannya.

Ia pun bukan orang sempurna sedari awal. Ia seperti kita, ia orang biasa. Justru bergelimang gemerlap kesenangan duniawi mengingat ia seorang pangeran, anak seorang pemimpin suku Sakya yang dilahirkan di Taman Lumbini oleh ibundanya, Ratu Maha Maya sekitar 563 SM. Yang kemudian telah menikah saat baru berusia 16 tahun.

Hingga usia 29 tahun Siddharta Gautama masih hidup layaknya pangeran-pangeran pada umumnya yang dekat dengan kenyamanan dan segala pelayanan istimewa. Ia disebutkan, bahkan memiliki tiga istana, yaitu istana musim hujan, istana musim panas dan istana musim dingin. Hingga pada satu malam yang menentukan, setelah memeluk dan mencium putra semata wayangnya, Rahula, ia memutuskan untuk meninggalkan kekuasaannya pergi menjadi pertapa untuk memahami hakikat kehidupan yang sesungguhnya. Saat berusia 35 tahun ia telah menemukan sebuah pencerahan, makna dari Buddha itu sendiri. Ia menjadi Buddha yang ke 28.

 Ajaran Buddha memang menarik dan sedikit mengejutkan, jika dibandingkan dengan agama-agama lain di bumi ini. Buddha tak banyak menyembah atau membahas soal Tuhan yang dipuja. Ia lebih banyak mengajarkan nilai-nilai kebaikan universal seperti kasih sayang dan humanisme. Itulah kenapa, mata kita ikut terbelalak saat dunia dihebohkan oleh sosok biksu bernama Wirathu, pemimpin terkemuka organisasi Buddhis Myanmar yang dikenal sebagai Ma Ba Tha. Ia seorang biksu nasionalis yang dipersalahkan atas semangat anti-muslim berdarah di Myanmar.

Wirathu telah dituduh memicu kekerasan dengan retorika penuh kebencian dan anti-Islam di negara-negara Asia Tenggara dengan mayoritas penduduknya yang mencapai 55 juta orang beragama Buddha. Kejadian seperti ini, nyaris tak pernah kita bayangkan terjadi. Maka fakta ini makin kuat memberi bukti, radikalisme lebih banyak merupakan persoalan personal atas tafsir yang sangat subyektif terhadap tuntunan-tuntunan kitab suci agama yang dianut.

Daya tarik lain dari ajaran Buddha adalah, tidak menempatkan Sang Buddha sebagai nabi utusan Tuhan. Ia sekali lagi, adalah orang biasa, seperti kita, yang mungkin saja punya pengalaman dosa di masa lalu, yang kemudian berkat kemauan yang kuat dan luar biasa berhasil mencapai pencerahan dan kesadaran.

Maka, sepertinya setiap orang pun akan punya peluang untuk menjadi Buddha. Dalam keyakinan Hindu, gagasan setiap orang dapat menjadi Buddha dapat saja kita kaitkan dengan konsep awatara (juru selamat) yang kesepuluh, yaitu Kalki. Sosok yang akan datang membawa sinar kebaikan untuk umat manusia pada zaman Kaliyuga ini (zaman kegelapan dan kehancuran).

Sang jiwa agung, Mahatma Gandhi dapat dijadikan satu contoh, bagaimana seorang manusia biasa dapat begitu dimulikan berkat menapaki jejak-jejak spritual Sang Buddha. Ia membawa kebaikan untuk dunia, bukan dengan ambisi untuk mengubah dunia itu sendiri, melainkan dengan mengubah dirinya sendiri. Kita semua tahu, dalam biografinya, Gandhi muda pun penuh kenakalan, ia pernah mencuri dan menikah dalam usia yang sangat belia.

Namun, sejarah umat manusia telah menobatkan Mahatma Gandhi sebagai figur kebaikan peradaban dunia. Maka, keyakinan ada Tuhan pada setiap mahluk pun bisa kita percayai kemudian. 

