7 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kapan Kolaborasi Seni Bisa Pentas di Panggung Ardha Candra pada Pesta Kesenian Bali?

Eka Prasetya by Eka Prasetya
February 2, 2018
in Esai

Penampilan kolaborasi antara Tambuco, Sanggar Sekar Sakura dan Sanggar Suar Agung di Pesta Kesenian Bali 2016./ Foto: Eka Prasetya

FANTASTIS! Satu kata itu saja sudah cukup menggambarkan peristiwa yang terjadi pada ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-38, pada 25 Juni 2016, setahun lalu. Saat itu, pukul 21.00 malam, sebuah peristiwa kolaborasi seni yang aktif nan atraktif tengah berlangsung di Wantilan Taman Budaya Bali. Tiga bangsa dengan dua warna musik yang berbeda, saling mengisi, saling melengkapi, dan saling menghormati.

Malam itu, budaya barat dan budaya timur bertemu. Seni musik tradisi melebur dengan musik modern. Ratusan pasang mata menjadi saksi pertemuan dan kolaborasi musik yang berbeda. Wantilan Taman Budaya Bali penuh sesak oleh pengunjung yang ingin menyaksikan momen bersejarah tersebut.

Malam itu, tiga bangsa berbeda, yakni Indonesia, Jepang, dan Meksiko, berbagi panggung. Gamelan jegog yang mewakili seni tradisi, serta perkusi yang mewakili musik modern, dikolaborasikan. Hasilnya? Fantastis!

Penonton menyaksikannya dengan terpana. Kata-kata barangkali tak cukup menggambarkan betapa magis dan memukaunya peristiwa yang terjadi malam itu. Sungguh tak disangka kesenian tradisi seperti jegog, bisa berkolaborasi dengan musik modern seperti perkusi. Padahal keduanya memiliki laras tembang yang berbeda.

Di Jembrana, jegog menjadi kesenian yang tidak bisa dipisahkan dalam setiap upacara adat dan keagamaan. Dalam hal kesenian, jegog selalu menjadi primadona di Jembrana. Tari-tari kekebyaran pun sebisa mungkin diiringi dengan jegog.

Ketika gamelan jegog ditabuh oleh warga Bali, apalagi warga Jembrana, barangkali itu hal yang biasa bagi. Tentu hal tak bisa saat gamelan jegog ditabuh oleh sekelompok warga negara Jepang. Malam itu penonton hanya bisa melongo ketika melihat puluhan warga negara Jepang yang menghimpun diri dalam Sekaa Jegog Sekar Jepun, menabuh jegog. Mereka lebih atraktif dan lebih energik ketimbang penabuh yang berasal dari Jembrana.

Pementasan makin memukau ketika Tambuco – kuartet pemain perkusi asal Meksiko yang sudah empat kali menjadi nominasi peraih Grammy Awards – melakukan kolaborasi dengan gamelan jegog.

Kuartet Tambuco, tetap memainkan perkusi. Mereka menambah instrumen perkusi modern, dengan instrumen perkusi klasik yakni kendang dan gong. Sementara gamelan jegog ditabuh oleh Sekaa Jegog Sekar Jepun, serta dibantu beberapa penabuh dari Sekaa Jegog Suar Agung Jembrana.

Ketika gamelan jegog berkolaborasi dengan alat perkusi, hal itu menjadi sangat magis. Gamelan jegog harus banyak mengalah. Karena gamelan ini memiliki laras slendro empat nada. Sementara perkusi yang dibawa Tambuco, memiliki laras diantonis dengan tujuh nada. Nada ndaing pada jegog menjadikannya unik, sehingga memudahkan proses kolaborasi.

Tambuco, Sekaa Jegog Suar Agung, dan Sekaa Jegog Sekar Jepun harus bekerja selama delapan bulan, sebelum akhirnya berkolaborasi pada PKB ke-38. Mereka bekerja di Nagoya, Jepang, untuk menciptakan sebuah harmoni nada musik tradisi yang berkolaborasi dengan musik modern. Kecintaan pada musik tradisi di Bali, membuat mereka mengesampingkan ego. Mereka juga tak memikirkan berapa besar biaya yang harus dikeluarkan untuk melahirkan sebuah karya.

Hampir tak ada cela dalam pementasan malam itu. Satu-satunya kekurangan, barangkali hanya lokasi pementasan. Kolaborasi itu dipentaskan di sudut panggung terbuka, yakni di Wantilan Taman Budaya. Seandainya kolaborasi seni itu dimainkan di Panggung Terbuka Ardha Candra, tentu akan lebih memukau.

