6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menyintas Ganas Korupsi di Tahta Dewata

Putu Suweka Oka Sugiharta by Putu Suweka Oka Sugiharta
February 2, 2018
in Opini

Lukisan cerita rakyat Manik Angkeran. /Foto: Google

 

LONTAR Pura Botoh merupakan salah satu nawalapatra yang memuat mitologi terbentuknya pulau Bali dan memendarkan pelita semangat antikorupsi di bilik-bilik remang sejarah.

Terdengih melalui saluran nafas cerita sepuh tatkala wilayah Bali masih mendekam dalam satu daratan dengan Jawa pernah hidup seorang pendeta bernamaDang Hyang Siddhimantra yang bergelar Mpu Bekung sebab sang pendeta belum berketurunan. Sesungguhnya Sang Mpu sangat ingin memiliki keturunan oleh karenanya pada waktu yang terpilih dilakukan pemujaan kepada Sang Hyang Brahmakunda Wijaya guna mendapatkan seorang putera.

Permohonan sang pendeta terkabul dengan lahirnya seorang bayi laki-laki yang selanjutnya diberikan nama Manik Angkeran. Saking gembiranya karena telah berputera Siddhimantra tanpa disadari menyemai bibit bahala dengan memanjakan Manik Angkeran secara berlebihan. Benar saja, setelah beranjak dewasa, Manik Angkeran menjadi pembabil yang kecanduan berjudi serta menyebabkan ludesnya harta orangtuanya.

Siddhimantra yang terlanjur terbekuk rasa sayang kepada puteranya kemudian melakukan pemujaan kepada Hyang Naga Basukih di Gunung Tohlangkir (Gunung Agung) untuk mendapatkan petunjuk dalam mengatasi kesulitan-kesulitan hidupnya. Naga Basukih sangat berkenan dengan pemujaan yang dilakukan Siddhimantra dan memberikan anugerah emas permata. Ketika merasa telah mendapatkan sarana memulihkan stamina ekonomi keluarganya Siddhimantra kemudian mengucapkan terimakasih seraya memohon diri untuk kembali ke Jawa.

Mengetahui sang ayah mendapatkan emas permata yang sangat banyak dalam waktu singkat, Manik Angkeran terus menerus menanyakan perihal asal usul benda-benda berharga tersebut. Mulanya Siddhimantra enggan menceritakan perihal muasal harta benda yang diperolehnya, namun karena Manik Angkeran terus menerus mencecarnya akhirnya semuanya diceritakan dengan terang benderang. Setelah mendengar penjelasan sang ayah, Manik Angkeran bukannya bersyukur kepada Tuhan atas segala limpahan radi-Nya, sebaliknya malah memantik keserakahan untuk mendapatkan kekayaan yang lebih banyak.

Saat mendapat peluang daya pikir Manik Angkeran kian buncah dan semakin bernafsu mencuri peralatan pemujaan milik sang ayah sebagai bekal mencalang Gunung Tohlangkir. Setibanya di depan sthana Naga Basukih, Manik Angkeran segera melakukan puja sebagaimana yang biasa dilakukan oleh sang ayah.

Mendengar gema genta milik sahabatnya yang dirasa mengimang-imang wibawanya Naga Basukih segera bertolak dari singgasananya namun yang didapatinya hanyalah orang asing yang memperkenalkan diri sebagai putera Siddhimantra serta mengaku diutus oleh sang ayah. Naga Basukih segera percaya karena genta pusaka milik sahabatnya benar-benar dibawa oleh pemuda itu.

Penguasa Giri Tohlangkir itu tidak alpa menanyakan maksud kedatangan Manik Angkeran, tetapi karena Manik Angkeran mengaku hanya berkeinginan melakukan pemujaan serta tidak mengharapkan pemberian apapun Naga Basukih bergegas kembali ke singgasana-Nya. Manakala melihat ekor Naga Basukih yang bertahtakan emas permata maka muncullah keserakahan dalam hati Manik Angkeran sehingga dengan secepat kilat tangannya telah menebas ekor junjungannya.

Intan hiasan ekor Naga Basukih dilarikan oleh Manik Angkeran, namun lacur belum begitu jauh Manik Angkeran yang bacul melarikan diri tubuhnya telah hangus terbakar oleh kekuatan Naga Basukih.

