ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi itu akan kembali bertemu pendengarnya dalam sebuah pertunjukan bertajuk “Hujan Tentang Cinta”, Minggu, 13 September 2026, di Berbagi Ruang Peguyangan, Denpasar.
Pertemuan ini menjadi istimewa karena Melbi bukan kelompok yang terbilang sering naik panggung. Setelah cukup lama tidak berjumpa dengan pendengarnya di Bali, mereka datang dengan tawaran untuk bernyanyi, berdansa, dan melepas rindu bersama. “Hujan Tentang Cinta” juga tidak dirancang semata sebagai pertunjukan musik. Namun juga menjadi ruang untuk nongkrong, bertukar kabar, dan menghabiskan waktu bersama.
Pertunjukan akan dimulai pukul 19.00 WITA hingga selesai. Tiket pun tersedia dalam jumlah terbatas dan dijual secara resmi melalui platform Loket.com.
Kembalinya Melbi ke Bali sekaligus membawa satu babak penting dalam perjalanan panjang band ini. Nama Majelis Lidah Berduri mungkin masih terasa relatif baru bagi sebagian pendengar, tetapi orang-orang di baliknya telah berkarya lebih dari dua dekade. Sebelum menggunakan nama tersebut, mereka dikenal sebagai Melancholic Bitch, nama yang menaungi perjalanan mereka ketika melahirkan album Re-Anamnesis, Balada Jodi dan Susi, serta Nkbbs Bagian Pertama.

Perubahan menjadi Majelis Lidah Berduri terjadi pada 2022. Transformasi identitas itu bukan sekadar mengganti nama setelah bertahun-tahun berkarya. Bagi band asal Yogyakarta tersebut, perubahan itu merupakan bentuk refleksi atas perjalanan panjang mereka di dunia musik.
Perjalanan panjang itulah yang membuat penampilan Melbi memiliki lapisan yang lebih luas daripada sekadar memainkan lagu-lagu lama dan baru. Musik mereka terdengar bergerak melintasi berbagai wilayah: rock, folk, jazz, hingga unsur-unsur lokal. Di atas percampuran itu berdiri lirik-lirik yang puitis, tetapi sekaligus membawa kritik sosial yang tajam.
Yogyakarta pun tidak dapat dilepaskan dari pembentukan musikalitas mereka. Kota tempat Melbi tumbuh dan menjalani perjalanan panjangnya itu menjadi bagian dari pembicaraan mengenai proses kreatif band, sebagaimana perubahan identitas mereka juga membuka percakapan tentang filosofi di balik nama Majelis Lidah Berduri.
Karena itu, “Hujan Tentang Cinta” di Bali dapat dilihat sebagai sebuah perjumpaan dengan Melbi dalam fase mereka hari iniꟷgrup musik yang telah melewati lebih dari dua dekade perjalanan, mengganti nama, tetapi tetap membawa karakter musikal dan ketajaman lirik yang selama ini melekat pada karya-karyanya. [T]
Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole































