23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Perjalanan Mencari Dukun-Balian

Sugi Lanus by Sugi Lanus
August 19, 2021
in Esai
Perjalanan Mencari Dukun-Balian

Foto: Rama Surya

—– Catatan Harian Sugi Lanus 11 Februari 2018

Rama Surya dan saya pernah bekerjasama mencari balian atau para penyembuh di semua penjuru di Bali.

Tujuannya: Membuat potrait penyembuh.

Para Balian itu keberadaannya seperti mitos, antara dan dan tiada. Mereka ada, tetapi juga sekaligus tidak tercatat. Tidak ada daftar Balian dalam demografi desa, apalagi statistik kependudukan provinsi Bali. Balian itu pekerjaan, profesi, tapi tidak akan mungkin didaftarkan sebagai bagian profesi untuk dicantumkan dalam KTP atau passport.

Balian itu berkontribusi dalam berbagai sejarah Bali, bahkan dalam berbagai kudeta dan juga dalam berbagai peperangan, serta memerangi wabah, atau grubug dan mrana, tapi tidak banyak ada lontar atau catatan tentang kehidupan para Balian, kecuali kisah Balian Batur yang berontak melawan Gelgel dan akhirnya dikeroyok Mengwi dan Gelgel.

Balian atau penyembuh Bali ini ada banyak lontar atau manual-book-nya, yaitu berbagai lontar Usada, tapi tidak ada yang sungguh-sungguh mempelajarinya secara terbuka, apalagi mau membuka sekolah Balian Usada. Ada yang salahkan kalau seseorang menjadi Balian? Apakah ini tidak boleh menjadi pekerjaan by design? Atau hanya kehendak alam semesta mengirim atau “menendang” seseorang ke “jalan Balian”?

Perjalanan keliling mencari Balian itu kami jalani sebagai “pencarian tambahan” setelah buku kami terbit, ,Bali – Living in Two Worlds, tahun 2001. Dalam buku tersebut, Rama adalah fotografernya, dan saya salah satu penulis dan riset foto dengan Rama.

Pencarian keliling Bali itu, sekitar tahun 2000-2004, meninggalkan banyak catatan, ingatan Balian dan juga lontar-lontar yang saya temui di rumah atau kediaman para Balian, salah satunya yang ada dalam foto ini, yang tak lain adalah lontar Pawacakan.

Lontar Pawacakan adalah bagian dari lontar wariga, seperti lontar lainnya, Ayuning Ala Dewasa, Ala Ayuning Wuku, Palelintangan, Pangalihan Dina, Sadreta, Suryamandala, dan lain-lain. Lontar Pawacakan menarik karena menjelaskan pengaruh buruk hari kelahiran seseorang dan disertai pemecahannya yaitu ruwatan dan dengan detail menyebutkan sesaji/ upakara/caru/banten/panglukatan. Lontar ini juga bisa dimasukan dalam kategori lontar tenung mengingat bisa dijadikan sebagai “pedoman” untuk “petenungan” penyakit bawaan seseorang dan proses penyembuhan yang harus dilalui.

Disebut Lontar Pawacakan mungkin karena dari dalamnya kita mendapat “membaca” (waca) informasi pengaruh buruk, sakit bawaaan orang berdasarkan pengaruh hari dan jam kelahiran, serta banten/sesaji apa bisa dipakai ngruwat yang bersangkutan.

Biasanya usai upakara tubah (ruwat berdasar pengaruh buruk hari kelahiran), orang atau anak yang usai ditubah tidak boleh masuk dapur selama 3 hari. Orang tua atau siapa yang di rumah yang mengambilkan makanan dan minuman. Mungkin juga ini terapi tradisional yang memaksa orang tua lebih perhatian ke anak, dan anak merasa bahagia dan menyehatkan dilayani makan secara penuh bak pangeran atau putri dalam 3 hari. Mungkin juga 3 hari ini anak harus “sembunyi” di kamar. Tak boleh keluar dan tak boleh ke dapur. Total “nyekeb awak” (serta mulatsarira).

Dalam perjalanan mencari Balian itu saya dengan suka-rela kembali di-upah-upah, atau ruwat kecil, menjadi semacam pelengkap 3 kali ditubah di masa kanak-kanak.

Lontar dalam foto ini — rasanya pernah dipamerkan di salah satu pameran tunggal Rama Surya — adalah lontar Pawacakan, koleksi dari salah satu di Griya Budakeling. Teknik penggabungan foto lontar dan foto saya ini bukan photoshop, tapi lewat cetak-persatukan di kamar gelap, karena inilah sepertinya detik-detik Rama Surya dan kebanyakan fotografer pro mengakhiri periode foto dengan negatif hitam-putih yang kini telah menjadi barang sangat-sangat langka.

Mungkin karena dari kecil saya diajak mapuacakang membaca lontar Pawacakan dan dikenai upakara tubah 3 kali + 1 setelah besar (dalam foto ini) saya termasuk paling kagum dengan naskah ini yang sangat detail instruksi dan praktek lontar Pawacakan. Lontar ini juga membuat saya dari dini menyadari bahwa ada banyak teks-teks tertulis di Bali bukan sekedar catatan menyimpan ingatan, atau “teks mati”, beberapa lontar mengandung “teks yang bisa diaktivasi” atau “diinstall” lewat praktek ritual atau “nyasa“.

