21 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ini Undangan: Saya, Si “Pelacur”, Bermain Lagi…

Devy Gita by Devy Gita
February 2, 2018
in Esai

Pentas monolog Pelacur di Romprok Kopi Kertas Budaya, Jembrana

 

“Senang? Bagaimana bisa senang kalau diperkosa? Saya juga manusia biasa, meskipun PELACUR!” (Monolog Pelacur, Putu Wijaya)

Eksistensi seorang pelacur seharusnya tidak usah dipertanyakan lagi. Bukan hal mengapa dia ada? Namun, siapa yang membuat dia ada? Selama dirinya masih dicari dan dibutuhkan untuk memuaskan selangkangan-selangkangan berduit, dia tidak akan berhenti bekerja.

Pelacur bukanlah sebuah cita-cita. Manusia mana yang dengan bangganya berkoar jika kelak saat besar dia ingin menjadi pemuas dahaga diatas ranjang?  Nihil. Pilihan karena kosongnya pilihan lainlah yang membuat para perempuan tersebut merentalkan vagina mereka. Apa karena bekerja sebagai pelacur membuat mereka menjadi bukan manusia? Siapa bilang?

Mereka tetaplah manusia, dengan jumlah anggota tubuh yang sama dengan manusia lain. Mempunyai akal, pikiran dan hati, hal yang dimiliki juga oleh makhluk yang disebut manusia, bukan? Tetapi, mengapa perlakuan yang mereka terima berbeda? Mengapa untuk menafkahi keluarga, mereka menyembunyikan identitas?

Sebagai warga, pelacur juga punya hak yang sama untuk mendapatkan keadilan atas ketidakadilan yang mereka terima dari oknum panutan masyarakat yang seharusnya menegakkan keadilan itu sendiri.

Paradoks di atas dituangkan dalam sebuah pementasan monolog dalam rangka  Festival Pelajar Jembrana dalam naskah monolog yang berjudul Pelacur karya Putu Wijaya pada tangggal 8 Oktober 2017 lalu di Rompyok Kopi Rumah Kertas Budaya Jembrana.

Setelah 2 bulan, sang sutradara, Wulan Dewi Saraswati memutuskan untuk mementaskan naskah ini sekali lagi dalam Festival Monolog 100 Putu Wijaya pada pertengahan Desember 2017 dengan tetap mempercayakan saya, Devy Gita, untuk memerankan si Pelacur.

Mengambil naskah yang sama dengan aktor yang sama pula merupakan sebuah pemuasan dahaga berkreatifitas dan bereksperimen dalam sebuah produksi pementasan teater khususnya monolog. Dalam sebuah naskah, berbagai interpretasi tentang bagaimana membawa naskah ini ke atas panggung bermunculan.

Mulai dari setting panggung, kostum pemain, iringan musik yang digunakan, visualisasi pendukung, sampai gesture dan mimik pemain saat di atas pangung.  Sehingga menjadi wajar jika saat sebuah naskah dieksekusi menjadi pementasan satu dan lainnya walaupun dimainkan oleh aktor yang sama akan terasa berbeda.

Hal inilah yang menjadi latar belakang dipilihnya naskah pelacur dengan aktor yang sama untuk kembali dipertontonkan pada hari Selasa, 19 Desember 2017 nanti di Rumah Belajar Komunitas Mahima, Singaraja.

Berkaca dari evaluasi penampilan sebelumnya yang di tonton kembali berkali-kali dan menerima banyak kritik membangun, pementasan kali ini memberikan beban yang lebih besar kuantitasnya bagi aktor maupun sutradara.

Pada pementasan pertama, persiapan pentas kurang dari 7 hari. Mulai dari pemahaman naskah hingga publikasi dan gladi. Apalagi saat pementasan terjadi beberapa kendala tidak terduga yang membuat pementasan terlihat kurang maksimal dan tidak memberikan kepuasan bagi sutradara maupun pemain.

