BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya. Seolah-olah Tuhan, ketika menciptakan perempuan, lupa menyematkan martabat di dalam jiwanya, lalu menitipkannya pada selembar selaput yang bahkan tak pernah ditunjuk-Nya sebagai ukuran kemuliaan manusia. Maka tumbuhlah peradaban yang aneh: perempuan boleh berpendidikan tinggi, memiliki kepala yang penuh gagasan, tangan yang bekerja, dan hati yang sanggup menampung begitu banyak penderitaan, tetapi seluruh pencapaiannya mendadak tak berarti ketika seseorang mulai bertanya, “Kamu masih perawan, kan?”
Sialan sekali, betapa mudahnya kecerdasan perempuan dikalahkan oleh rasa ingin tahu yang bersembunyi di balik moralitas.
Dunia seperti tak pernah benar-benar selesai menjadikan perempuan sebagai benda. Dahulu ia diperdagangkan, kini ia diseleksi. Dahulu tubuhnya diperebutkan, kini riwayat tubuhnya diperiksa. Dahulu ia dianggap milik ayahnya, kemudian berpindah menjadi milik suaminya, seolah-olah hidup perempuan hanyalah sebuah akta kepemilikan yang berpindah tangan dari satu laki-laki kepada laki-laki lainnya. Dan di tengah semua itu, kita masih punya keberanian menyebutnya kehormatan.
Kehormatan macam apa yang begitu takut pada masa lalu seorang perempuan? Moralitas macam apa yang begitu gemetar menghadapi tubuh yang tidak bisa diklaim sebagai milik sendiri?
Keperawanan bukan mahkota. Selaput dara bukan sertifikat kesucian. Vagina bukan ruang arsip tempat masyarakat berhak memeriksa sejarah seorang perempuan.
Namun, berabad-abad lamanya, tubuh perempuan diperlakukan seperti halaman buku yang harus tetap kosong sebelum diserahkan kepada pembaca pertamanya. Seakan-akan laki-laki yang datang kemudian berhak kecewa jika menemukan bahwa kehidupan telah lebih dahulu menuliskan sesuatu di sana. Betapa congkaknya cara berpikir yang menganggap dirinya berhak menjadi bab pertama dalam hidup orang lain, lalu menyebut tuntutan itu sebagai cinta, adat, atau kehormatan keluarga.
Perempuan bukan buku yang harus tetap tak tersentuh agar layak dibaca. Ia manusia, bukan benda koleksi yang nilainya merosot setiap kali dunia gagal menjaganya tetap tersegel.
Dan jika kita masih bersikeras menggunakan tubuh perempuan sebagai ukuran moralitas, mengapa penggaris yang sama tidak pernah benar-benar diletakkan di hadapan laki-laki? Mengapa masa lalu perempuan diperlakukan seperti noda yang harus dihapus, sementara masa lalu laki-laki sering dirayakan sebagai pengalaman? Mengapa seorang perempuan harus membawa tubuh yang seolah-olah tak pernah mengenal kehidupan untuk membuktikan dirinya layak dicintai, sementara seorang laki-laki cukup datang dengan keyakinan bahwa ia pantas mendapatkan segalanya?
Jangan-jangan yang kita sebut kesucian selama ini hanyalah nama yang terdengar lebih sopan untuk sebuah ketimpangan. Jangan-jangan yang kita jaga mati-matian bukan kehormatan perempuan, melainkan hak istimewa laki-laki untuk merasa memiliki sesuatu yang sejak awal bukan miliknya.
Lebih menyedihkan lagi, perempuan sendiri sering dipaksa menjadi penjaga penjara bagi tubuhnya. Ia diajari takut sebelum memahami, malu sebelum mengenal, dan merasa bersalah bahkan ketika tidak melakukan kesalahan apa pun. Ia tumbuh dengan keyakinan bahwa tubuhnya adalah sesuatu yang harus dipertahankan demi penilaian orang lain, bukan sesuatu yang patut dihormati karena ia sendiri adalah pemiliknya.
Lalu, ketika kekerasan seksual terjadi, masyarakat kembali menunjukkan kebusukannya. Alih-alih bertanya siapa yang melanggar persetujuan, mereka sibuk mempertanyakan apa yang tersisa dari tubuh korban. Seolah-olah penderitaan belum cukup menyakitkan hingga seorang perempuan harus pula menjalani pengadilan di hadapan manusia-manusia yang merasa lebih berhak atas kehormatannya daripada dirinya sendiri.
