23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Memahami Kembali Sebuah Tragedi Melalui Fiksi; Peristiwa Berdarah dalam Perempuan Bersampur Merah

Kim Al Ghozali AM by Kim Al Ghozali AM
April 22, 2019
in Ulasan
Memahami Kembali Sebuah Tragedi Melalui Fiksi; Peristiwa Berdarah dalam Perempuan Bersampur Merah
  • Judul: Perempuan Bersampur Merah
  • Penulis: Intan Andaru
  • Penyunting: Dwi Ratih
  • Penerbit: PT Gramedia  Pustaka Utama, 2019
  • ISBN: 9786020621951
  • ISBN Digital: 9786020621968
  • Halaman: 216

Tak sedikit prosa ditulis pengarang di Indonesia yang mengangkat tema atas peristiwa besar yang pernah terjadi dan paling berdarah di negeri ini, yaitu Gerakan 30 September atau kini lebih dikenal sebagai tragedi ‘65. Tentu dengan berbagai perspekstif. Sebagian perspekstif itu bersifat dekonstruksi dari catatan resmi atau sejarah versi pemerintah dan mengambil alih suara korban yang sayup-sunyi untuk diangkat ke permukaan sebagai bagian dari simpati dan keberpihakan. Namun, meski sudah banyak dan berulangkali cerita tentang peristiwa ’65 diangkat ke dalam fiksi ini—baik sebagai tema utama ataupun sempalan—tetap selalumenarik perhatian dalam kesusastraan Indonesia.

Barangkali alasan utama yang membuat tema ini selalu menarik perhatian, meskipun peristiwa itu lima puluh tahun lebih telah berlalu dan tak terhitung jumlah tulisan-tulisan ilmiah hasil peneliti dalam dan luar negeri untuk mencari fakta sejarah, adalah karena peristiwa itu belum benar-benar selesai dan masih menyisakan beragam pertanyaan. Selain itu, memang diperlukan suara-suara lain yang harus terangkat ke permukaan, terutama suara-suara rakyat biasa yang turut menjadi korban langsung maupun tidak langsung atas peristiwa itu. Bukan hanya suara dari tokoh-tokoh yang namanya menjadi perhatian publik dan sejarah. Tentu salah satu media yang paling tepat dalam hal ini adalah lewat fiksi.

Dengan mengambil perspektif dari orang-orang yang dianggap tidak terlalu penting namun merasakan dampaknya secara langsung atas peristiwa ‘65 seperti yang banyak diangkat oleh pengarang-pengarang kita ke dalam fiksi, tentu akan memperkaya pandangan kita akan peristiwa itu. Kita menjadi tidak hanya melihat sesuatu secara hitam putih, tetapi melihat beragam warna kemanusiaan. 

Suara (Sunyi) Korban

Dalam novel terbarunya, Perempuan Bersampur Merah (Gramedia Pustaka Utama, 2019), Intan Andaru melakukan hal serupa dengan yang dilakukan para pengarang yang mengangkat tema peristiwa ’65 atas peristiwa yang berbeda meski secara karakteristik memiliki muatan yang sama: politik. Intan Andaru meminjam suara korban tragedi yang pernah terjadi di ujung timur Pulau Jawa dua puluh tahun silam, yaitu tentang pembantaian orang-orang yang dianggap sebagai dukun santet, untuk mengangkatnya kembali cerita pilu korban ke khalayak luas.

Meski tragedi ini skalanya jauh lebih kecil, baik dari segi peristiwa maupun jumlah korban dibandingkan tragedi ‘65, tragedi yang terjadi pada tahun peralihan dari Orde Baru ke Orde Reformasi itu masih menyisakan beragam pertanyaan dan penuh misteri hingga hari ini. Seperti halnya tragedi ‘65, pembantaian terhadap orang-orang yang dianggap sebagai dukun santet ini sampai sekarang belum menemukan titik terang siapa aktor intelektual sebenarnya di balik kejadian itu.

Memang sudah banyak tim pencari fakta di lapangan, baik pada masa itu maupun tahun-tahun sesudahnya. Ada yang menyimpulkan bahwa pembantaian massal itu adalah strategi politik yang dilakukan terorganisasi oleh kelompok elit tertentu dan meminjam tangan massa-rakyat biasa, atau terror by design.

