25 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Wastra Hitakara dan ‘Arus Kecil Kebudayaan’ : Diplomasi Subtil dari Tubuh Bali

Hartanto by Hartanto
November 26, 2025
in Gaya
Wastra Hitakara dan ‘Arus Kecil Kebudayaan’ : Diplomasi Subtil dari Tubuh Bali

Dekranasda Bali Fashion Week (DBFW) 2025

Di tengah hiruk-pikuk dunia, khususnya Bali yang sering digerakkan oleh ‘arus besar’ – politik, ekonomi, teknologi – ada gerakan-gerakan kecil yang pelan namun kuat. Gerakan itu lahir dari tubuh masyarakat, dari tangan-tangan perempuan penenun, dari motif-motif yang diwariskan secara lisan. Dari ruang-ruang domestik yang selama ini dianggap sunyi.

Dekranasda Bali Fashion Week (DBFW), yang digagas oleh Ni Putu Putri Suastini istri Gubernur Bali Wayan Koster, adalah salah satu manifestasi dari ‘arus kecil kebudayaan’ tersebut. Ini sebuah diplomasi lembut yang tidak hiruk, tetapi menyentuh. Dan menjadi karya nyata yang ‘bergaung’ serta berguna bagi masyarakat. Disainer yang berpartisipasi pada perhelatan ini antara lain ; Dode Moneko, Anggasari, Rani Ayu, Lusi Damayanti, Wirathi, Yeniati, dan masih banyak lagi.

“Wastra bukan hanya kain. Ia adalah ‘tubuh budaya’ kita. Ia bicara tentang siapa kita, bagaimana kita hidup, dan apa yang kita wariskan,” ujar Putri Suastini dalam pembukaan DBFW 2025. Di balik pernyataan itu, tersimpan kesadaran bahwa kekuatan budaya tidak selalu lahir dari pusat, tapi bisa pula dari pinggiran – dari desa-desa, dari dapur-dapur, dari para penenun atau para perajin di tepian, dari suara-suara yang selama ini tidak terdengar atau tak di dengar.

Konsep yang ada tentang “arus kecil kebudayaan” ini merujuk pada gerakan-gerakan yang tidak ‘spektakuler’, tetapi berdampak cemerlang. Ia tidak lahir dari institusi besar, melainkan dari praktik sehari-hari. Dalam konteks DBFW, ‘arus kecil’ itu adalah para penenun di Sidemen, Klungkung, Nusa Penida, Gianyar, dan lain-lain. Yang selama bertahun-tahun menenun bukan untuk pasar, tetapi untuk ritual, untuk keluarga, untuk hidup. Selain itu, juga para perajin asesori yang tersebar diseluruh Bali.

Ni Luh Sari, penenun dari Sidemen, berkata, “Saya tidak pernah berpikir kain saya akan dipakai di panggung fashion. Tapi sekarang, saya merasa tenunan saya punya suara. Ia bisa bicara kepada dunia.” Suara Ni Luh adalah suara ‘arus kecil’ – suara yang selama ini tenggelam dalam ‘narasi besar’ industri dan estetika global.

Dari sudut pandang relasi antara praktik tradisional dan panggung representasi kontemporer seperti fashion show. Boleh jadi, bagi Ni Luh Sari – yang hidup dalam ritme harian yang intim dengan benang, pewarna alam, dan warisan leluhur – konsep fashion show mungkin terasa asing, bahkan mungkin tidak relevan. Tapi justru di situlah letak ketegangan yang produktif dan lompatan imajinatif bermula.

Fashion show, dalam bentuknya yang paling umum, adalah panggung visual yang menampilkan hasil akhir dari proses panjang produksi busana. Ia sering kali menekankan estetika, tren, dan eksklusivitas.

Sementara itu, bagi penenun seperti Ni Luh Sari, kain bukan sekadar produk, melainkan jejak hidup – mengandung doa, memori, dan relasi ekologis. Maka, ketika kain hasil tenunannya dipakai di atas catwalk, ada semacam dislokasi makna: dari ruang intim ke ruang spektakel.

