6 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Poleng Band Sudah Berani “Poleng” – Catatan Lagu “Percaya Bli”

Made Adnyana Ole by Made Adnyana Ole
February 2, 2018
in Ulasan

Personil Poleng Band, Singaraja. /Foto: Istimewa

 

DENGARLAH single terbaru dari kelompok musik Bali Utara, Poleng Band. Judulnya “Percaya Bli”. Lagu terbaru ini beda dengan lagu-lagunya dulu. Bahkan, jika tak baca nama grupnya, kita mungkin tak tahu itu lagu dari Poleng Band.

Dulu, musiknya terdengar bersih, culun dan tak berani sedikit pun menepi dari alur mainstream pop Bali. Semisal lagu “Tresna Selantang Tuwuh” yang dirilis setahun lalu. Tapi pada lagu “Percaya Bli”, kelompok ini sudah ikut karakter namanya: poleng. Artinya, berani menorehkan warna, berani keluar dari jalan lurus lagu-lagu pop Bali, dan tentu yang paling penting berani “menjadi diri sendiri”.

Di Bali, Poleng biasa diartikan sebagai simbol hitam-putih. Tapi sesungguhnya bisa juga diartikan sebagai sesuatu bidang banyak warna, bisa terkesan kotor dan bisa juga terkesan tak nyambung. Jika seseorang menyebut bajunya poleng, artinya bisa dikata orang itu memakai baju dengan corak warna-warni.

Namun, jangan salah. Banyak orang berani berpakaian poleng di antara orang-orang berpakaian polos. Banyak orang berani keluar dari pandangan umum. Dan keberanian semacam itu ditunjukkan oleh Poleng Band. Ya, seperti keberanian Poleng untuk jadi poleng.

Keberanian Poleng Band muncul justru setelah menghadapi guncangan kecil selama setahun vakum. Di tengah kevakuman itu, Yudi, sang gitaris, mengundurkan diri. Lalu, personil yang lain gelisah setelah menghadapi sejumlah pertanyaan dari penggemar dan kawan-kawan sesama pemusik. Pertanyaan yang paling menggelisahkan: apakah Poleng Band bubar?

Memang, setahun tak berkarya, banyak yang menyangka Poleng Band bubar. Penampilan terakhirnya, jika tak salah, saat kelompok ini menjadi band pembuka di peluncuran lagu single “I Love Bali” BHIK di Denpasar, Desember 2016.

Kegelisahan ini, akhirnya menjadi pemicu untuk melahirkan karya baru. Beberapa karya lagu pun terlahir dari De Gust, sang vokalis. De Gust yang memang menjadi motor pencipta di Poleng Band punya andalan lagu “Percaya Bli”.

Lagu “Percaya Bli” berisi sapuan musik tecno untuk memberi rasa renyah pada totalitas lagu.  Menyapukan musik tekno memang bukan hal baru dalam kreatifitas pemusik di Bali, apalagi di Indonesia. Di Bali, sejumlah grup musik, salah satunya XXX, sudah lebih dulu melakukannya. Tapi apa yang dilakukan Poleng Band adalah upaya yang patut dihargai, setidaknya untuk memberi tanda pada ciptaan-ciptaannya, apalagi (menurut De Gust) upaya itu akan dijadikan semacam ciri khas.

Perlu dicatat, dan harus disadari, unsur tecno dalam lagu “Percaya Bli” tak bisa disebut sebagai upaya untuk membuat lagu itu menjadi lebih nge-rock, lebih nge-blues, atau lebih nge-rap. Tapi tetap bisa didengar seperti ada rock-nya, seperti ada blues-nya, seperti ada rap-nya. Upaya itu semata-mata untuk membuat lagu menjadi lebih renyah dan nikmat, seperti mengadon singkong, meski sudah dikukus, ia bisa juga digoreng atau dipanggang kembali.

Dengan begitu, maka cocoklah upaya ini disebut sebagai upaya yang berani untuk menjadi poleng, bukan menjadi tunggal warna: rock, blues, rap, atau pop biasa. Itulah ciri Poleng Band, ya, poleng. Yang bisa diartikan sebagai “musik dengan warna tanpa nama”.

Namun, keberanian untuk keluar dari jalur aman tak terjadi pada lirik, syair atau kata-kata. Sebagian besar syair dalam lagu Poleng Band terjebak dalam pusaran klise yang diyakini disukai anak-anak muda yang sedang jatuh cinta. Bahkan, dalam lagu sebelumnya, “Tresna Selantang Tuwuh”, terdapat ungkapan yang sangat klise seperti “tain meong rasa coklat”.

Ke-klise-an semacam itu terjadi juga dalam lagu “Percaya Bli”. Di situ tak ada sedikit pun keberanian untuk “memikirkan” sekaligus “menemukan” kata-kata baru yang lebih segar. Jika bicara soal anak muda, tentu tema sejenis cinta dan rindu tak bisa dihindarkan. Tapi sebaiknya ada keberanian untuk menemukan diksi dan daya ungkap – artinya daya untuk mengungkapkan cinta dan rindu itu, agar terdengar baru dan tak terduga.

Kata-kata semacam “nganyudang hati” (menghanyutkan hati), “ngeranayang inguh” (membuat gelisah), dan “dag dig dug hatin Bli” (dag dig dug hatiku) adalah ungkapan yang sangat-sangat umum dan memiliki makna sangat tunggal. Apalagi pertanyaan-pertanyaan retoris seperti “apakah ini dinamakan cinta” sudah bertebaran di lagu-lagu Bali dan Indonesia. Kata-kata semacam itu, bagi seniman kreatif, bisa disebut sebagai kata mati yang bikin malu untuk digunakan kembali.

