Kita melihat tato seseorang, tetapi kita tidak pernah benar-benar melihat cerita yang membuatnya memilih tato itu.
ADA sesuatu yang menarik setiap kali kita melihat seseorang bertato. Mata kita segera tertuju pada gambar yang menempel di kulit: burung, bunga, naga, wajah seseorang, tulisan, tanggal, atau garis-garis geometris. Kita lalu membuat penilaian. Tato itu indah, keren, aneh, berlebihan. Dalam pandangan yang masih hidup di sebagian masyarakat, tato bahkan identik dengan kenakalan atau pemberontakan.
Tetapi barangkali kita terlalu cepat menilai. Sebab sebuah tato mungkin bukan sekadar gambar. Ia bisa menjadi nama seseorang yang pernah dicintai, tanggal kelahiran atau kematian, simbol perjalanan hidup, pengingat luka, tanda keberhasilan melewati masa sulit, atau sekadar pilihan estetis. Dengan kata lain, tato mungkin bukan terutama tentang apa yang kita lihat, melainkan tentang apa yang dialami oleh orang yang memilikinya.
Di situlah tato menjadi menarik secara fenomenologis. Fenomenologi mengajak kita menunda penilaian dan kembali kepada pengalaman sebagaimana dialami manusia. Pertanyaannya bukan lagi sekadar mengapa orang mau merajah tubuhnya, melainkan: apa arti tubuh bagi seseorang sehingga ia merasa perlu menuliskan sesuatu di atasnya? Dan mungkin pertanyaan yang lebih dalam: mengapa manusia rela menahan sakit untuk membuat sesuatu yang fana menjadi tanda yang bertahan lama?
Tubuh yang Ditulisi
Tato memiliki sejarah jauh lebih panjang daripada yang sering kita bayangkan. Pada tubuh Ötzi, manusia yang hidup sekitar 5.300 tahun lalu dan ditemukan membeku di Pegunungan Alpen, ditemukan 61 tanda tato. Sebagian berada di dekat bagian tubuh yang menunjukkan degenerasi sendi dan tulang belakang. Karena itu, tato Ötzi pernah ditafsirkan mungkin berkaitan dengan fungsi terapeutik, meskipun makna pastinya tidak dapat dipastikan.
Yang jelas, jauh sebelum menjadi mode, tubuh manusia telah digunakan sebagai tempat menyimpan tanda. Di berbagai masyarakat, tato berfungsi sebagai penanda identitas kelompok, status sosial, ritual kedewasaan, keberanian, spiritualitas, peristiwa hidup, bahkan perlindungan. Dalam tradisi Polinesia, tato berkembang menjadi sistem visual yang kompleks dan kemudian dikenal luas di Eropa melalui perjalanan James Cook ke Tahiti pada abad ke-18. Istilah tattoo dalam bahasa Inggris umumnya dikaitkan dengan kata Polinesia seperti tatau atau tattau.
Di Jepang tato berkembang dalam tradisi visualnya sendiri. Di Nusantara pun praktik merajah tubuh bukan hal baru. Pada sejumlah masyarakat adat, tato berkaitan dengan identitas, nilai sosial, pengalaman hidup, dan dimensi sakral. Kajian mengenai Dayak Salako, misalnya, menunjukkan bahwa motif tato menyimpan nilai dan makna dalam kehidupan masyarakat. Kajian mengenai Dayak Ngaju juga memperlihatkan fungsi tato sebagai ekspresi emosional, sosial, simbolik, penanda status, sekaligus bagian dari pengalaman sakral.
Dengan demikian, manusia telah lama menjadikan tubuh sebagai arsip kehidupan. Yang berubah pada masyarakat modern adalah konteksnya: tato bergerak dari ruang ritual dan komunal menuju ruang yang semakin personal dan individual.
Dari Ritual ke Identias
Di dunia modern, seseorang dapat memilih sendiri gambar, ukuran, warna, lokasi, bahkan waktu untuk membuat tato. Tubuh menjadi wilayah keputusan personal. Pada titik ini tato dapat dibaca sebagai pernyataan sederhana: “Tubuh ini adalah milikku.”
Ada dimensi kebebasan di sana. Tubuh yang selama ini diatur oleh norma keluarga, agama, lingkungan sosial, profesi, dan standar kecantikan menjadi ruang yang dapat ditafsirkan serta dibentuk oleh pemiliknya sendiri. Tato dapat menjadi tindakan agency: cara seseorang menyatakan sesuatu tentang dirinya melalui tubuh.
