2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kenapa Kita (Orang Bali) Berpaling dari Gaguritan?

Sugi Lanus by Sugi Lanus
February 2, 2018
in Opini

 

MILAN Kundera, dalam pidato saat menerima Jerusalem Prize di tahun 1985, membedah kelalaian Eropa, yaitu ketidakpahaman mereka pada seni yang paling Eropa: NOVEL. Bagi Kundera, penerima Nobel Sastra ini, pemikiran sastrawan Flaubert lebih berguna dibandingkan gagasan-gagasan Marx atau Frued yang mengejutkan sekalipun.

Semenjak pertengahan tahun 1990-an, saya pun mengamati dengan teliti bahwa kita (masyarakat Bali bahkan kalangan akademis) telah melalaikan salah satu anak terbesar dari peradaban Bali: GAGURITAN.

Gaguritan, yang merupakan salah satu bentuk prosa Bali yang terikat persajakan pupuh, dalam khazanah sastra tradisional dikategorikan sebagai sekar alit (bunga kecil), adalah pintu ke jagat internal alam pikir manusia Bali.

Untuk memahami alam pikir dan dunia imajinasi manusia Bali, jalan terbaik adalah dengan membaca karya-karya gaguritan. Di samping karena bahasanya adalah bahasa pribumi yaitu Bahasa Bali (bukan Jawa Kuna), yang memungkinkan pengarang Bali berekspresi secara maksimal.

Gaguritan tampil dengan menyuguhkan berbagai pengalaman bathin manusia Bali dengan spektrum yang tak terbatas: Rasa lapar, suka-duka, merana cinta, puji-puji, dongeng-dongeng, kehancuran perang, candu, zinah, kelaliman raja, kebodohan raja, perselingkuhan, mitologi, hantu dan berbagai makhluk dari alam lain, tata ruang dan arsitekstur, masyarakat multikultur, dewa-dewi, ilmu hitam-putih, etika, tata krama, kecerdasan dan kedunguan, dalil filsafat dan kenaifan manusia, mantra dan kutukan, petuah-petuah dan umpatan; semuanya bisa menjadi bahan baku untuk ”adonan” gaguritan. Tak ada satu ”ideologi” yang ”menghegemoni” gaguritan.

Karya-karya Ki Dalang Tangsub, seperti Gaguritan Basur, Ketut Bungkling, Ketut Bagus, Cowak; adalah karya-karya yang membuktikan begitu orisinil jagat gaguritan Bali. Karya-karya ini menunjukkan bahwa gaguritan tidak terbebani oleh ideologi tertentu, ia bahkan mendobrak kebekuan ”ideologi” yang mengungkung. Mendekontruksi hegemoni. Sebagai seorang pelarian, yang hendak dihukum oleh Raja Gianyar I Dewa Manggis sekitar tahun 1825, Dalang Tangsub melakukan ”pemberontakan” lewat gaguritan.

Gaguritan di tangannya menjadi senjata ampuh gerilia ide-ide, melawan kekuatan palsu yang mengungkungi alam pikir, membongkar motis dan ”narasi besar” penguasa. Ia membombandir dengan peluru kata-kata. Membongkar narasi besar dengan jenaka. Mencampur aduk realita dan imaji. Membaca karya Kidung Perembon, yang merupakan ”kompilasi” geguritan Ki Dalang Tangsub, saya menemukan semacam campuran semangat Friedrich Wilhelm Nietzsche (1844-1900) dan Jorge Luis Borges (1899-1986) bercampur menjadi api dan spirit karyanya tersebut. (Tentu saja Dalang Tangsub tak pernah mengenal kedua dua sastrawan tersebut. Sebelum dua sastrawan tersebut dilahirkan, sekitar tahun 1825, Tangsub sudah menjadi pelarian. Berlari dari desanya Sukawati – Gianyar ke Desa Nuaba, lalu ke Desa Kuum Sembung-Mengwi, lalu bermukim di Bongkasa – Abiansemal).

