2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Wine dari Anggur Lokal Bali & Harapan kepada Gubernur Bali

I Made Aryadi Sukantara by I Made Aryadi Sukantara
May 2, 2019
in Esai
Wine dari Anggur Lokal Bali & Harapan kepada Gubernur Bali

Wine dari anggur lokal Bali

 Meriki jerone numbas tuak

Alumur aji limang rupiah

Yen ten jerone medue jinah

Sampunang metumbasan

Pang ten pocol tiang medagang

.

Mari sini Jero beli nira

Segelas hanya lima rupiah

Kalo tidak punya uang

Janganlah berbelanja

Agar tidak rugi saya jualan

—

Nyanyian di atas biasanya dinyanyikan dalam upacara-upacara manusa yadnya (kemanusiaan),  seperti perkawinan. Ini menjelaskan secara sederhana bahwa kehidupan rumah tangga (dahulunya) tidak dapat lepas dari minuman beralkohol yang disebut ‘tuak’. Selain tuak (nira), minuman keras lain juga banyak digunakan, seperti berem (anggur beras), dan arak khususnya upacara butha yadnya (umumnya dipahami sebagai persembahan kepada makhluk tak kasat mata). Padahal, lagi-lagi butha itu adalah tubuh manusia itu sendiri, yang sedikit tidak membutuhkan alkohol. Oleh karena itu, penggunaan minuman beralkohol memang telah passim di Bali.

Bicara tentang tuak, ada tiga jenis yang dapat dijelaskan: Pertama disebut sajeng manis atau matah (glukosa alami atau fructose). Kedua sajeng semedah atau tuak wayah atau wine. Ketiga sajeng rateng berupa arak (spirit, termasuk jenis liquer) hasil dari penyulingan sederhana. Ketiga jenis ini adalah hasil proses fermentasi alami secara sistem tropis.

Secara umum, fermentasi adalah perubahan dari karbohidrat, seperti beras yang diubah menjadi tape (glukosa) dengan bantuan ragi (yeast) atau tidak memakai ragi karena daerah tropis sudah ada ragi alam (wild yeast). Tape merupakan gula alami yang selanjutnya mengalami proses fermentasi yang menghasilkan berem (anggur beras atau rice wine). Di Jepang orang menyebutnya Sake. Kemudian, dengan proses penyulingan sederhana bisa menjadi arak beras, seperti arak beras Guan Guan Ho di Singaraja. Ilmu-ilmu fermentasi sederhana pada dasarnya telah dikuasai oleh para pengrajin minuman beralkohol Bali secara turun-temurun sehingga dapat disebut sebagai minuman tradisional.

Para pengrajin tuak Bali ini juga dapat dikategorikan sebagai vintner (pembuat wine) karena jargonnya adalah “How you make wine in your own way, in your own character.” Sebuah seni fermentasi dengan cara masing masing disebut ‘the art of mixing’. Jadi, proses pembuatan minuman sejenis tuak atau wine merupakan kegiatan seni mencampur. Sehingga, antara wine di Barat dan tuak di Bali sebenarnya tidak terlalu banyak perbedaannya. Hanya saja, tuak di Bali umumnya diminum ketika masih dalam keadaan fresh –jika lewat waktu, kandungan asamnya sudah meningkat tajam dan menjadi cuka—tapi wine justru semakin berumur semakin menunjukkan citarasa yang semakin spesial dan tentunya semakin mahal.

Bahan baku pembuatan wine dapat berupa buah-buahan, sayur-sayuran, umbi-umbian, bunga-bungaan, kacang-kacangan atau madu (clover honey). Setiap bahan itu tergantung apa potensi yang ada daerah itu. Sebagai contoh, fermentasi dari buah agave, sejenis kaktus, menjadi agave wine. Kemudian dengan proses penyulingan, jadilah minuman tequila, minuman khas Meksiko. Tetes tebu molases yang difermentasi, kemudian disuling, banyak dilakukan di daerah West Indies seperti Jamaika, Aruba, Kuba, Puerto Rico yang disebut dengan nama Rum. Wine anggur yang disuling terkenal dengan nama Brandy, banyak dilakukan di Perancis. Lalu, ketika musim panen kentang dengan jumlah berlebihan di Rusia, dibuatlah wine kentang, yang kemudian disuling namanya vodka. Proses fermentasi gandum dibuat wine gandum kemudian disuling, kemudian terkenal namanya Whisky. Dan, tuak semedah di Bali, seperti tobi di India, kemudian disuling namanya arak.

Dari semua bahan itu, bahan baku terbaik adalah buah anggur karena dalam buah anggur karena sudah mengandung sad rasa (enam rasa: manis, pahit, asam, asin, sepat, dan pedas) dan kandungan airnya banyak (watery). Buah anggur awalnya tumbuh secara natural berasal dari benua Eropa kecuali jenis anggur Zinpandel yang merupakan buah endemik California. Untuk itu, semua anggur berafiliasi dengan Eropa.

Potensi Buah Anggur Lokal Bali  (Vitis Finivera)

          Teknik  penanaman buah anggur rupanya sangat dikuasai oleh petani Bali. Viti culture telah hadir di Bali secara bergenerasi telah sesuai dengan teknik penanaman di daerah tropis. Dengan kualitas tanah yang cenderung masuk kategori vulcanic soil berkontribusi terhadap kualitas anggur di Bali.

