6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Geografika India Dalam Mantra Bali

Sugi Lanus by Sugi Lanus
February 17, 2021
in Esai

Kunjungan Rabindranath Tagore ke Raja Karangasem bersama S. Koperberg, S. Kar, T.D. Dwavarman, G.W.J. Drewes, S.K. Chatterji, K. Bake-Timmers, A.A. Bake. 1927. Foto: Istimewa

— Catatan Harian Sugi Lanus, 17 September 2017

PENDETA Bali (juga Hindu Bali dan dunia umumnya) menyebut geografi India dan berbagai sungai dalam mantra-mantra suci, kenapa?

Jika ‘Gagelaran Pemangku’ (Pedoman Pendeta Pemangku) kita baca, dari cuci muka, menghadap beji (permandian), bahkan sampai doa buang air besar, selalu diawali dengan menyebut dan memuliakan ‘Gangga’. Salah satu mantra yang cukup lengkap menyebut ‘geografika India’ dalam mantra memercikan air suci ‘sapta gangga’, sebagai berikut:

“Ong Gangga ya namah swaha,
Ong Sindhuwatinca ya namah,
Ong Ang Saraswati ya namah,
Ong Ang Wipasa ya namah,
Ong Ang Korsika ya namah,
Ong Ang Yamuna ya namah,
Ong Ang Srayu ya namah swaha.”

Berbagai praktek-prosesi pembuatan tirta (air suci) hampir tak satupun puja-mantra-sesontengan yang tidak menyebut ‘titik-titik geografika’ India, bukan hanya sungai tapi juga gunung-gunung dan bentangan alamnya.

Ada sebuah surat Rabindranath Tagore yang sekiranya memberi penjelasan sangat menarik dan mendalam. Di Tirta Empul, Bali, Rabindranath Tagore merenungkan hal itu dengan serius, setelah ia tercenung dengan pengalaman ketibaannya di Bali, mendengar bagaimana orang Bali hafal luar kepala nama-nama sungai di India dan berbagai ungkapan geografika India.

Begini tulis Rabindra dalam suratnya yang ditujukan kepada Mira Devi:

“Di satu tempat, di mana kita melihat sekilas laut biru melalui sebuah celah di hutan, raja [raja Karangasem yang dimaksud] tiba-tiba keluar dengan kata ‘samudra’; (bahasa Sanskerta untuk ‘laut’). Menemukan saya terkejut dan senang saat itu, dia terus mengulangi sinonim: ‘samudra’, ‘ságara’, ‘abdhi’, ‘jaládhya’, melanjutkan dengan menyebut ‘sapta samudra’ (tujuh lautan), ‘sapta-parvata’ (tujuh gunung), ‘sapta-vana’ (tujuh hutan), ‘sapta-ákásha’ (tujuh langit).

Kemudian menunjuk ke bukit, dia pertama kali memberi kata Sanskerta untuk itu, ‘adri’, dan melanjutkan untuk mengulang nama: Sumêru, Himálaya, Vindhya, Malaya, Rishyamukha. Kemudian, ketika kami sampai di sebuah sungai yang mengalir di sepanjang kaki bukit, dia melanjutkan: Gangá, Yamuná, Narmadá, Godávarî, Káverî, Saraswatî.”

Rabindra menulis pengalamannya ini setelah dari jam 3 sore berkendaraan dengan raja Karangasem, dari Bangli menuju Puri Karangasem.

Rabindra melanjutkan menulis, bagaimana ‘persentuhan geografika kognitif’ antara manusia Bali dengan India saling bertemu secara kognisi, dan tetap hadir menjadi denyut jiwa manusia Bali. Ia menelisik, mencari benang merah dan titik pergerakan kenapa di dalam pikiran orang Bali terdapat bentang alam India, menjadi peta kognisinya:

“Ada suatu masa dalam sejarah kita ketika kesadaran geografis India terbangun sampai pada suatu intensitas tinggi, dan ketika dengan proses meditasi di pegunungan, sungai dan fitur lainnya, dia benar-benar mengesankan karakteristik fisiknya sendiri dalam pikirannya. Tempat ziarahnya diatur sedemikian rupa ― Cape Kanya-kumari di selatan, Danau Manas-sarovar di utara, Dwarka di pantai barat, Gangga-sagar di mulut Sungai Gangga di timur ― bahwa seorang peziarah melaluinya semua mungkin bisa mendapatkan konsepsi mendalam tentang karakter negaranya; karena geografi India tidak hanya bisa diketahui, tapi juga kenalan intim didapat dengan orang-orangnya yang berbeda. Itu karena keinginan India untuk mencapai persatuannya sendiri saat itu benar, sehingga dengan demikian menemukan ekspresi spontan yang begitu indah. Penghormatan diri sejati tidak pernah sampai pada metode penipuan, artinya, ia tidak mencoba menipu diri sendiri dengan memberitakan ‘lip-union’ sementara dari platform publik.

