6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Gabriela

Putri Handayani by Putri Handayani
February 2, 2018
in Cerpen

Ilustrasi: IB Pandit Parastu

Cerpen: Putri Handayani

 

“Gabriela, pohon beringin itu menari. Aku mengerjapkan kedua mataku. Pohon itu tetap menari. Kembali kukerjapkan kedua mataku sambil lalu mengusap-usapnya. Pohon itu lumayan tinggi tapi tidak setinggi pohon kelapa. Terletak di jantung kota. Daunnya rimbun serimbun gugusan awan, akarnya panjang menggelayut seperti ekor kuda. Pohon beringin ini kini menatapku. Matanya mendelik dengan mulut yang terkatup-katup seperti merapal mantra. Akar-akar gantungnya – yang menggelayut seperti ekor kuda – ia kibaskan kesana-kemari seperti seorang penari yang tengah mengibaskan sampurnya. Aku semakin keheranan. Pasti ada yang salah.

Bagaimana mungkin sebuah pohon bisa menari? Aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling. Orang-orang lalu lalang, ada yang berjalan kaki, ada yang mengendarai sepeda motor, menyetir mobil. Mereka terlihat biasa-biasa saja, berlalu begitu saja di sekitar pohon beringin itu. Mereka tidak terkejut melihat pohon itu menari. Atau mereka pura-pura tidak melihatnya? Atau hanya aku yang melihatnya? Jawab aku, Gabriela.”

***

            SUDAH 17 tahun aku hidup dengan mata aneh ini. Aku sadar ketika usiaku baru menginjak 3 tahun. Mata aneh yang tidak dimiliki sembarang orang. Mata aneh yang sempat membuatku bercita-cita menjadi orang buta karena aku tidak sanggup menyaksikan berbagai hal aneh berseliweran di sekelilingku. Pernah suatu kali mataku diusik oleh pemandangan-pemandangan aneh lainnya, seperti kepala orang-orang yang tiba-tiba berubah menjadi kepala binatang serupa ular dan babi.

          Belakangan ternyata aku baru mengerti bahwa binatang-binatang itu adalah cerminan dari sifat-sifat mereka, misalnya babi mewakili sifat rakus, dan ular mewakili sifat culas. Aku jadi senyum-senyum geli ketika orang-orang berkepala binatang itu berpapasan atau malah sempat mengobrol denganku. Aku tersenyum karena aku sudah bisa melihat bagaimana sifat mereka dengan jelas tapi mereka tidak menyadarinya. Tapi, kebanyakan temanku menganggap aku aneh karena sering ketakutan sendiri, berbicara sendiri, bahkan tertawa sendiri. Mereka tidak mengerti karena mereka tidak melihat apa yang aku lihat.

            Satu-satunya orang yang paling mengerti diriku adalah ayahku karena ayah juga sejak kecil telah dianugerahi mata aneh sepertiku, ya sebut saja mata aneh. Sadar bahwa aku juga sama sepertinya, maka ayahku mulai mengasah kepekaanku. Kini aku mulai bisa melihat warna-warna berpendar dari sekujur tubuh manusia, selain kepala binatang pada manusia yang memiliki sifat-sifat yang mencolok. Warna-warna ini adalah berbagai aura yang ada pada manusia, juga menggambarkan situasi perasaan mereka. Merah. Putih. Hitam. Hijau. Kuning. Ungu. Aku seperti melihat pelangi berjalan. Terkadang juga mereka berubah-ubah.

             Suatu ketika di sebuah jalan aku melihat seorang gadis yang tengah menangis entah karena apa. Di atas kepalanya seperti ada mendung yang pekat. Hitam legam. Ia pasti sangat bersedih. Lalu, di seberang ada anak kecil yang kegirangan setelah dibelikan balon oleh ibunya. Seketika warna kuning memancar di sekujur tubuhnya. Aku paling suka dengan pemandangan ini, terlepas dari kesedihan yang dirasakan oleh gadis di trotoar tadi.

            “Ayah. Selamat ya!” kataku dengan senyum mengembang.

            “Selamat untuk apa?” jawab ayah.

            “Ayah memiliki umur panjang.”

            “Bagaimana kau bisa tahu?”

            “Entahlah. Aku hanya melihatnya.”

            Aku mengedarkan pandanganku ke sebuah sudut. Sesuatu seperti sedang memperhatikanku diam-diam. Di sana, di balik pintu. Tapi aku berusaha untuk tenang dan tidak menghiraukannya.

            “Masak ayah sendiri tidak tahu?” tanyaku menyambung obrolan tadi.

            “Iya, ayah tidak tahu. Sebenarnya sudah lama ayah menutupnya karena

ayah tidak bisa mengendalikannya.”

