BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali ruang untuk hidup justru terasa semakin sempit. Tanah mahal, rumah sulit dibangun, jalan padat, sementara pekerjaan dengan penghasilan layak tidak selalu tersedia dekat keluarga.
Kita sering menyebut semua itu kemajuan. Hotel bertambah, vila tumbuh, restoran baru muncul, pusat hiburan dibangun, dan uang terus berputar. Namun, di balik pertumbuhan itu ada pertanyaan sederhana. Apakah kehidupan orang Bali benar-benar menjadi lebih baik ketika segala sesuatu di sekelilingnya menjadi semakin besar?
Pertanyaan itu terasa ketika melihat cara orang Bali mencari nafkah. Seorang pedagang membuka warung di depan rumah. Seorang ibu membuat jajan untuk dititipkan ke warung. Seorang bapak berjualan sayur di pasar sejak subuh. Mereka tidak mempunyai perusahaan besar dan mungkin tidak pernah berpikir tentang ekspansi bisnis.
Namun, setiap pagi mereka bekerja. Uang masuk sedikit demi sedikit. Hari ini cukup untuk belanja rumah tangga, besok membayar listrik, lusa untuk uang sekolah anak. Pada akhir bulan, pemasukan yang tampak kecil itu bisa menjadi jumlah yang berarti bagi sebuah keluarga.
Di sisi lain, ada orang Bali yang pergi jauh untuk mendapatkan penghasilan lebih besar. Mereka bekerja di kapal pesiar, hotel, kapal, perkebunan, atau berbagai sektor pekerjaan di luar negeri. Mereka meninggalkan rumah bukan karena tidak mencintai keluarga, tetapi karena kesempatan memperoleh pendapatan lebih baik ada di tempat yang jauh.
Kontradiksinya menarik. Yang satu mungkin memiliki uang lebih sedikit tetapi berada dekat dengan keluarga. Yang lain memperoleh uang lebih banyak tetapi membayarnya dengan jarak, waktu, dan kehadiran. Kita sering menghitung pendapatan, tetapi jarang menghitung harga yang harus dibayar untuk mendapatkannya.
Pada 1973, E. F. Schumacher menerbitkan Small Is Beautiful: A Study of Economics As If People Mattered. Ia mengkritik cara dunia modern yang terlalu mudah menganggap pertumbuhan dan ukuran besar sebagai tanda keberhasilan. Gagasan tentang ukuran juga dikembangkan Leopold Kohr, ekonom dan filsuf sosial kelahiran Austria.
Schumacher tidak mengatakan bahwa semua yang kecil pasti baik dan semua yang besar buruk. Yang ia pertanyakan adalah kecenderungan mengukur kehidupan terutama melalui pertumbuhan ekonomi, produksi, dan konsumsi, sementara manusia yang seharusnya menjadi tujuan ekonomi justru tersisih.
Gagasan itu terasa dekat dengan Bali hari ini. Berapa besar rumah yang kita perlukan? Berapa besar bisnis yang harus kita miliki? Berapa besar penghasilan yang kita butuhkan agar merasa berhasil? Bali mempunyai banyak jawaban kecil terhadap pertanyaan besar itu.
Lihat sebuah warung nasi di gang Denpasar. Tempatnya mungkin hanya beberapa meter persegi. Meja dan kursinya sederhana. Pagi-pagi pemiliknya sudah memasak. Pembeli datang sebelum berangkat kerja. Tidak ada strategi membuka seratus cabang.
Tetapi uang terus bergerak. Sepiring nasi menghasilkan beberapa ribu rupiah. Kopi dan gorengan menambah sedikit keuntungan. Jika berlangsung setiap hari, rupiah kecil itu berkumpul menjadi penghasilan bulanan.
Di pasar tradisional, ceritanya serupa. Pedagang sayur datang ketika kebanyakan orang masih tidur. Ia menata cabai, tomat, bawang, kangkung, dan kebutuhan dapur. Keuntungan setiap transaksi mungkin kecil, tetapi transaksi berlangsung terus.