Penelitian psikologis menunjukkan bahwa motivasi memiliki tato sangat beragam. Pada sebagian orang, body art membantu ekspresi diri, rasa unik, dan pengalaman menjadi diri sendiri. Penelitian lain menemukan bahwa setelah tato pertama, sebagian peserta mengalami peningkatan apresiasi terhadap tubuh dan self-esteem. Namun temuan semacam ini harus dibaca hati-hati. Tato tidak otomatis membuat seseorang lebih percaya diri, sebagaimana orang bertato tidak otomatis memiliki persoalan psikologis.
Studi terhadap ratusan orang juga menemukan tidak ada perbedaan signifikan dalam kepuasan hidup, self-esteem, dan penilaian kesehatan mental antara mereka yang memiliki modifikasi tubuh dan mereka yang tidak. Karena itu, tato seharusnya tidak dipakai sebagai alat diagnosis moral.
Orang bertato tidak otomatis pemberontak. Orang bertato tidak otomatis sedang mengalami krisis. Orang yang tidak bertato pun tidak otomatis lebih matang atau lebih baik. Makna tato harus dikembalikan kepada manusia yang menjalaninya.
Tubuh Bukan Sekadar Kulit
Di sinilah pemikiran Maurice Merleau-Ponty menjadi relevan. Dalam fenomenologi persepsi, tubuh bukan sekadar objek biologis yang kita miliki. Tubuh adalah cara kita hadir di dunia. Kita bukan hanya mempunyai tubuh; dalam arti tertentu, kita adalah tubuh itu.
Tangan, misalnya, secara biologis terdiri atas tulang, otot, saraf, dan kulit. Tetapi tangan yang sama dapat menjadi tangan seorang ibu yang menggenggam anaknya, tangan seorang pekerja, musisi, atau kekasih. Tubuh bukan hanya objek. Tubuh menyimpan pengalaman.
Karena itu, ketika seseorang menato tubuhnya, ia tidak sekadar menambahkan gambar pada benda biologis. Ia menambahkan sesuatu pada tubuh yang dialaminya. Inilah yang membuat tato berbeda dari lukisan di dinding.
Lukisan dapat dipindahkan. Tato ikut bergerak bersama kita. Ia ikut mandi, tidur, menua, berkeriput, menyaksikan perubahan usia, pekerjaan, cinta, kehilangan, dan seluruh perjalanan hidup pemiliknya. Tato menjadi semacam biografi yang ditulis pada tubuh.
Sebuah Tanda, Sebuah Cerita
Jika fenomenologi membantu memahami pengalaman tubuh, semiotika membantu membaca bagaimana tato bekerja sebagai tanda. Sebuah tato tidak pernah hanya berarti gambar itu sendiri. Burung secara denotatif adalah burung, tetapi secara konotatif dapat berarti kebebasan. Jangkar bisa berarti laut, tetapi juga rumah, keteguhan, atau seseorang yang menjadi tempat kembali. Tanggal bisa terlihat sebagai angka biasa, sementara bagi pemiliknya mungkin merupakan tanggal pernikahan, kelahiran, kematian, atau sebuah titik balik kehidupan.
Dalam perspektif Roland Barthes, tanda tidak berhenti pada makna denotatif. Ia dapat memasuki lapisan konotasi dan menjadi bagian dari sistem makna yang lebih luas. Tato menarik karena hidup dalam dua dunia sekaligus: makna privat dan makna publik. Orang lain hanya menangkap tanda. Pemiliknya menyimpan cerita.
Dalam kerangka Charles Sanders Peirce, tato bahkan dapat bekerja sekaligus sebagai ikon, indeks, dan simbol. Ia menjadi ikon ketika menyerupai sesuatu; indeks ketika menunjuk pada peristiwa atau hubungan tertentu; dan simbol ketika maknanya dibentuk oleh kesepakatan budaya.
Namun tato tidak hanya menyampaikan identitas. Ia juga dapat ikut menciptakan identitas. Ketika seseorang berkata, “Ini bagian dari diriku,” tato telah masuk ke dalam cara ia memahami dirinya.
Karena itu, motif budaya tidak selalu bisa diperlakukan sebagai sekadar “gambar bagus”. Di baliknya mungkin terdapat sejarah, identitas, otoritas, dan ingatan sebuah komunitas. Ada kemungkinan sejarah ikut tergores bersama tinta.
