4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Fatamorgana Hari Raya: Antara Euforia THR dan Belenggu Realita

Reda Subagio by Reda Subagio
March 25, 2026
in Esai
Fatamorgana Hari Raya: Antara Euforia THR dan Belenggu Realita

Ilustrasi tatkala.co | Canva

BUNYI denting notifikasi perbankan di ponsel itu layaknya suara sangkakala yang membawa kabar gembira ke tengah padang pasir keletihan. Bagi jutaan manusia yang menghabiskan sepertiga hidupnya di balik meja kubikel atau di depan layar monitor, angka yang melonjak di saldo rekening itu bukan sekadar uang.

Ia adalah simbol kemenangan singkat, sebuah “tanda jasa” yang kita sebut Tunjangan Hari Raya (THR). Seketika, beban kerja berbulan-bulan, omelan atasan yang tak masuk akal, hingga tumpukan revisi yang mencekik seolah terangkat dari pundak. Kita merasa kaya, kita merasa berdaya, dan yang paling berbahaya, adalah, kita merasa telah merdeka.

Namun, kemerdekaan itu hanyalah sebuah ilusi yang dirancang dengan sangat rapi oleh sistem. Begitu THR mendarat, psikologi “balas dendam” mulai mengambil alih kesadaran. Kita yang selama sebelas bulan hidup dengan anggaran yang ketat, tiba-tiba merasa memiliki hak untuk menjadi raja dalam semalam.

Fenomena ini seringkali membuat kita lupa diri. Kita mulai membelanjakan uang untuk hal-hal yang sebenarnya tidak kita butuhkan, hanya untuk memenuhi ekspektasi sosial atau sekadar pamer di media sosial. Baju baru dengan merek ternama, gadget terbaru yang sebenarnya fiturnya sama saja dengan yang lama, hingga jamuan makan mewah yang harganya setara dengan gaji seminggu.

Kita menghambur-hamburkan keringat setahun hanya dalam hitungan hari, seolah-olah hari esok tidak akan pernah datang membawa tagihan. Lalu datanglah masa liburan hari raya. Dunia berubah menjadi panggung sandiwara yang indah dan penuh warna. Kita memesan tiket perjalanan dengan harga yang melonjak berkali lipat, menginap di hotel berbintang, dan menjamu keluarga besar dengan kemurahan hati yang meluap-luap.

Di bawah cahaya lampu kota yang gemerlap atau di tengah kehangatan ruang tamu di kampung halaman, kita tenggelam dalam tawa yang lepas. Kita benar-benar lupa pada deadline yang menunggu di kantor, kita lupa pada laporan bulanan yang belum tuntas, dan kita lupa pada wajah atasan yang seringkali menjadi tokoh antagonis dalam mimpi buruk kita.

Kesenangan itu terasa begitu nyata, padahal ia hanyalah sebuah “demo gratis” dari kehidupan yang kita dambakan namun tak pernah benar-benar kita miliki. Kita terjebak dalam euforia semu, merayakan kebebasan di atas fondasi finansial yang rapuh. Kita merasa seolah-olah inilah jati diri kita yang sebenarnya, sosok sukses yang punya kendali penuh atas nasibnya.

Padahal, kita hanyalah tamu di rumah mewah yang sewanya akan segera habis. Waktu adalah pencuri yang paling kejam, dan ia selalu bergerak lebih cepat saat kita sedang bahagia. Malam terakhir liburan selalu terasa lebih dingin dan sunyi. Saat koper mulai dikemas kembali dan bau pelumas mesin kantor mulai terbayang di benak, ada sebuah rasa sesak yang perlahan merayap di dada. Itulah momen ketika tabir fatamorgana itu tersingkap dengan kasar.

Kita tersadar bahwa saldo rekening telah menipis, bahkan mungkin sudah menyentuh batas bawah. Keriuhan hari raya menyisakan sunyi, dan dompet yang tadinya tebal kini hanya menyisakan struk belanja dan nota tagihan yang belum terbayar. Disinilah realita yang paling pahit menghantam; lingkaran setan itu dimulai.