Namun, apakah ini berarti fashion show tidak layak bagi penenun? Jawabnya layak. Justru pertanyaannya bisa dibalik: bisakah fashion show diimajinasikan ulang agar menjadi ruang yang menghormati ritme, nilai, dan suara para penenun tradisional/ pinggiran?

Menurut saya, pendekatan etis akan menempatkan mereka sebagai mitra sejajar dalam penciptaan makna. Ini bukan soal membawa mereka ke dunia fashion, tapi membawa dunia fashion untuk mendengar dunia mereka. Sehingga fashion show sebagai simbol estetika, tidak mereduksi mereka menjadi ornament, tapi sebuah ‘daya otentik’ tentang eksotika tradisional.

Fashion show mungkin jauh dari jangkauan pemahaman Ni Luh Sari dalam bentuknya yang sekarang. Tapi jika kita bersedia mendengarkan, membongkar struktur representasi, dan menciptakan ruang yang lebih ‘empatik’, maka fashion show bisa menjadi panggung perjumpaan, meramu ‘eksistensi tradisional’ menuju dunia global.

DBFW memberi ruang bagi suara-suara itu. Ia tidak hanya menampilkan busana dan asesori, tetapi juga narasi. Ia tidak hanya merayakan keindahan, tetapi juga keberlanjutan, keadilan, pemulihan, dan ‘denyar kehidupan’.

Dalam dunia yang sering terpecah oleh ideologi dan kepentingan, fashion menawarkan bahasa yang ‘subtil’. Ia tidak memaksa, tetapi mengundang. Ia tidak menggurui, tetapi menyentuh. DBFW yang digelar dari tanggal 1 hingga 7 Nopember 2025 ini menjadikan wastra sebagai medium ‘diplomasi budaya’ yang tidak agresif, tetapi penuh makna, penuh seluruh.

“Kita berdiplomasi melalui keindahan. Melalui motif yang diwariskan, melalui tangan yang menenun, melalui kain yang dipakai dengan hormat,” ungkap Putri Suastini Koster. Dalam pernyataan itu, diplomasi bukanlah negosiasi kekuasaan, tetapi perjumpaan nilai. Ia adalah cara Bali menyapa dunia dengan ‘subtil’, dengan kelembutan.

Seperti kita ketahui, Bali sebagai salah satu tujuan wisata – banyak dikunjungi wisatawan manca negara dengan membawa latar Budaya masing-masing. Akulturasi Budaya terjadi. Budaya luar tersebut, juga berpengaruh pada kain Bali.

Banyak desainer internasional yang tertarik bekerja sama dengan pengrajin lokal Bali, menciptakan produk hybrid yang tetap menghormati akar budaya sambil menjawab selera global.

Pengaruh budaya luar mendorong pengrajin untuk menggabungkan motif tradisional Bali dengan elemen desain yang dibawa oleh para wisatawan. Pengaruh disain tersebut diantaranya dari Jepang, Eropa, atau India, menciptakan kain yang lebih universal dan menarik bagi wisatawan dan dunia global.

Globalisasi memperkenalkan teknik baru seperti eco-print, endek kontemporer, dan pewarnaan alami yang dipadukan dengan teknik tenun tradisional Bali. Proses senyawa Budaya ini mengingatkan analisis sejarawan Denis Lombard.

Dalam buku triloginya “Nusa Djawa Silang Budaya”. Lombard menerapkan pendekatan histoire totale (sejarah total) yang menggabungkan sejarah politik, ekonomi, sosial, budaya, dan simbolik. Busana, menjadi salah satu anasir kajian.

Ia menyusun Jawa sebagai “persimpangan budaya” dengan berbagai lapisan pengaruh: India, Islam, Tionghoa, Eropa, dan lokal. Dalam kerangka ini, busana muncul sebagai salah satu ekspresi visual dari percampuran budaya dan perubahan zaman.

Lombard tidak menulis sejarah dari pusat kekuasaan semata, melainkan juga dari pinggiran yang hidup – dari pasar, pelabuhan, bahasa, dan benda-benda sehari-hari. Dari ‘arus kecil kebudayaan’.

