”….dalam labirin, aku mencari guci nasibku, yang tersimpan dalam kabut kebuntuan, membentur dalam setiap sudut dinding, tak tahu jalan pulang, entah tersesat di mana…” [GM Sukawidana]
Nyaris enam tahun silam, tiba-tiba dunia dilanda Covid-19. Pandemi membuat buram dunia. Sekolah-sekolah tutup, ruang-ruang pendidikan diselenggarakan lewat jalur daring. Pasar, tempat suci, kawasan umum mendadak sepi. Orang-orang menghindar dari kerumunan. Mereka yang terdeteksi covid dikarantina, tak boleh dijenguk, kecuali petugas medis. Wajah-wajah tertutup masker. Siang malam, rumah sakit bergulat dengan kegawatan.
Dilanda pandemi mematikan ini, saint, ilmu, agama, devosi, dan upacara nyaris tak berkutik, ia lumpuh. Dunia terkena kutuk massal. Kabar kematian menyeruak ke seluruh penjuru. Kematian demi kematian berjalan lurus menunggu waktu. Setiap orang was-was, takut, entah kapan dewa maut itu memanggil. Dunia sosial mendramatisir situasi jadi kian mengerikan.
Di tengah drama pilu itu, di titik nol Kota Denpasar, seniman kelahiran Tibubeneng, I Ketut Putrayasa, menyajikan sentakan psikologis, teka-teki nasib pulau. Di tengah kota, di kawasan riungan kendaraan yang biasanya makin memadat — tetiba jalan-jalan jadi melamat — lalu-lalang kendaraan tak sepadat sebelum pandemi merebak.
Dan di tengah kegawatan itu, Ketut Putrayasa menghadirkan seni instalasi berukuran 660 x 270 x 180 cm, dengan 5 kotak akrilik transparan, dipajang sebagai untuk mengingatkan takdir pulau ini – yang dari dulu dirawat dengan puja-puji dan kedermawanan semu, sebagaima mana kata-kata Paoulo Freire. Julukan Bali sebagai Pulau Surga, Pulau Dewata, kerap membuat kita abai, sembari memuji-memuji diri; di pulau surga, neraka tak mungkin mendekat.

Hari itu tanggal 15 Desember 2020. Gelar ini dipajang tepat di penghujung tahun paling murung. Orang-orang kehilangan pekerjaan. Pariwisata mati. Entah, apa maksud sang seniman, memajang karyanya menghadap rumah jabatan gubernur. Apakah dia tengah menyeru, berharap sang penguasa tidak kehilangan imajinasi perihal pulau ini, daya budi generasinya tidak melorot semata kepentingan politik praktis.
Pandora adalah kisah mitologi Yunani. Nun setelah Prometheus mencuri api untuk manusia, Zeus murka. Ia memerintahkan Hephaestus menciptakan perempuan pertama dari tanah, namanya; Pandora, yang berarti semua hadiah. Kepadanya diserahkan sebuah Pithos, guci besar yang kedap, berisi segala keburukan dunia: penyakit, kematian, kebencian, kelaparan, termasuk kerakusan pada kekuasaan.
Karena rasa ingin tahu, Pandora membuka guci itu. Seketika semua keburukan beterbangan menyeruak ke bumi. Pandora segera menutupnya kembali. Tertinggal di dasar kotak, satu yang tidak sempat keluar: Elpis, harapan.

Mitos ini ditafsir ulang secara bebas Ketut Putrayasa, dan karena itu ia menjadi relevan bagi pulaunya yang tengah ringkih dari tindihan segudang masalah. Jika kotak Pandora kedap dan tertutup rapat, kotak di Titik Nol justru dibuat transparan, terlihat ranum memabukkan mata. Sebab dunia kini memang sudah tanpa rahasia. Di bawah terpaan lampu malam, bambu-bambu sintetis runcing warna-warni — merah, putih, kuning, hijau, orange, emas — tampak melayang dan menembus kotak dari dalam ke luar. Atau sang seniman menafsir pulaunya sedang ditelanjangi.
Karena kotak itu transparan, kita bisa melihat dengan jelas bahwa itulah keburukan yang telah keluar, kekacauan yang menyeruak dari dalam. Warna-warni itulah yang menipu mata, dan karena itu kurator pameran Tatang Bsp menjelaskan dengan satire tajam: “Yang tampak warna-warni itu jadi palsu. Seperti kedermawan palsu para penguasa. Dan Pandora Paradise seakan medan tarung antara keindahan dan kengerian yang menghujam. Warna psychedelic pada bambu-bambu sintetik itu menenggelamkan rasa ngeri di ujung runcing bambu.”
Lewat bahasa rupa menohok, sebagaimana esai-esai mengiris Albert Camus, Putrayasa seperti mengingatkan khalayak. ”Kita suka menutupi kesalahan, kelemahan, dan keburukan dengan keindahan semu”. Dengan cara ini pula pula pulau dirawat. Citra yang dibangun dengan bahasa tinggi, sementara realitas; jauh panggang dari api. Keinginan naif ditutupi bahasa kebajikan. Maka pulau ini pun digambarkan Putrayasa menyerupai Kotak Pandora. Karena bau busuk tak cukup disemprot wewangian.
Sekali waktu, bila titik nadir itu menegang, politisi berselingkuh dengan pemodal, alam dirusak sekehendak investor. Dan di situ, di pulau yang dirawat dengan slogan-slogan indah bisa meledakkan bencana — sebab tak ada rahasia bisa ditutup dengan rapi. Karenanya, kerap ia tersimpan menjadi ”magma derita” siap meledak kapan saja.

Menurut Putrayasa, ketidakadilan, keculasan, kuasa yang korup, perselingkuhan oligarki, perusakan lingkungan yang masif akan berakumulasi menjadi racun pulau yang ganas. Lokasi pemajangan karya itu memperkuat akumulasi racun tersebut. Di pusat kota, di pusaran ambisi dingin pialang politik. Betapa di situ, nun 120 tahun lalu, dalam perang Puputan Badung, ratusan jenazah kestaria Bali tergelatak gugur dengan luka-luka menganga. Boleh jadi luka-luka itu belum tersembuhkan hingga kini.
Di titik nol itu, Pandora Paradise seperti tengah mencatat perjalanan perih pulau ini. Di tanah lapang, di depan kotak Pandora itu, siang hari [20 September 1908], ratusan tentara Bali dipimpin I Gusti Ngurah Made Agung, juga dikenal dengan panggilan Cokorda Mantuk Dirana tergelatak mati ditembus peluru Belanda.
“Banyak di antara mereka yang terluka menyeret dirinya mendekati jenazah raja untuk menutupinya dengan badan mereka,” tulis Dr.H.M. van Weede, seorang sipil Belanda yang menyaksikan perang hebat itu. Sementara, satu dua orang menunggui jenazah sang raja tergulung tikar, tergeletak di tengah medan perang, dengan badan dan kepala hancur.
Hari makin sore, jenazah-jenazah itu dikumpulkan oleh kesatria yang masih hidup. Mereka rakyat Badung melakukan perang puputan, saat dialog kemanusiaan gagal menemui kata damai, perang menjadi jalan terhormat menegakkan etik kesatria. Karena akan dianggap hina bila seorang kesatria mati di tempat tidur. Sama dengan tidak bijaknya seorang pendeta mati karena sakit. Sebab seorang pendeta dianggap tahu jalan benar meniada.
Nun di arah timur Pandora Paradise, dari arah matahari terbit, menjulang Padmasana Pura Jagatnatha. Pura untuk memuja kebesaran raja semesta Siwa. Dihadapan Tuhan Maha Pelebur itu Pandora Paradise seperti tengah membisikkan doa sembari memeluk derita dunia.
Dari sinilah tafsir Pandora menyeruak, dari mitos ke jalan sejarah nasib pulau, dan karena itu gema suara penyair GM Sukawidana seakan melontarkan kegelisahan perih. Dalam bait-bait puisinya, Pandora Paradise menjadi semacam guci nasib, takdir pulau yang tidak saja ditentukan pemodal, tapi ditentukan juga oleh penduduknya yang abai menjaga rumah sendiri. Lalu, undang-undang disahkan, regulasi ditulis. Lalu dengan cara itu pulau dijamah.

Putrayasa tahu ribuan hektare subak beralih fungsi sepanjang tahun, sehingga sawah sebagai penopang pangan dan budaya runtuh. Ribuan hekter tanah ulayat dikuasai jadi banguan bisnis yang cuma menguntungkan segelintir orang. Ruang hidup jadi menyempit dan tekanan ekonomi menindih, angka-angka bunuh diri kian menanjak, dan grafik perceraian juga meroket, sampah tak kunjung tertangani, sungai tercemar, empat danau mengalami kontaminasi pestisida akut, dan pendangkalan terus-menerus terjadi.
Akibat rantai perusakan itu, pembangunan tak dirancang terintegerasi, kemacetan tak mudah diurai, kriminalitas menjadi patologi sosial kian benderang. Ini seakan menunjukkan sinyal bahwa racun dari kotak Pandora Bali kian meleleh, menunggu takdir pulau entah jadi apa kelak.
Karena itulah di depan kotak pandora itu, GM Sukawidana, penyair yang dituakan merintih, sebagaimana puisi yang dibaca di depan kotak ajaib itu. ”Dalam labirin, aku mencari guci nasibku yang tersimpan dalam kabut kebuntuan.” Guci nasib itu, “menjatuhkan kutuk, menjatuhkan bencana, tak ku tahu berapa lama tersimpan sebagai rahasia.”
Namun seperti dalam mitos aslinya, tidak semua keburukan keluar. Karena itulah Putrayasa menahan tiga bambu agar sengaja tidak menembus kotak. Tiga bambu itulah kuncinya, itulah kotak harapan. Harapan yang menyelamatkan manusia setelah pandemi. Elpis yang tertinggal di dasar kotak itu, yang karena masih tersisa, membuat kita masih bisa menutup kembali guci nasib itu.
Sampai di sini, terkenang nasihat Raja Badung yang jenazahnya tergeletak di tengah medan perang ”rana yadnya.” ”Sungguh tak ada yang kuasa menghapus derita kali sangara, sastra dan upacara pun tidak. Satu-satunya obat itu adalah: budi hening.

Sampai di titik ini, Pandora Paradise itu akhirnya menjadi catatan sejarah, duka dari kesengsaraan zaman. Di tengah-tengah Covid-19 — menjelang enam tahun tragedi mengerikan itu, dan 120 tahun tragedi perang puputan, toh masih begitu akut daya rusak politik kekuasaan di pulau ini. Dan Putrayasa seperti menggerundel, berhenti berolok-olok dengan kekuasaan — kedermawan semu cuma akan melahirkan budak politik dan penjilat yang kehilangan akal dan kemanusiaan. [T]
Pakubuan Kusa Agra
Mengenang 120 tahun Puputan Badung





