Ketika tabungan ludes dan kebutuhan hidup pasca-lebaran tetap menagih, banyak dari kita yang terjepit dalam keputusasaan. Cicilan motor, sewa kontrakan, hingga biaya sekolah anak tidak bisa menunggu hingga gaji bulan depan turun. Dalam kondisi terdesak ini, harga diri seringkali harus digadaikan.

Kita terpaksa kembali ke hadapan sosok yang selama ini kita hindari, misalnya sang atasan atau pihak perusahaan—bukan untuk memberikan prestasi, melainkan untuk memohon pinjaman atau “kasbon”. Ironi yang luar biasa terjadi di sini. Kita meminjam uang dari sistem yang sebenarnya telah mengeksploitasi kita, hanya untuk bisa bertahan hidup agar bisa terus bekerja bagi mereka.

Utang itu menjadi rantai baru yang mengikat pergelangan kaki kita lebih erat pada kursi kantor. Kita yang tadinya merasa merdeka saat memegang THR, kini justru harus bertekuk lutut dan berjanji akan bekerja lebih keras demi melunasi pinjaman tersebut. Kita bukan lagi sekadar karyawan; kita telah secara sukarela memperpanjang kontrak perbudakan kita sendiri.

Esok paginya, dengan langkah berat, kita kembali mengenakan “seragam perang”. Kita duduk di balik meja yang sama, menatap layar monitor yang masih menyimpan sisa-sisa pekerjaan sebelum cuti. Di sanalah kita kembali pada identitas yang sesungguhnya, seorang budak korporat sejati. Kita kembali menukar waktu, tenaga, pikiran, bahkan kesehatan kita demi angka-angka di neraca perusahaan yang keuntungannya tak pernah benar-benar kita rasakan.

Kita hanyalah roda gigi kecil yang bisa diganti kapan saja dalam mesin raksasa yang tidak akan pernah berhenti berputar. Kelelahan kita adalah bahan bakar bagi mereka, dan kesedihan kita adalah statistik yang tidak berarti. Namun, yang paling menyedihkan adalah bagaimana pikiran kita bekerja.

Di tengah tumpukan tugas yang mulai menggunung dan sisa utang yang menghantui, kita tidak merencanakan cara untuk keluar dari sistem ini. Sebaliknya, kita justru mulai menabung rindu. Kita mulai merajut kembali mimpi yang sama dan menghitung hari demi hari untuk satu tujuan yang jauh di ufuk sana, bertemu kembali dengan THR dan liburan singkat di tahun depan.

Begitulah cara kita bertahan hidup di era modern, dengan memelihara harapan pada kesenangan sementara yang semu, demi melupakan kenyataan bahwa kita terjebak dalam siklus yang tak pernah usai. Kita membeli kebahagiaan setahun sekali dengan harga seluruh kebebasan kita selama sisa tahun tersebut. Sebuah transaksi yang sangat merugikan, namun terus kita lakukan karena kita terlalu takut untuk menghadapi kenyataan bahwa dunia ini tidak memberikan ruang bagi mereka yang tidak punya “tuan”. [T]

Penulis: Reda Subagio
Editor: Adnyana Ole

Tags: hari rayaTHR
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Api yang Tak Pernah Kenyang: Ketika ‘Lobha’ Menjelma dalam Ogoh-Ogoh STT Eka Budhi, Banjar Danginjalan, Guwang, Sukawati 2026

Next Post

Bali: Destinasi Wisata Dunia atau Simpul Energi Nasional? —Sebuah Persimpangan Peradaban

Reda Subagio

Reda Subagio

Perempuan asal Jakarta yang telah lama bekerja dan menetap di Denpasar-Bali

Related Posts

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails
Next Post
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Bali: Destinasi Wisata Dunia atau Simpul Energi Nasional? ---Sebuah Persimpangan Peradaban

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Kuliner

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co