3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Hakikat Seni – Membaca Kembali Prasasti Sukawana Bali Tahun 891

Sugi Lanus by Sugi Lanus
February 2, 2018
in Esai

Lomba tari Oleg Tamulilingan, Bali Mandara Nawanatya II-2017, /Foto: Widnyana Sudibya

SUKAWANA adalah sebuah desa dalam jajaran desa-desa tua di pegunungan Bali. Pura Penulisan dan Pura Balingkang mengapitnya. Sebuah kawasan yang bertutur banyak ketika seseorang hendak merunut perjalanan kebudayaan Bali. Kawasan arkeologis abad-abad awal masa keberaksaraan Bali.

Seperti desa-desa sekitar lainnya: Penulisan, Dausa, Serai, Manik Liu, Batur, Kintamani, dan Bwahan, di Sukawana juga ditemukan prasasti. Sebuah prasasti yang oleh Dr. Roelof Goris disebut sebagai Prasasti Sukawana AI dalam buku Prasasti Bali, Incripties Voor Anak Wungsu (1954), ditemukan di sana.

Prasasti itu disurat dalam bahasa Bali Kuna, berangka tahun Saka 804 (891 Masehi), menjelaskan perihal pemberian izin kepada beberapa bhiksu untuk membangun pertapaan dan pesanggrahan (satra) di daerah perburuan (atau perguruan?) di Bukit Cintamani. Batasnya ditetapkan. Bhiksu-bhiksu tersebut dibebaskan dari bermacam-macam pajak. Jika ada salah seorang bhiksu yang meninggal, tentang warisannya diurus dan ditetapkan. Sebagian dari warisannya dipakai untuk membeli perkakas pesanggrahan.

Muasal Kata Seni

Ada satu kata dari dalam prasasti tersebut yang akrab dengan telinga kita, yaitu seni, yang dalam prasasti ini ditulis senhi: “… hangga tukad ye kalod, anada tua bhiksu, grama musirang ya marumah ditu, tani kabakaten laku langkah, kayu   tringtihing tanggung yathakrtya bsar senhi…”

Dibandingkan dengan yang tertulis dalam Prasasti Srodokan (tahun Saka 837), kata ini ditulis tanpa huruf /h/: sni.

Kata itu mempunyai makna yang berbeda dengan maknanya sekarang. Kata senhi atau sni dalam dua prasasti ini berarti kecil.

Saya meyakini inilah akar arti kata seni yang pakai sekarang dalam berbagai bentukan kata: seniman/wati, kesenian, nyeni, berkesenian, dan seterusnya. Semua deretan kata tersebut kehilangan konteks bila kata seni-nya diganti dengan arti kata senhi, yaitu kecil. Namun, jejak arti ini dapat kita temukan dalam sebuah istilah yang tetap berarti sama walaupun pasangan kata-nya diganti dengan kata kecil. Istilah air seni tetap punya artinya sama dengan air kecil. Atau, ular seni sama maksudnya dengan ular kecil. Dan atau, dalam bahasa Bali, kata cenik (kecil) berasal dari dari kata seni?

Lalu, adakah hubungannya dengan ungkapan Inggris: Small is beautiful?  Yang jelas: senhi berarti small, pada masa Bali Kuno!

Hal yang mengganggu dalam benak kita adalah sebuah pertanyaan: Kenapa kata seni sekarang begitu “jauh” perkembangannya dengan arti sebelumnya?

Bahasa adalah sebuah media yang bersifat mirip organisme yang hidup, selalu berubah sesuai gerak perubahan pola pikir dan situasi kultural pemakainya yang terus berubah sesuai perubahan zaman. Banyak kata yang hilang atau tidak banyak dipakai, banyak kata yang “bergeser” maknanya. Dalam rentang waktu panjang dan situasi kultural yang berubah inilah, banyak kata, dalam hal ini kata seni terus mendapat pemaknaan baru hingga “bergeser” sampai maknanya seperti yang sekarang kita kenal.

Dengan menyadari “pergeseran” makna kata semacam ini, sebut saja pendekatan etimologis, kita akan mereka-reka kembali pemaknaan arti kata seni. Jika seni berarti kecil, berkesenian berarti usaha untuk memperkecil “sesuatu”?

Nyeni berarti melakoni “laku pengecilan” dalam hidup?

Keyakinan yang paling mendasar untuk meraih kedamaian hidup dalam masyarakat Bali adalah memperkecil momo dalam diri. Kata momo adalah akumulasi dari kerakusan, kekusutan, kegilaan, keangkuhan, keakuan, kemarahan, kecongkakan, kebingungan, dan seluruh potensi destruktif dalam diri manusia yang akan meledak memberangus kemanusiaan kita, bila kita tiada kendali untuk memperkecilnya.

Orang Bali, secara tradisional, melakukan kesenian dalam rangka untuk murnayang ati (menyempurnakan jiwa), dengan jalan nguwangin momo (memperkecil momo). Memperkecil momo inilah letak mendasar arti seni. Seni merupakan kendaraan kecil — “hinayana” — wahana memperhalus pekerti, dengan jalan masuk ke dalam diri untuk mengenali hakikat, kehalusan diri. Lewat seni, manusia sebagai makhluk spiritual bergerak untuk pengidentifikasian diri memasuki kehalusan semesta dan manunggal (menyatu) dengan Sanghyang Licin (Keillahian Yang Terhalus).

Dalam pandangan para seniman atau sastrawan tradisional di Bali, seni dapat dikatakan seni, hanya apabila seni mampu memperkecil momo. Jadi, seni-man/wati adalah sosok yang hidup dalam kesederhanaan, nyeni adalah melakoni hidup dengan selalu memperkecil momo dalam diri. Karya seni dapat dikatakan karya seni apabila mampu lebih memperhalus pekerti manusia.

Karya seni merupakan hasil pewujudan insipirasi dari ketiadabatasan yang tiada terbatas dengan keterbatasan bentuk. Namun, pengecilan yang mampu menggugah kembali ketiadabatasan yang terkandung dalam diri manusia yang bersentuhan dengannya. Di luar itu semua, seni bukanlah seni, hanyalah hasil kekusutan pikiran manusia, geliat-geliat kegelisahan yang tiada berujung pangkal. Peracunan seni. Pembenaran laku hidup atas nama kata seni yang salah kaprah.

Di Sukawana, di titik ditemukannya prasasti itu, alam membahasakan diri lewat kabut. Kabut datang dalam tiupan angin, berangkat dalam tiupan angin. Pada lahan pertaniannya, perbukitan dan lembahnya, dalam tiupan anginnya; manusia yang bertani di lahan-Nya dan berumah di sana lebih paham arti kata seni. Seorang petani, yang ketika ditanya, tersenyum sebelum menjawab. Laku-nya lebih keras dari bicaranya. Yang selalu setia berdamai dengan alam, pada diri sendiri. Yang ritme hidupnya menyatu dalam ritme alam. Padanya, alam bertutur lebih pasti tentang hakikat senhi. (T)

Toya Bungkah, Batur, 6 Mei 1997

 

Tags: balibali kunoprasastiSeni
Share110TweetSendShareSend
Previous Post

Teater 28 Siliwangi di Singaraja: Paduan Olah Cerita, Gerak Aktor dan Tata Artistik

Next Post

Arnata Pakangraras# Bertamu ke Perbatasan, Senja Oleng di Teras

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post

Arnata Pakangraras# Bertamu ke Perbatasan, Senja Oleng di Teras

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co