Proses pra-produksi untuk pementasan kali ini mendapatkan porsi waktu yang lebih Panjang. Persiapan dan latihan dilakukan tidak terjadwal karena kesibukan masing-masing dari sutradara dan aktor yang harus menunaikan kewajiban untuk mencerdaskan anak-anak bangsa. Latihan dimulai sore hingga malam hari sambil menyiapkan mapping dan publikasi untuk memeriahkan pementasan.

Mekipun pementasan monolog memerlukan tim dan persiapan pra-produksi yang tidak sebanyak produksi – produksi teater lain, kami tetap melakukannya dengan serius. Detail sangat diperhatikan, sutradara juga memberikan kebebasan pemain untuk bereksplorasi terhadap naskah.

Namun karena saya, si pemain, belum memiliki jam terbang tinggi dalam hal pementasan monolog, kesabaran dan arahan sutradara menjadi hal yang krusial. Beruntung, pemain dan sutradara memiliki kedekatan dan dalam frekuensi yang sama sehingga proses latihan berjalan dengan baik.

BACA JUGA: Pelacur, Repetisi Ingatan Perempuan dan Hak yang Dibungkam

Untuk publikasi dan musik penyemarak pementasan, tangan-tangan kreatif Carolina Ajeng (Akar) dan Dea Chessa dipercayakan. Mengambil konsep recall memory dengan menggabungkan potongan – potongan stimulus dari emosi masa lalu dan keadaan sekarang, sutradara dan pemain ingin memberikan penampilan berbeda dari pementasan Pelacur sebelumnya yang sangat sederhana.

Pra-Produksi Monolog pelacur dikerjakan keroyokan oleh perempuan-perempuan untuk perempuan. Mengingat kami bernaung dibawah payung Komunitas Mahima yang aktif bergerak dan menyuarakan The Power of Women melalui seni pertunjukan dan sastra, kami sekaligus ingin membuktikan pada diri sendiri bahwa kami adalah perempuan yang memiliki semangat, potensi dan kemampuan untuk menghasilkan sebuah karya yang layak dinikmati oleh penikmat seni pertunjukan teater.

Juga, kami mengharapkan mampu memberikan percikan rasa kepo bagi orang-orang yang tidak tahu menahu tentang pertunjukan monolog sehingga mereka penasaran dan datang berbondong – bondong menonton dan bersenang-senang bersama. (T)

Tags: Festival Monolog Bali 100 Putu WijayaMonologrenunganseni pertunjukanTeater
Share51TweetSendShareSend
Previous Post

Raudal Tanjung Banua# Puisi: Ke Barat dari Lovina, Blora, Sungai Sungi Tabanan

Next Post

“Pelacur”, Repetisi Ingatan Perempuan dan Hak yang Dibungkam – Catatan Sutradara

Devy Gita

Devy Gita

Mantan guru yang kini nyasar jadi HR di sekolah internasional. Pernah main teater, gemar menulis, mudah berteman, dan secara misterius penikmat horror garis keras. Kombinasi yang kadang membuat hidupnya sendiri terasa seperti genre campuran. instagram: @devygita

Related Posts

‘Moral Panic’ di Ruang Tafsir: Membaca Polemik Film ‘Pesta Babi’ di Era Digital

by Lailatus Sholihah
May 20, 2026
0
‘Moral Panic’ di Ruang Tafsir: Membaca Polemik Film ‘Pesta Babi’ di Era Digital

ERA digital ini, kemarahan hampir selalu bergerak lebih cepat daripada proses memahami, seperti sebuah judul yang diadili sebelum karya itu...

Read moreDetails

Mozaik 20 Mei: Banyak Seremoni, Miskin Kebangkitan

by Chusmeru
May 20, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SETIAP tanggal 20 Mei bangsa Indonesia seolah menyetel ulang kompas tentang nasionalisme. Dari mana nasionalisme dimulai, dan kini hendak dibawa...