Pada masa itu, ada usaha tulus untuk mencapai kesatuan penglihatan sejati. Kebiasaan India untuk bermeditasi atas citranya sendiri menyeberang dengan anak-anaknya yang giat pada masa itu dan bertahan di pulau yang jauh ini sedemikian rupa sehingga, bahkan setelah ini seribu tahun, teks meditasi itu terbentang dalam ucapan hormat raja ini. Ini membuatku heran, ―bukan karena mereka masih ingat teksnya setelah selang waktu ini, tapi untuk memikirkan kedalaman yang harus dicapai realisasi mental itu sendiri.

Betapa sederhana dan alami cara yang diambil untuk mewujudkannya dan ekspresinya permanen, ― ini menjadi jelas ketika kita sampai jauh ke pulau ini, sebuah pulau yang dilupakan oleh India sendiri. Betapa tekun raja tersebut mengucapkan nama Himalaya dan Vindhyachala, Gangga dan Yamuna; betapa bangganya dia terlihat mampu melakukannya! Geografi ini bukan milik mereka; secara eksternal mereka tidak berurusan dengan itu; namun, lagu yang penuh kasih yang awalnya ditetapkan nama ini masih terngiang di benak mereka. Dan saya dituntun untuk bertanya-tanya, lagi dan lagi, betapa sangat mungkin lagu ini pastinya.

Kita sekarang-satu hari sangat berguna dalam penggunaan istilah kesadaran nasional, tapi kesadaran nasional macam apa yang bisa ada, tanpa realisasi geografis dan etnologi yang sebenarnya? Kemudian Raja [raja Karangasem yang dimaksud]’ telah melanjutkan pengulangan ‘saptaparvata’, ‘saptavana’, ‘sapta -akasha’, maksudnya, kenangan akan gagasan India tentang dunia luar. Di bawah pengaruh pengetahuan India yang baru diperoleh, semua yang telah diusir dari pikirannya sendiri, melekat pada eksistensi yang genting di halaman-halaman Purana yang telah usang. Tapi di sini masih teringat dengan hormat. Raja lebih lanjut menyebut empat Veda, pelindung dari empat wilayah (Lokapala), Yama, Varuna, dan yang lainnya, delapan julukan Mahadeva, dan mencoba untuk menghitung 18 bab Mahabharata, namun tidak dapat mengingatnya keseluruhannya.”

Demikian penggalan surat yang ditulis Rabindra yang ditulis 31 Agustus 1927 di Tirta Empul, Bali ― saya beruntung mendapat seluruh surat-surat Rabindranath Tagore yang ditulis di Jawa dan Bali dari Supriya Roy, ‘penjaga’ arsip-arsip dan tulisan tangan Rabindranath Tagore, yang bekerja di Rabindra-Bhavana, Tagore Memorial Museum, Archives and Research Centre of Visva-Bharati selama tiga dekade, salah satu pakar senior terbaik dalam menulis berbagai aspek karya dan kehidupan Tagore.

Rabindra melihat bagaimana tradisi mantra suci ini lahir dari tradisi suci yang intens untuk penyatuan lahir-batin para guru suci India, ―penyatuan bentang batin dalam dengan bentang kesadaran geografis alam India ―, dimana di dalamnya berdetak energi dan keinginan batiniah berupa “usaha tulus untuk mencapai kesatuan penglihatan sejati”. Tradisi suci mempertemukan bentang alam dan bentang pikir ini, “bermeditasi atas citranya sendiri” menyeberang dan bertahan di pulau Bali, ribuan tahun setelah tradisi itu di tanah India disemaikan, dan tumbuh subur di Bali, “sebuah pulau yang dilupakan oleh India sendiri”.

Apa yang dipikirkan dan buah renungan Rabindra tentang peta kognisi ini, memang tidak pernah banyak dibahas atau dipertanyakan di Bali, kenapa orang Bali tidak menyebut Tukad Saba, Tukad Petanu, Tukad Penet, Tukad Ayung, Tukad Badung, Tukad Unda, Tukad Telaga Waja, Tukad Balian, Tukad Yeh Empas, Tukad Oos dan Tukad Melangit dalam mantranya, ―padahal ini sungai-sungai besar yang menghidupi pertanian subak di Bali ―, atau menyebut Danau Batur, Danau Beratan, Danau Buyan, Danau Tamblingan, ―padahal ini sungai-sungai besar yang menghidupi pertanian subak di Bali ―, malah menyebut nama Vindhyachala, Gangga dan Yamuna?

