Foto: koleksi penulis

TENTU banyak juga bupati yang diam-diam menulis puisi. Namun bupati yang tidak diam-diam menulis puisi mungkin sedikit orang saja. Salah satunya yang saya kenal adalah Bupati Flores Timur (Flotim), Yoseph Lagadoni Herin, yang kabarnya juga sedang maju kembali (sebagai calon bupati petahana) di Pilbup Flotim 2017-2021.

Ia berasal dari Desa Pamakayo, pulau Solor, pernah menjadi wartawan sebuah harian yang terbit di Denpasar, menjadi wakil bupati, kemudian naik tahta menjadi Bupati Flores Timur, NTT, periode 2011-2016. Kesuksesannya meraih tahta kepemimpinan di Flotim itu malahan mendapat respon positif dalam sebuah artikel opini yang diterbitkan harian Kompas.

Artikel itu menyatakan, gaya kampanye Yosni Herin yang door to door bisa menjadi modal moral di tengah dominannya kekuatan modal finansial dalam proses pilbup kita.

Tampaknya Yosni juga cukup berhasil memimpin Flotim selama 2011-2016. Terutama perbaikan infrastruktur pelabuhan rakyat yang sebagian besar saat ini sudah bisa dinikmati masyarakat. Selama masanya pula, SMA Muhammadyah bisa berdiri di Adonara.

Kalau mau ditambahkan, mungkin ia juga berperan ‘memperlancar’ terwujudnya megaprojek pemerintah pusat dan propinsi untuk membangun jembatan “palmerah” (Pantai Palo, Sarotari dan Tanah Merah) yang menghubungkan Adonara dan Larantuka. Jembatan yang dibandrol seharga 5,1 triliun itu nanti akan menjadi kebanggaan masyarakat Flores, walaupun saya pribadi tidak melihat urgensinya bagi masa depan dunia maritim dan masyarakat Flores.

Selain semua capaian di atas, prestasinya yang paling menyentuh menurut saya justru di bidang paling tidak populer, yaitu kebangkitan komunitas sastra lokal. Ia berhasil mendorong pegiat sastra Flotim untuk rutin mengadakan event-event sastra di Larantuka, di tengah sepi perhatian pada bidang ini dari kalangan politisi dan pewenang daerah.

Beberapa komunitas malahan telah mampu melakukan kegiatan berskala nasional. Maklum, sastra memang dunia asal Yosni Herin. Menjadi politisi, menurut pengakuannya hanyalah sebuah kemujuran.

Hobinya membaca puisi pada banyak acara resmi non sastra di wilayahnya rupanya menjadi modal tersendiri. Sosoknya jadi mudah diingat, lantaran jarang betul politisi dan pejabat lain yang melakukan hal sama. Ia misalnya, menulis puisi untuk Frans Lebu Raya dan membacakan langsung di depan Gubernur NTT itu, saat menyampaikan pandangannya tentang cara membangun NTT.

Menurut pengakuannya, ia yakin cara demikian lebih mampu menyentuh seseorang ketimbang beragumentasi laksana ahli strategi perencanaan. Ia juga menulis puisi untuk seorang pemuda Adonara hanya untuk meyakinkan pemuda itu bahwa ia masih seorang penyair.

Pernah sekali waktu jadwalnya berbenturan, antara membuka sebuah acara sastra atau naik bis laut untuk menuju sebuah kampung yang sedang berperang. Nyatanya, ia putuskan untuk membuka acara sastra itu terlebih dulu. Terlepas dari resiko kiritik yang mungkin saja ditujukan padanya, toh, ia mengaku lebih bahagia di tengah orang membaca puisi.

Waktu saya mengikuti sebuah acara sastra kecil-kecilan di Larantuka tahun 2013, Kaka Yosni (demikian ia biasa dipanggil banyak pemuda) ikut nimbrung sampai tengah malam di lapangan terbuka dan berembun, tak jauh dari pelabuhan Larantuka yang sedang terang bulan. Tidak ada yang mewajibkannya datang saat itu. Tau-tau saja ia muncul  berjalan kaki bersama sang istri. Sebuah gejala yang kurang wajar, di tengah jurang yang kian lebar antara politik dan puisi Indonesia.

Namun bagi Yosni justru sebaliknya. Puisi telah menjadi bagian dalam karir politiknya yang tampaknya selalu mujur itu. Puisi telah turut ‘merestuinya’ tatkala berkompetisi menjadi cabup. Para pendukungnya saat itu membuat sebuah album lagu dari puisi-puisinya dan menebarkannya secara indie pada musim kampanye.

Kebetulan, biduannya pemuda Lamahala yang sempat masuk putaran semi final akademi dangdut sebuah stasiun televisi. Kolaborasi antara puisi, penyanyi berbakat yang sudah masuk tivi dan tim sukses, akhirnya berjaya membawa Yosni unggul dari pesaing-pesaing lainnya. Padahal, ketika itu ia harus berhadapan dengan calon-calon lain yang sangat kuat basis ‘logistik’nya. Lalu, siapa bilang puisi tak berguna pada musim kampanye? (T)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY