30 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

KEDAULATAN HIJAU DI TANGAN RAKYAT: Konservasi Berbasis Komunitas, Jalankah?

I Gede Joni Suhartawan by I Gede Joni Suhartawan
June 29, 2026
in Esai
KEDAULATAN HIJAU DI TANGAN RAKYAT: Konservasi Berbasis Komunitas, Jalankah?

Tradisi Alilitan, salah satunya untuk memuliakan hutan adat di Catur Desa Dalem Tamblingan | Foto: Dok. tatkala.co

KRISIS iklim bukan lagi ramalan apokaliptik di makalah-makalah seminar melainkan kenyataan di depan mata semua bangsa. Ayolah jujur mengakui ironi ini: hutan-hutan terbaik yang bertahan hari ini di planet Bumi, hampir selalu adalah hutan-hutan yang berada dan dirawat oleh masyarakat adat atau komunitas lokal. Mereka melakukannya bukan karena seabreg undang-undang negara atau peraturan pemerintah, bukan pula karena insentif karbon yang mulai seksi dilirik banyak mata, melainkan karena hutan adalah ibu, identitas, dan ruang hidup.

Ironi ini nampaknya dibiang-keroki justru sebagian besar oleh negara. Negara sering kali menghadirkan dirinya sebagai state-centric conservation—sebuah cara pandang kolonial yang menganggap  konservasi hanya sah jika distempel birokrasi dan dijaga oleh Polisi Kehutanan. Padahal, meminggirkan komunitas adat dari hutannya adalah bentuk bunuh diri ekologis massal sekaligus pelecehan terhadap konstitusi.

Wajah Hukum Pengelolaan Hutan Kita

Sejarah panjang ketegangan antara klaim sepihak negara (state claim) dan hak-hak inheren masyarakat adat (customary rights), dapat kita lacak mulai dari: Negara pemilik mutlak (Domein Verklaring) di era kolonial, Negara pemilik sekaligus penguasa di era kemerdekaan dengan puncak brutalnya di era orde baru (jutaan hektar hutan adat diubah menjadi konsesi HPH dan masyarakat adat mendadak menjadi warga asing/perambah hutan leluhurnya sendiri!), Hutan Adat adalah Hutan Negara, di era reformasi, yang segera dikoreksi total oleh Putusan MK 35/2012, “Hutan Adat bukan Hutan Negara” dan akhirnya kini menjadi Akselerasi Perhutanan Sosial versus Proyek Strategis Nasional dalam omnibus law UU Cipta Kerja.

Apa artinya wajah-wajah hukum ini? Artinya, secara regulasi kita mengalami kemajuan tekstual. Namun, kemajuan tekstual ini tidak serta merta terjadi pada ranah implementasi apalagi  political will. Proses pengakuan masyarakat hukum adat (MHA) sering kali kusut dalam belitan birokrasi, kontras dengan kecepatan keluarnya izin konsesi korporasi yang bahkan geledek pun kalah cepat.

Kembali ke Jiwa UUD 1945

Lantas, bagaimana mestinya mensikapi tata kelola hutan ini? Jawabannya ada pada konstitusi tertinggi bangsa ini: UUD 1945.

Pasal 18B Ayat (2) UUD 1945:

“Negara mengakui dan menghormati kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak-hak tradisionalnya sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang diatur dalam undang-undang.”

Klausul ini jelas bukan aksesoris hukum. Ini adalah perintah bagi negara untuk proaktif, bukan pasif menanti masyarakat adat datang tersengal-sengal dari pelosok hutan untuk melengkapi berkas-berkas administratif yang ribet. Pengakuan terhadap masyarakat adat adalah kata kerja aktif bagi negara.

Sementara itu, Pasal 33 Ayat (3) UUD 1945 menegaskan bahwa bumi, air, dan kekayaan alam dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. Kata “dikuasai” oleh negara tidak bisa lagi diartikan sebagai “dimiliki secara mutlak oleh birokrasi” untuk kemudian diprivatisasi oleh segelintir oligarki. Hak menguasai negara adalah hak mengatur (beheersdaad), yang tujuannya adalah memastikan keadilan distributive yang berujung kemakmuran rakyat sebesar-besarnya itu.