Sekalipun Vindhyachala, Gangga dan Yamuna seakan mendominasi mantra berbahasa Sanskerta di Bali, jika diperhatikan dengan serius, dalam sisi lainnya tercermin “pola penyatuan bentang batiniah dan bentang alam” ini mewujud dalam mantra-sesontengan Bali, yang sangat menghormati “Catu Mujung” (Gunung Agung) dan “Catu Meres” (Danau Batur) dalam puja dan tercermin dalam altar-altar pemujaan (pelinggih) di semua sanggar-mraja (pemujaan keluarga) dan juga pelinggih di berbagai pemujaan yang tersebar di banyak desa-desa di Bali, penyebutan sumber air Telaga Waja, serta berbagai sumber-sumbe air lokal dengan para penjaga ruh suci lokal yang beragam, tampaknya ini menjadi pola penyatuan meditatif yang bisa jadi sebuah replikasi dari ‘template India’ tersebut.

Banyak sesontengan dengan intensitas tinggi menangkup apa yang di luar (bentang keindahan alam, sungai, pegunungan, ngarai dan lembah) menjadi bagian bentang alam pikir meditatif dan dikristalisasi menjadi tradisi pembuatan ‘tirtha’ atau ‘toya’ atau ‘pekuluh’ dan pembuatan berbagai ritual-odalan-karya di berbagai parahyangan atau pura dengan salah satu kulminasinya pada ‘turun tirtha’ atau penganugrahan berkat berupa air suci, ―yang tidak jarang merupakan air suci yang diambil dari berbagai mata air yang disucikan seantero Bali, bahkan dari berbagai mata air suci dari pulau lain―; bukankah ini sebuah praktek atau ritus bagaimana bentang geografika alam dipertemukan dalam tangkup mantra dan ritus? Lalu di-‘tunas”, diterima sebagai anugrah para dewa dan kekuatan kosmik, yang secara tak sadar menyusup kedalam tubuh dan alam batin manusia Bali semua bentang alam di luar itu menjadi manunggal dengan alam dirinya yang personal?

Apa yang personal, buat orang Bali, ― karena semangat dan ritus yang membesarkannya dalam menangkupkan semua bentang alam ini dalam air suci yang bersumber dari berbagai pelosok sumber air itu ―, tidak sepenuhnya bisa terlalu personal lagi. Ia digembleng menjadi menjadi bagian kosmologi dan geografika luar, sekaligus membentangkannya di dalam alam pikir, peta kognitif, yang disadari atau tidak, membentuk perjalanan rohani dan kejiwaannya, perspektifnya terhadap alam, juga terkandung di dalamnya potensi penguatan sekaligus pelemahan, karena terlalu lekat, bisa jadi tidak mampu berjarak dan menganalisa dengan kritis ― sekalipun memang tidak ada jaminan mereka yang berpikir kritis lebih ‘bahagia’ dibanding yang melakoni hidup dengan ‘nrimo’ atau ‘mula keto’. [T]

Tags: balihinduindiaRabindranath Tagore
Share83TweetSendShareSend
Previous Post

Jembrana Memang “Lain”, Kenapa Harus Seragam dengan Bali yang Lain?

Next Post

Tiga Atraksi Budaya di Festival Lovina yang Tak Ada di Festival Daerah Lain

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
0
Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

Read moreDetails

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

Read moreDetails

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
0
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

Read moreDetails

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

Read moreDetails

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
0
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

Read moreDetails

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
0
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

Read moreDetails

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

Read moreDetails

Suryak Siu

by Dede Putra Wiguna
March 2, 2026
0
Suryak Siu

DALAM bahasa Bali, ‘suryak’ berarti bersorak dan ‘siu’ berarti seribu. ‘Suryak siu’ secara harfiah berarti ‘sorakan seribu’ ─ gambaran tentang...

Read moreDetails

Konflik Iran dan Ujian Kedewasaan Diplomasi Indonesia

by Elpeni Fitrah
March 2, 2026
0
Refleksi di Hari Media Sosial Nasional

SAYA menulis ini pada Minggu, 1 Maret 2026, tepat sehari setelah dunia dikejutkan oleh serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel...

Read moreDetails

Tatkala Duta Pariwisata Indonesia Mengulik Bali

by Chusmeru
March 1, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MENJELANG tutup tahun 2025 jagat media sosial diramaikan dengan unggahan video yang mengabarkan Bali sepi wisatawan. Langsung saja memicu perdebatan....

Read moreDetails
Next Post

Tiga Atraksi Budaya di Festival Lovina yang Tak Ada di Festival Daerah Lain

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co