4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ini Undangan: Saya, Si “Pelacur”, Bermain Lagi…

Devy Gita by Devy Gita
February 2, 2018
in Esai

Pentas monolog Pelacur di Romprok Kopi Kertas Budaya, Jembrana

 

“Senang? Bagaimana bisa senang kalau diperkosa? Saya juga manusia biasa, meskipun PELACUR!” (Monolog Pelacur, Putu Wijaya)

Eksistensi seorang pelacur seharusnya tidak usah dipertanyakan lagi. Bukan hal mengapa dia ada? Namun, siapa yang membuat dia ada? Selama dirinya masih dicari dan dibutuhkan untuk memuaskan selangkangan-selangkangan berduit, dia tidak akan berhenti bekerja.

Pelacur bukanlah sebuah cita-cita. Manusia mana yang dengan bangganya berkoar jika kelak saat besar dia ingin menjadi pemuas dahaga diatas ranjang?  Nihil. Pilihan karena kosongnya pilihan lainlah yang membuat para perempuan tersebut merentalkan vagina mereka. Apa karena bekerja sebagai pelacur membuat mereka menjadi bukan manusia? Siapa bilang?

Mereka tetaplah manusia, dengan jumlah anggota tubuh yang sama dengan manusia lain. Mempunyai akal, pikiran dan hati, hal yang dimiliki juga oleh makhluk yang disebut manusia, bukan? Tetapi, mengapa perlakuan yang mereka terima berbeda? Mengapa untuk menafkahi keluarga, mereka menyembunyikan identitas?

Sebagai warga, pelacur juga punya hak yang sama untuk mendapatkan keadilan atas ketidakadilan yang mereka terima dari oknum panutan masyarakat yang seharusnya menegakkan keadilan itu sendiri.

Paradoks di atas dituangkan dalam sebuah pementasan monolog dalam rangka  Festival Pelajar Jembrana dalam naskah monolog yang berjudul Pelacur karya Putu Wijaya pada tangggal 8 Oktober 2017 lalu di Rompyok Kopi Rumah Kertas Budaya Jembrana.

Setelah 2 bulan, sang sutradara, Wulan Dewi Saraswati memutuskan untuk mementaskan naskah ini sekali lagi dalam Festival Monolog 100 Putu Wijaya pada pertengahan Desember 2017 dengan tetap mempercayakan saya, Devy Gita, untuk memerankan si Pelacur.

Mengambil naskah yang sama dengan aktor yang sama pula merupakan sebuah pemuasan dahaga berkreatifitas dan bereksperimen dalam sebuah produksi pementasan teater khususnya monolog. Dalam sebuah naskah, berbagai interpretasi tentang bagaimana membawa naskah ini ke atas panggung bermunculan.

Mulai dari setting panggung, kostum pemain, iringan musik yang digunakan, visualisasi pendukung, sampai gesture dan mimik pemain saat di atas pangung.  Sehingga menjadi wajar jika saat sebuah naskah dieksekusi menjadi pementasan satu dan lainnya walaupun dimainkan oleh aktor yang sama akan terasa berbeda.

Hal inilah yang menjadi latar belakang dipilihnya naskah pelacur dengan aktor yang sama untuk kembali dipertontonkan pada hari Selasa, 19 Desember 2017 nanti di Rumah Belajar Komunitas Mahima, Singaraja.

Berkaca dari evaluasi penampilan sebelumnya yang di tonton kembali berkali-kali dan menerima banyak kritik membangun, pementasan kali ini memberikan beban yang lebih besar kuantitasnya bagi aktor maupun sutradara.

Pada pementasan pertama, persiapan pentas kurang dari 7 hari. Mulai dari pemahaman naskah hingga publikasi dan gladi. Apalagi saat pementasan terjadi beberapa kendala tidak terduga yang membuat pementasan terlihat kurang maksimal dan tidak memberikan kepuasan bagi sutradara maupun pemain.

Proses pra-produksi untuk pementasan kali ini mendapatkan porsi waktu yang lebih Panjang. Persiapan dan latihan dilakukan tidak terjadwal karena kesibukan masing-masing dari sutradara dan aktor yang harus menunaikan kewajiban untuk mencerdaskan anak-anak bangsa. Latihan dimulai sore hingga malam hari sambil menyiapkan mapping dan publikasi untuk memeriahkan pementasan.

Mekipun pementasan monolog memerlukan tim dan persiapan pra-produksi yang tidak sebanyak produksi – produksi teater lain, kami tetap melakukannya dengan serius. Detail sangat diperhatikan, sutradara juga memberikan kebebasan pemain untuk bereksplorasi terhadap naskah.

Namun karena saya, si pemain, belum memiliki jam terbang tinggi dalam hal pementasan monolog, kesabaran dan arahan sutradara menjadi hal yang krusial. Beruntung, pemain dan sutradara memiliki kedekatan dan dalam frekuensi yang sama sehingga proses latihan berjalan dengan baik.

BACA JUGA: Pelacur, Repetisi Ingatan Perempuan dan Hak yang Dibungkam

Untuk publikasi dan musik penyemarak pementasan, tangan-tangan kreatif Carolina Ajeng (Akar) dan Dea Chessa dipercayakan. Mengambil konsep recall memory dengan menggabungkan potongan – potongan stimulus dari emosi masa lalu dan keadaan sekarang, sutradara dan pemain ingin memberikan penampilan berbeda dari pementasan Pelacur sebelumnya yang sangat sederhana.

Pra-Produksi Monolog pelacur dikerjakan keroyokan oleh perempuan-perempuan untuk perempuan. Mengingat kami bernaung dibawah payung Komunitas Mahima yang aktif bergerak dan menyuarakan The Power of Women melalui seni pertunjukan dan sastra, kami sekaligus ingin membuktikan pada diri sendiri bahwa kami adalah perempuan yang memiliki semangat, potensi dan kemampuan untuk menghasilkan sebuah karya yang layak dinikmati oleh penikmat seni pertunjukan teater.

Juga, kami mengharapkan mampu memberikan percikan rasa kepo bagi orang-orang yang tidak tahu menahu tentang pertunjukan monolog sehingga mereka penasaran dan datang berbondong – bondong menonton dan bersenang-senang bersama. (T)

Tags: Festival Monolog Bali 100 Putu WijayaMonologrenunganseni pertunjukanTeater
Share51TweetSendShareSend
Previous Post

Raudal Tanjung Banua# Puisi: Ke Barat dari Lovina, Blora, Sungai Sungi Tabanan

Next Post

“Pelacur”, Repetisi Ingatan Perempuan dan Hak yang Dibungkam – Catatan Sutradara

Devy Gita

Devy Gita

Mantan guru yang kini nyasar jadi HR di sekolah internasional. Pernah main teater, gemar menulis, mudah berteman, dan secara misterius penikmat horror garis keras. Kombinasi yang kadang membuat hidupnya sendiri terasa seperti genre campuran. instagram: @devygita

Related Posts

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails
Next Post

“Pelacur”, Repetisi Ingatan Perempuan dan Hak yang Dibungkam – Catatan Sutradara

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Kuliner

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co