Kolaborasi antara musik barat dengan musik timur, barangkali menjadi titik kompromi tertinggi dalam pelaksanaan PKB ke-38. Itu satu-satunya kolaborasi seni tradisi dan modern yang saya temukan, sepanjang tahun 2016 lalu.

Tahun ini, pada PKB ke-39, juga hanya ada satu kolaborasi seni barat dengan timur yang akan dipentaskan. Kelompok teater asal Perancis, Les Grandes Personnes akan berkolaborasi dengan Komunitas Budaya Yasa Putra Sedana yang bermarkas di Desa Melinggih Kelod, Gianyar.

Les Grandes Personnes merupakan sanggar teater boneka yang terbentuk pada tahun 1998 lalu di pinggiran Kota Paris, Perancis. Biasanya mereka memainkan boneka setinggi empat meter, yang bentuknya menyerupai Barong Landung dalam seni tradisi Bali. Boneka itu dimainkan sedemikian rupa dalam sebuah konsep drama.

Kelompok teater ini sering berpartisipasi dalam berbagai festival di Perancis. Mereka juga sering mewakili Perancis dalam berbagai ajang di negara lain. Tahun 2016 lalu, Les Grandes Personnes juga sempat tampil pada ajang PKB.

Sementara Komunitas Budaya Yasa Putra Sedana, dikenal sebagai komunitas budaya yang kerap mencicipi panggung internasional. Kehadiran sanggar ini di Desa Melinggih Kelod, menarik banyak wisatawan untuk datang ke sana.

Komunitas ini dipimpin Dewa Rai Budiasa. Dia pernah menetap di Jerman dan Prancis selama 17 tahun bersama adiknya, Dewa Putra Diasa. Komunitas Budaya Yasa Putra juga pernah meraih penghargaan terbaik dari Committee Internationale of Folklore Festival, ketika melawat ke Perancis pada tahun 2011 lalu.

Les Grandes Personnes dan Komunitas Budaya Yasa Putra Sedana, rencananya mementaskan kolaborasi seni, pada 6 Juli mendatang di Madya Mandala, Taman Budaya Bali. Pementasan ini sangat layak dinanti, karena satu-satunya kolaborasi seni timur-barat yang muncul dalam jadwal.

Kolaborasi seni selalu memberikan warna tersendiri pada ajang PKB. Perpaduan seni budaya barat dengan timur, selalu menampilkan kejutan-kejutan yang memukau. Sayangnya pementasan kolaborasi seni tak pernah mendapat tempat di Panggung Terbuka Ardha Candra.

Selama ini Ardha Candra terkesan eksklusif. Hanya kesenian tertentu saja yang bisa tampil di panggung ini. Kesenian itu adalah gong kebyar, baleganjur, serta Pop Bali. Selebihnya, tidak ada kesenian lain yang pentas di Ardha Candra selama PKB.

Tentu tak ada salahnya menjadwalkan pementasan kolaborasi seni di Panggung Terbuka Ardha Candra. Toh hanya ada satu agenda semacam itu. Tak dipungkiri kolaborasi seni akan memberikan warna baru bagi kesenian di Bali. Kolaborasi seni juga menambah wawasan baru bagi penikmat, pengamat, hingga penggiat seni.

Kolaborasi seni membuat pengunjung penasaran dan berbondong-bondong datang ke PKB. Kolaborasi seni selalu memberikan kejutan-kejutan yang dinanti, tanpa harus menghapus dan mengesampingkan seni tradisi di Bali. Kesan bahwa PKB menjadi suatu rutinitas tahun yang monoton dan membosankan, perlahan bisa dihapus.

Sesekali kolaborasi seni juga perlu mendapat tempat di Panggung Terbuka Ardha Candra. Meski bukan seni kegemaran seperti gong kebyar atau wayang cenkblonk, jerih payah dan kerja keras seniman dalam menciptakan sebuah karya kolaborasi juga perlu dihargai. Jika tak bisa menghargainya dengan angka rupiah, setidaknya berikan ruang di panggung terbuka. Panggung terbuka sudah memiliki magnet dan ruhnya sendiri. Seni apa pun yang ditampilkan di panggung terbuka, pasti akan ditonton ribuan pasang mata.