Di rumah-rumah, ekonomi kecil juga hidup tanpa selalu disebut bisnis. Ada perempuan yang membuat canang dan banten berdasarkan pesanan. Ada yang membuat jajan untuk upacara, ada yang menerima pesanan nasi dan kue. Dan, ada pula yang menjalankan laundry kecil dari rumah.
Pekerjaan seperti itu dekat dengan kehidupan. Anak masih dapat dilihat ketika pulang sekolah. Ketika ada urusan keluarga, jaraknya tidak selalu sejauh perjalanan menuju bandara. Di sinilah waktu menjadi bagian dari penghasilan yang sering dilupakan.
Tentu usaha kecil tidak selalu mudah. Harga bahan naik, pembeli berkurang, badan sakit, modal terbatas, dan persaingan semakin keras. Penghasilan harian juga tidak selalu stabil. Karena itu, usaha kecil tidak perlu diromantisasi sebagai kehidupan ideal.
Persoalannya bukan memilih usaha kecil atau bisnis besar. Persoalannya adalah apakah keberhasilan ekonomi harus selalu diukur dari jumlah uang.
Seorang pemilik warung mungkin memperoleh penghasilan lebih sedikit daripada pekerja dengan gaji besar. Tetapi ketika warung tutup sore hari, ia bisa pulang. Ia bisa makan bersama anak. Ia masih dapat menghadiri kegiatan banjar. Ia dapat melihat kehidupan keluarganya dari dekat.
Sementara itu, seorang pekerja Bali di kapal pesiar mungkin mendapatkan penghasilan jauh lebih tinggi. Dengan uang tersebut ia dapat membangun rumah, membeli tanah, membayar sekolah anak, dan membantu orang tua. Semua itu penting dan tidak pantas diremehkan.
Namun, uang memiliki keterbatasan. Ia bisa membayar sekolah, tetapi tidak bisa menemani anak mengerjakan pekerjaan rumah. Ia bisa membeli makanan, tetapi tidak menggantikan seseorang yang duduk di samping anak ketika demam. Ia bisa membangun rumah, tetapi tidak otomatis membangun kedekatan di dalam rumah.
Anak tetap tumbuh ketika ayahnya berada di kapal. Ia tetap bertambah besar ketika ibunya bekerja di luar negeri. Ulang tahun datang, hari pertama sekolah terjadi, dan sakit tetap harus dilewati. Video call memperpendek jarak, tetapi tidak sepenuhnya menggantikan kehadiran.
Tidak semua keluarga pekerja migran mengalami masalah yang sama. Banyak yang mampu menjaga hubungan dengan baik. Teknologi membantu orang tua berbicara dengan anak hampir setiap hari. Namun, komunikasi melalui layar tetap berbeda dari kehadiran fisik.
Di sinilah pilihan ekonomi berubah menjadi persoalan kehidupan. Kita sering mengatakan seseorang pergi bekerja demi anak. Kalimat itu benar. Tetapi anak membutuhkan orang tua bukan hanya sebagai pengirim uang. Mereka juga membutuhkan suara, perhatian, percakapan, pelukan, dan kehadiran dalam peristiwa kecil.
Karena itu, bekerja di luar negeri tidak bisa dinilai hanya dari besarnya gaji. Bagi sebagian keluarga, penghasilan itu adalah jalan keluar yang nyata. Yang perlu dibicarakan adalah seluruh biaya yang menyertai pilihan tersebut, termasuk jarak dan waktu yang tidak bisa dibeli kembali.
Bali mempunyai tradisi yang membuat persoalan ini semakin menarik. Kehidupan sosial dibangun melalui kehadiran. Banjar, gotong royong, ngayah, upacara, dan hubungan antarwarga tidak berjalan hanya dengan uang. Orang perlu datang.
