6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sarajevo, Setelah Tahun-Tahun Buruk

Esha Tegar Putra by Esha Tegar Putra
October 8, 2018
in Tualang
Sarajevo, Setelah Tahun-Tahun Buruk

Sarajevo (Foto Esha Tegar Putra)

Dua jam menaiki pesawat dari Ataturk Airport (Istanbul, Turki) ke Sarajevo International Airport membuat mata saya kelimpanan. Pukul 19.20 waktu Istambul, kota itu masih terang ketika pesawat lepas landas dan Sarajevo juga masih belum gelap betul ketika pesawat yang saya tumpangi mendarat, pukul 20.20 waktu Sarajevo.

Waktu Sarajevo mundur satu jam dari Istanbul dan lima jam dari waktu di Padang (WIB). Jauh hari sebelum melaksanakan program residensi penulis Indonesia dari Komite Buku Indonesia (KBN) yang bekerjasama dengan Beasiswa Unggulan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia, saya sudah memasang aplikasi perbedaan waktu dunia, termasuk prediksi cuaca, dan saya mengetahui matahari baru akan tenggelam penuh pukul 21.00 waktu Sarajevo.

Mata saya terus serasa kelimpanan dan pikiran melayang ketika melangkah keluar dari pintu pesawat, menuju pemeriksaan paspor dan mulai oyong ketika menyeret koper seberat 20 kg. Lelah perjalanan 11 jam dari Kuala Lumpur International Airport dan transit 16 jam di Istambul mulai terasa.

Ketika transit di Istanbul lelah itu tidak terasa. Barangkali karena terlalu menikmati tur gratis keliling Istambul yang disediakan oleh maskapai penerbangan yang saya tumpangi. Kondisi tersebut mungkin efek jet lag, kata mereka yang sering terbang dan melancong ke negeri-negeri jauh. Maklum, perjalanan paling jauh yang saya tempuh baru dari zona Waktu Indonesia barat (WIB) menuju Waktu Indonesia Tengah (WITA).

Saya ditunggu di pintu kedatangan oleh salah seorang petugas Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Sarajevo. Di atas mobil berpelat CD (Corps Diplomatique) milik KBRI Sarajevo, saya terus menggosok-gosok mata, berusaha untuk tidak tertidur.

Di sepanjang jalan dari bandara ke tempat penginapan saya di daerah pekuburan Alivakovac membayang film Welcome to Sarajevo (1997) sutradara Michael Winterbotton. Juga instrumen musik GoranBregovic bertajuk Three Letter FromSarajevo yang dibagi dalam pembabakan “Surat Seorang Muslim”, “Surat Seorang Yahudi”, dan “Surat Seorang Kristiani”.

Sarajevo (Foto Esha Tegar Putra)

Entah kenapa suasana perang merundung setiap mendengar “Sarajevo”. Barangkali karena waktu kecil dari program-program berita televisi saya kerap melihat gambaran perang di Sarajevo. Juga mungkin karena pertanyaan orang-orang ketika saya mengatakan akanresidensi di Sarajevo: “Bukankah di sana terjadi perang?”

Sarajevo dalam Bingkai Pariwisata

Sampai di rumah tempat saya menginap saya disambut tuan rumah yang baik bernama Nadini. Jauh hari sebelumnya kami sudah berkomunikasi, ia sangat sopan dalam menyambut calon tamunya. Ia mengatakan bahwa saya tamu Indonesia-nya yang pertama. Ia menjelaskan sudut kamar hingga cara pemakaian barang-barang di ruangan yang akan saya huni. Nadini pamit pada saya, ia mengatakan tinggal di apartemen lain, karena ia baru punya bayi. Ia berpesan bahwa kalau saya butuh apa-apa bertanya saja pada ibunya.

“Ibuku hanya berbicara dalam bahasa Bosnia, ia tidak bisa bahasa Inggris, tapi percayalah kalian akan bisa berkomunikasi dengan baik. Ia ramah dan sangat baik,” kata Nadini.

