23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Puisi-puisi Winar Ramelan# Perempuan Peramu Puisi

Winar Ramelan by Winar Ramelan
March 10, 2019
in Puisi
Puisi-puisi Winar Ramelan# Perempuan Peramu Puisi

Erawan vs Penyair Sejati: "Salvation of the Soul", Ritus Bunyi Kata Rupa. Karya Nyoman Erawan. (Foto: Agus Wiryadi)

PEREMPUAN PERAMU PUISI

Andai masa silam tak membagikan luka dan membuat purnama terasa ringkih dan lengang di mataku. Mungkin hari ini aku tak pernah mampu menjahit robekan-robekan waktu.


Andai aku tak pernah merasai suguhan ubi kayu rebus dan teh pahit. Mungkin hari ini aku akan menyalahkan jam dinding yang setiap detiknya menanjak pada luka.

Sedang yang paling sakral pernah kupersembahkan. Sebentuk ingatan pada silam telah kupenjarakan. Agar ia tak lagi memamerkan taringnya lalu menerkamku

Aku selalu ingin yang hari ini. Menjadi perempuan peramu puisi. Merangkainya ketika kata-kata tak mampu lagi kuobral dengan suara. 


Ketika dada teraduk oleh peristiwa demi peristiwa yang menyakitkan. Ketika aku duduk dalam sunyi dan memujinya tanpa batas. Dan melihat dari balik tirai bayang matahari yang mencoba mengangkangi dunia.

PEREMPUAN PENYANDING KOPI

sering aku menziarahi malam dengan membuat denting pada gelas yang beradu
sebagai tanda sulang, bahwa aku masih berjaga
denting akan memecah bisu yang tanak
karena angin pun telah lindap ke utara untuk menjemput gigil
agar memenuhi ruang senyap

namun hatiku bukanlah kota sunyi, yang menenggelamkan riang menjadi sejarah
hingga kegembiraan hanya menjadi cerita purba yang adanya di buka tua
dengan halaman- halaman usang dan kusam

aku adalah perempuan dengan menyanding kopi hitam
yang selalu mengharap bahwa fajar akan memantul

ketika mataku bersitatap dengan legamnya
bayang kehangatan akan muncul, saat bibirku sentuh cairannya

rasa yang melegakan, akan membuka lorong kerongkonganku
lalu berkelindan di dada
biar jantungku turut serta berirama
membuat ritme teratur dengan nuansa bahagia

PEREMPUAN PELUKIS BUNGA

Ini bukan mimpi, ketika Mahakala menuntunku pada sebuah kanvas besar. Menggoreskan warna air, warna tanah, warna daun dan warna bunga.

Teratai telah tumbuh dan mekar di kanvas itu, setelah jantungku bagai teratai di porandakan angin, bergemuruh namun tak menjadikan patah.

“menjadilah kanak kanak dengan kebebasan, keceriaan dan kegembiraan, melepas mimpi mimpi tentang dunia, sapukan setiap warna yang kau suka dengan keluguanmu”, suara suara itu melintas dan membuka pintu kesadaran.

Meditasiku bukan pada belantara di nun jauh sana, tetapi di sini. Di kanvas yang bisu, di kanvas yang putih. Bukan lagi suara burung burung, gemericik air, desau angin. Namun suara di diri yang tak lagi riuh pada keinginan keinginan.

Kurangkai bunga bunga, seperti berbunga bunganya kepalaku ketika menggoreskan warna warna, menjadi rangkaian yang wangi seperti ketika aku melangkah di altar Nya dengan bunga dan dupa.

Mungkin aku telah orgasme, ketika kuas tak henti menyentuh cairan cat dan sebidang kanvas di depanku, kami bercumbu dengan mesra layaknya sepasang kekasih dalam balutan rindu yang kental.

“ya, rindu yang kental”, sebagai penanda aku masih bernyawa, yang hidup bersama bunga bunga di kanvas dan melayari takdir dengan apa adanya.

PEREMPUAN PENGUKIR JANUR

Baginya, pisau yang menemaninya membuat ukiran pada janur, tidaklah tajam. Meski mampu memotong dan meringgit dengan mudahnya, bahkan membuat garis jejak pada telunjuknya, kadang sampai perih dan luka.

Baginya, karmalah yang sangat tajam, ia menunjukkan jalan setapak dari masa lampau, masa sebelum perempuan itu terlahir dari garba suci dan melihat dengan gamblang isi semesta ini.

Lembar demi lembar menjadi hiasan, sebagai wujud bahasa rasa, menjadi aksara mantra yang tak diucap dengan kata kata, untuk Dia yang dipuja.

Bukan pada gunung terjal tempat pura ada, bukan pada tebing curam tempat tirta mengalir , tempat menyatukan dirinya dan melukat tubuhnya agar suci.

Pagi ini, perempuan itu melakukan perjalanan pada lembar lembar janur, ia melupakan goresan pada tangannya demi menyatukan diri denganNya, lewat ukiran janur pelengkap sesaji, yang diyakini bisa menembus batas ruang dan kala (waktu)

Baginya karma memang tajam dan tegas, namun ia akan menebusnya dengan beryadnya, semoga kelak, lewat jalan yang ditempuhnya karma baik yang akan disandangnya dan menghapus karma buruk yang kini sedang dijalaninya.