Kompromi Historis demi Masa Depan

Dibutuhkan paradigma baru yang berakar pada konstitusi guna mengakhiri kekacauan agraria berkepanjangan di sektor kehutanan. Kedua belah pihak, negara dan masyarakat adat,  musti kompromi ego demi sang ibu pertiwi, hutan kita.

Pihak Pemerintah: “Penguasa” Menjadi “Mitra”

  • Debirokratisasi Pengakuan Wilayah Adat: Pemerintah harus memotong kompas regulasi mulai dari tingkat daerah hingga pusat  dan menggantinya dengan mekanisme pengakuan yang inklusif, cepat, dan partisipatif.
  • Pendanaan Langsung untuk Konservasi Komunitarian: Insentif pendanaan iklim (seperti dana Reduction of Emissions from Deforestation and Forest Degradation / REDD+) seharusnya dialokasikan langsung untuk memperkuat ekonomi komunitas adat yang menjaga hutan, bukan habis di tingkat birokrasi atau konsultan formal.
  • Integrasi Epistemologi: Akui ilmu pengetahuan lokal (indigenous wisdom/knowledge). Cara masyarakat adat membaca tanda-tanda alam, melakukan zonasi tradisional (seperti sasi di Maluku, lubuk larangan di Sumatra, atau taru pramana di Bali), sering kali jauh lebih efektif ketimbang teori kaku konservasi barat.

Pihak Masyarakat Adat: Konsolidasi dan Resiliensi

  • Penguatan Manajemen Internal: Masyarakat adat harus memperkuat kelembagaan adat, memastikan keterlibatan perempuan dan generasi muda dalam pengambilan keputusan, serta melakukan pemetaan partisipatif atas wilayahnya secara presisi agar tidak mudah dipecah belah.
  • Adaptasi Tanpa Kehilangan Akar: Terbuka terhadap kolaborasi sains modern—seperti penggunaan GPS atau pemantauan hutan berbasis digital—tanpa mengorbankan nilai-nilai spiritual dan lokalitas yang mendasari hubungan dengan alam.

Mendukung gerakan masyarakat adat dalam menjaga hutan bukanlah tindakan karitatif atau “hadiah sinterklas” dari pemerintah. Itu adalah bentuk pertobatan atas dosa sejarah. Hutan Indonesia tidak akan pernah selamat jika moncong senjata yang menjaga atau kawat=kawat berduri birokrasi yang memagari.

Hutan kita hanya akan selamat jika ia dijaga oleh rasa cinta, spiritualitas, dan lelaku berdaulat dari manusia-manusia yang telah menganggap pohon sebagai saudara dan tanah sebagai darah mereka sendiri.

Sudah saatnya negara berhenti menjadi mandor bagi korporasi, dan mulai menjadi pelindung bagi masyarakat adat. Itulah sejatinya jiwa dari UUD 1945. [T]

Prambanan, 28/6/2026

Penulis: I Gede Joni Suhartawan
Editor: Adnyana Ole

Tags: hutanhutan adatlingkungan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

KEHANCURAN HINDU NUSANTARA & DUNNING-KRUGER EFFECT

Next Post

Membangun Buleleng, Membangun Ingatan Sejarah dan Membangun Masa Depan Kota dari Kawasan Titik Nol Singaraja

I Gede Joni Suhartawan

I Gede Joni Suhartawan

Penulis tinggal di Prambanan Klaten Jawa Tengah. Pernah bekerja di SCTV dan pernah menjadi Head of Production Creative Development Center di Trans Corp (TransTV and Trans|7)

Related Posts

Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan

by Muhammad Farras Hanif
August 29, 2026
0
Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan

MAKANAN sehari-hari yang kita konsumsi tentu tidak hadir begitu saja di atas meja makan kita. Sepiring nasi tidak lahir begitu...