Di antara benda-benda itu, busana hadir bukan sebagai ornamen, melainkan sebagai arsip: sebuah teks yang dikenakan, sebuah narasi yang dibawa tubuh. Sebab, menurutnya busana adalah bahasa yang tak diucapkan, tetapi dibaca melalui warna, lipatan, jahitan, motif, disain dan cara mengenakannya.

Busana, tandas Lombard – dalam kerangka sejarah total bukan sekadar penutup tubuh, tetapi penanda zaman. Ia mencerminkan pergeseran nilai, pertemuan budaya, dan negosiasi identitas. Lombard mencatat bagaimana kebaya, dan kain tradisional menjadi medan tafsir antara lokalitas dan globalitas.

Menurut Lombard, busana menjadi jejak dari pertemuan yang tak pernah selesai – pertemuan yang membentuk tubuh sebagai ruang silang budaya. Ini parallel dengan pendapat Putri Suastini Koster bahwa Wastra Atau kain adalah ‘tubuh budaya’.

.

Interpretasi saya, DBFW bukan hanya soal estetika, tetapi soal ‘arkeologi makna’. Ia mengajak kita untuk melihat tubuh sebagai medan sejarah, dan busana sebagai lapisan-lapisan waktu yang dikenakan.

Dalam semangat Lombard, kita tidak hanya mengumpulkan benda, tetapi menghidupkan narasi. Demikian juga dengan Putri Suastini. Ia tidak hanya memamerkan kain, tetapi membuka ruang dengar bagi sejarah yang subtil, yang berbisik melalui motif, disain, dan kreatifitas tanpa henti. Serta membuka pintu ‘arus kecil kebudayaan’ ke dunia global. Membuka pintu ‘pertarungan global’ bagi para disainer muda Bali.

Desainer muda seperti I Made Arya, yang berkolaborasi langsung dengan penenun lokal, menyatakan, “Saya belajar bahwa inovasi tidak harus datang dari luar. Justru dari motif tua, dari teknik tenun yang nyaris punah, saya menemukan bentuk baru.” Pernyataan Arya menunjukkan bahwa ‘arus kecil’ tidak hanya melengkapi arus besar, tetapi bisa mengubahnya dengan tawaran keindahan.

DBFW menjadi ruang di mana pinggiran menjadi pusat. Di mana perempuan penenun menjadi ‘narator utama’. Di mana kain bukan hanya produk, tetapi peristiwa budaya. Di mana tubuh Bali bicara dengan tubuh dunia – melalui motif, warna, gerak yang cantik, dan eksistensi ilmu pengetahuan leluhur .

Inisiasi yang cemerlang dari  Putri Suastini Koster dengan format ‘arus kecil kebudayaan’ ini, mampu mengundang beberapa individu ‘papan atas’ dari pusat. Ibu kota negara. Diantaranya, Megawati Sukarno Putri, Selvi Ananda Gibran, AA Ayu Heni Rosan, dan lain-lain.

Dekranasda Bali Fashion Week adalah persembahan dari tubuh Bali. Ia lahir dari tangan, dari tanah, dari waktu yang sabar. Ia bukan proyek maha besar, tetapi gerakan pelan yang mengubah cara kita melihat budaya. Ia adalah ‘arus kecil’ yang menolak dilupakan.

Sebagaimana diungkapkan Ni Putu Putri Suastini Koster, “Kita tidak perlu menjadi besar untuk didengar. Kita hanya perlu jujur, tekun, dan penuh cinta.” DBFW adalah bukti bahwa diplomasi budaya bisa lahir dari dapur, dari benang, dari motif yang diwariskan nenek kepada cucu.

