SEKOLAH selalu menjadi objek sosialisasi bagi kesuksesan program pemerintah, baik pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah. Gaungnya makin kencang setelah reformasi 1998 seiring dengan desentralisasi kekuasaan yang lahir dari Pemilihan Umum Langsung sejak 2004.
Sebelum reformasi, ada pemilihan siswa, guru, kepala sekolah teladan Tingkat Nasional diseleksi secara berjenjang, dari Tingkat Desa, Kecamatan, Kabupaten, Provinsi, hingga Nasional. Setelah reformasi, ada program setara dengan pemilihan para teladan dengan nama pemilihan siswa, guru, kepala sekolah berprestasi. Para juara Tingkat Provinsi maju ke Tingkat Nasional sekaligus mengikuti Upacara Detik-Detik Proklamasi Kemerdekaan. Semalam sebelum upacara ada acara renungan suci tengah malam di Tugu Monas, Titik Nol Jakarta.
Namun, program itu dihentikan oleh Pandemi Covid-19 sejak 2020 diganti dengan lomba serba daring. Citra yang dibangun selalu ramai di permukaan, tanpa pernah kita tahu kedalamannya. Begitulah tabiat budaya virtual. Viralitas bisa mengabaikan kualitas. Ramai di permukaan, sepi di kedalaman. Anehnya, kebenaran baru itu dianut yang jelas-jelas bukan merupakan kebenaran itu sendiri.
Begitulah, zaman berubah mengikuti politik kekuasaan. Sekolah sebagai Lembaga Pendidikan tidak luput dari kepentingan politik kekuasaan. Maka pesan-pesan politik itu dibungkus dengan aneka program, misalnya Sekolah Siaga Bencana, Sekolah Ramah Anak, Sekolah Siaga Kependudukan, Sekolah Siaga Statistik, dan bentuk-bentuk siaga yang lain. Tulisan ini berfokus pada Sekolah Siaga Kependudukan (SSK) yang diinisiasi oleh Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) dalam rangka menyiapkan generasi emas yang cerdas dan terhindar dari three zero : pernikahan dini, sex bebas, dan napza.
Pada 2026, ada dua Sekolah yang dijadikan SSK di Provinsi Bali, yaitu SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska) dan SMK Negeri 1 Negara, Jembrana. Begitulah Sekolah sarat dengan muatan program yang nyaris tidak bisa dihindari oleh guru, tenaga kependidikan, dan murid. Lalu, apa makna aneka program itu bagi sekolah?
Pertama, guru sibuk mengikuti pelatihan untuk memahami aneka program lalu mengintegrasikan ke dalam Modul Ajar untuk memenuhi capaian hasil belajar. Mau tak mau, guru harus meninggalkan jam belajar persuaannya dengan murid di kelas. Murid diberikan tugas, guru belajar program baru. Guru bersama Kepala Sekolah selalu siaga di mana saja, kapan saja, dengan siapa saja, materi apa saja. Gaji bertambah ? Jangan tanya!
Kedua, tenaga kependidikan juga direpotkan dengan aneka administrasi sesuai dengan program yang sedang bergulir. Mirip juga dengan Program Makan Bergizi Gratis (MBG), tidak saja membagikan makanan kepada murid, tetapi juga mengadministrasikan secara baik dan benar termasuk menghitung ompreng sesuai dengan jumlah guru, tenaga kependidikan, dan siswa. Demikian pula halnya dengan Program SSK. Keterlibatan Guru berkolaborasi dengan Tenaga Kependidikan menjadi sebuah keniscayaan. Mereka memastikan isu-isu kependudukan terserap oleh murid lalu membekali mereka untuk mencari solusi terbaik menyiapkan masa depan. Wajah seabad Indonesia adalah wajah anak SMA hari ini.
Ketiga, para murid sebagai sasaran utama program di satu sisi harus meninggalkan kelas belajar hal baru di luar mata pelajaran inti. Bersamaan dengan itu, beban tugas mereka tentu saja bertambah. Mereka tetap belajar sesuai dengan Struktur Kurikulum yang dijalankan plus memastikan program SSK berjalan sesuai petunjuk dengan arahan guru dan tenaga kependidikan. Di tangan guru kreatif dan literat, tidak sulit baginya menyisipkan Program SSK melalui apersepsi, ice breaking, atau pesan-pesan selingan pemecah keheningan kelas menjadi bergairah penuh semangat.