Dalam dunia modern saat ini, seorang biksu muda berdarah Inggris, Ajahn Brahmn begitu banyak memberi kita panduan-panduan yang sangat praktis dan menarik. Ia, yang seorang sarjana fisika teori, tentu saja memegang prinsip-prinsip dasar pencerahan dari Sang Buddha Siddartha Gautama. Mengubah diri sendiri untuk memperbaiki dunia. Bagian paling kontekstual akan spirit ini adalah gagasannya berikut. Dalam sebuah tanya jawab, ia diminta pendapatnya, apa sikap yang akan diambil saat seseorang merobek-robek kitab suci agamanya dan menjejalkannya ke kloset?

Mungkin tak banyak di antara kita yang cenderung reaktif, dapat menebak jawabannya. Karena jawabannya adalah, ia akan secepatnya menyingkirkan robekan kitab suci yang telah menyumbat kloset itu agar kloset tak macet dan bisa berfungsi kembali. Jadi, bukan menyingkirkan penistanya.

Ia menegaskan, boleh saja ada lagi ribuan kitab suci yang jatuh ke dalam kloset, namun jangan sampai isi kitab suci tersebut. Ketenangan dan pemaafan yag ditunjukkan dalam cerita itu adalah isi kitab suci, sementara buku kitab itu sendiri, bukanlah simbol Tuhan yang wajib kita bela dengan pedang dan cucuran darah.

Sebuah falsafah hidup yang begitu terkesan bagi pertapa Gautama, adalah petuah seorang ayah kepada anaknya di atas perahu yang melintasi sungai Nairanjana yang tak sengaja ia dengarkan. “Bila senar kecapi ini dikencangkan, suaranya akan semakin tinggi. Kalau terlalu dikencangkan, putuslah senar kecapi ini, dan lenyaplah suara kecapi itu.

Bila senar kecapi ini dikendorkan, suaranya akan semakin merendah. Kalau terlalu dikendorkan, maka lenyaplah suara kecapi itu.” Hidup ini, untuk kelestariannya memang membutuhkan keseimbangan, bukan ekstremisme, bukan! [T]

Tags: BuddhismeBudharenunganSidharta Gautama
Share70TweetSendShareSend
Previous Post

Raka Sutama, Kegembiraan Usai Pilpres, Bayar Kaul Bersepeda Keliling Bali

Next Post

What Makes A Good Teacher? –Catatan Seorang Guru

Putu Arya Nugraha

Putu Arya Nugraha

Dokter dan penulis. Penulis buku "Merayakan Ingatan", "Obat bagi Yang Sehat" dan "Filosofi Sehat". Kini menjadi Direktur Utama Rumah Sakit Umum Daerah Buleleng

Related Posts

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
0
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

Read moreDetails

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

Read moreDetails

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
0
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

Read moreDetails

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails
Next Post
What Makes A Good Teacher? –Catatan Seorang Guru

What Makes A Good Teacher? –Catatan Seorang Guru

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital
Liputan Khusus

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital

TELEPON belum lama ditutup ketika Luh Sukerti kembali sibuk di depan tungku. Puluhan tusuk sate dibolak-balik di atas bara, dilumuri...

by Jaswanto
October 26, 2026
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan
Esai

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”
Bahasa

Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”

ADA seorang guru sekaligus penulis senior asal Bali yang bernama Nyoman Tingkat. Suatu ketika, dengan permainan kata yang cerdas dan menggelitik, melalui unggahan...

by I Made Sudiana
October 26, 2026
Belajar dari Senat, Menyapa Semeru
Tualang

Belajar dari Senat, Menyapa Semeru

ADA perjalanan yang kita tempuh karena tugas. Ada perjalanan yang kita jalani karena kewajiban. Namun, sering kali justru di balik...

by Ahmad Sihabudin
October 26, 2026
Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026
Olahraga

Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026

SUASANA siang di kawasan dekat Pantai Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali, mendadak bergemuruh pada Minggu 25 Oktober 2026....

by Nyoman Budarsana
October 26, 2026
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan
Esai

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026
Khas

Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

SEPERTI apa kekuatan penuturan kisah lokal dalam karya sastra? Bagaimana seorang penulis memanfaatkan lanskap, identitas, dan pengalaman lokal untuk menciptakan...

by Rusdy Ulu
October 26, 2026
Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co