2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ekspresi Tasawuf dalam Sastra Sufistik – Ulasan Buku Danarto: “Ikan-Ikan dari Laut Merah”

Ferry Fansuri by Ferry Fansuri
February 2, 2018
in Ulasan

MENGENAL seorang Danarto pasti dihubungkan dengan sastra sufistik, cerita-cerita yang disuguhkan bertema religius sebagai ciri khasnya. Ini juga terlihat pada buku “Ikan-ikan dari Laut Merah”, sebuah antologi kumpulan cerpen yang berisikan 19 cerita pendek dari jejak sastrawan kelahiran Sragen seangkatan Hamsad Rakuti atau Budi Dharma ini. Ekspresi tasawuf Danarto dijabarkan dengan menempatkan nilai-nilai mistis secara simbolik dalam tulisan dan ini terlihat pada “Ikan-ikan dari Laut Merah”, “O,Yerusalem “atau “Pantura”.

Pada cerita “Ikan-ikan dari Laut Merah” dalam antologi yang diterbitkan Diva Press ini, sebelumnya pernah terbit dengan nama Kacapiring, menceritakan seorang pemuda nelayan yang hidup dalam jaman Kanjeng Rasul Muhammad SAW. Begitu cinta pada junjungan ini ia rela mempersembahkan ikan tangkapannya. Bahkan saat pemuda itu pergi melaut didapati seekor ikan besar dan ikan ini meminta ditemukan ke Kanjeng Rasul. Terjadi dialog kecil antara pemuda nelayan dan si ikan

“Untuk apa kamu kepingin banget dipersembahkan kepada Kanjeng Rasul?”

“Supaya Kanjeng Rasul berkenan menyentuh tubuh saya”

“Untuk apa sentuhan tangan Kanjeng Rasul?”

“Suapaya saya bisa masuk surga” hal 98

Lain lagi dengan cerita “O,Yerusalem”. Dalam cerita ini sepertinya terlihat perjalanan spritual Danarto yang dicurahkan di sini. Sebuah cerita menyusuri tentang Yerusalem, tanah suci yang diperebutkan Israel dan Palestina. Melihat masa lalu purba dan mistik dilakoni tokoh utamanya, ada pesan sakral dalam caritanya.

“Yerusalem milik kita bertiga. Jangan ada yang Loba” hal 148

Pada kisah “Pantura” ini mengisahkan banjir melanda kota-kota yang berjajar di jalur pantai utara macam Pati atau Kudus hingga terjebak macet memanjang. Sang tokoh membuat rakit untuk menyusuri banjir demi menemui Kiai Zaman yang diyakini dapat membantu dia dan masyarakat pantura serta jawaban atas bencana ini. Ada kata-kata mutiara yang disematkan pada cerita ini.

“Dalam  hati saya mengucapkan terima kasih sedalam-dalamnya atas semua kebaikan kiai yang mumpuni ini. Kapan seoarang awam seperti saya bisa membalas kebaikan dan jasa-jasanya dengan tulus seperti selembar sajadah kepada sebongkah kepala yang sujud diatasnya” hal 162

Danarto selalu menyajikan cerita dengan mencengangkan dan tidak mudah ditebak. Banyak ide-ide cerita yang digarap oleh Danarto, itupun diambil dari peristiwa-peristiwa yang telah terjadi di negeri ini. Sebuah tanggal Ahad 26 Desember 2004, tsunami yang meluluhlantakkan Aceh kala itu. Ia ceritakan apik dalam “Nistagmus”, “Pohon yang Satu Itu” dan “Laut dari Langit”.

“Nistagmus” menuturkan cerita seorang penulis obituari, profesi menuliskan riwayat hidup seseorang setelah meninggal dunia dalam surat kabar. Profesi yang langka karena harus bergelut masa lalu dan interview keluarga tapi profesi ini membuat sang tokoh dihindari orang-orang sekitarnya. Jika dekat si penulis obituari sepertinya bisa meramal kematian masa depan.

“Mereka berebut duluan menyerahkan selembar kertas diatas meja sehingga sekejap bertumpuk, berserak, lalu semuanya bergegas pergi meninggalkan saya tanpa sepatah kata diucapkan. Lembaran-lembaran apakah ini? Ternyata riwayat hidup dengan tanggal lagir dan Masya Allah..tanggal akhir hayat,Ahad,26 Desember 2004…..