Sebelum ditutup, catatan ini ingin sekali memprovokasi De Gust sebagai pencipta lagu sekaligus sebagai seorang kameramen. Bahwa cara membicarakan perempuan dalam lagu, sama seperti membidik perempuan dengan kamera: kita kadang-kadang ingin mengambil sudut yang berbeda agar kecantikan perempuan terlihat sangat unik dan khas.

Dalam lagu “Percaya Bli” cara pandang terhadap perempuan masih konvensional. Bahwa bukan hanya perempuan sujenan (lensung pipit) dengan gigi gingsul saja yang membuat hati laki-laki jadi dag dig dug. Bahkan perempuan dengan pipi menggelembung seperti kue pao dengan gigi kelinci yang rata pun bisa membuat hati laki-laki jadi tergetar. Tergantung bagaimana cara mengungkapkannya.

Akhirnya, tabik, De Gust dan kawan-kawan. Teruslah berkarya… (T)

Tags: balibulelenglagumusik
Share135TweetSendShareSend
Previous Post

Bunga Bineka di Taman Penasar RRI Denpasar

Next Post

Gonggong Genggong dari Batuan, Eloknya Pengabdian

Made Adnyana Ole

Made Adnyana Ole

Suka menonton, suka menulis, suka ngobrol. Tinggal di Singaraja

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post

Gonggong Genggong dari Batuan, Eloknya Pengabdian

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane
Cerpen

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

by Wayan Gde Yudane
June 5, 2026
Puisi-puisi Ama Gaspar
Puisi

Puisi-puisi Ama Gaspar

Sajak Tentang Air IDari perut bumi, riwayat meambat di selasar masa;menjelma buih, pecik, riak, arus, dan air. Dari kulit tanah,...

by Ama Gaspar
June 5, 2026
Catatan dari Ruang Bimtek Revitalisasi SMK: Ketika Gedung Diperbarui
Khas

Catatan dari Ruang Bimtek Revitalisasi SMK: Ketika Gedung Diperbarui

ADA sebuah ungkapan lama yang mengatakan bahwa sekolah adalah jendela masa depan. Masalahnya, kalau jendelanya sudah kusam, atapnya bocor, laboratoriumnya...

by I Wayan Yudana
June 5, 2026
‘Madedari’ Karya Putu Ayu Kartika Dewi: Menafsir Jejak ‘Dedari’ dalam Tari Kreasi yang Kontemplatif
Panggung

‘Madedari’ Karya Putu Ayu Kartika Dewi: Menafsir Jejak ‘Dedari’ dalam Tari Kreasi yang Kontemplatif

CAHAYA panggung perlahan meredup. Alunan musik mengalir lembut, mengisi ruang Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, yang malam itu...

by Dede Putra Wiguna
June 5, 2026
Catatan dari SMA Negeri 2 Kuta Utara: Guru Membaca Buku
Esai

Catatan dari SMA Negeri 2 Kuta Utara: Guru Membaca Buku

Di tengah gempuran media sosial,  kembali kepada buku kertas adalah penting untuk dipikirkan ulang. Apakah pengetahuan-pengetahuan di media sosial itu...

by I Wayan Artika
June 5, 2026
‘Samagama’, Tabuh Kreasi Inovatif dari Gung Lanang yang Menyuarakan Semangat Tradisi Ngusaba Desa di Menanga, Karangasem
Panggung

‘Samagama’, Tabuh Kreasi Inovatif dari Gung Lanang yang Menyuarakan Semangat Tradisi Ngusaba Desa di Menanga, Karangasem

SUASANA Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, malam itu terasa berbeda ketika denting pertama gamelan Selonding mulai mengalun dari...

by Dede Putra Wiguna
June 5, 2026
Roger Penrose dan Misteri Kesadaran Semesta
Esai

Roger Penrose dan Misteri Kesadaran Semesta

Matematikawan yang Menolak Realitas Sekadar Mesin Roger Penrose bukan sekadar fisikawan biasa. Ia adalah salah satu ilmuwan yang berani melampaui...

by Agung Sudarsa
June 5, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menonton Pemimpin yang ‘Adigang, Adigung, Adiguna’

GAMBARAN sosok pemimpin dari masa ke masa selalu berubah seiring dengan dinamika masyarakatnya. Dahulu kala, pemimpin di Indonesia sarat dengan...

by Chusmeru
June 5, 2026
‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat
Panggung

‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat

SOROT lampu panggung perlahan menghangatkan Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, Sabtu malam, 30 Mei 2026. Setelah denting gamelan...

by Dede Putra Wiguna
June 4, 2026
Cukup Telulas?
Bahasa

Cukup Telulas?

BISA jadi telanjur terbentuk stigma tiga belas identik dengan celaka, sial, dan segala bentuk ketidakberuntungan maka sangat penting diupayakan menghindari...

by Komang Berata
June 4, 2026
Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin
Esai

Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

DI tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang berlangsung begitu cepat, generasi muda Bali menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Mereka...

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
June 4, 2026
Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?
Esai

Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

SIANG hari beberapa waktu lalu saat pulang kampung, saya membuka sebuah kotak lama berisi tumpukan surat. Kertas-kertas itu mulai menguning....

by Angga Wijaya
June 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co