Read moreDetails

Sebelum Bali Dituduh Rasis, Ada Seorang Ibu yang Sedang Makan

by Angga Wijaya
August 29, 2026
0
Telenovela

SEBELUM Bali dituduh rasis, ada seorang ibu yang sedang makan. Kalimat itu mungkin terdengar terlalu sederhana untuk sebuah perkara yang...

Read moreDetails

LEVEL PERDEBATAN DALAM HINDU

by Sugi Lanus
August 29, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 29 Agustus 2026 Hindu mengenal struktur epistemologi yang berjenjang. Artinya apa? Hindu tidak memaksakan satu...

Read moreDetails

Di Bawah Lampu Kerlap-Kerlip: Membaca Fenomena “Coffee Shop” sebagai Teks Budaya

by Tri Nugroho Adi
August 28, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Segelas kopi tidak pernah hanya berisi kopi. Di dalamnya terseduh sejarah, identitas, percakapan, bahkan cara manusia memahami dirinya sendiri." MENJELANG...

Read moreDetails

BARONG BRUTUK: Dari Tarian Sakral ke Cerita Bergambar

by I Ketut Suar Adnyana
August 27, 2026
0
BARONG BRUTUK: Dari Tarian Sakral ke Cerita Bergambar

Kebudayaan tidak pernah benar-benar hidup hanya karena diwariskan. Sebuah tradisi akan tetap hidup apabila pengetahuan, nilai, simbol, dan ingatan yang...

Read moreDetails

Destinasi “Detour”: Tren Wisata Alternatif Menyimpang Rute Utama

by Chusmeru
August 27, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BERWISATA kadang berjalan tidak sesuai dengan yang direncanakan. Di awal perjalanan sudah ditentukan destinasi wisata mana yang akan dikunjungi. Namun...

Read moreDetails

Melampaui Ingatan di Batas-batas Desa ——Catatan dari Karya Agung Ngusaba Desa dan Ngusaba Nini Desa Sibanggede

by Dharma Yuda
August 26, 2026
0
Melampaui Ingatan di Batas-batas Desa ——Catatan dari Karya Agung Ngusaba Desa dan Ngusaba Nini Desa Sibanggede

RANGKAIAN Karya Pedudusan Agung, Ngusaba Desa, dan Ngusaba Nini yang berpusat di Pura Puseh Sibanggede sudah mencapai akhir melalui upacara...

Read moreDetails

Kalau Rakyat Harus Naik Bus ke Jakarta Agar Didengar, Ada Apa dengan Telinga Kekuasaan?

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 26, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

ADA yang menarik dari perjalanan sejumlah warga Pati menuju Jakarta menjelang aksi 27 Agustus 2026.  Mereka tidak sedang piknik. Empat...

Read moreDetails

Ibu Memasak di Kota

by Angga Wijaya
August 25, 2026
0
Ibu Memasak di Kota

MEMASAK, aktivitas yang sering diidentikkan dengan para ibu, baik yang usianya muda ataupun juga tua. Di kota, saya tidak tahu...

Read moreDetails

PROFESOR BAHASA BALI TERBAIK DARI JEPANG  — Kiprah Profesor Mayuko Hara dalam Riset Bahasa Bali Aga Pedawa dan Bahasa Indonesia

by Sugi Lanus
August 25, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 25 Agustus 2027 Siapa pakar terbaik Bahasa Bali di Jepang? Jika pertanyaan itu ditujukan ke...