Dang Hyang Siddhimantra yang memiliki daya linuwih tinggi segera mengetahui bahwa puteranya telah tewas. Sang pendeta kemudian menghadap Naga Basukih agar puteranya dihidupkan kembali seraya berjanji bila buah hatinya dapat hidup kembali maka akan diserahkan sebagai abdi di Balirajya.

Naga Basukih yang masih murka akhirnya menyanggupi permintaaan sang pendeta dengan catatan bila ekornya dapat sembuh seperti sediakala.Rupanya sang pendeta benar-benar berhasil menyembuhkan ekor Naga Basukih sehingga Manik Angkeran pun dihidupkan kembali. Guna mencegah Manik Angkeran kembali ke Tanah Jawa, Siddhimantra menciptakan lautan sempit yang memisahkan Jawa dan Bali.

Narasi mengenai lawatan hidup Manik Angkeran dari titik inersia moral akut menuju antitesa kekal yang paripurna sangat layak diteladani. Secara harafiah manik berarti permata dan angkeran berarti keramat, dengan demikian Manik Angkeran bermakna permata atau kekayaan yang keramat.

Dalam Bahasa Bali kata manik memang memiliki arti yang lebih luas yakni kekayaan, misalnya Dewi Laksmi sebagai penguasa kekayaan dikenal pula dengan nama Manik Galih (inti kekayaan). Kekayaan dikeramatkan bukan dengan tujuan mencangah mentalitas penghamba harta namun lebih kepada maksud memperlakukan kekayaan demi tujuan yang suci atau memperoleh kekayaaan dengan jalan benar.

Manik Angkeran yang mengkorupsi hiasan ekor Naga Basukih akhirnya menemui kebinasaan. Penghidupan kembali Manik Angkeran bermakna renaissance dalam imperium kemuliaan yang hanya bisa terjadi ketika manusia menginsyafi diri dari laku koruptor. Jalan satu-satunya adalah tidak kembali ke Jawa/jaba.

Menariknya dalam Bahasa Bali jaba berarti wilayah yang berada di luar domain kesucian. Segara Rupek (lautan sempit) yang memisahkan Jawa dan Bali menyiratkan bahwa siapapun sebenarnya dapat dengan mudah mencari celah kebebasan dari jerat hukum semudah menyeberangi lautan sempit, tetapi orang yang beragama dengan adekuat merasa pantang untuk melakukannya.

Pada lokasi Manik Angkeran reborn sebagai manusia asketis sejati berdiri Pura Bangun Sakti yang sekaligus menjadi Tugu Peringatan Anti Korupsi di Tanah Bali.Hari Buda (Rabu) Pon Watugunung dirayakan sebagai odalan (peringatan) hari anti korupsinya manusia Bali.

Para bijak di Bumi Bali menamai hari itu sebagai Buda Urip atau Uriping Budhi yang lebih jauh ditafsirkan sebagai bangkitnya daya kecerdasan sejati dengan tersisihnya sifat-sifat tamak. Manik Angkeran benar-benar telah melakukan puputan terhadap mentalitas koruptor, melawan penjajah yang ada dalam dirinya sendiri.

Sekalipun jauh lebih baik menjauhi korupsi sejak awal, namun para koruptor yang terlanjur terjerembab dalam kubangan dosa juga berhak atas masa depannya. Hanya saja konsekuensinya tentu jauh lebih mahal daripada orang-orang yang tidak pernah berbuat korupsi. Manik Angkeran sempat kehilangan nyawanya dan menurut mitologi yang merebak dalam masyarakat Bali kulitnya menjadi hitam legam walaupun berhasil dihidupkan kembali.

Sebaliknya Siddhimantra berkewajiban melakukan perbaikan sempurna bagi kerusakan di ekor Naga Basukih. Dalam Bahasa Bali puputan berasal dari kata puput yang berarti mati atau selesai sehingga puputan secara lebih luas dimaknai sebagai totalitas perjuangan sampai mati. Koruptor-koruptor yang telah menghabiskan masa hukumannya semestinya dipastikan benar-benar telah bertobat dan dapat membantu KPK dalam melakukan literasi anti korupsi.