PEREMPUAN PAGI

Tak ada rintih baginya, meski musim kadang membawa badai. Menggugurkan daun daun hatinya. Daun yang tumbuh pada pohon jiwa.

Pohon yang menumbuhkan cabang cabang, sebelum menjadi pohon besar menjulang dan dikenali orang.

Ada kabut yang menyelimut, membawa gigil hingga ke sendi sendi. Membawa sepi teramat tanak, hingga sesenyap pekuburan.

Musim ini, telah banyak benang benang cahaya, menyelinap dan membesuk hatinya, setelah matahari bersahabat dengannya.

Bukan lagi perangkap benang laba laba dan menjadikan dirinya gelayut jelaga, memangsa dan memangsa.

Pintu pintu telah terbuka, setelah musim demi musim tak lelah menempanya.

PEREMPUAN API

Menjadilah api di rimba raya yang penuh satwa
Bukan untuk membakarnya
Dan menjadikan mereka asap dan abu

Menjadilah api cinta
Segala kemurnian tercipta
Meliuk dengan lentiknya
Hangat dengan baranya
Ketulusan tiada tara
Kesucian yang purba

Darah adalah api

Ketika karakter perempuan dipertanyakan

Drupadi ditelanjangi

Sita diculik

Jagat raya pun seketika menjadi ajang peperangan

Darah membajir

Ladang menjadi pekuburan masal

Sejatinya
Darah adalah api
Api cinta yang lahir dari ketulusan
Menjadi biara di diri
Membentengi dari durja dan keserakaan

Lingkaran api Sita
Menjadi lentera bermantra
Mengalir deras di setiap nadi perempuan
Rahwana atau seratus Kurawa
Menjadi pembukti, cinta dan etika tetap menyala
Di ladang Kurusetra maupun Alengka

Fanaprasta menjadi penyuci diri
Pengasingan
Ketika istana menjadi rumah para satwa
Di mana api cinta padam
Tergantikan benci dan dendam

Perempuan perempuan api
Dengan lautan cintanya yang suci
Menggelora dan mendebur di setiap insan yang setia

Tags: Puisi
Share14TweetSendShareSend
Previous Post

In Memoriam Agung Brawida – Singa Buldog itu Pergi Menjelang HUT Kota Singaraja yang Dicintainya

Next Post

Buah Lango

Winar Ramelan

Winar Ramelan

Lahir di Malang 05 Juni, kini tinggal di Denpasar. Menulis kumpulan puisi tunggal dengan judul Narasi Sepasang Kaos Kaki. Puisinya dimuat di berbagai media lokal dan nasional

Related Posts

Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

by Chusmeru
September 27, 2026
0
Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

Pagi September 1965 di Suatu Desa Suara derit terdengar dari pintu rumah kakek di suatu desa yang sejukAnak-anak mengajak bermain...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
0
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

Read moreDetails

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
0
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

by Salman Alade
September 6, 2026
0
Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

Memelihara Kesepian 1.letakkan kesepiandi tempat yang teduh. jauhkan dari suaraorang-orang yang terlalu bahagia. 2.beri makansetiap malam. sedikit kenangan.sedikit musik. jangan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

by Ni Putu Puspa Trisnawati
September 5, 2026
0
Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

Mother's Bakery Hari-hari terasa menghisap paracetamolPahitnya mengendap hingga ke ujung hatiBumi menyediakan sirup, namun maple pun sulit menyatukan yang retakIbu...

Read moreDetails

Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

by Supali Kasim
August 30, 2026
0
Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

Air di Daun Talas seberapa waktu bertahanair di daun talas dapat menerimakenyataan demi kenyataan tarian anginlantai licin dan tetabuhan riuhtanpa...

Read moreDetails

Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

by Sholihul Mubarok
June 28, 2026
0
Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

MENJELMA KATA DI KURUSETRA BERANDA mata-mata telingasulih gaduh suaralahir ribuan kekata jemari adalah ujung belatirobek halus di layar tanduskebajikan serta...

Read moreDetails

Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

by Andi Wirambara
June 27, 2026
0
Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

KUCING aku seekor kucing yang memanjat jendelamukau penghuni yang selalu menutupnya,bersantai menenteng cangkir teh yang pekat. aku mengeong dan mengamuk,...

Read moreDetails

Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

by IBW Widiasa Keniten
June 26, 2026
0
Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

Tuhan Beri Aku Waktu Tuhan, di sisa napas ini beri aku mengadudalam gelombang hidup yang tak pernah pastiTuhan, beri aku...

Read moreDetails

Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

by Mahesa Putra
June 21, 2026
0
Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

Pelancong Gersang Aku berhenti memikirkanmu.Jam-jam yang meruntuhkan angka-angka;berlarian masuk rumah. Aku berhenti memikirkanmu.Sejak kamu menggulir layar begitu pagi,memanen percakapan tentang...

Read moreDetails
Next Post
Buah Lango

Buah Lango

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co