12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kenapa Kita (Orang Bali) Berpaling dari Gaguritan?

Sugi Lanus by Sugi Lanus
February 2, 2018
in Opini

 

MILAN Kundera, dalam pidato saat menerima Jerusalem Prize di tahun 1985, membedah kelalaian Eropa, yaitu ketidakpahaman mereka pada seni yang paling Eropa: NOVEL. Bagi Kundera, penerima Nobel Sastra ini, pemikiran sastrawan Flaubert lebih berguna dibandingkan gagasan-gagasan Marx atau Frued yang mengejutkan sekalipun.

Semenjak pertengahan tahun 1990-an, saya pun mengamati dengan teliti bahwa kita (masyarakat Bali bahkan kalangan akademis) telah melalaikan salah satu anak terbesar dari peradaban Bali: GAGURITAN.

Gaguritan, yang merupakan salah satu bentuk prosa Bali yang terikat persajakan pupuh, dalam khazanah sastra tradisional dikategorikan sebagai sekar alit (bunga kecil), adalah pintu ke jagat internal alam pikir manusia Bali.

Untuk memahami alam pikir dan dunia imajinasi manusia Bali, jalan terbaik adalah dengan membaca karya-karya gaguritan. Di samping karena bahasanya adalah bahasa pribumi yaitu Bahasa Bali (bukan Jawa Kuna), yang memungkinkan pengarang Bali berekspresi secara maksimal.

Gaguritan tampil dengan menyuguhkan berbagai pengalaman bathin manusia Bali dengan spektrum yang tak terbatas: Rasa lapar, suka-duka, merana cinta, puji-puji, dongeng-dongeng, kehancuran perang, candu, zinah, kelaliman raja, kebodohan raja, perselingkuhan, mitologi, hantu dan berbagai makhluk dari alam lain, tata ruang dan arsitekstur, masyarakat multikultur, dewa-dewi, ilmu hitam-putih, etika, tata krama, kecerdasan dan kedunguan, dalil filsafat dan kenaifan manusia, mantra dan kutukan, petuah-petuah dan umpatan; semuanya bisa menjadi bahan baku untuk ”adonan” gaguritan. Tak ada satu ”ideologi” yang ”menghegemoni” gaguritan.

Karya-karya Ki Dalang Tangsub, seperti Gaguritan Basur, Ketut Bungkling, Ketut Bagus, Cowak; adalah karya-karya yang membuktikan begitu orisinil jagat gaguritan Bali. Karya-karya ini menunjukkan bahwa gaguritan tidak terbebani oleh ideologi tertentu, ia bahkan mendobrak kebekuan ”ideologi” yang mengungkung. Mendekontruksi hegemoni. Sebagai seorang pelarian, yang hendak dihukum oleh Raja Gianyar I Dewa Manggis sekitar tahun 1825, Dalang Tangsub melakukan ”pemberontakan” lewat gaguritan.

Gaguritan di tangannya menjadi senjata ampuh gerilia ide-ide, melawan kekuatan palsu yang mengungkungi alam pikir, membongkar motis dan ”narasi besar” penguasa. Ia membombandir dengan peluru kata-kata. Membongkar narasi besar dengan jenaka. Mencampur aduk realita dan imaji. Membaca karya Kidung Perembon, yang merupakan ”kompilasi” geguritan Ki Dalang Tangsub, saya menemukan semacam campuran semangat Friedrich Wilhelm Nietzsche (1844-1900) dan Jorge Luis Borges (1899-1986) bercampur menjadi api dan spirit karyanya tersebut. (Tentu saja Dalang Tangsub tak pernah mengenal kedua dua sastrawan tersebut. Sebelum dua sastrawan tersebut dilahirkan, sekitar tahun 1825, Tangsub sudah menjadi pelarian. Berlari dari desanya Sukawati – Gianyar ke Desa Nuaba, lalu ke Desa Kuum Sembung-Mengwi, lalu bermukim di Bongkasa – Abiansemal).

Semangat pemberontakan Dalang Tangsub dan kekuatan perceritaannya yang ”berlapis-lapis”, berpadu dengan kekuatannya menyusun argumen. Bahasanya tak pernah lelah untuk menggugat. Lewat karya itu, ia merumuskan ”bungkling-ology”: Sebuah seni debat yang konsisten membongkar mitos dan wacana, yang tak mengutamakan sopan-santun atau ewuh pakewuh, tapi berdasar pada kekuatan gugatan yang bersandar pada ”logika dekontruksi” dan ”rasa humor”. Dalam kakawin, tak pernah saya membaca pemikiran ”nyeleneh” seperti yang Dalang Tangsub tawarkan. Dalang Tangsub, lewat tokoh-tokoh, menjadikan dirinya seorang Balang Tamak di masyarakat Bali yang ”penurut” dan patuh.