Saya percaya itu. Sebelum tertidur, saya mengetuk kaca jendela Fadila karena mendengar suara azan, saat itu pukul 22.30 malam. Saya bertanya azan tersebut untuk salat apa? Fadila menjawab, meski dalam bahasa Bosnia, tapi saya mengerti jawabannya adalah salat Isya. Saya kembali ke kamar dan terdengar ketukaan dari luar pintu kamar. Rupanya Fadila mengantar sajadah untuk saya.

Bosnia-Herzegovina memang menjadi salah satu pilihan destinasi bagi mereka yang ingin berlibur musim panas. Juga tujuan bagi para peziarah muslim dan kristiani. Masjid, katedral, serta sinagog tua berdampingan dalam satu area kota tua (Bascarsija) Sarajevo. Di beberapa kota lain tata ruangnya juga hampir sama.

Di Mostar misalnya, kota yang berjarak kurang-lebih 130 kilometer dari Sarajevo itu saya melihat salib gigantik tertancap di atas sebuah bukit (Bukit Hum). Beberapa tempat di Bosnia dan Herzegovina memang pernah mengalami tahun-tahun buruk. Keragaman etnis dan keyakinan di negeri tersebut pernah bersabung intoleransi.

Begitu juga dengan Kota Mostar saya kira. Kota yang berdekatan dengan wilayah Kroasia tersebut tak luput dari perang saudara. Percik-percik intoleransi pernah saya baca dari sebuah catatan mengenai simbol keagamaan. Salib gigantik sebagai lambang umat Kristiani yang dibangun pada tahun 2000 dan Stari Most yang dibangun pada masa kekuasaan Ottoman 1557 sebagai perlambang Islam pernah memancing perdebatan.

Tapi dalam perjalanan saya, baik itu Sarajevo dan Mostar, sangat ramah bagi pengunjung. Dentang lonceng gereja bersabung suara azan dari masjid sama-sama terdengar bergema. Tidak ada tipuan bagi pelancong pada saat membeli barang–meski pengemis cukup banyak mangkal di beberapa tempat wisata.

Negara ini memang menjadi tujuan utama saya dalam residensi penulis yang diselenggarakan KBN. Sarajevo menjadi pilihan utama untuk tinggal selama sebulan. Perang periode 1992-1995 adalah ingatan yang mengendap dari masa kecil saya. Siaran berita televisi menyiarkan kehancuran Sarajevo dan daerah-daerah lain di Bosnia-Herzegovina. Bahkan hingga hari ini orang-orang masih memandang negara tersebut dalam masa perang. Terbukti ketika saya mengurus perpanjangan paspor dan pandangan kawan-kawan terhadap negara pilihan saya untuk residensi.

Kopi Sarajevo (Foto Esha Tegar Putra)

Negara tersebut sudah berbenah meskipun jejak-jejak bekas perang masih terlihat.Sektor pariwisata barangkali menjadi andalan utama mereka. Bangunan hancur terbiarkan dan tembok-tembok bekas hunjaman peluru masih terlihat di sana-sini–mungkin ini merupakan simbol untuk mengatak bahwa perang sangatlah buruk.

Bahkan di daerah sekitar Sarajevo masih ada himbauan untuk tidak melakukan perjalanan sendiri. Semisal daerah pegunungan Trebevic, Bjelasnica, Jahorina yang pernah menjadi lokasi Olimpiade Musim Dingin 1984, ketika daerah ini masih dalam kesatuan Yugoslavia. Ada imbauan untuk melakukan perjalanan bersama profesional karena ditenggarai masih banyak tertanam ranjau darat sisa perang.

Dua puluh tiga tahun pasca Perjanjian Dayton (1-2 November 1995) yang mempertemukan Alija Izetbegovic (presiden Bosnia), Slobodon Milosevic (presiden Serbia), FranjoTudman (presiden Kroasia), dengan negosiator Richard Holbrooke dan Jenderal Wesley Clark (Amerika Serikat) telah membuat Sarajevo berbeda dalam gambaran masa perang.