Umumnya, di Bali digunakan system bio dynamic, sistem penanaman buah dengan teknik daur ulang. Artinya, tumbuhan lain, rumput dan ternak babi, sapi atau kambing, serta serangga liar seperti kupu kupu dan capung masih berkeliaran di sekitar perkebunan anggur, bercampur baur. Prinsip bio dynamic system adalah minim penggunaan pupuk kimia dan pestisida. Selain itu, pohon anggur juga dimanfaatkan sebagai pohon peneduh rumah masyarakat.

Trend baru dunia saat ini menunjukkan pergeseran dari teknik modern ke arah tanpa rekayasa genetika atau non-GMO (Genetically Modified Organism). Perkebunan non-GMO dapat dibuktikan dengan memotong suatu pohon, lalu kemudian masih bisa hidup dan tumbuh kembali. Buah dari pohon jenis inilah yang bisa dijadikan wine dengan baik. Sehingga, perkebunan organik anggur lokal Bali sangat memenuhi syarat karena tanpa rekayasa genetika  dan kandungan arsenicnya 0,01 persen yang memenuhi standar organik dunia. Selain itu, posisi geografis Bali dengan 8 derajat di bawah Katulistiwa memungkinkan tanaman anggur mendapat sinar matahari yang cukup agar proses fotosintesis berlangsung dengan baik.

Kebun anggur yang membentang dari kawasan daerah pantai Lovina sampai Pemuteran di Buleleng merupakan produsen anggur yang sangat besar. Penanaman anggur yang baik harus cukup air dan tidak banyak hujan; hujan adalah salah satu penghancur buah anggur. Dengan curah hujan yang cukup buah yang dihasilkan cenderung manis. Begitu juga dengan potensi panen sepanjang tahun karena iklim tropis. Hal ini tentu menjadi kelebihan jika dibandingkan dengan daerah-daerah di negara yang terletak di utara katulistiwa (Northern hemisphere), seperti Eropa, Amerika, Kanada, dlsb., panen hanya dapat dilakukan sekitar bulan September. Sebaliknya di selatan katulistiwa (Southern hemisphere), seperti Australia, New Zealand, Chili, Argentina, panen hanya dapat dilakukan sekali dalam satu tahun, sekitar bulan Mei. Ini artinya bahwa ketika panen terjadi, hasilnya harus melimpah dan mencukupi kebutuhan setahun. Oleh karena itu, buah anggur Bali berpeluang untuk dikembangkan lebih serius dan dikemas menjadi produk layak ekspor, seperti wine.

Wine yang Baik

  1. Penampakan di botol: Agak keruh tergantung umur wine itu. Kalau sudah berumur kotoran akan mengumpul di bawah, maka wine itu perlu di-decanter –bahasa Balinya ‘melaingin’ atau memisahkan bagian jernih dengan bagian yang mengandung endapan.
  2. Biasanya memakai palud (cork) karena wine alami membutuhkan oksigen untuk membantu fermentasi karena wine itu “masih hidup” (malolactic fermentation).
  3. Aroma tidak begitu menyengat karena tidak memakai perfume, hanya aroma dari hasil fermentasi dari buah.
  4. Wine bisa diumurkan, semakin berumur semakin baik. Pengumuran ini tidak mengenal batas waktu karena alami, tanpa kimia. Semakin berumur juga mendiferensiasi setiap kandungan rasa menjadi lebih jelas dan tegas.
  5. Bisa dihidangkan sesuai dengan suhu ruangan. Sistem pendinginan akan mengaburkan struktur rasa wine.
  6. Wine masih bisa dihidangkan walaupun penutupnya dibuka-tutup.

Harapan kepada Bapak Gubernur Bali

  1. Bapak gubernur secara berkesinambungan mewacanakan penggunaan produk lokal ada perlindungan kepada produk lokal yang bisa berkompetisi dengan baik yang tentu saja akan berakibat kepada kebangggan masyarakat, terutama petani, terhadap produksi lokal yang sangat bisa berkompetisi dengan harga yang lebih murah di dunia.
  2. Penghargaan kepada produksi anggur lokal yang alami berkualitas sangat bagus karena tidak menggunakan etanol food grade –dalam dunia bartender, cocktail hanya bisa dibuat dengan enak kalau menggunakan etanol alami. Penggunaan etanol food grade hanya akan menelanjangi kualitas etanol pada proses fermentasi yang berefek pada rasa yang tidak memuaskan.
  3. Terus membangkitkan rasa bangga kepada produksi lokal Bali. Sehinggga sistem lokal produk produk bisa berkembang dengan semua potensi yang ada. Bukan hanya sebuah wacana.
  4. Membela pengrajin-pengrajin lokal dengan cara membuat aturan bahwa pengrajin bisa menjual ke pabrik karena pabrik bisa lewat prosedur BPOM dan bea-cukai. Sehingga minuman itu legal.
  5. Pembatasan import adalah sangat menunjang pemberdayaan pengrajin lokal.  
  6. Memberi bantuan untuk proses penyulingan yang baik untuk menggenjot produksi karena sistem sekarang secara kualitas sudah memenuhi syarat, hanya banyak etanol yang menguap yang bisa mengurangi produksi.
Tags: anggur baliGubernur BaliKerajinanPariwisataperkebunanwine lokal
Share106TweetSendShareSend
Previous Post

Sumber Isi Lontar dari Mana? – Catatan Harian Sugi Lanus ⠀

Next Post

Mencari Ulama yang Ulama

I Made Aryadi Sukantara

I Made Aryadi Sukantara

Pengrajin wine Bali, dengan merk BANAT wine.

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Siapa Orang yang Paling Baik?

Mencari Ulama yang Ulama

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co