Karya Ida Ketut Jlantik, yaitu Geguritan Sucita-Subudi, saya kagumi melebihi isi karya-karya kakawin yang pernah saya baca. Dalil-dalil filsafat dan penjabarannya tentang sesuatu hal sangat ”dingin”. Tentang kesedihan, umpamanya, dalam karyanya ini Ida Ketut Jlantik memuat ”dalil” seperti ini: ”….jatin sangsara punika, wetu saking tingkah pelih, pelih saking katambetan, tambet dadi dasar sedih. Tambete ngawinang lacur….” Selanjutnya, masih dalam pupuh Ginanti VII, ”Tan pawates tan patanggu, kitane sahi nagihin, yaning tan wenten kasidan, sinah dadi sakit hati, ibuk sedih mangangsara, masih tambet manasarin.”

Membaca Gaguritan Sucita, yang cukup panjang itu, yang telah terbit sampai 3 jilid buku sederhana itu (tanpa terjemahan Indonesia), saya mengalami perasaan yang sama ketika saya memasuki Republik-nya Plato, serasa mendengarkan percakapan kaum Stoa yang stoic. Dingin, tanpa kehilangan naluri bercerita untuk merumuskan pemikiran.

Gaguritan Kawiswara, yang tidak diketahui nama pengarangnya (yang akhirnya saya telah menemukan keluarga dan rumah pengarangnya), tentang ”jiwa kepenyairan” dan ”keilmuwan”, adalah karya sastra yang tidak bisa kita sebut sebagai batu locatan untuk menulis kakawin.

Ki Dalang Tangsub, Ida Ketut Jlantik dan pengarang Gaguritan Kawiswara telah membuktikan pada kita bahwa gaguritan bisa menjadi wahana untuk mengekspresikan setinggi-tingginya pemikiran manusia. Mereka adalah putra-putra terbaik peradaban Bali yang mempunyai pencapaian bahasa Bali tiada tara, yang mampu ”mengatasi” dan ”melampaui” aturan pupuh.

Dalam hal kemampuan ”menangkap” realitas sosial, Gaguritan Nyonyah, yang bercerita tentang perdagangan candu pada akhir abad ke-18 di Bali, tak kalah dengan penggambaran karya-karya novel modern. Penggambaran persentuhan antar etnis Bugis, Cina, Bali dan Belanda, menjadikan geguritan ini betul-betul ”sosiologis”. Percakapan dua pencuri yang mengatakan bahwa tak ada neraka setelah kematian, membuat geguritan ini terasa agnostic, cenderung atheistic. Namun, pada bagian lainnya, I Kesian, si tokoh cerita, justru bisa pergi menenggok istrinya di alam kematian. Dan puncak ”absurditas” disuguhkan pengarang, ketika roh istri menganjurkan Kesian (suaminya) untuk kembali ke bumi dan memadat (memakai candu) kalau ia merindukan dirinya. ”Candu adalah jelmaan bidadari surga,” katanya.

Kehancuran sosial pasca-perang juga banyak dituliskan dalam gaguritan-gaguritan yang masuk dalam ”genre” uug(hancur) dan usak (rusak). Contoh-contoh di atas hanyalah beberapa ”permata-permata mulia” dari taman sastra geguritan. ”Kawasan pertambangan” ini, belum banyak dieksplorasi secara ”modern” (baca: dengan teori-teori sosial kontemporer). Pembahasan terhadap sastra geguritan, sejauh ini, hanya berkutat sekitar struktur dan nilai!).

Membaca karya-karya gaguritan itu, yang saya sebutkan di atas, membuat saya menjadi sadar bahwa kita (masyarakat Bali) ”terlupa” untuk memasuki dunia yang berlimpah itu, yaitu gaguritan. Dan tentu, lalai pula untuk membaginya pada dunia. (Eropa membagi soneta pada belahan dunia lain. Kita jadi mewarisi karya-karya soneta M. Yamin dan yang lainnya yang berbahasa Indonesia. Orang Jepang membagi haiku pada dunia. Haiku sampai kini menjadi perbincangan dunia dan sekarang banyak haiku ditulis di luar bahasa Jepang. Kita?).

Dari cara ”membacanya dengan menyanyikannya”, jika diperkenalkan dengan serius pada manusia di belahan dunia yang lain, gaguritan sangat berpotensi untuk menjadi bagian dari pertunjukan opera, atau kabuki, atau pertunjukan-pertunjukan teaterikal yang lain.

Sebelum jauh mengambil ancang-ancang untuk membagi-bagi warisan dunia ini untuk kebudayaan dunia, maka pertama-tama yang perlu dilakukan adalah membongkar ”kesalahan berpikir” yang cenderung menganggap remeh gaguritan. Cara berpikir ”sekar agung” dan ”sekar alit” ini sangat berbahaya. Seperti juga bahaya cara berpikir ”budaya tinggi” dan ”budaya rendah” yang ”meng-kebiri” kreativitas.

Dalam melihat seni, yang berurusan dengan imajinasi, manusia harus melepas segala tetek-bengek hirarki. Melepas dominasi cara berpikir ”feudalism”. Imajinasi adalah dunia yang tak bisa diukur oleh ukuran tinggi rendah seperti membandingkan dua bangunan bertingkat. Dan, gaguritan yang merupakan salah satu cabang seni yang hadir dalam peradaban Bali, yang telah mampu memberi ruang manusia Bali untuk melakukan penjelajahan dunia imajinatif yang mempesona ini, untuk bisa memahaminya secara lebih mendalam, kita harus berhenti memakai ”kaca mata sekar agung-sekar alit”.