Mengkhawatirkannya di negeri ini koruptor seolah telah cukup membayar kesalahannya hanya dengan meringkuk beberapa lama di penjara bahkan setelah bebas malah semakin banyak yang berencana untuk kembali ikut dalam Pemilihan Umum. Benar-benar tidak jelas sejauh mana pertanggungjawaban para koruptor dalam memulihkan kerusakan-kerusakan akibat ulahnya dan sampai dimana pula komitmennya untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama hingga akhir hayatnya.

Sebagai satir terhadap perilaku korupsi yang mengatasnamakan agama dan kesucian Manik Angkeran kemudian dipuja sebagai Bhatara Manik Botoh yang lekat dengan aktivitas perjudian.Hingga sekarang dalam sabungan ayampun semangat anti kuropsi masih dipegang teguh. Bila umumnya perjudian adalah ajang terjadinya kecurangan maka di Bali bebotoh (penjudi) tidak akan lari ketika kalah kendatipun pertaruhan yang dilakukan hanya sebatas dalam lisan. Padahal bila ingin lari dari tanggungjawab mudah saja karena terkadang antarpenjudi yang bertaruh tidak saling mengenal.

Sebagian besar penjudi di Bali memandang arena judi sebagai ajang peneguhan sikap kastria, lari ketika kalah bertaruh dipersamakan dengan sirnanya sikap ksatria. Pada kalangan tajén diyakini bersemayam Dewan Tajén yang menyaksikan segala aktivitas para penjudi serta ditandai oleh pendirian palinggih darurat dari bambu di hulukalangan.

Kendatipun tergolong melanggar hukum, dalam tajén terdapat nilai kejujuran yang tetap diyakini kemuliaannya oleh masyarakat Bali dan keriuhan penjudi yang sedang bertaruh dikategorikan sebagai salah satu dari sekian jenis bunyi-bunyian dalam pelaksanaan yajna yang dapat menggetarkan sapta loka (tujuh lapis dunia). Bukanlah absonan belaka bila kemudian beberapa pura di  Balimemiliki kalangan tajén pada bagian jaba sisi-nya.

Tujuannya tentu bukan semata-mata untuk melegalkan perjudian, tetapi sebagai kritik sosial bahwa pada masyarakat yang berdramaturgi taat beragama perilaku korupsi masih sangat sulit diberangus. Sementara dalam aktivitas perjudian yang disebut-sebut berdosa, melanggar ajaran agama, menyebabkan kesengsaraan, dan sebagainya perilaku korupsi telah dapat dieliminasi. Manusia-manusia beragama yang mengaku lebih mulia dari para penjudi nyatanya belum mampu lebih jujur dari para bebotoh oleh karenanya sorakan sarkas akan semakin kencang menggema dari kalangan tajén.

Darah nifas ketuhanan yang masih mengucur deras seakan sengaja dialpakan oleh penganut-penganut agama yang kalap. Buktinya semakin banyak tokoh agama yang masuk bui gara-gara korupsi mulai dari pentolan lembaga keumatan, guru besar, hingga mantan menteri agama. Para kuroptor benar-benar telah menihilkan Tuhan dari pikirannya bahkan tidak lagi canggung mencuri di kawasan suci. Sebagaimana Manik Angkeran menihilkan kesucian Naga Basukih dari pikirannya.

Pernah juga terkuak korupsi yang dilakukan seorang anggota dewan di kawasan Bali Timur melaui proyek fiktif yang berkedok pembangunan tempat suci. Mentalitas kuruptor tidak boleh dimanjakan sebagaimana Siddhimantra memanjakan puteranya. Mentolelir perilaku korupsi atau tebang pilih dalam penegakannya berarti melembagakan persekutuan dengan para daitya-danawa yang sering tidak disadari telah menyulut permusuhan dengat para dewa. Lucunya para koruptor yang telah berkhianat merasa masih berhak mendapat absolusi Tuhan sehingga imun terhadap ganjaran hukum dari extraordinary crime yang telah diperbuatnya.