Read moreDetails

Sudut Pandang, Cinta, dan Manusia yang Terlalu Cepat Menghakimi

by Emi Suy
May 19, 2026
0
Menulis: Perspektif Pengalaman Pribadi

DUNIA modern melahirkan manusia-manusia yang semakin pandai berbicara, tetapi perlahan kehilangan kemampuan memahami. Hari ini, orang terlalu cepat membuat kesimpulan...

Read moreDetails

Setelah Tari Pembuka, Apa yang Tersisa dari Diplomasi Budaya Indonesia?

by Early NHS
May 19, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

JUMAT malam, 8 Mei 2026, di Mactan Expo, Cebu, Filipina, dalam jamuan santap malam KTT ke-48 ASEAN, budaya tampil lagi...

Read moreDetails

Emansipasi Wanita di Baduy  [Satu Sudut Pandang]

by Asep Kurnia
May 19, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

KESETARAAN gender telah lama dikumandangkan, namun secara pasti entah mulai abad keberapa muncul kesadaran kolektif tentang tuntutan kesetaraan gender oleh...

Read moreDetails

Artikulasi atau Bisik-Bisik, Penting Mana?

by Petrus Imam Prawoto Jati
May 19, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, Hari Buruh kemarin, yang hampir kita lupakan, sebenarnya menyimpan satu momen kecil yang lebih menarik daripada...

Read moreDetails

Arsip Visual Ada, Arsip Pemikiran Tiada

by I Gusti Made Darma Putra
May 19, 2026
0
Arsip Visual Ada, Arsip Pemikiran Tiada

Kita telah rajin merekam panggung, tetapi belum cukup serius merekam proses penciptaannya. Menjelang Pesta Kesenian Bali 2026, denyut kesenian Bali...

Read moreDetails

Mengapa Agama Kita Mengabarkan Lebih Banyak Berita Buruk?

by Putu Arya Nugraha
May 19, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

Sebuah paradoks tentunya. Agama, mestinya membawa hal-hal baik, bahkan meski jika itu sebuah ilusi seperti yang dikatakan oleh Karl Marx....

Read moreDetails

‘Lock Accounts, Shaken Trust’: Perlunya Transparansi Komunikasi Perbankan

by Fitria Hani Aprina
May 19, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

Freeze & Fret! Guys, tiba-tiba rekening kamu ada yang diblokir?? Nah, kebijakan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) terkait...

Read moreDetails

Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo

by Faris Widiyatmoko
May 15, 2026
0
Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo

“The man who wears the shoe knows best that it pinches and where it pinches, even if the expert shoemaker...

Read moreDetails
Next Post

“Pelacur”, Repetisi Ingatan Perempuan dan Hak yang Dibungkam – Catatan Sutradara

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Dipaning Jayaswara’: Cahaya Baru Jegeg Bagus Tabanan 2026
Gaya

‘Dipaning Jayaswara’: Cahaya Baru Jegeg Bagus Tabanan 2026

SEMAKIN malam, semakin meriah juga suasana di Gedung Kesenian I Ketut Marya, pada Jumat, 8 Mei 2016. Tepuk tangan riuh...

by Julio Saputra
May 20, 2026
Bang Dance Matangkan Struktur dan Posisi Artistik dalam Inkubasi Tahap III “Sejak Padi Mengakar”
Panggung

Bang Dance Matangkan Struktur dan Posisi Artistik dalam Inkubasi Tahap III “Sejak Padi Mengakar”

"Memasuki tahap akhir inkubasi, Bang Dance merumuskan struktur dramaturgi, strategi afektif, dan posisi artistik karya sebagai praktik koreografi kontemporer berbasis...

by Nyoman Budarsana
May 20, 2026
Pantai Kedonganan Ramai Lagi, Tapi Sudahkah Siap Go Digital?
Khas

Pantai Kedonganan Ramai Lagi, Tapi Sudahkah Siap Go Digital?