Kepada mereka yang masih mengukur nilai perempuan dari keperawanannya, pernahkah terpikir bahwa selaput dara bukan alat ukur moral, dan kondisi anatomi seseorang tidak dapat membuktikan riwayat seksualnya secara pasti? Bahwa tidak semua perempuan memiliki anatomi yang sama, dan tidak semua perubahan pada tubuh terjadi karena hubungan seksual? Bahwa tubuh manusia jauh lebih rumit daripada dongeng patriarki yang diwariskan turun-temurun?
Atau barangkali fakta memang bukan persoalannya. Sebab, bagi orang yang sudah telanjur jatuh cinta pada prasangka, kebenaran sering kali terasa seperti penghinaan.
Aku tidak sedang mengatakan bahwa perempuan harus hidup dengan pilihan yang sama. Jika seorang perempuan memilih menjaga keperawanannya berdasarkan keyakinan dan kehendaknya sendiri, hormatilah. Tetapi jika ia memilih jalan hidup yang berbeda, menghormatinya seharusnya tidak menjadi perkara yang begitu sulit. Kebebasan seorang perempuan tidak diukur dari apakah ia memenuhi keinginan kita, melainkan dari apakah ia tetap memiliki hak untuk menentukan hidupnya tanpa kehilangan martabatnya.
Sebab, tubuh perempuan bukan kontrak yang harus disetujui masyarakat, bukan properti yang harus diserahkan dalam keadaan tertentu, dan bukan utang penjelasan yang wajib dibayarkan kepada calon suaminya.
Apa yang ada di dalam celananya bukan urusan tetangga. Bukan bahan pergunjingan keluarga. Bukan pula pertanyaan yang otomatis berhak diajukan seseorang hanya karena ia berniat menikahinya. Pernikahan bukan surat izin untuk menggeledah masa lalu. Cinta bukan lisensi untuk menginterogasi. Dan hubungan intim bukan pemindahan hak milik atas tubuh manusia.
Kalau kau ingin mencintai seorang perempuan, belajarlah menerima bahwa ia datang dengan keseluruhan hidupnya, bukan dengan formulir kosong yang menunggu persetujuanmu. Ia memiliki masa lalu yang mungkin tak kau ketahui, pengalaman yang mungkin tak ingin ia ceritakan, dan batas-batas yang tak wajib ia langgar hanya demi membuktikan bahwa ia mencintaimu. Kau boleh menentukan nilai-nilai yang ingin kau pegang dalam hubunganmu sendiri, tetapi kau tidak berhak merampas martabat orang lain hanya karena ia tidak memenuhi kriteriamu.
Kau boleh memilih pasangan. Kau tidak berhak mengubah manusia menjadi barang dagangan yang harus lolos pemeriksaan kualitas.
Dan kepada perempuan-perempuan yang selama ini dibuat merasa kurang berharga karena tubuhnya, dengarkan baik-baik: kau tidak perlu meminta maaf karena pernah hidup. Kau tidak perlu merendahkan dirimu untuk menenangkan ketakutan orang lain. Kau tidak perlu membuka seluruh sejarahmu agar dunia percaya bahwa kau layak dihormati.
Tubuhmu bukan dosa yang harus kau tebus. Masa lalumu bukan dakwaan yang harus kau bantah. Dan harga dirimu tidak menunggu pengesahan dari siapa pun.
Barangkali, suatu hari nanti, kita akan hidup dalam masyarakat yang tak lagi bertanya apakah seorang perempuan masih perawan, melainkan apakah ia merasa aman. Masyarakat yang tidak sibuk menghitung apa yang pernah terjadi pada tubuhnya, tetapi sungguh-sungguh peduli pada apakah tubuhnya pernah dilukai, dipaksa, atau dirampas haknya. Masyarakat yang mengerti bahwa kesetiaan bukan perkara siapa yang datang pertama, melainkan bagaimana dua manusia memilih untuk saling menghormati hari ini.
Sampai hari itu tiba, kita perlu terus mengatakan hal yang seharusnya tak perlu diperdebatkan sejak awal:
Perempuan tidak kehilangan kehormatan hanya karena tubuhnya tidak sesuai dengan mitos yang diciptakan untuk mengendalikannya.
Sebab, jika seluruh nilai seorang perempuan dapat diruntuhkan hanya oleh sesuatu yang tersembunyi di balik celananya, mungkin sejak awal bukan perempuan yang sedang kita nilai.
Mungkin kita sedang menyaksikan betapa miskinnya cara berpikir sebuah masyarakat yang mengaku bermoral, tetapi tak pernah benar-benar belajar menghormati manusia.
Dan sungguh, betapa menyedihkan sebuah dunia yang begitu takut pada selaput dara perempuan, tetapi sama sekali tidak takut pada selaput tebal kemunafian yang menutupi pikirannya sendiri. [T]