Mengapa Harus Permanen?
Barangkali pertanyaan paling menarik tentang tato bukan mengapa seseorang memilih gambar tertentu, melainkan: mengapa harus permanen? Di zaman ketika hampir semua hal dapat diedit, dihapus, diganti, dan diperbarui, tato melakukan hal sebaliknya. Ia seolah berkata: ini tidak akan saya hapus.
Manusia hidup dalam waktu. Wajah berubah, relasi berubah, pekerjaan berubah, pandangan hidup berubah. Orang yang hari ini kita pikir akan selalu bersama kita pun suatu hari dapat pergi. Tetapi ingatan tidak selalu ingin mengikuti perubahan itu.
Maka manusia menciptakan tanda: foto, surat, cincin, batu nisan, monumen, dan mungkin tato. Tato adalah monumen yang paling dekat dengan diri sendiri. Ia tidak berdiri di tanah. Ia berjalan bersama pemiliknya. Karena itu, tato dapat dipahami sebagai perlawanan kecil terhadap lupa: usaha agar sesuatu yang pernah berarti tidak hilang tanpa jejak.
Survei Pew Research Center terhadap 8.480 orang dewasa Amerika pada 2023 menemukan bahwa 32 persen responden memiliki tato. Di antara mereka yang bertato, 69 persen menyebut mengenang atau menghormati seseorang atau sesuatu sebagai salah satu alasan memiliki tato, sementara 47 persen menyebut keinginan menyampaikan sesuatu tentang apa yang mereka yakini.
Angka itu menarik karena memperlihatkan bahwa tato tidak selalu lahir dari dorongan untuk tampil. Banyak tato justru lahir dari dorongan untuk mengingat. Ada perbedaan besar antara keduanya. Tampil membutuhkan mata orang lain. Mengingat tidak selalu membutuhkannya.
Luka yang Diubah Menjadi Makna
Psikologi memberi lapisan pembacaan lain. Sebagian orang menato tubuh setelah melewati pengalaman besar: kehilangan, perceraian, penyakit, kecelakaan, perubahan hidup, atau masa yang ingin mereka tandai.
Penelitian mengenai praktisi modifikasi tubuh menemukan bahwa sebagian peserta mengaitkan modifikasi tubuh dengan peristiwa biografis yang menentukan. Ini tentu tidak berarti semua tato merupakan respons terhadap trauma. Tetapi ia membantu kita memahami bahwa tubuh dapat menjadi tempat manusia mengolah pengalaman.
Sesuatu yang semula hanya berada dalam ingatan kemudian diberi bentuk. Yang abstrak menjadi konkret. Yang tidak terlihat menjadi terlihat. Yang sulit diceritakan menjadi gambar.
Dalam perspektif psikologis, tindakan tersebut dapat dibaca sebagai meaning-making: usaha manusia memberi struktur dan makna terhadap pengalaman hidup. Tato mungkin berkata, “Aku pernah mengalami ini.” Tetapi kadang-kadang ia juga berkata, “Aku berhasil melewati ini.”
Karena itu, beberapa tato terasa seperti luka yang berubah menjadi karya seni. Bukan karena lukanya hilang, melainkan karena luka itu kini memiliki narasi. Namun maknanya tetap tidak tunggal. Bagi seseorang tato adalah ekspresi emosi; bagi yang lain ia merupakan bentuk self-creation. Tato adalah pintu, dan di balik pintu itu terdapat manusia dengan pengalaman yang berbeda-beda.
Ketika Tato Menjadi Komoditas
Ada paradoks lain yang perlu diperhatikan. Tato yang dahulu merupakan tanda identitas kelompok, spiritualitas, keberanian, ritual, atau peristiwa hidup kini juga menjadi bagian dari industri gaya hidup. Ia hadir di media sosial, fashion, citra tubuh, dan katalog desain.
Pada titik tertentu, sesuatu yang sangat personal dapat berubah menjadi komoditas.Kita pun perlu bertanya: apakah kita benar-benar menggunakan tubuh untuk menyatakan diri, atau tubuh kita sedang digunakan industri untuk menjual gagasan tentang bagaimana seharusnya seseorang tampil?