Faktanya sangat banyak koruptor yang memakai pakaian sembahyang saat sidang, beberapa koruptor dikabarkan mendatangi tempat-tempat suci yang keramat atau mendatangi paranormal-paranormal kondang dengan harapan kasusnya ditutup, bahkan yang paling nyeleneh seorang mantan bupati di Bali Barat membawa tongkat yang disebutnya sebagai pusaka keramat saat persidangan. Beruntung aparat penegak hukum tidak terintimidasi dengan benda sakral milik si terdakwa. Sepertinya jaksa dan hakim paham betul bila terdakwa tidak sungguh-sungguh religius, jika benar-benar taat beragama tentu tidak akan nilep uang rakyat.

Ketika Gunung Agung berada dalam level awas pengungsi yang berasal dari sebuah desa di lereng Gunung Agung diwartakan mendapat penolakan pada beberapa posko yang dikelola secara swadaya. Rupanya warga pengelola posko menyimpan dendam kepada warga desa di lereng Gunung Agung tersebut yang dinilai bermental koruptor. Desa yang dimaksud sesungguhnya memiliki potensi spiritual yang luar biasa karena di wilayahnya berdiri kompleks tempat suci yang memegang peranan vital bagi aktivitas-aktivitas keagamaan umat Hindu Bali.

Sayangnya peran krusial itu dikomersialisasi dan diabreviasi dengan keji untuk memeras orang-orang yang ingin beribadah melalui karcis masuk, biaya parkir, dana punia (uang amal) yang seolah dipatok, penjual sarana sembahyang yang terkesan memaksa, biaya toilet, beserta seabreg pungutan liar lainnya. Harus diakui pula bila banyak pengungsi tak berdosa menjadi tumpahan dendam yang salah sasaran karena dianggap berasal dari desa yang mendapat black list. Padahal sejatinya tidak ikut menikmati uang hasil pemalakan ritual yang dilakukan segelintir oknum.

Begitulah semenjak dahulu korupsi turut menyengsarakan anak, istri, suami, saudara, keluarga,hingga lingkungan sekitar yang tidak bersalah. Seperti halnya Siddhimantra yang ikut merana tatkala puteranya menjadi koruptor.

Kata korupsi diduga berasal dari istilah latin corrumpere atau corruptus yang tidak melulu berkaitan dengan penggelapan uang atau harta benda dengan maksud  memperkaya diri tetapi secara lebih luas berarti pula deviasi kesucian, kebejatan, kebusukan, dan kebiadaban-kebiadaban lainnya. Rupanya dalam kebudayaan Bali terdapat nilai-nilai yang sejalan dengan semangat antikorupsi yang holistik.

Pencegahan korupsi pertamakali harus dilakukan dengan mengendalikan hasrat atau nafsu birahi. Semenjak perancanaan pembentukan manusia orangtua dari si calon manusia harus mengesahkan hubungannya lewat ritual perkawinan untuk menghindari perilaku mamitra ngalang (hubungan seks di luar nikah).Ketika upacara perkawinan berlangsung kedua mempelai membinasakan sifat-sifat koruptor dengan menuntaskan kewajibannya kepada Tri Saksi (saksi manusia, saksi alam/bhuta, dan saksi Tuhan/dewa).

Setelah disahkan melaui upacara perkawinanpun pasangan suami istri tidak lantas dapat menyalurkan hasrat seksualnya seenaknya. Hubungan seksual dilarang dilakukan saat hari-hari suci, fajar, tengah hari, menjelang matahari tenggelam, dan sebagainya. Selingkuh juga digolongkan ke dalam perilaku korupsi oleh karenanya orang-orang yang tidak setia dengan pasangannya dikhawatirkan telah latah untuk mengambil hak-hak orang lain.

Aturan lainnya yang membatasi manusia agar tidak menjadi menjadi koruptor waktu adalah teks-teks wariga dewasa yang berisi baik buruknya hari untuk melakukan suatu pekerjaan. Pada era global ethics spirit teks-teks wariga dapat diaktualisasikan ke dalam aktivitas kerja yang didasarkan pada skala priorotas, sehingga tidak terjadi daltonisme yang disengaja dalam dunia etos kerja yang sebenarnya penuh warna. Misalnya seorang pelayan masyarakat saat jam kerja harus memiliki totalitas bagi kepentingan pelayanan umum, bukan membawa-bawa kepentingan pribadi atau pekerjaan rumah tangganya ke kantor.