Hal ini diperkuat dengan adanya orang-orang bertopeng—disebut ninja—yang kadang menampakkan diri di kampung-kampung pada malam hari saat peristiwa itu berlangsung. Mereka bergerak begitu lincah dan cekatan sehingga selalu lolos dari kejaran massa yang curiga. Seringkali setelah ada penampakan ninja, tak lama kemudian ada orang dibunuh, baik secara misterius maupun oleh massa yang terprovokasi. Banyak yang menduga bahwa orang-orang bertopeng itu adalah intelijen.

Tapi, ada pula yang menyimpulkan bahwa kejadian itu sebagai kejadian biasa yang bersifat spontan, pembiaran dan berulang, atau crime by omission seperti yang disampaikan Jason Brown dalam penelitiannya atas peristiwa itu dalam Perdukunan, Paranormal, dan Peristiwa Pembantaian (Teror Maut di Banyuwangi, 1998).

Namun, penemuan-penemuan ini justru semakin menambah kesimpangsiuran tentang apa dan siapa sebenarnya di balik kejadian itu. Seiring berjalannya waktu, segalanya dibiarkan menjadi remang-remang dan tak benar-benar selesai seperti halnya tragedi yang diawali dengan pembunuhan tujuh jenderal di negeri ini.

Di sinilah fiksi berfungsi, ketika suatu peristiwa kian mengabur dan sulit dipilah antara yang hitam dan yang putih, yang benar dan yang salah, fiksi menjadi juru bicara atas sejarah. Meski, tentu ia menolak menggunakan ‘bahasa sejarah’ maupun tunduk atas perintah sejarah yang selalu penuh pretensi. Karena fiksi tidak sedang mencari siapa yang benar dan siapa yang salah, tidak hendak memvonis atas suatu peristiwa.

Singkatnya, ia tidak sedang atau tidak akan pernah menjadi hakim. Tetapi, ia mengamati dengan saksama dan mengangkatnya sebagai realitas yang adil. Ia membicarakan keadaan dengan jujur tanpa intervensi sesuatu yang ada di luar dirinya. Ia membicarakan korban dan kemanusian-kemanusiaannya.

Sebagai pegarang, Intan Andaru mengambil peran itu melalui novelnya. Membuat alternatif bagi orang-orang yang ingin tahu apa yang terjadi di Banyuwangi pada tahun 1998. Tentu juga sebagai bagian dari cara menolak lupa tentang kekejaman yang pernah dialami manusia, pernah dialami oleh orang-orang sekitarnya.

Walaupun Intan bukan satu-satunya, jauh sebelum itu pengarang yang sama-sama kelahiran Banyuwangi, Langit Kresna Hariadi, juga mengangkat tema ini ke dalam novelnya, Kiamat Para Dukun (Era Intermedia, 2004). Namun, apa yang ditawarkan Intan dalam Perempuan Bersampur Merah menarik diikuti. Intan meminjam mulut anak kecil untuk menyampaikan realitas,untuk menyusun kembali peristiwa itu, sehingga sudut pandang ini menjadi demikian menarik.

Anak kecil, sebagaimana yang kita tahu, masih memiliki cara berpikir yang sangat jujur, polos, dan sama sekali belum terkontaminasi hal-hal besar di luar dirinya, terutama yang bersifat politik. Anak kecil menyampaikan apa yang dilihat sesuai dengan apa yang dilihat. Menyampaikan apa yang didengar sesuai dengan apa yang didengar. Ini salah satu strategi penceritaan yang menarik. Bahkan banyak pengarang dunia yang sudah melakukan hal ini; memakai sudut pandang anak kecil dalam cerita-ceritanya untuk menembus kekakuan yang menyekat orang dewasa.

Sari, tokoh utama dalam novel ini, baru menginjak usia sembilan tahun saat peristiwa itu terjadi. Saat orang-orang kampung—yang sangat dikenalnya—mengarak, memukuli, membantai orang yang dianggap sebagai dukun santet di muka umum.