Pada kesempatan lain, ketika perjalanan mencari Balian tersebut berujung di Desa Kubu, Karangasem, di luar konteks penyembuhan dan perbalianan, kami bertemu dengan orang tua yang berkisah mengenai lontar-lontar tentang letusan gunung Agung, bahkan orang yang saya temui itu hafal luar kepala chandrasangkala letusan-letusan Gunung Agung, bahkan sampai milenia pertama, dari tahun awal abad I-X dan seterusnya. Sampai-sampai ketika itu omongannya saya mengganggap hanya “bualan tanpa data tertulis”.

Belakangan saya baru tahu bahwa beliau hafal isi lontar Babad Bumi, Kalawasan, dan Tusan, dan saya menjadi kembali teringat sosok sepuh itu ketika Gunung Agung meletus 2017 kemarin. Apakah beliau baik-baik saja? Atau beliau telah kembali ke sungsunggan beliau di Gunung Agung?

Perjalanan mencari dan menemui para Balian itu meninggalkan banyak pelajaran dan ingatan penting, melampaui apa yang bisa ditangkap visual. Rata-rata para Balian yang kami temui mengakui perjalanan hidupnya, dari derita dan berbagai cobaan, sampai menjadi “penyembuh”, adalah sebuah derita dan cobaan yang akhirnya menyeberangkannya ke pintu pengabdian. Hidup mereka akui sebagai perjalanan yang “digiring oleh sesuatu”.. Ada menyebut “sesuatu” itu sebagai “taksu”, ada juga menyebutnya sebagai sesuhunan. Sang Pemberi Kekuatan itu.

Mungkin karena ada “sesuatu” itu, variable niskala itu, secara umum, perasaan orang Bali jika diajak memikirkan Balian itu bermacam-macam: Takut, serem, ogah, tidak mau terima, takhayul, dan berbagai konotasi miring lainnya. Seakan-akan, memikirkan saja sudah deg-degan, apalagi ada yang suka rela menjalaninya sebagai sebuah karir atau cita-cita, sepertinya bisa dihitung jari, semuanya “panggilan niskala”. Paradoxnya, Balian tidak mau dijalani secara suka-rela, tapi sekaligus kadang-kadang diburu. Terutama ketika orang Bali sudah “kehabisan akal” alias sudah dirasa “mentok dengan logika”.

Pada saat orang Bali ingin tahu sesuatu yang melampaui logika, orang Bali masih gandrung sampai kini mencari jawab lewat Balian. Jadi, balian itu, berkontribusi? Emm.. tidak pernah diakui oleh publik, malah…

“Apapun kekuatan yang mendorong di belakang saya, ‘kekuatan itu’ meminta saya untuk berkontribusi pada karahayuan-kasukertan (keselamatan dan kesejahteraan) orang lain”, demikian aku salah satu dari mereka.

Belajar dari kisah-kisah hidup para Balian itu, saya mencatat dan belajar, banyak profesi, umumnya di pedesaan dan di pinggiran, yang mendalam “berkontribusi pada hidup” tidak dicatat oleh sejarah, bahkan dinafikan.

Terimakasih untuk Rama Surya atas perjalanan dan fotonya, terimakasih pada semua para Balian yang saya temui, yang telah dengan sukacita membukakan lontar dan juga berbagai kisah perjalanan serta “tetamban” yang menjadi “keahlian” mereka dalam melayani kehidupan. (T)

*Rama Surya adalah salah satu fotografer Indonesia yang malang-melintang dengan karya potrait dan photography essays-nya. Lahir di Bukit Tinggi, 1970, karya yang membuat namanya dikukuhkan dalam dunia fotografi Indonesia adalah buku dan pamerannya yang berjudul ‘Yang Kuat Yang Kalah’ (The Strong Ones Are The Beaten Ones) in 1996. Ia telah berpameran di berbagai negara, seperti di Nikon Image House Gallery di Kusnacht, Switzerland (2000); Museum der Kulturen, Basel, Switzerland (2002; Museum for the World Cultures diFrankfurt, Germany (2004); Taksu Gallery, Jakarta (2004); Richard Meyer Culture Gallery, Petitenget, Bali (2006); the Sogan Gallery, Singapore (2012), berbagai ajang karya foto dunia lainnya. Buku terakhirnya berjudul: ‘A Certain Grace’ adalah rangkuman foto dari perjalanan memberi pelayanan mengajar anak-anak dan penyembuhan bagi masyarakat terasing di Papua.

Tags: baliandukunpengobatan
Share34TweetSendShareSend
Previous Post

Sekar Sumawur: Dialog Kosong tentang Pasar Membeli Harga

Next Post

Pengungsi Pulang Ditunggu Utang

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails

Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

by Dede Putra Wiguna
August 18, 2026
0
Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

SETIAP kali upacara bendera dimulai, ada orang-orang yang berdiri di bawah matahari dan ada pula yang di bawah tenda. Yang...

Read moreDetails
Next Post
Pengungsi Pulang Ditunggu Utang

Pengungsi Pulang Ditunggu Utang

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co