Barangkali, yang perlu diperhatikan juga – adalah keberadaan ‘kapital besar’ di Bali, agar tak mendominasi  dan ‘menghalangi’ pertumbuhan ‘arus kecil’ tersebut. Sistem ‘perlindungan’ pada  produksi UMKM perlu dipikirkan, sebagaimana menkeu Purbaya membatasi ekspor pakaian bekas. Upaya Purbaya, salah satunya adalah melindungi eksistensi UMKM, melindungi ‘arus kecil Melalui Wastra Hitakara, Bali menunjukkan bahwa kebaikan bisa ditenun. Bahwa pemulihan bisa dimulai dari kain. Dan bahwa ‘arus kecil kebudayaan’ adalah kekuatan yang paling tahan lama – karena ia lahir dari kehidupan itu sendiri. ‘Arus Kecil Kebudayaan’ ini membuat saya jadi ingat quote  Putri Suastini Koster ;  “Berbuat Hal Kecil dengan Cinta yang Besar”. [T]

Penulis: Hartanto
Editor: Adnyana Ole

Tags: baliDekranasda Bali Fashion WeekfashionkainPutri SuastiniTubuh
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menemui Ka’bah, Perjalanan Haru Menembus Malam: Catatan Umrah [2]

Next Post

‘Dancing With Marya’ Meriahkan ‘2025 Tainan Arts Festival’: Karya Mang Tri dari Menelusuri Kembali Arsip Kebyar Duduk

Hartanto

Hartanto

Pengamat seni, tinggal di mana-mana

Related Posts

Instalasi Panel Surya dan Sertifikasi Green Building: Panduan untuk Pemilik Gedung

by tatkala
July 24, 2026
0
Instalasi Panel Surya dan Sertifikasi Green Building: Panduan untuk Pemilik Gedung

INSTALASI panel surya kini menjadi salah satu strategi yang semakin dipertimbangkan untuk mengendalikan biaya energi, sekaligus memenuhi target keberlanjutan. Saat...

Read moreDetails

Spesifikasi dan Kelebihan Canon Pixma G1010

by tatkala
July 16, 2026
0
Spesifikasi dan Kelebihan Canon Pixma G1010

PADA 30 Januari 2018, Canon Indonesia merilis printer terbaru yakni Printer PIXMA Ink Efficient G series.  Ada lima tipe printer...

Read moreDetails

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
0
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

Read moreDetails

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
0
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

Read moreDetails

5 Kesalahan Fatal Saat Pakai Parfum Wanita —Nomor 3 Paling Sering!

by tatkala
May 29, 2026
0
5 Kesalahan Fatal Saat Pakai Parfum Wanita —Nomor 3 Paling Sering!

MENGGUNAKAN parfum wanita memang jadi cara paling simpel untuk meningkatkan rasa percaya diri dan meninggalkan kesan yang elegan. Tapi, tahukah...

Read moreDetails

‘Dipaning Jayaswara’: Cahaya Baru Jegeg Bagus Tabanan 2026

by Julio Saputra
May 20, 2026
0
‘Dipaning Jayaswara’: Cahaya Baru Jegeg Bagus Tabanan 2026

SEMAKIN malam, semakin meriah juga suasana di Gedung Kesenian I Ketut Marya, pada Jumat, 8 Mei 2016. Tepuk tangan riuh...

Read moreDetails

Antara Proses dan Hasil: Cara Pemain Menentukan Nilai Akun di Valorant

by tatkala
May 4, 2026
0
Antara Proses dan Hasil: Cara Pemain Menentukan Nilai Akun di Valorant

TIDAK semua pemain menikmati perjalanan yang sama dalam game. Ada yang menghargai setiap tahap perkembangan, ada juga yang lebih fokus...

Read moreDetails

HP 12 Jutaan Paling Worth It? —Ini Infinix Note 60 Ultra Harga dan Ulasan Lengkapnya

by tatkala
May 1, 2026
0
HP 12 Jutaan Paling Worth It? —Ini Infinix Note 60 Ultra Harga dan Ulasan Lengkapnya

PASAR ponsel pintar di Indonesia kembali diramaikan oleh kehadiran perangkat yang mendobrak batas kewajaran spesifikasi di kelasnya. Infinix Note 60...