Orang-orang yang dibantai itu bukan hanya orang lain atau tetangga jauh, melainkan juga ayahnya sendiri. Sari melihat dengan matakepalanya sendiri bagaimana ayahnya dibawa dari rumahnya, diseret oleh massa, dan dipukuli hingga tewas. Kemudian jasadnya ditinggalkan begitu saja di balai desa, selang beberapa waktu diambil oleh keluarganya seperti suatu kejadian yang lumrah semata.

Malam itu, kulihat dengan mata kepalaku sendiri, mereka menyeret Bapak—mengambil Bapak dari kami. Bapak yang melolong meminta tolong tak digubris sama sekali. Bahkan para tetangga dekatku yang terbangun karena keramaian malam itu tak dapat melakukan apa-apa selain memandangi kami dan menutup mulutnya. —(Andaru, 2019: 65)

Di antara para pembantai itu, ada beberapa orang yang begitu dikenal Sari. Mereka tak lain adalah tetangga jauhnya yang kesehariannya sama sekali tak menampakkan sebagai manusia jahat. Bahkan tak ada tanda-tanda mereka akanmenjadi pembantai yang begitu brutal.

Ada apa dengan mereka? Mengapa menjadi sedemikian agresif dan sadis? Apakah yang mereka lakukan murni bersifat spontankarenaterprovokasi atas isu dukun santet? PadahalayahSarihanya seorang buruh tani yang sesekali mengobatitetangganya yang sakit (menyuwuk), bukan seorang dukun dalam arti sebenarnya. Apalagi sebagai dukun santet seperti yang ujug-ujug disangkakan oleh massa.

Dari sini banyak celah untuk memahami kembali peristiwa itu. Terutama melalui pendekatan psikologis.Suatu kejadian yang berulang dan begitu masif secara logika sulit diterima sebagai spontanitas. Suatu peristiwa yang dirancang sedemikian sistematis dan terencana oleh kelompok atau golongan tertentu dengan meminjam tangan massa tak akan benar-benar terlaksana tanpa memahami terlebih dahulu sebuah penyakit psikologis massa.

Peristiwa dalam Perempuan Bersampur Merah atau pembantaian orang-orang yang dianggap sebagai dukun santet ini bisa dilihat dari pendekatan psikologis yaitu perspektif frustasi-agresi.Agresi yang disebabkan oleh dorongan-dorongan yang berada di luar diri (massa) sehingga menimbulkan suatu keadaan frustasi (dalam hal ini sebagai imbas dari keadaan sosial-politik dan ekonomi—kita tak mungkin melupakan bahwa tahun 1998 di Indonesia sebagai salah satu tahun yang sangat genting, baik sosial, politik,maupun ekonomi) dan agresi ini membutuhkan penyaluran. Agresi ini mencari situasi yang tepat untuk meledakkan diri.

Trauma yang Dipertanyakan

Dalam novel Perempuan Bersampur Merah, Intan menarasikan peristiwa demi peristiwa dengan cukup mengalir, tetapi cenderung fragmentaris. Cerita yang fragmentaris tentu bukan tanpa konsekuensi. Jika tidak digarap dengan tepat, cerita itu hanya menjadi pengisi ruang kosong-ruang kosong alur cerita. Tanpa sebuah pendalaman, terutama terhadap psikologis tokohnya. Hal inilah yang tampak pada beberapa bagian cerita dalam novel Perempuan Bersampur Merah.

Sari, meskipun tampak begitu sedih dan melankolis atas kematian ayahnya, dalam novel ini cukup diragukan perasaan takut apalagi trauma yang dialaminya. Atau mungkinkah ia memang tak benar-benar memiliki perasaan trauma atas kematian ayahnya yang dibunuh secara keji oleh massa?

Tidak lama setelah kematian ayahnya, Sari mencatat nama-nama orang yang dikenalnya yang ikut membunuh ayahnya itu ke dalam kertas—yang lepas dari jerat hukum. Melalui nama-nama yang dicatatnya inilah, jalinan cerita dalam Perempuan Bersampur Merah berkesinambungan, mengantarkan Sari ke fragmen-fragmen yang lain dalam kehidupannya di kemudian waktu, atau bahkan bisa dikatakan hal ini sebagai premis untuk membangun keseluruhan cerita.

