Penampilan kelompok Pengak Men Mersi di panggung Bali Mandara Mahalango di Taman Budaya Denpasar. /Foto: Istimewa

…..Yang kekal hanya gelap semata dan pekat/ menyatu dalam sunyi/awal mula semesta tercipta/ kelam bersalin terang/…….. 

ITULAH penggalan lirik puisi yang mengalir dari bibir mungil Ni Made Frischa Aswarini. Sementara nada-nada tunggal dan rendah … ting tong ting teng dong…menjadi latarnya. Syahdu.

Alunan nada syahdu yang mengusik rasa dan jiwa penonton yang menyaksikan pagelaran ‘Padma Hrdya’ garapan Penggak Men Mersi, Rabu malam (26/7) di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya, Denpasar.

Menurut konseptor pagelaran ‘Padma Hrdya’, Kadek Wahyudita, dalam konteks garapan ini, Padma  Hrdya dimaknai sebagai persembahan seni yang bertujuan untuk mengajak kita semua memahami situasi dunia dalam perpspektif metafisika. “Rangkaian karya ini tertuang lewat nada-nada gamelan Singaprga yang membentuk lima spirit komposisi karya dengan nama Prana Yuga, Genta Hrdya, Budi Satyam, Bhawa Semara dan Prabawa Bhuawa, urai Wahyudita.

Adapun struktur pagelaran ini, menurut Wahyudita, terbagi dalam enam babak. Bagian babak pembuka adalah babak makrokosmos. Babak ini medeskripsikan tentang alam semesta dan proses penciptaannya. Setelah itu masuk babak Prana Yuga. Babak yang mendeskripsikan sosok raja yang sedih melihat alamnya porak poranda. “Pada babak ini menampilkan bagaimana kesedihan seorang raja yang sedih melihat alam semesta ini porak poranda,” tutur Wahyudita.

Adegan-adegan terus mengalir hingga ke babak Genta Hrdya. Babak ini berlanjut hingga ke babak Genta Hrdya yang mendeskripsikan dialog sang raja atas kondisi yang sedang terjadi di semesta ini. Adegan-adegan terus mengalir syahdu dan mengiris jiwa hingga masuk ke babak budhi satyam yang mendeskripsikan mendeskripsikan doa pada semesta. Terus berlanjut hingga babak Bhawa Semara yang mendeskripsikan cinta kasih dan memuncak di babak Prabhwa Buana yang rancak dan dinamis.

Selama enam babak itu beragam kolaborasi seni tampil. Mulai dari musik dengan beragam alat musik seperti gitar, sitar, gong, selonding dan lainnya. “Kolaboarasi musik adalah unsur utama dalam pertunjukkan ini. Hanya saja karena ini adalah sebuah pertunjukkan yang ditonton maka elemen lain seperti tari, tata lampu dan mapping multimedia menjadi bagian yang memperkuat visualisasi kolaborasi musik ini,” terang Wahyudita.

Visualisasi garapan ini memukau penonton dan membuat penonton terdiam tak beranjak dari tempat duduknya hingga pertunjukkan berakhir.”Mengesankan pertunjukkan musik ini yang dikolaborasikan dengan lainnya. Pertunjukkan ini sudah mengalir dari setiap segmennya. Hanya saja secara keseluruhan, jujur tiyang tidak menangkap apa sesungguhnya tema atau fokus dari pertunjukkan ini,” tutur pengamat seni, Dr. I Nyoman Astita, MA. Astita.

Astita melihat antar segmen atau babak terlihat jalan sendiri-sendiri. “Kalau ini (antar babak-red) maksudnya akan dirangkai, maka saya tidak melihat ini terhubung. Sebaliknya masing-masing bagian tampil bagus tetapi tidak terhubung,” tutur Astita.

Wahyudita selaku konseptor tidak mengingkari pendapat Astita yang tidak melihat benang merah antar babak. Ini tidak lepas dari persiapan yang berjalan penuh liku. Termasuk saat pementasan ada yang terjadi di luar rencana.

“Sebenarnya, tampilnya wayang yang akan menjadi penghubung cerita. Tetapi karena saat pementasan bagian ini terpotong sebagian dengan tampilnya penari untuk kedua kalinya. Sehingga memotong bagian kedua dari wayang. Saya hanya punya pilihan menyelamatkan pementasan dengan menyelamatkan kualitas dari masing-masing bagian dan penampil dengan melepas keterhubugan benang merah tersebut,” aku Wahyudita. (T/R)

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY