22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Wine dari Anggur Lokal Bali & Harapan kepada Gubernur Bali

I Made Aryadi Sukantara by I Made Aryadi Sukantara
May 2, 2019
in Esai
Wine dari Anggur Lokal Bali & Harapan kepada Gubernur Bali

Wine dari anggur lokal Bali

 Meriki jerone numbas tuak

Alumur aji limang rupiah

Yen ten jerone medue jinah

Sampunang metumbasan

Pang ten pocol tiang medagang

.

Mari sini Jero beli nira

Segelas hanya lima rupiah

Kalo tidak punya uang

Janganlah berbelanja

Agar tidak rugi saya jualan

—

Nyanyian di atas biasanya dinyanyikan dalam upacara-upacara manusa yadnya (kemanusiaan),  seperti perkawinan. Ini menjelaskan secara sederhana bahwa kehidupan rumah tangga (dahulunya) tidak dapat lepas dari minuman beralkohol yang disebut ‘tuak’. Selain tuak (nira), minuman keras lain juga banyak digunakan, seperti berem (anggur beras), dan arak khususnya upacara butha yadnya (umumnya dipahami sebagai persembahan kepada makhluk tak kasat mata). Padahal, lagi-lagi butha itu adalah tubuh manusia itu sendiri, yang sedikit tidak membutuhkan alkohol. Oleh karena itu, penggunaan minuman beralkohol memang telah passim di Bali.

Bicara tentang tuak, ada tiga jenis yang dapat dijelaskan: Pertama disebut sajeng manis atau matah (glukosa alami atau fructose). Kedua sajeng semedah atau tuak wayah atau wine. Ketiga sajeng rateng berupa arak (spirit, termasuk jenis liquer) hasil dari penyulingan sederhana. Ketiga jenis ini adalah hasil proses fermentasi alami secara sistem tropis.

Secara umum, fermentasi adalah perubahan dari karbohidrat, seperti beras yang diubah menjadi tape (glukosa) dengan bantuan ragi (yeast) atau tidak memakai ragi karena daerah tropis sudah ada ragi alam (wild yeast). Tape merupakan gula alami yang selanjutnya mengalami proses fermentasi yang menghasilkan berem (anggur beras atau rice wine). Di Jepang orang menyebutnya Sake. Kemudian, dengan proses penyulingan sederhana bisa menjadi arak beras, seperti arak beras Guan Guan Ho di Singaraja. Ilmu-ilmu fermentasi sederhana pada dasarnya telah dikuasai oleh para pengrajin minuman beralkohol Bali secara turun-temurun sehingga dapat disebut sebagai minuman tradisional.

Para pengrajin tuak Bali ini juga dapat dikategorikan sebagai vintner (pembuat wine) karena jargonnya adalah “How you make wine in your own way, in your own character.” Sebuah seni fermentasi dengan cara masing masing disebut ‘the art of mixing’. Jadi, proses pembuatan minuman sejenis tuak atau wine merupakan kegiatan seni mencampur. Sehingga, antara wine di Barat dan tuak di Bali sebenarnya tidak terlalu banyak perbedaannya. Hanya saja, tuak di Bali umumnya diminum ketika masih dalam keadaan fresh –jika lewat waktu, kandungan asamnya sudah meningkat tajam dan menjadi cuka—tapi wine justru semakin berumur semakin menunjukkan citarasa yang semakin spesial dan tentunya semakin mahal.

Bahan baku pembuatan wine dapat berupa buah-buahan, sayur-sayuran, umbi-umbian, bunga-bungaan, kacang-kacangan atau madu (clover honey). Setiap bahan itu tergantung apa potensi yang ada daerah itu. Sebagai contoh, fermentasi dari buah agave, sejenis kaktus, menjadi agave wine. Kemudian dengan proses penyulingan, jadilah minuman tequila, minuman khas Meksiko. Tetes tebu molases yang difermentasi, kemudian disuling, banyak dilakukan di daerah West Indies seperti Jamaika, Aruba, Kuba, Puerto Rico yang disebut dengan nama Rum. Wine anggur yang disuling terkenal dengan nama Brandy, banyak dilakukan di Perancis. Lalu, ketika musim panen kentang dengan jumlah berlebihan di Rusia, dibuatlah wine kentang, yang kemudian disuling namanya vodka. Proses fermentasi gandum dibuat wine gandum kemudian disuling, kemudian terkenal namanya Whisky. Dan, tuak semedah di Bali, seperti tobi di India, kemudian disuling namanya arak.

Dari semua bahan itu, bahan baku terbaik adalah buah anggur karena dalam buah anggur karena sudah mengandung sad rasa (enam rasa: manis, pahit, asam, asin, sepat, dan pedas) dan kandungan airnya banyak (watery). Buah anggur awalnya tumbuh secara natural berasal dari benua Eropa kecuali jenis anggur Zinpandel yang merupakan buah endemik California. Untuk itu, semua anggur berafiliasi dengan Eropa.

Potensi Buah Anggur Lokal Bali  (Vitis Finivera)

          Teknik  penanaman buah anggur rupanya sangat dikuasai oleh petani Bali. Viti culture telah hadir di Bali secara bergenerasi telah sesuai dengan teknik penanaman di daerah tropis. Dengan kualitas tanah yang cenderung masuk kategori vulcanic soil berkontribusi terhadap kualitas anggur di Bali.

Umumnya, di Bali digunakan system bio dynamic, sistem penanaman buah dengan teknik daur ulang. Artinya, tumbuhan lain, rumput dan ternak babi, sapi atau kambing, serta serangga liar seperti kupu kupu dan capung masih berkeliaran di sekitar perkebunan anggur, bercampur baur. Prinsip bio dynamic system adalah minim penggunaan pupuk kimia dan pestisida. Selain itu, pohon anggur juga dimanfaatkan sebagai pohon peneduh rumah masyarakat.

Trend baru dunia saat ini menunjukkan pergeseran dari teknik modern ke arah tanpa rekayasa genetika atau non-GMO (Genetically Modified Organism). Perkebunan non-GMO dapat dibuktikan dengan memotong suatu pohon, lalu kemudian masih bisa hidup dan tumbuh kembali. Buah dari pohon jenis inilah yang bisa dijadikan wine dengan baik. Sehingga, perkebunan organik anggur lokal Bali sangat memenuhi syarat karena tanpa rekayasa genetika  dan kandungan arsenicnya 0,01 persen yang memenuhi standar organik dunia. Selain itu, posisi geografis Bali dengan 8 derajat di bawah Katulistiwa memungkinkan tanaman anggur mendapat sinar matahari yang cukup agar proses fotosintesis berlangsung dengan baik.

Kebun anggur yang membentang dari kawasan daerah pantai Lovina sampai Pemuteran di Buleleng merupakan produsen anggur yang sangat besar. Penanaman anggur yang baik harus cukup air dan tidak banyak hujan; hujan adalah salah satu penghancur buah anggur. Dengan curah hujan yang cukup buah yang dihasilkan cenderung manis. Begitu juga dengan potensi panen sepanjang tahun karena iklim tropis. Hal ini tentu menjadi kelebihan jika dibandingkan dengan daerah-daerah di negara yang terletak di utara katulistiwa (Northern hemisphere), seperti Eropa, Amerika, Kanada, dlsb., panen hanya dapat dilakukan sekitar bulan September. Sebaliknya di selatan katulistiwa (Southern hemisphere), seperti Australia, New Zealand, Chili, Argentina, panen hanya dapat dilakukan sekali dalam satu tahun, sekitar bulan Mei. Ini artinya bahwa ketika panen terjadi, hasilnya harus melimpah dan mencukupi kebutuhan setahun. Oleh karena itu, buah anggur Bali berpeluang untuk dikembangkan lebih serius dan dikemas menjadi produk layak ekspor, seperti wine.

Wine yang Baik

  1. Penampakan di botol: Agak keruh tergantung umur wine itu. Kalau sudah berumur kotoran akan mengumpul di bawah, maka wine itu perlu di-decanter –bahasa Balinya ‘melaingin’ atau memisahkan bagian jernih dengan bagian yang mengandung endapan.
  2. Biasanya memakai palud (cork) karena wine alami membutuhkan oksigen untuk membantu fermentasi karena wine itu “masih hidup” (malolactic fermentation).
  3. Aroma tidak begitu menyengat karena tidak memakai perfume, hanya aroma dari hasil fermentasi dari buah.
  4. Wine bisa diumurkan, semakin berumur semakin baik. Pengumuran ini tidak mengenal batas waktu karena alami, tanpa kimia. Semakin berumur juga mendiferensiasi setiap kandungan rasa menjadi lebih jelas dan tegas.
  5. Bisa dihidangkan sesuai dengan suhu ruangan. Sistem pendinginan akan mengaburkan struktur rasa wine.
  6. Wine masih bisa dihidangkan walaupun penutupnya dibuka-tutup.

Harapan kepada Bapak Gubernur Bali

  1. Bapak gubernur secara berkesinambungan mewacanakan penggunaan produk lokal ada perlindungan kepada produk lokal yang bisa berkompetisi dengan baik yang tentu saja akan berakibat kepada kebangggan masyarakat, terutama petani, terhadap produksi lokal yang sangat bisa berkompetisi dengan harga yang lebih murah di dunia.
  2. Penghargaan kepada produksi anggur lokal yang alami berkualitas sangat bagus karena tidak menggunakan etanol food grade –dalam dunia bartender, cocktail hanya bisa dibuat dengan enak kalau menggunakan etanol alami. Penggunaan etanol food grade hanya akan menelanjangi kualitas etanol pada proses fermentasi yang berefek pada rasa yang tidak memuaskan.
  3. Terus membangkitkan rasa bangga kepada produksi lokal Bali. Sehinggga sistem lokal produk produk bisa berkembang dengan semua potensi yang ada. Bukan hanya sebuah wacana.
  4. Membela pengrajin-pengrajin lokal dengan cara membuat aturan bahwa pengrajin bisa menjual ke pabrik karena pabrik bisa lewat prosedur BPOM dan bea-cukai. Sehingga minuman itu legal.
  5. Pembatasan import adalah sangat menunjang pemberdayaan pengrajin lokal.  
  6. Memberi bantuan untuk proses penyulingan yang baik untuk menggenjot produksi karena sistem sekarang secara kualitas sudah memenuhi syarat, hanya banyak etanol yang menguap yang bisa mengurangi produksi.
Tags: anggur baliGubernur BaliKerajinanPariwisataperkebunanwine lokal
Share106TweetSendShareSend
Previous Post

Sumber Isi Lontar dari Mana? – Catatan Harian Sugi Lanus ⠀

Next Post

Mencari Ulama yang Ulama

I Made Aryadi Sukantara

I Made Aryadi Sukantara

Pengrajin wine Bali, dengan merk BANAT wine.

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Siapa Orang yang Paling Baik?

Mencari Ulama yang Ulama

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co