2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Hakikat Seni – Membaca Kembali Prasasti Sukawana Bali Tahun 891

Sugi Lanus by Sugi Lanus
February 2, 2018
in Esai

Lomba tari Oleg Tamulilingan, Bali Mandara Nawanatya II-2017, /Foto: Widnyana Sudibya

SUKAWANA adalah sebuah desa dalam jajaran desa-desa tua di pegunungan Bali. Pura Penulisan dan Pura Balingkang mengapitnya. Sebuah kawasan yang bertutur banyak ketika seseorang hendak merunut perjalanan kebudayaan Bali. Kawasan arkeologis abad-abad awal masa keberaksaraan Bali.

Seperti desa-desa sekitar lainnya: Penulisan, Dausa, Serai, Manik Liu, Batur, Kintamani, dan Bwahan, di Sukawana juga ditemukan prasasti. Sebuah prasasti yang oleh Dr. Roelof Goris disebut sebagai Prasasti Sukawana AI dalam buku Prasasti Bali, Incripties Voor Anak Wungsu (1954), ditemukan di sana.

Prasasti itu disurat dalam bahasa Bali Kuna, berangka tahun Saka 804 (891 Masehi), menjelaskan perihal pemberian izin kepada beberapa bhiksu untuk membangun pertapaan dan pesanggrahan (satra) di daerah perburuan (atau perguruan?) di Bukit Cintamani. Batasnya ditetapkan. Bhiksu-bhiksu tersebut dibebaskan dari bermacam-macam pajak. Jika ada salah seorang bhiksu yang meninggal, tentang warisannya diurus dan ditetapkan. Sebagian dari warisannya dipakai untuk membeli perkakas pesanggrahan.

Muasal Kata Seni

Ada satu kata dari dalam prasasti tersebut yang akrab dengan telinga kita, yaitu seni, yang dalam prasasti ini ditulis senhi: “… hangga tukad ye kalod, anada tua bhiksu, grama musirang ya marumah ditu, tani kabakaten laku langkah, kayu   tringtihing tanggung yathakrtya bsar senhi…”

Dibandingkan dengan yang tertulis dalam Prasasti Srodokan (tahun Saka 837), kata ini ditulis tanpa huruf /h/: sni.

Kata itu mempunyai makna yang berbeda dengan maknanya sekarang. Kata senhi atau sni dalam dua prasasti ini berarti kecil.

Saya meyakini inilah akar arti kata seni yang pakai sekarang dalam berbagai bentukan kata: seniman/wati, kesenian, nyeni, berkesenian, dan seterusnya. Semua deretan kata tersebut kehilangan konteks bila kata seni-nya diganti dengan arti kata senhi, yaitu kecil. Namun, jejak arti ini dapat kita temukan dalam sebuah istilah yang tetap berarti sama walaupun pasangan kata-nya diganti dengan kata kecil. Istilah air seni tetap punya artinya sama dengan air kecil. Atau, ular seni sama maksudnya dengan ular kecil. Dan atau, dalam bahasa Bali, kata cenik (kecil) berasal dari dari kata seni?

Lalu, adakah hubungannya dengan ungkapan Inggris: Small is beautiful?  Yang jelas: senhi berarti small, pada masa Bali Kuno!

Hal yang mengganggu dalam benak kita adalah sebuah pertanyaan: Kenapa kata seni sekarang begitu “jauh” perkembangannya dengan arti sebelumnya?

Bahasa adalah sebuah media yang bersifat mirip organisme yang hidup, selalu berubah sesuai gerak perubahan pola pikir dan situasi kultural pemakainya yang terus berubah sesuai perubahan zaman. Banyak kata yang hilang atau tidak banyak dipakai, banyak kata yang “bergeser” maknanya. Dalam rentang waktu panjang dan situasi kultural yang berubah inilah, banyak kata, dalam hal ini kata seni terus mendapat pemaknaan baru hingga “bergeser” sampai maknanya seperti yang sekarang kita kenal.

Dengan menyadari “pergeseran” makna kata semacam ini, sebut saja pendekatan etimologis, kita akan mereka-reka kembali pemaknaan arti kata seni. Jika seni berarti kecil, berkesenian berarti usaha untuk memperkecil “sesuatu”?

Nyeni berarti melakoni “laku pengecilan” dalam hidup?

Keyakinan yang paling mendasar untuk meraih kedamaian hidup dalam masyarakat Bali adalah memperkecil momo dalam diri. Kata momo adalah akumulasi dari kerakusan, kekusutan, kegilaan, keangkuhan, keakuan, kemarahan, kecongkakan, kebingungan, dan seluruh potensi destruktif dalam diri manusia yang akan meledak memberangus kemanusiaan kita, bila kita tiada kendali untuk memperkecilnya.

Orang Bali, secara tradisional, melakukan kesenian dalam rangka untuk murnayang ati (menyempurnakan jiwa), dengan jalan nguwangin momo (memperkecil momo). Memperkecil momo inilah letak mendasar arti seni. Seni merupakan kendaraan kecil — “hinayana” — wahana memperhalus pekerti, dengan jalan masuk ke dalam diri untuk mengenali hakikat, kehalusan diri. Lewat seni, manusia sebagai makhluk spiritual bergerak untuk pengidentifikasian diri memasuki kehalusan semesta dan manunggal (menyatu) dengan Sanghyang Licin (Keillahian Yang Terhalus).

Dalam pandangan para seniman atau sastrawan tradisional di Bali, seni dapat dikatakan seni, hanya apabila seni mampu memperkecil momo. Jadi, seni-man/wati adalah sosok yang hidup dalam kesederhanaan, nyeni adalah melakoni hidup dengan selalu memperkecil momo dalam diri. Karya seni dapat dikatakan karya seni apabila mampu lebih memperhalus pekerti manusia.

Karya seni merupakan hasil pewujudan insipirasi dari ketiadabatasan yang tiada terbatas dengan keterbatasan bentuk. Namun, pengecilan yang mampu menggugah kembali ketiadabatasan yang terkandung dalam diri manusia yang bersentuhan dengannya. Di luar itu semua, seni bukanlah seni, hanyalah hasil kekusutan pikiran manusia, geliat-geliat kegelisahan yang tiada berujung pangkal. Peracunan seni. Pembenaran laku hidup atas nama kata seni yang salah kaprah.

Di Sukawana, di titik ditemukannya prasasti itu, alam membahasakan diri lewat kabut. Kabut datang dalam tiupan angin, berangkat dalam tiupan angin. Pada lahan pertaniannya, perbukitan dan lembahnya, dalam tiupan anginnya; manusia yang bertani di lahan-Nya dan berumah di sana lebih paham arti kata seni. Seorang petani, yang ketika ditanya, tersenyum sebelum menjawab. Laku-nya lebih keras dari bicaranya. Yang selalu setia berdamai dengan alam, pada diri sendiri. Yang ritme hidupnya menyatu dalam ritme alam. Padanya, alam bertutur lebih pasti tentang hakikat senhi. (T)

Toya Bungkah, Batur, 6 Mei 1997

 

Tags: balibali kunoprasastiSeni
Share110TweetSendShareSend
Previous Post

Teater 28 Siliwangi di Singaraja: Paduan Olah Cerita, Gerak Aktor dan Tata Artistik

Next Post

Arnata Pakangraras# Bertamu ke Perbatasan, Senja Oleng di Teras

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post

Arnata Pakangraras# Bertamu ke Perbatasan, Senja Oleng di Teras

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co