Masyarakat modern memiliki paradoks: kita merasa semakin bebas menentukan identitas, tetapi pada saat yang sama semakin banyak identitas ditawarkan untuk kita konsumsi. Pilihan tato mungkin dibentuk oleh influencer, selebritas, komunitas, tren desain, atau estetika populer. Kebebasan dan konstruksi sosial akhirnya bertemu di permukaan kulit.
Tato bisa menjadi bentuk pemberontakan, tetapi bisa pula menjadi konformitas baru. Ia dapat berkata, “Aku berbeda.” Namun ketika jutaan orang menggunakan simbol yang sama untuk mengatakan “Aku berbeda”, bukankah perbedaan itu mulai menjadi seragam? Di sinilah semiotika menjadi kritis. Sebuah tanda tidak pernah hidup sendirian. Ia hidup dalam jaringan budaya, pasar, dan tatapan orang lain yang menafsirkannya.
Tato dan Tubuh yang Menjadi Tua
Ada satu hal yang sering luput dari pembicaraan tentang tato: waktu. Hari ini seseorang mungkin melihat tubuhnya sebagai kanvas. Tetapi kanvas itu akan berubah. Kulit menua, garis melonggar, warna memudar. Tubuh sepuluh, dua puluh, atau empat puluh tahun mendatang tidak akan sama dengan tubuh hari ini. Tato pun ikut berubah bersamanya.
Di situlah tato menjadi sangat fenomenologis. Ia mengingatkan bahwa tubuh bukan benda mati. Tubuh adalah proses. Kita hidup dalam tubuh yang terus berubah, sementara tanda yang kita letakkan di atasnya berusaha bertahan.
Ada ironi yang indah: manusia ingin mengabadikan sesuatu pada tubuh yang justru tidak pernah abadi. Tato menjadi pertemuan antara keabadian yang kita inginkan dan kefanaan yang tidak dapat kita hindari. Dan pada akhirnya, tinta pun akan menua bersama kita.
Tubuh sebagai Arsip Kehidupan
Jika kembali kepada Merleau-Ponty, tubuh adalah cara kita hadir, bergerak, mengalami, dan berhubungan dengan dunia. Ia selalu berada dalam hubungan dengan ruang, orang lain, masa lalu, dan kemungkinan masa depan.
Maka tato dapat dipahami sebagai sedimentasi pengalaman: sesuatu yang pernah terjadi lalu menetap pada tubuh. Ia menjadi arsip yang tidak disimpan dalam lemari, tetapi dibawa ke mana-mana.
Barangkali itulah mengapa tato menarik sebagai fenomena budaya. Ia memperlihatkan bagaimana manusia menjawab pertanyaan yang sebenarnya sangat tua: siapakah aku? Sebagian menjawabnya melalui pekerjaan, keluarga, agama, pakaian, atau komunitas. Sebagian lainnya melalui gambar yang mereka pilih untuk tinggal di kulit.
Karena itu, ketika melihat seseorang bertato, mungkin kita tidak perlu segera bertanya, “Kenapa kamu melakukan itu?” Pertanyaan yang lebih manusiawi adalah: “Cerita apa yang ada di baliknya?”
Sebab kita tidak pernah benar-benar tahu apa yang sedang kita lihat. Seekor burung mungkin bukan burung. Sebuah nama mungkin bukan sekadar nama. Sebuah tanggal mungkin bukan angka. Sebuah garis mungkin bukan garis. Sebuah tato yang bagi kita tampak sederhana mungkin merupakan seluruh hidup seseorang yang diringkas menjadi beberapa sentimeter kulit.
Pada akhirnya, tato barangkali adalah salah satu cara manusia berbicara ketika kata-kata tidak lagi cukup. Ia berbicara tentang siapa kita, dari mana kita datang, siapa yang pernah kita cintai, luka yang pernah kita tanggung, keyakinan yang ingin kita pegang, dan kebebasan yang ingin kita miliki.
Dan mungkin juga tentang sesuatu yang paling manusiawi: ketakutan bahwa apa yang pernah begitu berarti bagi kita suatu hari akan dilupakan. Maka manusia menuliskannya. Bukan di kertas. Bukan di batu. Melainkan di kulitnya sendiri.
Dan mungkin itulah alasan paling dalam mengapa tato tidak pernah sekadar gambar. Ia adalah ingatan yang memilih untuk tinggal di tubuh. [T]
Penulis: Tri Nugroho Adi
Editor: Adnyana Ole