Jalur-jalur tram dibangun kembali, gedung-gedung diperbaiki, serta situs-situs tua peninggalan Ottoman dan Austro-Hungaria direkonstruksi dari sumbangan berbagai negara lain. Turki, selain negara lain, saya kira banyak membantu perbaikan berbagai situs Ottoman yang hancur akibat perang. Terlihat dari bendera Turki terpatri di panel-panel, di spanduk, dan berkibar di depan beberapa bangunan sekitar Bascarsija.

Wisata sejarah digarap sedemikian rupa di Sarajevo. Tidak hanya mengenai perang 1992-1995 tapi juga mengenai Perang Dunia I. Di salah satu museum dekat Jembatan Latin, lokasi tertembaknya pangeran Austria Franz Ferdinand yang menjadi pemicu Perang Dunia I, foto-foto dipampangkan di bagian dinding. Setiap situs-situs bersejarah panel-panel dengan narasi kesejarahan dituliskan dengan baik. Bahkan beberapa ceruk sisa bahan eksplosif mortar saat Pengepuangan Sarajevo diabadikan dan diberi garis batas.

Konon untuk mengenang mereka yang menjadi korban di masa perang saudara. Wisata sejarah barangkali memang menjadi andalan utama Sarajevo selain wisata alam di daerah lain sekitar Bosnia dan Herzegovina. Semua petunjuk lokasi wisata digarap dengan baik, map-map bagi pengunjung, tur keliling kota gratis, bahkan petunjuk dalam aplikasi ponsel. Tinggal memindai kode QR di panel-panel lokasi makan semua informasi akan terpampang di layar ponsel.

Tak salah kota tersebut dimasukkan oleh Lonely Planet dalam 10 kota yang layak dan harus dikunjungi. Sarajevo memang menyajikan lapisan sejarah unik di mana berbagai simpul kebudayaan dan agam terikat dengan baik hingga kota tersebut disimbolkan sebagai “Jerusalem of The Balkan”.

Sarajevo dan Mostar dan beberapa lokasi sejarah lain di sekitar kota tersebut memang menjadi tujuan saya untuk melihat bagaimana Bosnia dan Herzegovina tumbuh dalam keragaman. Masih banyak lokasi lain pasca perang 1992-1995 yang hendak menjadi tujuan saya menulis. Sebrenica adalah salah satu di antaranya. Tempat di mana pembantaian terhadap 8.000 warga muslim daerah sanah pernah dibantai milisi Serbia di bawah pimpinan Jendral Ratko Mladic. (T)

Tags: PariwisataperjalananSarajevosastra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ekspresionisme

Next Post

Catatan PPL: Menjadi Guru yang Memanusiakan Anak Didik

Esha Tegar Putra

Esha Tegar Putra

Sastrawan Indonesia dari Minangkabau, pengajar dan penggagas acara-acara sastra

Related Posts

Menyusuri Heritage Kota, Memeluk Kaum Terpinggir —Kado Kecil Keluarga Sejarah Universitas Udayana untuk HUT ke-238 Kota Denpasar

by Kadek Surya Jayadi
February 28, 2026
0
Menyusuri Heritage Kota, Memeluk Kaum Terpinggir —Kado Kecil Keluarga Sejarah Universitas Udayana untuk HUT ke-238 Kota Denpasar

ADA banyak cara merayakan hari jadi suatu kota. Tak selamanya meski meriah, sebab yang sederhana pun kadang terasa semarak. Sebagaimana...

Read moreDetails

Berkunjung dan Belajar ke Desa Wisata Krebet, Bantul, Yogyakarta

by Nyoman Nadiana
February 26, 2026
0
Berkunjung dan Belajar ke Desa Wisata Krebet, Bantul, Yogyakarta

TANGGAL 4-8 Februari 2026 lalu, saya kembali menapaki Jakarta. Saya berkesempatan terlibat di pameran INACRAFT 2026, pameran craft dan textile...