Semangat pemberontakan Dalang Tangsub dan kekuatan perceritaannya yang ”berlapis-lapis”, berpadu dengan kekuatannya menyusun argumen. Bahasanya tak pernah lelah untuk menggugat. Lewat karya itu, ia merumuskan ”bungkling-ology”: Sebuah seni debat yang konsisten membongkar mitos dan wacana, yang tak mengutamakan sopan-santun atau ewuh pakewuh, tapi berdasar pada kekuatan gugatan yang bersandar pada ”logika dekontruksi” dan ”rasa humor”. Dalam kakawin, tak pernah saya membaca pemikiran ”nyeleneh” seperti yang Dalang Tangsub tawarkan. Dalang Tangsub, lewat tokoh-tokoh, menjadikan dirinya seorang Balang Tamak di masyarakat Bali yang ”penurut” dan patuh.

Karya Ida Ketut Jlantik, yaitu Geguritan Sucita-Subudi, saya kagumi melebihi isi karya-karya kakawin yang pernah saya baca. Dalil-dalil filsafat dan penjabarannya tentang sesuatu hal sangat ”dingin”. Tentang kesedihan, umpamanya, dalam karyanya ini Ida Ketut Jlantik memuat ”dalil” seperti ini: ”….jatin sangsara punika, wetu saking tingkah pelih, pelih saking katambetan, tambet dadi dasar sedih. Tambete ngawinang lacur….” Selanjutnya, masih dalam pupuh Ginanti VII, ”Tan pawates tan patanggu, kitane sahi nagihin, yaning tan wenten kasidan, sinah dadi sakit hati, ibuk sedih mangangsara, masih tambet manasarin.”

Membaca Gaguritan Sucita, yang cukup panjang itu, yang telah terbit sampai 3 jilid buku sederhana itu (tanpa terjemahan Indonesia), saya mengalami perasaan yang sama ketika saya memasuki Republik-nya Plato, serasa mendengarkan percakapan kaum Stoa yang stoic. Dingin, tanpa kehilangan naluri bercerita untuk merumuskan pemikiran.

Gaguritan Kawiswara, yang tidak diketahui nama pengarangnya (yang akhirnya saya telah menemukan keluarga dan rumah pengarangnya), tentang ”jiwa kepenyairan” dan ”keilmuwan”, adalah karya sastra yang tidak bisa kita sebut sebagai batu locatan untuk menulis kakawin.

Ki Dalang Tangsub, Ida Ketut Jlantik dan pengarang Gaguritan Kawiswara telah membuktikan pada kita bahwa gaguritan bisa menjadi wahana untuk mengekspresikan setinggi-tingginya pemikiran manusia. Mereka adalah putra-putra terbaik peradaban Bali yang mempunyai pencapaian bahasa Bali tiada tara, yang mampu ”mengatasi” dan ”melampaui” aturan pupuh.

Dalam hal kemampuan ”menangkap” realitas sosial, Gaguritan Nyonyah, yang bercerita tentang perdagangan candu pada akhir abad ke-18 di Bali, tak kalah dengan penggambaran karya-karya novel modern. Penggambaran persentuhan antar etnis Bugis, Cina, Bali dan Belanda, menjadikan geguritan ini betul-betul ”sosiologis”. Percakapan dua pencuri yang mengatakan bahwa tak ada neraka setelah kematian, membuat geguritan ini terasa agnostic, cenderung atheistic. Namun, pada bagian lainnya, I Kesian, si tokoh cerita, justru bisa pergi menenggok istrinya di alam kematian. Dan puncak ”absurditas” disuguhkan pengarang, ketika roh istri menganjurkan Kesian (suaminya) untuk kembali ke bumi dan memadat (memakai candu) kalau ia merindukan dirinya. ”Candu adalah jelmaan bidadari surga,” katanya.

Kehancuran sosial pasca-perang juga banyak dituliskan dalam gaguritan-gaguritan yang masuk dalam ”genre” uug(hancur) dan usak (rusak). Contoh-contoh di atas hanyalah beberapa ”permata-permata mulia” dari taman sastra geguritan. ”Kawasan pertambangan” ini, belum banyak dieksplorasi secara ”modern” (baca: dengan teori-teori sosial kontemporer). Pembahasan terhadap sastra geguritan, sejauh ini, hanya berkutat sekitar struktur dan nilai!).

Membaca karya-karya gaguritan itu, yang saya sebutkan di atas, membuat saya menjadi sadar bahwa kita (masyarakat Bali) ”terlupa” untuk memasuki dunia yang berlimpah itu, yaitu gaguritan. Dan tentu, lalai pula untuk membaginya pada dunia. (Eropa membagi soneta pada belahan dunia lain. Kita jadi mewarisi karya-karya soneta M. Yamin dan yang lainnya yang berbahasa Indonesia. Orang Jepang membagi haiku pada dunia. Haiku sampai kini menjadi perbincangan dunia dan sekarang banyak haiku ditulis di luar bahasa Jepang. Kita?).