Di balik semua kesibukan itu, tentu ada hal baru dan positip bagi sekolah. Pertama, sekolah dituntut untuk berinovasi dan merespon isu-isu kependudukan sebagai bonus demografi menyiapkan generasi emas 2045. SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska) misalnya hadir dengan program berkearifan lokal : Program Canang Sari (cari tenang setiap hari), Masima Krama Toska (makan siang bersama krama Toska), Gelis Diksi (Gerakan literasi bersama pendidik dan siswa), Sadhar Nama (buka puasa, dharma Shanti, dan Natal) bersama, Toska Bersinar (Toska bergerak, resik, dan harmoni). Program-program itu bukanlah program baru ketika Toska menjadi Sekolah Unggulan SSK Provinsi Bali, melainkan program visioner yang sudah berjalan sejak sekolah berdiri 2019 untuk menyiapkan generasi emas. Di sinilah diperlukan keterampilan manajemen untuk membuat aktor jaringan saling terhubung seperti layaknya teks sastra yang terbangun dari kata-kata liar. Namun, di tangan sastrawan piawai, keliaran itu menjadi mozaik yang indah dan bermakna.
Kedua, tagihan pemenuhan program SSK juga cukup banyak yang memerlukan konsentrasi terfokus dalam kerja sama tim. Tagihan itu antara lain Pojok Kependudukan, Video SSK, Buku SSK, Integrasi SSK ke Kurikulum berbasis Mata Pelajaran, pelaksanaan kegiatan intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler. Pengalaman menjadi pelaksana Program Sekolah Penggerak, pada 2022-2025, memudahkan bagi Toska memenuhi tagihan itu yang dikawal oleh tim muda yang sungguh tangguh. Dalam tempo seminggu, semua tagihan itu terselesaikan, dengan segala plus-minusnya. Namun, secara umum telah memenuhi persyaratan sesuai dengan karakteristik program SSK.
Ketiga, Program SSK juga mewajibkan adanya materi khusus pendalaman tiga materi : bonus demografi, kesehatan reproduksi, dan persiapan keluarga. Sehubungan dengan hal itu, di Pojok Kependudukan yang terintegrasi dengan Pojok Baca, siswa dapat berselancar secara digital mengakses ketiga isu kependudukan itu, tanpa meninggalkan budaya membaca buku secara fisik. Buku digital dan buku fisik saling melengkapi. Bahkan pemerintah melarang anak di bawah 16 tahun, memiliki akun Media Sosial sesuai dengan Peraturan Menteri Komunikasi dan Digital Nomor 9 Tahun 2026, mulai 28 Maret 2026.
Dengan demikian, arti penting dari bonus demografi bukan saja menjadi euforia menyambut 2045 dengan slogan Indonesia Emas, melainkan juga mengantisipasi hadirnya generasi cemas akibat paparan informasi hoaks yang menurut ahli Amerika sampah dunia maya mencapai 70% dan isinya hanya 30%. Selain itu, fokus konsentrasi pelajar dari 20 menit pada dekade pertama 2000-an, menjadi 10 menit pada dekade kedua 2000-an. Kini, fokus mereka tinggal 3 detik. Sungguh mencemaskan. Generasi instan penuh ketergesa-gesaan, seperti strowbery yang tidak tahan banting padahal tantangan ke depan makin rumit dengan persaingan makin sengit. Sengitnya sengatan persaingan menjadikan Program SSK menjadi bermakna bagi guru, tenaga kependidikan, dan siswa. Salam SSK : Siaga Kependudukan generasi hebat. Salam yang selaras dengan visi SMA Negeri 2 Kuta Selatan : Cerdas, berbudaya, berdaya saing. Setia dengan motto : Wiweka Jaya Sadhu (arif bijaksana berlandaskan budaya bangsa dalam memenangkan persaingan). [T]





