Disamping mengendalikan hasrat dan menentukan prioritas kerja dalam kebudayaan Bali terdapat juga aturan yang mengadabkan manusia ketika betinteraksi dengan lingkungan alam. Konsep keharmonisan tata ruang dalam Kebudayaan Bali yang telah mendunia yakni Tri Hita Karana mengajarkan untuk tidak mengkorupsi ruang hanya demi syahwat ragawi yang pragmatis namun yang terpenting adalah menjunjung tinggi kepentingan religius dan kelestarian lingkungan.

Lontar Purana Bali jelas sekali mengemukakan ajaran sad kertih yang memberi porsi pada kelestarian laut (samudra kertih), kelestarian hutan (wana kertih), dan kelestarian danau (danu kertih). Kesengsaraan akan timbul apabila manusia mengkorupsiruang hanya demi kepentingan material atau duniawi. Misalnya alas kekeran atau karang kekeran yang berupa jalur hijau  sebagai pembatas antara ruang suci dan ruang profan kini mulai gencar dipolitisasi demi kepentingan yang berbau kapitalis.

Sasanti manyama braya sangat urgen untuk disupremasi dalam mengobarkan semangat antikorupsi. Kebersamaan yang terbalut empati mampu menyingkirkan duli-duli legam di pelupuk sanubari manusia. Suatu hal yang mebanggakan pernah tergurat dalam sejarah Bali ketika beberapa pemuda Denpasar dengan gagah berani membela wanita-wanita yang dilecehkan oknum militer mantan peberontak dari daerah Sulawesi yang mendapat pengampunan pemerintah di era 1960-an. Kelompok pemuda tersebut sempat meneguhkan identitasnya sebagai sebuah organisasi kemasyarakatan meski akhirnya tenggelam ditelan oleh ketidakpastian politik.

Mirisnya belakangan muncul banyak organisasi kemasyarakatan yang mengaku membela rakyat kecil, nyatanya berafiliasi kepada kekuatan politik tertentu sehingga mendapat previlege untuk melakukan pungutan liar. Korupsi jalananpun kian merajalela bahkan banyak pedagang kecil yang gulung tikar karena tidak kuat membayar uang keamanan.

Nilai-nilai anti korupsi dalam budaya Bali bukan bertujuan menakut-nakuti manusia dengan ancaman kutukan dewa-dewa atau sekadar menciptakan rasa malu semu yang hanya berlaku di ruang komunal, namun semangat antikorupsi dalam budaya Bali mengajak manusia untuk membangun keintiman dengan kemanusiaan itu sendiri. Tatkala manusia telah mengenal sisi kemanusiaannya yang utuh pada saat yang sama dinyatakan layak menyandang perangai dewata yang konon sangat kerasan bertahta di Pulau Bali.

 

Acuan Bacaan

Anonim, Lontar Pura Botoh, Koleksi Pribadi Ida Pedanda Nyoman Gunung, tanpa tahun

Putra, Ngakan Putu, dkk, Kompilasi Dokumen Literer 45 Tahun Parisada, PHDI Pusat, Jakarta, 2005

Sugriwa, I Gusti Bagus, Babad Pasek, Balimas, Denpasar, 2000

Stuart-Fox, David J, Pura Besakih: Temple, religion and society in Bali, KITLV Press, Leiden, 2002

Wiana, I Ketut, Pura Besakih Hulunya Pulau Bali, Paramita, Surabaya, 2009

Dharmika, Ida Bagus, Peradaban Air,Sakha Found, Denpasar, 2017

Tantri, K’tut. Revolt In Paradise, Harper Brothers, New York, 1960

Yates, Eva Helen, Bali: Enchanted Isle, George Allen & Unwin LTD, London, 1933

Maheka, Arya, Mengenali dan Memberantas Korupsi, KPK RI, Jakarta, tanpa tahun

 

Catatan:

Esai ini adalah peserta lomba penulisan esai Festival Anti Korupsi 2017

Tags: balicerita rakyatFestival Anti Korupsi BalijawaKorupsi
Share114TweetSendShareSend
Previous Post