Dari cara ”membacanya dengan menyanyikannya”, jika diperkenalkan dengan serius pada manusia di belahan dunia yang lain, gaguritan sangat berpotensi untuk menjadi bagian dari pertunjukan opera, atau kabuki, atau pertunjukan-pertunjukan teaterikal yang lain.

Sebelum jauh mengambil ancang-ancang untuk membagi-bagi warisan dunia ini untuk kebudayaan dunia, maka pertama-tama yang perlu dilakukan adalah membongkar ”kesalahan berpikir” yang cenderung menganggap remeh gaguritan. Cara berpikir ”sekar agung” dan ”sekar alit” ini sangat berbahaya. Seperti juga bahaya cara berpikir ”budaya tinggi” dan ”budaya rendah” yang ”meng-kebiri” kreativitas.

Dalam melihat seni, yang berurusan dengan imajinasi, manusia harus melepas segala tetek-bengek hirarki. Melepas dominasi cara berpikir ”feudalism”. Imajinasi adalah dunia yang tak bisa diukur oleh ukuran tinggi rendah seperti membandingkan dua bangunan bertingkat. Dan, gaguritan yang merupakan salah satu cabang seni yang hadir dalam peradaban Bali, yang telah mampu memberi ruang manusia Bali untuk melakukan penjelajahan dunia imajinatif yang mempesona ini, untuk bisa memahaminya secara lebih mendalam, kita harus berhenti memakai ”kaca mata sekar agung-sekar alit”.

Walaupun banyak gaguritan merupakan carangan, karya yang lahir dari resepsi pengarang terhadap ‘narasi besar’ Mahabarata dan Ramayana, gaguritan secara keseluruhan bergerak ”menjauh” dari kungkungan narasi besar tersebut. Gaguritan adalah sebuah ruang pengungkapan kreatif yang ”liberal” yang mampu memberi alternatif dalam ”kebekuan” bahasa Jawa Kuna dan metrum-metrum kakawin yang ketat dengan berbagai aturannya.

Geguritan lebih kuat menangkap ”narasi kecil” seperti cerita rakyat, dongeng, dan serba-serbi hidup yang melingkupi kehidupan keseharian masyarakat Bali, dan juga ”kegilaan” imajinasi pengarangnya. Maka, menghargai gaguritan bukan dengan meletakkannya sebagai kategori “sekar alit”, tetapi lebih baik kita melihatnya, pertama-tama, sebagai sebuah jalan bagi manusia Bali, semenjak awal abad ke-18 hingga kini, untuk melakukan eksplorasi diri dan jalan kreatif untuk pengungkapkan spektrum lebih luas kehidupan di sekitar mereka.

Gaguritan, dalam sejarah perkembangan bahasa Bali, memiliki peranan strategis sebagai salah satu ruang yang memungkinkan bahasa Bali untuk berkembang setinggi-tingginya. Saya mensyukuri gaguritan sebagai “warisan dunia”, bukan hanya karena isi dan kandungan intrinsiknya, tetapi juga karena sumbangan terbesarnya bagi sejarah bahasa-bahasa di dunia berupa kemampuannya merekam secara tertulis kekayaan kosa kata bahasa Bali. Geguritan bukan hanya ”file-file dunia imajinasi manusia Bali”, tetapi juga ”file-file kosa kata”. Kata-kata Bahasa Bali, yang terus tergerus waktu dan ”digusur” oleh bahasa Indonesia dan bahasa-bahasa lainnya, terekam dalam gaguritan-gaguritan.

Dengan cara pandang seperti itu, mudah-mudahan kita punya semangat untuk mencintai kembali, mempelajarinya secara sungguh-sungguh, menerbitkan, dan (kalau bisa) membaginya pada manusia di belahan dunia yang lain (baca: untuk memperkaya kebudayaan dunia) dengan jalan menterjemahkannya, sebab gaguritan adalah salah satu warisan budaya dunia yang tak ternilai, yang singgah dan pernah tumbuh subur di Pulau Bali.