            “Apa? Lalu bagaimana dengan aku?”

            “Ayah juga tidak mengerti. Kita sudah pernah mencobanya beberapa kali, bukan?”

            Hening.

***

           WAKTU demi waktu berlalu. Usiaku sudah menginjak 25 tahun. Segala keanehan dalam diriku sudah mulai aku terima dengan ikhlas. Aku sudah mulai terbiasa bersahabat dengan mataku yang aneh. Tidak hanya pohon-pohon yang tiba-tiba menari, manusia berkepala binatang, serta pelangi-pelangi yang berjalan, kini aku mulai bisa melihat masa lalu dan masa depan orang-orang yang secara sengaja atau tidak sengaja berinteraksi denganku. Segalanya seperti mikro film yang terputar sendiri.

           Pernah sesekali aku bercakap dengan seorang teman wanita. Ia sangat cantik. Kulitnya kuning langsat, matanya bening seperti embun yang bercokol di dedaunan, bibirnya merah seperti jalinan kelopak bunga mawar, rambutnya panjang terurai sampai ke pinggang. Tuturkatanya sangat lembut. Ia sangat taat beragama. Mikro film itu tiba-tiba terputar sendiri, menceritakan masa lalu gadis itu. Di kehidupan yang dulu ia juga seorang gadis yang baik budi namun tidak secantik sekarang. Ia terlahir kembali karena ada hutang yang harus ia bayar, entah hutang apa itu.

           Samar-samar bayangan itu mulai meredup. Gadis ini masa depannya akan cerah. Hutang itu akan lunas di kehidupan terakhir ini, lalu ia tidak akan lahir lagi. Benar-benar kisah yang indah. Sedangkan, aku benci mengetahui kisahku sendiri. Ada satu yang tidak pernah berubah semenjak percakapanku dengan ayah sore itu di ruang tamu. Sesuatu yang selalu mengamatiku dari jauh. Aku tahu dia bersembunyi. Apa ia takut? Siapa yang sebenarnya harus takut pada siapa? Mengapa ia tidak menampakkan wujud aslinya seperti yang lainnya? Pengecut.

       Melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat kebanyakan orang memang menyenangkan, dan mengetahui masa lalu dan masa depan mereka juga. Tapi aku mulai bosan. Aku tidak ingin terus-terusan mendahului kehendak semesta pada diri sendiri dan orang-orang yang telah aku lihat masa depannya. Sekali-sekali aku juga ingin menjadi orang normal yang tidak bisa melihat pohon menari, tidak bisa melihat kepala-kepala binatang, tidak bisa melihat warna-warna aura manusia, juga yang paling penting tidak bisa melihat masa lalu dan masa depan seseorang.

         Itu sangat mengerikan. Ya kalau takdirnya baik, kalau buruk? Aku jadi merasa sangat berdosa mengetahui urusan pribadi mereka yang sama sekali tidak perlu aku ketahui. Aku juga benci melihat takdirku sendiri. Aku mulai menjauhkan diriku dari hal-hal yang memungkinkanku melihat segalanya. Aku akan mulai dari jarang keluar rumah, mungkin keluar hanya untuk bekerja dan membeli makanan, selebihnya aku akan mengurung diri di rumah. Setidaknya aku akan semakin jarang berinteraksi dengan orang-orang atau melihat pepohonan di luar sana. Tapi tetap saja. Aku hanya tinggal dengan ayah di rumah, tapi tetap saja rumah terasa ramai. Mereka semua adalah tamuku dan tamu ayah. Bukan, kami tidak pernah mengundang siapa-siapa! Mereka tidak mau pergi, terutama yang selalu mengamatiku.

        Aku mulai gila. Aku sangat lelah. Aku sangat bosan. Bahkan aku tidak bisa membedakan antara makhluk nyata dan tidak nyata. Memangnya aku pernah berhasil membedakan mereka? Sebenarnya yang nyata itu seperti apa? Yang tidak nyata seperti apa? Aku terlahir dengan dua dunia berbeda di genggamanku, hidup berdampingan dengan mereka, sedangkan aku tidak pernah diajarkan untuk membedakan mereka. Ini sangat tidak adil.

        Kepalaku mulai sakit. Aku menjambak-jambak rambutku. Aku meremas-remas bajuku. Aku membentur-benturkan kepalaku ke tembok. Ayah tidak sanggup meleraiku. Aku berlari ke luar rumah. Entah ke mana. Aku juga tidak tahu, aku hanya berlari ke mana pun kakiku melangkah. Berlari hingga ke ujung. Selatan. Langkahku terhenti di sebuah pantai. Aku melihat ombak berlombaan menjilat-jilat tepian pantai. Suasananya sangat tenang. Hembusan angin bergantian menghamburkan rambut panjangku, aku tak peduli. Seorang pria melambaikan tangannya di antara deburan ombak itu. Lambaian tangan itu untukku. Nada gerakannya seperti mengajakku agar mengikutinya. Berenang bersama? Siapa takut. Aku mengikutinya. Semakin jauh, semakin dalam, daratan tenggelam.