Gunung Agung Ingin “Diperhatikan” Kids Zaman Now, Maka Ia Meletus

Next Post

7 Pria, 4 Babak, 1 Marlina – Ulasan Film

Putu Suweka Oka Sugiharta

Putu Suweka Oka Sugiharta

Nama lengkapnya I Putu Suweka Oka Sugiharta, S.Pd.H.,M.Pd.,CH.,CHt. Lahir dan tinggal di Nongan, Rendang, Karangasem. Kini menjadi dosen dan terus melakukan kegiatan menulis di berbagai media

Related Posts

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

Read moreDetails

Toa Lagi Toa Lagi

by Khairul A. El Maliky
February 23, 2026
0
Perang Yarmuk: Legitimasi dan Produksi Ingatan

PENDAHULUAN Saat bulan Ramadhan tiba setiap tahunnya, suasana keislaman menyelimuti hampir setiap sudut kehidupan di Indonesia. Dari Sabang hingga Merauke,...

Read moreDetails

Dialektika Dua Wajah ‘Baper’: Antara Syahwat Kuasa dan Luka Integritas —Dari RDP IDG Palguna (MKMK) dengan Komisi III DPR

by I Gede Joni Suhartawan
February 19, 2026
0
Dialektika Dua Wajah ‘Baper’: Antara Syahwat Kuasa dan Luka Integritas —Dari RDP IDG Palguna (MKMK) dengan Komisi III DPR

SIDANG RDP (Rapat Dengar Pendapat) antara MKMK (Majelis Kehormatan Mahkamah Konstitusi) yang digawangi I Dewa Gede Palguna dengan Komisi III...

Read moreDetails

Tanah Terlantar dan Krisis Ekologis: Mencari Arah Kebijakan Pertanahan Berkeadilan dengan Berlakunya PP 48/2025

by I Made Pria Dharsana
February 9, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Tanah bukan sekadar objek hak atau sertifikat, tetapi ruang hidup bersama yang menentukan masa depan keadilan sosial dan keberlanjutan ekologis...

Read moreDetails

Degradasi Moral Elite Politik dalam Perspektif Etika Demokrasi

by I Made Pria Dharsana
January 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

ETIKA politik di Indonesia dewasa ini menghadapi tantangan serius yang bersifat multidimensional. Krisis kepercayaan publik terhadap institusi politik, menguatnya pragmatisme...

Read moreDetails

Matinya Demokrasi Lokal: Kala Pemilihan Kepala Daerah Ditarik Kembali  ke DPRD

by I Made Pria Dharsana
January 19, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

KETIKA hak memilih pemimpin daerah tidak lagi berada di tangan rakyat, di situlah demokrasi lokal mulai kehilangan maknanya. Wacana pengembalian...

Read moreDetails

Wacana Pilkada Lewat DPRD adalah Demokrasi yang Dipreteli atas Nama Konstitusi?

by Ruben Cornelius Siagian
January 16, 2026
0
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi

WACANA pengembalian pemilihan kepala daerah (Pilkada) melalui DPRD kembali mengemuka, dengan dalih klasik, yaitu sah secara konstitusi, lebih efisien, dan...

Read moreDetails

Tanah dan Apartemen untuk Orang Asing di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
January 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

- kajian kritis atas berlakunya Omnibus Law PERKEMBANGAN globalisasi  adalah keniscayaan. Dengan kemajuan teknologi transportasi dan komunikasi menyebabkan mobilisasi orang...

Read moreDetails

Mengapa Publik Bergantung Pada Validasi

by Ikrom F.
January 8, 2026
0
Mengapa Publik Bergantung Pada Validasi

Shinta Athaya Gadiza menulis opini berjudul Budaya Viral dan Krisis Kedalaman, Ketika Validasi Publik Menggeser Nalar Kritis yang dimuat di...

Read moreDetails

Dampak Perkawinan Campur antara WNI dengan WNA terhadap Status Hak Milik atas Tanah

by I Made Pria Dharsana
January 7, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Dampak Perkawinan Campur antara WNI dengan WNAterhadap Status Hak Milik atas Tanah setelah berlakunyaKeputusan Mahkamah Konstitusi Nomor No. 69/PUU/XII/2015 dan...

Read moreDetails
Next Post

7 Pria, 4 Babak, 1 Marlina - Ulasan Film

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co