Read moreDetails

Grand Final Pemilihan Duta GenRe Kota Denpasar 2026: Krishna Dananjaya dan Trisna Darmayanti Siap Jadi Figur Remaja Teladan

by Dede Putra Wiguna
April 13, 2026
0
Grand Final Pemilihan Duta GenRe Kota Denpasar 2026: Krishna Dananjaya dan Trisna Darmayanti Siap Jadi Figur Remaja Teladan

A.A Ngurah Agung Krishna Dananjaya dan Komang Trisna Darmayanti resmi terpilih sebagai Winner Duta Generasi Berencana (GenRe) Kota Denpasar 2026....

Read moreDetails

5 Keuntungan Mengubah Footage Drone Menjadi Visual Travel Sinematik 4K

by tatkala
April 6, 2026
0
5 Keuntungan Mengubah Footage Drone Menjadi Visual Travel Sinematik 4K

Teknologi drone telah mengubah cara kita merekam pengalaman perjalanan. Dengan menerbangkan drone, kreator dapat menangkap pegunungan, garis pantai, kota, hingga...

Read moreDetails
Next Post
‘Dancing With Marya’ Meriahkan ‘2025 Tainan Arts Festival’: Karya Mang Tri dari Menelusuri Kembali Arsip Kebyar Duduk

'Dancing With Marya' Meriahkan '2025 Tainan Arts Festival': Karya Mang Tri dari Menelusuri Kembali Arsip Kebyar Duduk

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ibu Memasak di Kota
Esai

Ibu Memasak di Kota

MEMASAK, aktivitas yang sering diidentikkan dengan para ibu, baik yang usianya muda ataupun juga tua. Di kota, saya tidak tahu...

by Angga Wijaya
August 25, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

PROFESOR BAHASA BALI TERBAIK DARI JEPANG  — Kiprah Profesor Mayuko Hara dalam Riset Bahasa Bali Aga Pedawa dan Bahasa Indonesia

— Catatan Harian Sugi Lanus, 25 Agustus 2027 Siapa pakar terbaik Bahasa Bali di Jepang? Jika pertanyaan itu ditujukan ke...

by Sugi Lanus
August 25, 2026
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?
Opini

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan
Panggung

Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan

TANAH LOT kembali menjadi ruang perjumpaan seni, tradisi, dan kuliner dalam Tanah Lot Art & Food Festival ke-7. Festival yang...

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII, Merawat Tradisi Lisan dan Menanamkan Dharma kepada Generasi Muda
Budaya

Utsawa Dharmagita XXXIII, Merawat Tradisi Lisan dan Menanamkan Dharma kepada Generasi Muda

UTSAWA Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 kembali digelar. Itu artinya, lantunan sloka, palawakya, kakawin, kidung, hingga gaguritan kembali...

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]
Tualang

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan
Panggung

Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan

UBUD Writers & Readers Festival (UWRF) 2026 segera digelar. Memasuki tahun ke-23, salah satu festival sastra terbesar dan paling berpengaruh...

by Dede Putra Wiguna
August 25, 2026
Karnaval dan Kemacetan Sosial
Esai

Karnaval dan Kemacetan Sosial

ADA sesuatu yang terasa ganjil setiap kali bulan Agustus tiba. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, umbul-umbul menghiasi gang,...

by Ahmad Fatoni
August 24, 2026
“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup
Ulas Rupa

“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

PADA tahun 2023, terdapat sebuah pameran seni rupa yang mengangkat tentang laut dan ekosistemnya. Pameran tersebut berjudul “Surya Segara Rupa”...

by Savitri Sastrawan
August 24, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [6]: Algoritma sebagai Kurator yang Tak Pernah Membaca

ADA satu paradoks yang jarang diucapkan dalam diskusi tentang ekosistem sastra digital, bahwa kurator terbesar sastra Indonesia hari ini adalah...

by Andre Syahreza
August 24, 2026
105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih
Ekonomi

105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih

PELAKSANAAN Buleleng Festival 2026 resmi ditutup Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra didampingi Wakil Bupati Gede Supriatna dari Panggung Utama Kawasan...

by tatkala
August 24, 2026
Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas
Opini

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dulu sering dianggap seperti menembus gerbang prestise akademik. Seleksinya ketat, persaingannya tinggi, dan keberhasilannya sering...

by I Kadek Adhi Dwipayana
August 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co