Pementasan Monolog Dasamuka Nyoman Erawan. /Foto-foto: Ida Bagus Darmasuta

 

TANGGAL 28 Oktober, ketika bangsa Indonesia merayakan Hari Sumpah Pemuda, seorang seniman Bali bernama Nyoman Erawan melakukan unjuk rupa yang mencengangkan. Dalam narasi yang entah bagaimana kita harus membacanya, Erawan mempertontokan tiga teks dalam semalam.

Teks yang saya maksud adalah 1) Shadow Dance, 2) Dasa Muka, dan 3) Sumpah Pemuda. Ketiga teks ini bukanlah teks yang terlepas sendiri-sendiri, tetapi ketiganya adalah satu kesatuan yang diniatkan dengan sengaja dan terukur oleh Erawan.

“ Shadow Dance#3” merupakan serial pameran rupa Nyoman Erawan yang telah dilaksanakan untuk kali ketiga. “Dasa Muka” merupakan salah satu judul monolog sebagai bagian dari serial Festival Monolog Bali100 Putu Wijaya yang digagas oleh Putu Satria Kusuma.

Sedangkan “Sumpah Pemuda” merupakan teks yang sekaligus menjadi konteks keduanya. Saya selalu beranggapan bahwa tidak ada yang tak terencanakan dari seorang Erawan. Semua diukur, segalanya dipertimbangkan melalui persiapan yang sangat ‘serius’.

Semua itu ia lakukan dalam Pembukaan Pameran Seni Rupa Shadow Dance 3 dan Monolog Rupa Dasamuka di Bentara Budaya Bali, Sabtu 28 Oktober 2017, malam.

Saya menduga bahwa Erawan ingin menyodorkan suatu “kejamakan” sebagai sebuah realita menuju suatu “ketunggalan” sebagai suatu niatan. Shadow Dance dan Dasa Muka merupakan suatu kejamakan yang dalam istilah lain sering disebut sebagai kebhinekaan. Bayangan dalam Shadow Dance sesungguhnya merupakan tambahan wujud atas wujud. Tidak penting apakah ia menyerupai atau tak. Apakah bisa dikenali atau tak. Apakah bermakna atau sekadar noktah.

Makanya, wujud-wujud tiga dimensi yang dipamerkan oleh Erawan bukan dimaksudkan untuk mengenali sosok tertentu. Walaupun sedikit tanda-tanda yang seolah-olah ingin mengarahkan kita untuk mengenalinya sebagai wujud tertentu yang terlanjur ada di ingatan kita.

Misalnya, adanya bentuk-bentuk berbulu seolah barong, ada tungkai menggelayut seolah kaki, ada bulatan seolah wajah, ada ‘pepatran’ seolah api, ada lubang seolah karang, dan banyak lagi “wujud seolah” yang merupakan tarian bayangan yang sangat jamak kita ciptakan sendiri.

Pesan Erawan di ruang pameran dilanjutkan kemudian ke panggung monolog. Panggung yang diset layaknya ‘tetaringan’ dengan tiang bambu yang cukup tinggi serta ‘terajangan’ yang mengingatkan kita pada pentas Calonarang di desa, membuat saya tak bisa menduga model pentas apa yang akan saya saksikan. Sebuah gesekan pada rebab raksasa yang sengaja tak diniatkan melahirkan nada pentatonis yang melodis justru mampu menarik perhatian saya.

Selanjutnya adalah atraksi Erawan memanfaatkan monolog untuk unjuk rupa. Serapan Erawan dari teks monolog karya Putu Wijaya menjadi energi rupa di panggung. Siraman cat di kepala, cipratan di kanvas, dentuman kepala-kepala jatuh berlumur warna merupakan monolog rupa yang sesungguhnya.

Jadi, kita sesungguhnya menyaksikan Erawan bukan Putu Wijaya, bukan pula Putu Satria, harap maklum. Karena artikulasi rupa berbeda dengan artikulasi sastra (drama), berbeda pula dengan artikulasi musik. Namun demikian, mereka tetap satu dalam panggung. Seperti Sumpah Pemuda menyatukan Shadow Dance dan Dasa Muka di Bentara Budaya Bali malam itu. (T)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY