BANYAK program pengabdian masyarakat berakhir sebagai seremoni. Datang, memberi pelatihan, lalu pulang. Namun, program Bina Desa yang digagas Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Besar Mahasiswa (BEM KBM), Politeknik Negeri Bali (PNB) mencoba melangkah lebih jauh. Selama tiga akhir pekan berturut-turut, puluhan mahasiswa dari tujuh jurusan turun langsung ke Desa Muncan, Karangasem, untuk membangun sesuatu yang dapat terus dimanfaatkan masyarakat. Mulai dari digitalisasi desa, pengembangan pariwisata, hingga pemberdayaan ekonomi berbasis green tourism.
Desa Muncan, Kecamatan Selat, Kabupaten Karangasem, dipilih bukan tanpa alasan. Desa ini memiliki kekayaan alam, budaya, dan potensi wisata yang besar, tetapi masih membutuhkan pendampingan dalam pengembangan digital dan pengelolaan potensi tersebut. Hasil survei awal yang dilakukan menunjukkan bahwa kebutuhan desa sejalan dengan kompetensi yang dimiliki mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu di Politeknik Negeri Bali (PNB). Dari titik temu itulah lahir kolaborasi yang kemudian diwujudkan melalui Bina Desa 2026.
Mengusung tema “Optimalisasi Potensi Desa melalui Digitalisasi dan Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Green Tourism”, kegiatan ini menjadi implementasi nyata salah satu Tri Dharma Perguruan Tinggi, yakni pengabdian kepada masyarakat. Mahasiswa tidak hanya datang sebagai peserta kegiatan sosial, tetapi juga sebagai mitra yang menawarkan solusi berdasarkan keilmuan masing-masing.


Rangkaian kegiatan dimulai pada 4–5 Juli 2026. Hari-hari pertama dimanfaatkan untuk mengenali kebutuhan masyarakat sekaligus membuka ruang kolaborasi. Workshop pembuatan eco-enzyme menjadi salah satu agenda awal yang mengajak masyarakat memanfaatkan limbah organik menjadi produk ramah lingkungan. Di saat yang sama, tim lain mulai membuat konten branding desa, mendokumentasikan berbagai objek wisata untuk kebutuhan website desa, melakukan survei penerangan desa, hingga memperkenalkan sistem pembayaran digital melalui implementasi QRIS.
Memasuki pekan kedua, fokus kegiatan bergeser pada pendampingan sesuai bidang keilmuan masing-masing jurusan. Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil melakukan survei kawasan Pura Puseh sebagai bagian dari upaya pengembangan kawasan. Dari Jurusan Akuntansi, masyarakat memperoleh sosialisasi mengenai pengelolaan keuangan yang lebih tertata. Sementara itu, Jurusan Pariwisata memberikan pemahaman mengenai konsep green tourism, sebuah pendekatan pariwisata yang tidak hanya mengejar kunjungan wisatawan, tetapi juga menjaga kelestarian lingkungan dan memberdayakan masyarakat lokal.
Kolaborasi lintas jurusan menjadi kekuatan utama program ini. Setiap kelompok membawa keahlian yang berbeda, tetapi seluruhnya diarahkan pada tujuan yang sama, yaitu membantu Desa Muncan berkembang sesuai potensinya.


Puncak kegiatan berlangsung pada pekan ketiga. Berbagai hasil pendampingan mulai diwujudkan dalam bentuk yang dapat langsung dimanfaatkan masyarakat. Sebuah peta desa dipasang untuk memudahkan informasi wilayah. Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dipasang di kawasan Tirta Yeh Sah sebagai bagian dari dukungan terhadap pemanfaatan energi terbarukan. Perangkat desa juga mendapatkan pelatihan penggunaan website desa agar mampu mengelola informasi secara mandiri. Sementara itu, penyebaran brosur QRIS dan pembuatan konten promosi wisata menjadi langkah lanjutan untuk memperkuat identitas digital Desa Muncan.
Tidak berhenti pada pembangunan infrastruktur maupun pelatihan, program ini juga mendorong perubahan cara pandang masyarakat terhadap potensi desa. Digitalisasi diposisikan bukan sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai alat untuk memperluas akses informasi, meningkatkan pelayanan, serta memperkenalkan potensi desa kepada masyarakat lebih luas.


Ketua Umum BEM KBM PNB, I Putu Oka Darmawan, mengatakan bahwa kekuatan utama Bina Desa terletak pada kolaborasi berbagai disiplin ilmu yang dimiliki mahasiswa.
“Kami melibatkan mahasiswa semester dua dan semester empat dari tujuh jurusan di Politeknik Negeri Bali. Masing-masing membawa kompetensi sesuai bidangnya, sehingga program yang dijalankan tidak berdiri sendiri, tetapi saling melengkapi. Yang terpenting, masyarakat, pemuda, dan perangkat desa ikut terlibat sebagai bagian dari proses, bukan hanya sebagai penerima manfaat,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Panitia Bina Desa 2026, Gede Eka Indrayana, menilai program ini bukan sekadar agenda tahunan organisasi kemahasiswaan, melainkan ruang belajar bagi mahasiswa untuk mengimplementasikan ilmu di tengah masyarakat.
“Bina Desa merupakan bentuk nyata pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat. Kami ingin mahasiswa tidak hanya belajar di ruang kelas, tetapi juga melihat langsung kebutuhan masyarakat dan berkontribusi melalui kompetensi yang mereka miliki,” katanya.

Bagi panitia, keberhasilan program tidak berhenti pada selesainya seluruh rangkaian kegiatan. Yang jauh lebih penting adalah manfaat yang dapat terus dirasakan masyarakat setelah mahasiswa kembali ke kampus.
Salah satu panitia, Ni Kadek Venni Mahayani berharap seluruh luaran program dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan.
“Kami bersyukur seluruh rangkaian Bina Desa 2026 dapat berjalan dengan baik berkat dukungan semua pihak, mulai dari panitia, dosen pembina, Pemerintah Desa Muncan, hingga masyarakat. Harapan kami sederhana, semoga website desa, implementasi QRIS, sosialisasi green tourism, dan berbagai program pemberdayaan yang telah dilakukan benar-benar menjadi langkah awal bagi pengembangan Desa Muncan di masa mendatang,” ungkapnya.
Rangkaian Bina Desa 2026 kemudian ditutup dengan penyerahan website desa secara simbolis kepada Pemerintah Desa Muncan. Bersamaan dengan itu, Politeknik Negeri Bali juga menyerahkan plakat sebagai tanda penghormatan sekaligus simbol kerja sama yang telah terjalin.
Pada akhirnya, ketika teknologi dipadukan dengan kepedulian, dan ilmu pengetahuan berjalan berdampingan dengan semangat kolaborasi, desa tidak hanya menjadi sekadar tempat berkegiatan. Namun juga menjadi ruang belajar bersama, tempat lahirnya perubahan yang diharapkan terus berlanjut, bahkan setelah para mahasiswa kembali ke kampus.[T]
Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Jaswanto