Walaupun banyak gaguritan merupakan carangan, karya yang lahir dari resepsi pengarang terhadap ‘narasi besar’ Mahabarata dan Ramayana, gaguritan secara keseluruhan bergerak ”menjauh” dari kungkungan narasi besar tersebut. Gaguritan adalah sebuah ruang pengungkapan kreatif yang ”liberal” yang mampu memberi alternatif dalam ”kebekuan” bahasa Jawa Kuna dan metrum-metrum kakawin yang ketat dengan berbagai aturannya.

Geguritan lebih kuat menangkap ”narasi kecil” seperti cerita rakyat, dongeng, dan serba-serbi hidup yang melingkupi kehidupan keseharian masyarakat Bali, dan juga ”kegilaan” imajinasi pengarangnya. Maka, menghargai gaguritan bukan dengan meletakkannya sebagai kategori “sekar alit”, tetapi lebih baik kita melihatnya, pertama-tama, sebagai sebuah jalan bagi manusia Bali, semenjak awal abad ke-18 hingga kini, untuk melakukan eksplorasi diri dan jalan kreatif untuk pengungkapkan spektrum lebih luas kehidupan di sekitar mereka.

Gaguritan, dalam sejarah perkembangan bahasa Bali, memiliki peranan strategis sebagai salah satu ruang yang memungkinkan bahasa Bali untuk berkembang setinggi-tingginya. Saya mensyukuri gaguritan sebagai “warisan dunia”, bukan hanya karena isi dan kandungan intrinsiknya, tetapi juga karena sumbangan terbesarnya bagi sejarah bahasa-bahasa di dunia berupa kemampuannya merekam secara tertulis kekayaan kosa kata bahasa Bali. Geguritan bukan hanya ”file-file dunia imajinasi manusia Bali”, tetapi juga ”file-file kosa kata”. Kata-kata Bahasa Bali, yang terus tergerus waktu dan ”digusur” oleh bahasa Indonesia dan bahasa-bahasa lainnya, terekam dalam gaguritan-gaguritan.

Dengan cara pandang seperti itu, mudah-mudahan kita punya semangat untuk mencintai kembali, mempelajarinya secara sungguh-sungguh, menerbitkan, dan (kalau bisa) membaginya pada manusia di belahan dunia yang lain (baca: untuk memperkaya kebudayaan dunia) dengan jalan menterjemahkannya, sebab gaguritan adalah salah satu warisan budaya dunia yang tak ternilai, yang singgah dan pernah tumbuh subur di Pulau Bali.

Jika paparan (pengamatan) saya di atas mengandung sedikit kebenaran, lantas: Kenapa kita (orang Bali) mengabaikan dan berpaling dari ’gaguritan’? (T)

  • Ini catatan masa lepas kuliah Sastra Bali bertahun-tahun silam. Sayang dibuang. Maka diunggah di facebook dan di web ini. “Ampura yening kadi nasikin sagara”.
  • Jika ada komentar atau catatan atas note kecil ini saya sangat berterimakasih, matur suksma, apalagi bisa memperluas pemahaman saya tentang Sastra Bali dan Gaguritan, serta sastra tradisional.
Tags: baliBukugeguritanorang balisastra
Share34TweetSendShareSend
Previous Post

Cak SMAN Bali Mandara: Mengolah Suara dari Celah Tak Terduga

Next Post

“Si Gug” Jango Pramartha Bicara Sosok Ikonik Dunia Kartun Indonesia

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

Read moreDetails

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
0
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

Read moreDetails

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
0
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

Read moreDetails

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

Read moreDetails

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

Read moreDetails

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
0
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

Read moreDetails

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

by I Kadek Adhi Dwipayana
August 24, 2026
0
Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dulu sering dianggap seperti menembus gerbang prestise akademik. Seleksinya ketat, persaingannya tinggi, dan keberhasilannya sering...

Read moreDetails

Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

by I Ketut Suar Adnyana
August 23, 2026
0
Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

IRONI yang sulit diterima ketika seseorang yang berdiri di puncak lembaga pendidikan justru berhadapan dengan hukum karena dugaan praktik yang...

Read moreDetails

Pewarisan di Persimpangan Konstitusi: Tantangan Hukum Waris Indonesia Pasca Putusan MK

by I Made Pria Dharsana
August 19, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

KEMATIAN seseorang seharusnya mengakhiri kehidupan, bukan memulai ketidakpastian hukum bagi keluarganya. Namun dalam praktik hukum Indonesia, kematian justru kerap menjadi...

Read moreDetails

“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”

by Luh Putu Sendratari
August 12, 2026
0
“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”

ADA hasil percakapan yang masih mengusik ingatan penulis sampai saat ini, ketika 5 tahun yang lalu bercakap dalam suatu wawancara...

Read moreDetails
Next Post

“Si Gug” Jango Pramartha Bicara Sosok Ikonik Dunia Kartun Indonesia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co