PANTAI Kedonganan di kawasan Kuta, Badung, Bali, perlahan hidup kembali. Menjelang sore, deretan meja di tepi pantai mulai terisi. Aroma...

by Ni Luh Gde Sari Dewi Astuti
May 20, 2026
‘Moral Panic’ di Ruang Tafsir: Membaca Polemik Film ‘Pesta Babi’ di Era Digital
Esai

‘Moral Panic’ di Ruang Tafsir: Membaca Polemik Film ‘Pesta Babi’ di Era Digital

ERA digital ini, kemarahan hampir selalu bergerak lebih cepat daripada proses memahami, seperti sebuah judul yang diadili sebelum karya itu...

by Lailatus Sholihah
May 20, 2026
Dialektika Sastra Bali dan Kesehatan Mental : Membedah Estetika ‘Tresna Ngatos Mati’ lewat Filosofi Smaradhana
Ulas Musik

Dialektika Sastra Bali dan Kesehatan Mental : Membedah Estetika ‘Tresna Ngatos Mati’ lewat Filosofi Smaradhana

Citta-Vrittis dan Fenomena 'Sending' Dalam Psikologi Kognitif dan Filosofi Hindu, gejolak pikiran yang tak menentu disebut sebagai Citta-Vrittis. Fenomena sending...

by Ida Ayu Made Dwi Antari
May 20, 2026
Reruntuhan di Sekitar Sosok Ayah dalam ‘Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong’
Ulas Buku

Reruntuhan di Sekitar Sosok Ayah dalam ‘Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong’

TERBIT pada tahun 2024, Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong (selanjutnya disingkat AMKM) menjadi semacam pemenuhan keinginan Eka Kurniawan untuk menulis novel...

by Inno Koten
May 20, 2026
BTR Ultra 2026 dan Hal-hal yang Menjadikannya Prestisius
Tualang

BTR Ultra 2026 dan Hal-hal yang Menjadikannya Prestisius

Roses are red Violets are blue 106,20 KM? WTF is wrong with you? SEBUAH papan merah bertuliskan kata-kata di atas...

by Julio Saputra
May 20, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Mozaik 20 Mei: Banyak Seremoni, Miskin Kebangkitan

SETIAP tanggal 20 Mei bangsa Indonesia seolah menyetel ulang kompas tentang nasionalisme. Dari mana nasionalisme dimulai, dan kini hendak dibawa...

by Chusmeru
May 20, 2026
Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026
Persona

Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

CITRA  Sasmita, seniman perempuan asal Bali menjadi seniman Indonesia pertama yang  meraih penghargaan utama, Grand Prize Winner, pada ajang seni...

by Nyoman Budarsana
May 20, 2026
Menulis: Perspektif Pengalaman Pribadi
Esai

Sudut Pandang, Cinta, dan Manusia yang Terlalu Cepat Menghakimi

DUNIA modern melahirkan manusia-manusia yang semakin pandai berbicara, tetapi perlahan kehilangan kemampuan memahami. Hari ini, orang terlalu cepat membuat kesimpulan...

by Emi Suy
May 19, 2026
Ungkapan ‘Sakit Hati dan Patah Hati’ Nadiem Memantik Simpati Publik
Bahasa

Ungkapan ‘Sakit Hati dan Patah Hati’ Nadiem Memantik Simpati Publik

Pernahkah Anda mendengar seseorang kecewa dan mengeluh bahwa ia sedang patah hati kepada sebuah negara? Saya sendiri kerap mendengar orang...

by I Made Sudiana
May 19, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

Setelah Tari Pembuka, Apa yang Tersisa dari Diplomasi Budaya Indonesia?

JUMAT malam, 8 Mei 2026, di Mactan Expo, Cebu, Filipina, dalam jamuan santap malam KTT ke-48 ASEAN, budaya tampil lagi...

by Early NHS
May 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co