….Entah berapa lama saya pingsan.Waktu saya siuman,seluruh kota telah hancur lebur rata dengan tanah. Mayat-mayat berkaparan di seluruh kawasan…

….Saya berdiri sendirian disamping sebuah kapal yang terdampar di tengah kota. Hal 76 

Begitu juga pada kisah “Pohon yang Satu Itu”, sebagai sebuah pohon kehidupan yang hidup setelah tsunami melanda. Tiba-tiba muncul di tengah kota yang luluh lantah diterjang tsunami Ahad tersebut. Berduyun-duyun orang berdatangan ke pohon itu untuk melihat keajaiban setelah bencana bahkan mendirikan tenda dan beranak pinak sekitar pohon kehidupan itu.

“Untuk sejenak,kesedihan dilupakan.Hidup sebenarnya tidak sesederhana malapetaka tsunami.Hidup adalah sebuah pertanyaan panjang” hal 83 

Cerita Tsunami ditutup dengan “Lauk dari Langit” berkisahkan hujan ikan di bukit yang ditempati keluarga kecil. Hal yang ajaib yang tidak pernah mereka lihat, lauk yang melimpah dari langit. Apakah ini pemberian Tuhan bagi mereka? Karena begitu melimpahnya ikan itu, rumah mereka penuh. Sang kepala keluarga mencetuskan ide brilian untuk menjual tapi saat turun dari bukit ke kota didapati sebuah kenyataan yang mengejutkan.

“Begitu sampai di bibir bukit dan menatap kota di depannya, sang ayah dan anaknya jatuh terduduk, kekuatan mereka terlolosi.

Ikan yang dipanggulnya berserakan di tanah. Keduanya meraung sejadi-jadinyanya, kota telah musnah,ribuan mayat bergelimpangan di mana-mana. Hal 92

Tapi dari semua cerpen yang ditulis dalam antologi, ada cerpen “panjang” dan ini yang saya suka dalam judul “Alhamdulillah, Masih Ada Dangdut dan Mi Instan”. Ini layaknya berkisah sejarah Danarto yang hidup empat jaman mulai dari 1945,1949, 1965 sampai 1998 yang dimana tahun-tahun terjadi kejadian bersejarah di republik ini.

Danarto berandai-andai dirinya ada dalam 4 masa ini dalam tubuh sebuah anak bernama Slamet. Bocah ini menjelajahi masa lalu sampai masa depan, pertemuannya dengan founder negeri ini Soekarno sebagai pembawa surat dari jendral Sudirman. Mengikuti pergerakan nasional mulai proklamasi kemerdekaan di Jakarta sampai agresi Belanda setelah melanggar perjanjian Renville. Bergelut dengan kerasnya kehidupan, menemukan tambatan jodohnya Sri Rejeki, membuka usaha dari sate sampai orkes dangdut. Tidak memiliki tempat tinggal permanen dari rela digusur sana digusur sini

“Hari itu memang hari akhir warga untuk pindah karena batas waktu untuk tinggal dikolong tol sudah habis.Slamet,yang mencoba menghalangi-halangi petugas, diringkus. Ia diseret pergi. Slamet, si kakek buyut yang gigih, 77 tahun (pada tahun 2007) terkapar pingsan…..”Alhamdulillah, kita digusur lagi” bisik Slamet setelah sadar.“ Hal 208

Umur 77 tahun itu sama dengan history Danarto dalam dunia penulisan. Danarto menjelaskan dengan gamblang peristiwa-peristiwa dalam kisah itu. Bak mini novel, pembaca diajak untuk menyelami getirnya perjalanan Slamet dari masa ke masa tapi tetap tegar.

Bahkan Danarto sendiri berharap dan berdoa kepada penciptanya berkenan menambahkan sepuluh tahun lagi untuk bisa melihat dunia dan menuliskan yang tersirat dalam tersurat dalam cerpen-cerpen hingga para pembaca bisa mengalami hikmah dan langgam nilai melimpah ruah didalamnya. Apakah anda siap menerima kasyful wujud (penyingkapan realitas)? (T)

Tags: BukuCerpenDanartokumpulan cerpenresensi
Share8TweetSendShareSend
Previous Post

Film Dokumenter sebagai Perangkat Penelitian Antropologi

Next Post

Guru Inspiratif Masa Kini: Pemberi Nilai Kehidupan, Bukan Sekadar Nilai ABCD

Ferry Fansuri

Ferry Fansuri

Lahir di Surabaya, 23 Maret 1980. Penulis, fotografer dan entreprenur lulusan Fakultas Sastra jurusan Ilmu Sejarah Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya. Pernah bergabung dalam teater Gapus-Unair dan ikut dalam pendirian majalah kampus Situs dan cerpen pertamanya "Roman Picisan" (2000) termuat. Mantan redaktur tabloid Ototrend (2001-2013) Jawa Pos Group. Sekarang menulis freelance dan tulisannya tersebar di berbagai media Nasional

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post

Guru Inspiratif Masa Kini: Pemberi Nilai Kehidupan, Bukan Sekadar Nilai ABCD

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co