Read moreDetails
Next Post
Membangun Buleleng, Membangun Ingatan Sejarah dan Membangun Masa Depan Kota dari Kawasan Titik Nol Singaraja

Membangun Buleleng, Membangun Ingatan Sejarah dan Membangun Masa Depan Kota dari Kawasan Titik Nol Singaraja

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan
Esai

Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan

MAKANAN sehari-hari yang kita konsumsi tentu tidak hadir begitu saja di atas meja makan kita. Sepiring nasi tidak lahir begitu...

by Muhammad Farras Hanif
August 29, 2026
Seni Rupa Anomali Cokot dan Putu Fajar Arcana
Ulas Rupa

Seni Rupa Anomali Cokot dan Putu Fajar Arcana

PADA tulisan kali ini, saya ingin menekuni proses kreatif karya rupa Putu Fajar Arcana yang bagi saya cukup menarik. Pasalnya,...

by Hartanto
August 29, 2026
Telenovela
Esai

Sebelum Bali Dituduh Rasis, Ada Seorang Ibu yang Sedang Makan

SEBELUM Bali dituduh rasis, ada seorang ibu yang sedang makan. Kalimat itu mungkin terdengar terlalu sederhana untuk sebuah perkara yang...

by Angga Wijaya
August 29, 2026
Duta Bahasa Provinsi Bali Serahkan Model Pembelajaran Serasi kepada SLB Negeri 2 Denpasar
Pendidikan

Duta Bahasa Provinsi Bali Serahkan Model Pembelajaran Serasi kepada SLB Negeri 2 Denpasar

DENPASAR | TATKALA.CO -- Duta Bahasa Provinsi Bali menyerahkan Model Pembelajaran Serasi (Strategi Berbasis Multimodal bagi Disabilitas Rungu untuk Menyusun...

by Rusdy Ulu
August 29, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

LEVEL PERDEBATAN DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 29 Agustus 2026 Hindu mengenal struktur epistemologi yang berjenjang. Artinya apa? Hindu tidak memaksakan satu...

by Sugi Lanus
August 29, 2026
Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka
Khas

Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

“Dug dug, dag, dug dug.., dag dug dag…, jedug kapak, jedug kapak…!” SUARA kendang dan okokan menggema mengiringi pembukaan Tanah...

by Nyoman Budarsana
August 29, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Di Bawah Lampu Kerlap-Kerlip: Membaca Fenomena “Coffee Shop” sebagai Teks Budaya

"Segelas kopi tidak pernah hanya berisi kopi. Di dalamnya terseduh sejarah, identitas, percakapan, bahkan cara manusia memahami dirinya sendiri." MENJELANG...

by Tri Nugroho Adi
August 28, 2026
Kemarau di Kalianget
Buku Tatkala

Kemarau di Kalianget

Judul: Kemarau di Kalianget Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Luh Arik Sariadi ISBN: Masih dalam proses Tebal: 145 halaman...

by Buku Tatkala
August 28, 2026
Agung Ngurah Astara, Kepala Sekolah SMKN 5 Denpasar dengan Perubahan dan Harapan Baru
Pendidikan

Agung Ngurah Astara, Kepala Sekolah SMKN 5 Denpasar dengan Perubahan dan Harapan Baru

SEMUA berawal dari kesungguhan, keteguhan, disiplin dan upaya kreatif dalam menggapai sebuah kemuliaan. Tidak mudah melewati dan menghadapi  tantangan dalam...

by Nyoman Budarsana
August 27, 2026
BARONG BRUTUK: Dari Tarian Sakral ke Cerita Bergambar
Esai

BARONG BRUTUK: Dari Tarian Sakral ke Cerita Bergambar

Kebudayaan tidak pernah benar-benar hidup hanya karena diwariskan. Sebuah tradisi akan tetap hidup apabila pengetahuan, nilai, simbol, dan ingatan yang...

by I Ketut Suar Adnyana
August 27, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Destinasi “Detour”: Tren Wisata Alternatif Menyimpang Rute Utama

BERWISATA kadang berjalan tidak sesuai dengan yang direncanakan. Di awal perjalanan sudah ditentukan destinasi wisata mana yang akan dikunjungi. Namun...

by Chusmeru
August 27, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [7]: Rezim Algoritma dan Pembubaran Standar Sastra

Semua tekanan yang sudah diuraikan dalam bagian-bagian sebelumnya bisa dibaca sebagai masalah-masalah yang terpisah. Namun semuanya adalah gejala dari satu...

by Andre Syahreza
August 26, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co