Semoga pada PKB yang akan datang, kolaborasi seni barat dengan timur bisa mendapat prioritas. Penambahan satu atau dua agenda kolaborasi seni semacam itu di tahun mendatang, tak akan mempengaruhi komposisi 60 persen seni klasik, 20 persen seni kontemporer, 20 persen seni populer, yang selama ini dijaga. Semoga kolaborasi budaya barat dan timur sesekali bisa dipentaskan di Panggung Terbuka. Toh mementaskan satu kolaborasi seni tidak akan membuat panitia dan pemerintah merugi. (T)

Tags: baliPesta Kesenian BaliSeni
Share13TweetSendShareSend
Previous Post

“Megandu”, Permainan Tradisional dari Tanah Ole – Catatan Festival ke Uma 2017

Next Post

Air, Tirtha (Patirtan), Toya (Patoyan), & Beji dalam Tradisi Jawa Kuna

Eka Prasetya

Eka Prasetya

Menjadi wartawan sejak SMA. Suka menulis berita kisah di dunia olahraga dan kebudayaan. Tinggal di Singaraja, indekost di Denpasar

Related Posts

Etika Universal: Menembus Batas Agama, Merajut Persahabatan Global

by Agung Sudarsa
March 6, 2026
0
Etika Universal: Menembus Batas Agama, Merajut Persahabatan Global

“I am not a man of religion, but religion alone cannot solve all our problem.” (Beyond Religion: Ethics for a...

Read moreDetails

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
0
Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

Read moreDetails

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

Read moreDetails

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
0
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

Read moreDetails

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

Read moreDetails

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
0
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

Read moreDetails

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
0
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

Read moreDetails

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

Read moreDetails

Suryak Siu

by Dede Putra Wiguna
March 2, 2026
0
Suryak Siu

DALAM bahasa Bali, ‘suryak’ berarti bersorak dan ‘siu’ berarti seribu. ‘Suryak siu’ secara harfiah berarti ‘sorakan seribu’ ─ gambaran tentang...

Read moreDetails

Konflik Iran dan Ujian Kedewasaan Diplomasi Indonesia

by Elpeni Fitrah
March 2, 2026
0
Refleksi di Hari Media Sosial Nasional

SAYA menulis ini pada Minggu, 1 Maret 2026, tepat sehari setelah dunia dikejutkan oleh serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel...

Read moreDetails
Next Post

Air, Tirtha (Patirtan), Toya (Patoyan), & Beji dalam Tradisi Jawa Kuna

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rampung Sebelum Penghabisan | Cerpen Kadek Indra Putra
Cerpen

Rampung Sebelum Penghabisan | Cerpen Kadek Indra Putra

SUARA pintu diketuk membangunkanku dari tidur siang. Dengan lemas aku berdiri menuju arah pintu untuk membukakan seseorang yang ada di...

by Kadek Indra Putra
March 6, 2026
Puisi-puisi Syeftyan Afat | Mencatat Dingin, Mengeriap Hangat
Puisi

Puisi-puisi Syeftyan Afat | Mencatat Dingin, Mengeriap Hangat

Mencatat Dingin, Mengeriap Hangat : umbu landu paranggi tubuhku mencatat dingindengan huruf-huruf kaburdi halaman kulit tipis gembur. bubuhkan sepenggal kalimatsebagai...

by Syeftyan Afat
March 6, 2026
Hilangkan Background Foto dengan Hasil Profesional: Panduan Lengkap Menghilangkan Latar Belakang Foto
Pop

Edit Foto Profesional dengan CapCut: Hilangkan Latar Belakang Foto dan Ubah Background Foto dengan Mudah

Di era digital saat ini, kemampuan mengedit foto telah menjadi kebutuhan penting. Baik untuk keperluan media sosial, konten kreatif, maupun...

by tatkala
March 6, 2026
‘Earth Song’ di Tengah Deru Mesiu
Ulas Musik

‘Earth Song’ di Tengah Deru Mesiu

Dunia seakan berhenti sejenak, bukan karena damai, tetapi karena ngeri oleh ledakan mesiu yang tiba-tiba memekakkan dan menyengat. Saat itu,...

by Nyoman Sukaya Sukawati
March 6, 2026
Etika Universal: Menembus Batas Agama, Merajut Persahabatan Global
Esai

Etika Universal: Menembus Batas Agama, Merajut Persahabatan Global

“I am not a man of religion, but religion alone cannot solve all our problem.” (Beyond Religion: Ethics for a...

by Agung Sudarsa
March 6, 2026
Hilangkan Background Foto dengan Hasil Profesional: Panduan Lengkap Menghilangkan Latar Belakang Foto
Pop

Hilangkan Background Foto dengan Hasil Profesional: Panduan Lengkap Menghilangkan Latar Belakang Foto

Di era digital saat ini, kemampuan untuk membuat foto terlihat profesional menjadi sangat penting, terutama bagi pembuat konten dan pebisnis...

by tatkala
March 6, 2026
Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co