Jika paparan (pengamatan) saya di atas mengandung sedikit kebenaran, lantas: Kenapa kita (orang Bali) mengabaikan dan berpaling dari ’gaguritan’? (T)

  • Ini catatan masa lepas kuliah Sastra Bali bertahun-tahun silam. Sayang dibuang. Maka diunggah di facebook dan di web ini. “Ampura yening kadi nasikin sagara”.
  • Jika ada komentar atau catatan atas note kecil ini saya sangat berterimakasih, matur suksma, apalagi bisa memperluas pemahaman saya tentang Sastra Bali dan Gaguritan, serta sastra tradisional.
Tags: baliBukugeguritanorang balisastra
Share34TweetSendShareSend
Previous Post

Cak SMAN Bali Mandara: Mengolah Suara dari Celah Tak Terduga

Next Post

“Si Gug” Jango Pramartha Bicara Sosok Ikonik Dunia Kartun Indonesia

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Insolvensi dan Kewajiban Debitur Pailit

by I Made Pria Dharsana
July 31, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PUTUSAN Mahkamah Konstitusi Nomor 181/PUU-XXIII/2025 menjadi salah satu penegasan penting dalam perkembangan hukum kepailitan di Indonesia. Melalui putusan tersebut, Mahkamah...

Read moreDetails

Ketika Warisan Baru Dianggap Sah Setelah Dicatat Negara —Membongkar Distorsi Administrasi dalam Peralihan Hak Waris di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
July 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Kematian seseorang tidak hanya mengakhiri eksistensi biologis, tetapi sekaligus memicu konsekuensi hukum yang kompleks dalam sistem hukum perdata. Salah satu...

Read moreDetails

Potensi Ekonomi yang Menguap di Titik 0 Singaraja

by I Gede Sena Putrawan
July 20, 2026
0
Membangun Buleleng, Membangun Ingatan Sejarah dan Membangun Masa Depan Kota dari Kawasan Titik Nol Singaraja

PADA awal tahun 2026, sebuah proyek bernilai fantastis menjadi bahan perbincangan hangat di kalangan masyarakat Buleleng. Nama proyek itu sebenarnya...

Read moreDetails

Lelang Bank dan Kepastian Hukum: Antara Peluang Investasi dan Risiko Lapangan

by I Made Pria Dharsana
July 15, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

BARANG lelang bank sering dipandang sebagai peluang mendapatkan aset murah dengan potensi keuntungan besar. Rumah, tanah, ruko, kendaraan, hingga aset...

Read moreDetails

AJB atau Pelepasan Hak: Menguji Rasionalitas Perolehan Tanah oleh Perseroan Terbatas di Era KKPR dan Lahan Sawah yang Dilindungi

by I Made Pria Dharsana
July 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERDEBATAN mengenai mekanisme perolehan tanah oleh Perseroan Terbatas (PT) sesungguhnya tidak lagi hanya berkisar pada pilihan antara Akta Jual Beli...

Read moreDetails

Notaris di Tengah Gelombang Disrupsi: Antara Kepastian Hukum, Iklim Investasi, dan Ancaman Kriminalisasi

by I Made Pria Dharsana
July 1, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

NOTARIS pada hakikatnya merupakan salah satu pilar utama dalam menjaga kepastian hukum, khususnya dalam lalu lintas perdata, investasi, pembentukan badan...

Read moreDetails

Topeng Politik dan Ujian Demokrasi Indonesia

by I Made Pria Dharsana
June 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan...

Read moreDetails

Penangguhan Tahanan dan Ujian Kesetaraan Hukum

by Ruben Cornelius Siagian
June 24, 2026
0
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi

PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam...

Read moreDetails

Sertifikat Ganda dan Pertanyaan yang Tak Kunjung Terjawab  —Dokumen Negara Bisa Dipalsukan, Menutup Celah Mafia Tanah

by I Made Pria Dharsana
June 19, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DI tengah modernisasi layanan pertanahan dan penerapan sertifikat elektronik, kasus sertifikat palsu dan sertifikat ganda masih terus bermunculan. Fenomena ini...

Read moreDetails

Klausula ADR Pada PPJB Belum Lunas dan Akta Jual Beli PPAT

by I Made Pria Dharsana
June 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

APA yang paling dikhawatirkan oleh para pebisnis atau penanam modal di Indonesia selama era  reformasi bukan pada keamanan akan tetapi...

Read moreDetails
Next Post

“Si Gug” Jango Pramartha Bicara Sosok Ikonik Dunia Kartun Indonesia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co