Melalui nama-nama ini pula ia memulai semacam petualangan bersama sahabat kecilnya, Ahmad, menyelidiki dan mencari tahu lebih mendalam tentang kehidupan orang-orang yang nyata-nyata terlibat dalam pembantaian malam itu. Bahkan tak lama setelah peristiwa pembunuhan ayahnya, bersama Ahmad, ia berkunjung ke sebuah penjara di mana terdapat seorang lelaki ditahan karena dianggap terlibat, yaitu sopir truk yang tak sengaja mengantarkan massa yang hendak membantai ayah Sari.     

Sari memang tidak melakukan hal-hal besar dari penyelidikannya atas nama-nama itu layaknya tokoh-tokoh dalam cerita detektif atau pahlawan kecil yang melakukan pembalasan terhadap orang-orang yang dianggap musuhnya dan merugikan kehidupannya. Namun, mengingat ia adalah korban langsung, bahkan menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri kekejaman diberlangsungkan, cukup diragukan jika tak mengalami trauma yang mendalam. Alih-alih melakukan penyelidikan layaknya Tim Pencari Fakta atau aktivis berpengalaman.   

Apalagi mengingat umur Sari ketika masih sembilan tahun. Seorang bocah yang belum cukup mengerti tentang apa yang terjadi, terutama peristiwa besar sedang berlangsung dan sarat politik. Bahkan beberapa tahun kemudian, tanpa ragu Sari memasuki sanggar gandrung Mak Repyak dengan tujuan mencari salah satu nama orang yang ikut membantai ayahnya, Pak Sotar, karena ia diketahui dekat dengan Mak Repyak. Sari pura-pura mendaftar sebagai murid Mak Repyak untuk belajar menari demi melanjutkan penyelidikannya.

Meskipun penyedilikannya tak benar-benar berhasil di rumah Mak Repyak, dari penyelidikan di rumah Mak Repyak inilah Sari menemukan dirinya sebagai remaja perempuan yang berbakat menari, kemudian menjadi salah satu jalan hidupnya di masa remaja. Namun, rasanya Sari di sini bukan Sari kecil atau remaja lagi, melainkan Sari yang canggih. Terlalu canggih. Sari yang memiliki jiwa intelijen dan hasrat petualang penuh risiko.

Sebagai penyintas, agaknya cukup diragukan kemampuan Sari yang hebat itu. Mengingat, para penyintas serupa butuh waktu bertahun-tahun bahkan seumur hidupnya untuk bangkit dari trauma. Jangankan melakukan penyelidikan yang mandiri, mendengar nama sebuah peristiwa yang dialaminya pun kadang masih menjadi semacam teror. Nah!

*

Terlepas dari paparan singkat di atas yang perlu digarisbawahi dalam novel ini, secara keseluruhan novel Perempuan Bersampur Merah menarik untuk diikuti. Dengan memakai alur yang acak—tidak kronologis—melainkan berdasarkan tahun cerita berlangsung yang ditata sedemikian rupa, membuat novel ini menjadi cukup unik dan mengikat kita untuk membacanya sampai selesai.

Juga, novel ini cukup berarti karena menjadi alternatif bagi siapa pun yang ingin tahu tentang peristiwa besar yang terjadi di ujung timur Pulau Jawa pada akhir masa Orde Baru dan awal era Reformasi. Seperti halnya narasi-narasi tentang tragedi‘65 yang diangkat ke fiksi, kemudian menjadi cara kita yang lain untuk memahami kembali peristiwa itu, begitu juga dengan Perempuan Bersampur Merah. [T]

Tags: banyuwangiBukunovelresensiresensi buku
Share18TweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi IDK Raka Kusuma # Ranjang Bagi Leluhur

Next Post

Film “Sexy Killers” dan Urgensi Energi Terbarukan

Kim Al Ghozali AM

Kim Al Ghozali AM

Penulis puisi, prosa, dan esai. Ia memulai proses kreatifnya di Denpasar, dan kini mukim di Surabaya.

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Film “Sexy Killers” dan Urgensi Energi Terbarukan

Film “Sexy Killers” dan Urgensi Energi Terbarukan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co