Read moreDetails

Hujan Februari di Istana Maskerdam: Ziarah Romantis KEMAS UNUD di Situs Puri Agung Karangasem

by Kadek Surya Jayadi
February 21, 2026
0
Hujan Februari di Istana Maskerdam: Ziarah Romantis KEMAS UNUD di Situs Puri Agung Karangasem

RINTIK hujan mengiringi perjalanan kami Keluarga Mahasiswa Sejarah (KEMAS) Universitas Udayana, menuju Puri Agung Karangasem, Jumat 20 Februari 2026. Percuma...

Read moreDetails

Catatan Perjalanan Bodhakeling: Dialog Lintas Iman dan Upaya Membaca Situs Sejarah Baru

by Kadek Surya Jayadi
February 18, 2026
0
Catatan Perjalanan Bodhakeling: Dialog Lintas Iman dan Upaya Membaca Situs Sejarah Baru

SINAR mentari pagi menyambut dengan hangat, menghiasi perjalanan Keluarga Besar Prodi Sejarah Universitas Udayana menuju Desa Bodhakeling. Bus Universitas Udayana...

Read moreDetails

Benteng Van der Wijck, Gombong: Jejak Silam Kolonial Belanda

by Chusmeru
February 1, 2026
0
Benteng Van der Wijck, Gombong: Jejak Silam Kolonial Belanda

GOMBONG merupakan satu kecamatan yang terdapat di Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Kecamatan ini memiliki lokasi yang strategis, karena dilewati oleh...

Read moreDetails

Kilas Balik Sejarah Kelam di Kamp Konsentrasi Auschwitz

by Nadia Pranasiwi Justie Dewantari
January 27, 2026
0
Kilas Balik Sejarah Kelam di Kamp Konsentrasi Auschwitz

KATOWICE, kota tempat saya menjalankan exchange di Polandia, menawarkan kesibukan layaknya kota modern pada umumnya. Namun, hanya satu jam dari...

Read moreDetails

Lebih dari Sekadar ‘Exchange’: Pengalaman Berharga di Polandia

by Nadia Pranasiwi Justie Dewantari
January 22, 2026
0
Lebih dari Sekadar ‘Exchange’: Pengalaman Berharga di Polandia

Dzień dobry! Nama saya Nadia Pranasiwi Justie Dewantari, mahasiswi kedokteran Universitas Gadjah Mada, Indonesia. Pada bulan Agustus 2025, saya mengikuti...

Read moreDetails

Jejak Sunyi di Negeri Sakura

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
January 8, 2026
0
Jejak Sunyi di Negeri Sakura

JEPANG kerap dijuluki sebagai negeri Sakura yang disinari matahari terang, sebuah citra yang terpatri kuat melalui benderanya: lingkaran merah di...

Read moreDetails

Mengamati Wolfdog di Alpha Wolf Lodge Nuanu

by Doni Sugiarto Wijaya
January 6, 2026
0
Mengamati Wolfdog di Alpha Wolf Lodge Nuanu

DI kabupaten Tabanan, tepatnya tak jauh dari lokasi Pantai Nyanyi, Desa  Beraban, ada tempat wisata bernama Nuanu. Nuanu dikenal sebagai...

Read moreDetails

Mengagumi Branding Negeri Perak, Ipoh, Malaysia

by Nyoman Nadiana
December 30, 2025
0
Mengagumi Branding Negeri Perak, Ipoh, Malaysia

PERJALANAN di penghujung tahun 2025 kemarin, saya menaruh Ipoh di Negeri Perak Malaysia sebagai destinasi setelah Singapura. Mengambil jalur darat...

Read moreDetails
Next Post
Catatan PPL: Menjadi Guru yang Memanusiakan Anak Didik

Catatan PPL: Menjadi Guru yang Memanusiakan Anak Didik

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co