Seorang warga yang ngayah tidak sedang mengejar keuntungan finansial. Ia memberikan tenaga dan waktu karena merasa menjadi bagian dari kehidupan bersama. Nilainya tidak selalu berupa uang, tetapi hubungan, kepercayaan, dan rasa memiliki.
Begitu pula warung kecil. Ia bukan sekadar tempat transaksi. Kadang ia menjadi tempat bapak membaca koran pagi, mahasiswa membeli kopi, sopir beristirahat, atau tetangga bertukar kabar. Ruang kecil itu membuat ekonomi sekaligus kehidupan sosial tetap bergerak.
Bali tidak harus menolak pembangunan dan tidak perlu memusuhi investasi. Yang perlu dipikirkan adalah ukuran yang sesuai dengan kehidupan masyarakatnya. Pembangunan seharusnya membuat manusia hidup lebih layak, bukan sekadar membuat angka ekonomi lebih besar.
Kita bisa membayangkan Bali yang ekonominya tumbuh tetapi usaha kecil tetap mempunyai ruang. Warung tidak tersingkir seluruhnya. Pasar tradisional tetap hidup. Petani memperoleh harga layak. Pengrajin mendapatkan pasar. Pedagang kecil mempunyai tempat. Pekerja memperoleh upah cukup tanpa selalu harus pergi terlalu jauh dari keluarga.
Mungkin kita tidak bisa membuat semua orang bekerja dekat rumah. Tidak semua orang juga ingin menjalankan usaha kecil. Sebagian memang bercita-cita bekerja di luar negeri, membangun perusahaan, atau mengejar karier profesional. Itu pilihan yang sah.
Yang perlu dihindari adalah anggapan bahwa satu ukuran keberhasilan berlaku untuk semua orang. Kehidupan manusia terlalu rumit untuk diberi peringkat berdasarkan pendapatan.
Mungkin di sinilah Small Is Beautiful menemukan tempatnya di Bali. Bukan sebagai teori ekonomi yang ditempelkan begitu saja pada kehidupan masyarakat, melainkan sebagai pertanyaan tentang ukuran.
Seberapa besar sebenarnya yang kita butuhkan? Seberapa banyak uang yang kita perlukan agar hidup terasa cukup? Seberapa jauh kita bersedia pergi untuk mendapatkan penghasilan lebih besar? Dan apa yang bersedia kita korbankan untuk mendapatkannya?
Kita sangat pandai menghitung uang. Kita tahu gaji, cicilan, harga tanah, dan keuntungan usaha. Tetapi kita hampir tidak pernah menghitung berapa kali seorang ayah melewatkan makan malam bersama anak dalam setahun.
Bali sedang tumbuh. Itu kenyataan yang tidak perlu disangkal. Tetapi pertumbuhan tidak harus selalu diterjemahkan menjadi lebih besar. Bali bisa maju dengan tetap memberi tempat bagi warung kecil, pasar tradisional, petani, pengrajin, dan usaha keluarga.
Barangkali hidup yang baik bukan kehidupan dengan angka paling besar. Barangkali ia adalah kehidupan yang masih menyediakan waktu untuk pulang, duduk bersama keluarga, berbincang dengan tetangga, bekerja dengan layak, dan merasa cukup.
Sebab manusia bekerja bukan hanya untuk memperoleh uang. Manusia bekerja agar dapat menjalani kehidupan. Jika pendapatan bertambah tetapi seluruh waktu habis, kita perlu bertanya apa yang sebenarnya sedang bertambah. Mungkin itu inti Small Is Beautiful bagi orang Bali. Bukan ajakan untuk takut menjadi besar, melainkan keberanian untuk mengetahui kapan sesuatu sudah cukup. Yang kecil bukan berarti gagal menjadi besar. Bisa jadi, ia adalah cara lain untuk tetap menjadi manusia. [T]






