       Gabriela. Ternyata namamu Gabriela. Sosok yang selalu mengintaiku. Membiarkanku melihat segalanya sebelum menjemputku. (T)

070616

Share52TweetSendShareSend
Previous Post

I Putu Agus Phebi Rosadi# Tiga Ramu Mengkudu

Next Post

“Nama” adalah Peta Jalan Pengetahuan

Putri Handayani

Putri Handayani

Bernama lengkap Desak Ketut Putri Handayani. Lahir di Klungkung. Adalah penulis pemula yang punya niat besar untuk terus berkembang

Related Posts

Kakek yang Inkompeten |  Cerpen Muhammad Khairu Rahman

by Muhammad Khairu Rahman
March 1, 2026
0
Kakek yang Inkompeten |  Cerpen Muhammad Khairu Rahman

DI sebuah kota yang tumbuh setengah hati—antara ambisi menjadi metropolitan dan kebiasaan menjadi desa besar—tinggallah seorang pejabat tua bernama samaran...

Read moreDetails

Rumah Wartawan | Cerpen Angga Wijaya

by Angga Wijaya
February 28, 2026
0
Rumah Wartawan | Cerpen Angga Wijaya

WARTAWAN itu menghela napas dalam-dalam. Ia merasa gundah. Rumah yang ia tempati belasan tahun terakhir hanyalah kamar sempit. Bersama istri...

Read moreDetails

Berisik Seharian | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
February 27, 2026
0
Berisik Seharian | Cerpen Kadek Windari

“Sudah matang, Bu?”  teriaknya. Itu pertanyaan pukul 05.30 pagi. Aku tahu persis jamnya karena sejak pindah ke kompleks perumahan ini,...

Read moreDetails

Idup, Idup! | Cerpen Putri Harya

by Putri Harya
February 22, 2026
0
Idup, Idup! | Cerpen Putri Harya

SESEORANG sedang menyalakan dupa ketika lantainya terasa bergerak sedikit ke kiri lalu ke kanan. Kayu-kayu usuk rumah ikut berderit. Mata...

Read moreDetails

Pejabat Kampus yang Sok Ilmiah | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
February 21, 2026
0
Pejabat Kampus yang Sok Ilmiah | Cerpen Ahmad Sihabudin

Di Universitas Bumi Langit, tempat matahari sering kalah terang dari ego para dosennya, terletak sebuah fakultas yang namanya saja sudah...

Read moreDetails

Penghapus di Kepala Ayah | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
February 20, 2026
0
Penghapus di Kepala Ayah | Cerpen Aksara Caramellia

SETIAP pagi, sebelum matahari benar-benar mengusir sisa gelap dari halaman rumah, Ayah sudah duduk di meja makan dengan buku catatan...

Read moreDetails

Menggali Kubur yang Telah Subur | Cerpen Safir Ahyanuddin

by Safir Ahyanuddin
February 15, 2026
0
Menggali Kubur yang Telah Subur | Cerpen Safir Ahyanuddin

AKU pertama kali menggali kubur itu ketika usiaku sembilan tahun. Pagi itu tanah masih menyimpan dingin dari hujan semalam. Kakiku...

Read moreDetails

Wartawan Gagal | Cerpen Angga Wijaya

by Angga Wijaya
February 14, 2026
0
Wartawan Gagal | Cerpen Angga Wijaya

DUL percaya satu hal, bahwa seks adalah tanda kehidupan. Selama masih bisa, berarti ia belum selesai. Itulah sebabnya, pukul 04.10...

Read moreDetails

Made Jadi Hakim | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
February 13, 2026
0
Made Jadi Hakim | Cerpen I Made Sugianto

Kakek tua itu duduk melamun seusai menyabit rumput. Menyandarkan tubuh ringkihnya di batang pohon asem nan rimbun. Keranjangnya sudah penuh...

Read moreDetails

Melankolia di Akhir Kanda | Cerpen Galuh F Putra

by Galuh F Putra
February 8, 2026
0
Melankolia di Akhir Kanda | Cerpen Galuh F Putra

SITA menyandarkan pipinya pada telapak tangan, membiarkan jari-jarinya bergerak lembut menyentuh kulit wajahnya yang masih hangat dari sentuhan sore hari....

Read moreDetails
Next Post

“Nama” adalah Peta Jalan Pengetahuan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co