‘plengen idepta apang eda wera’
‘aywa wera’
‘aywa cawuh’

Demikian kita temui beberapa istilah yang ada dalam lontar yang dinilai oleh pegiat lontar dan awam sebagai ‘kutuk’.

Lalu, benarkah ‘aywa wera’ itu kutuk?

Jika kita bertemu dengan ‘aywa wera’ atau ‘aywa cawuh’ dalam lontar, maknanya jelas sekali bahwa kita diminta tidak banyak omong, tidak berkata-kata, tidak mendebat atau singkatnya: Lakukan bukan diperdebatkan atau dipergunjingkan.

‘Wera’ (atau vera) dalam Sanskrit salah satu artinya adalah ‘mulut’. Wera juga kemungkinan berasal dari kata Sanskrit ‘vaira’ yang bermakna ‘berdebat’ atau ‘membantah’.

Berkomentar atau berdebat, atau kebanyakan membuat status di sosmed, sesungguhnya menurut pesan intrinsik lontar yang memberi wanti-wanti ‘aywa wera’ atau ‘aywa cawuh’, kita akan terjebab pada basa-basi dan obrolan bualan yang berhenti sebatas kata, tidak masuk ke pokok intisari ajaran yaitu ‘praktek’.

‘Cawuh’ dan ‘wera’ dalam berbagai lontar aji atau tutur yang disakralkan posisinya bisa saling menggantikan.

Tutur Kamoksan dalam awal teks mengatakan: ‘iki uriping buwana kabeh, aywa cawuh mute temen, wuriping pritiwi..’

‘Nihan kramaning anaken bratha, aywa bratha jnana kewalya saproj­nanata, kunang kramaniya, met asakaya kang nista madhya utama, budhi sadesa, aywa maletuh, kang ambek aywa mityha budhi, aywa cawuh, rahasya temen, tan pageleh-geleh, tan kareketan karna sula, mwang rajah tamah, lilamahning nirawarana, kadi rajeg turus, nguniweh jnana wisesa, weruh kraman ira sowang sowang’, demikian pembuka lontar Sang Hyang Tatwa Bratha.

‘plengen idepta apang eda wera’
‘aywa wera’
‘aywa cawuh’

Secara berurutan berarti:

‘berkonsentrasilah, jangan berkata-kata’
‘hindari berkata-kata’
‘hindari kesembarangan ucapan’

Secara tidak langsung ajaran ‘eda wera, aywa wera, aywa cawuh’ memberi kita peringatan agar kita tidak terjebak pada obrolan atau perdebatan sia-sia, terkhusus dengan pihak-pihak yang tidak kita kenal (seperti dalam sosial media ada account abal-abal yang bahkan tidak ada manusia asli di baliknya), juga dengan pihak-pihak yang tidak jelas duduk muasal pengetahuan dan ajaran yang dianut atau dipegang sebagai kendali perjalanan batiniahnya.

Ajaran ‘aywa wera, aywa cawuh’ memberi kita rambu-rambu agar kita masuk ke dalam diri tidak terpikat atau terjebak keluar diri, tidak menjadi nyinyir dan tiada berkesudahan mencari pengakuan di luar diri atau pengakuan dari orang lain lewat ‘membocorkan’ atau ‘cawuh’ (membicarakan dengan sembarang) ajaran-ajaran yang sesungguhnya bukan bahan diskusi atau pergunjingan semata, tapi lebih bersifat tutorial yang memerlukan laku atau praktek asketik memasuki diri sendiri dalam kesendirian dan kesunyian diri.

‘Aywa wera, aywa cawuh’ adalah kata pengantar menuju perjalanan sunyi memasuki diri sendiri. (T)

Catatan Harian  23 Juni 2017.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY