Di tengah hiruk-pikuk dunia, khususnya Bali yang sering digerakkan oleh ‘arus besar’ – politik, ekonomi, teknologi – ada gerakan-gerakan kecil yang pelan namun kuat. Gerakan itu lahir dari tubuh masyarakat, dari tangan-tangan perempuan penenun, dari motif-motif yang diwariskan secara lisan. Dari ruang-ruang domestik yang selama ini dianggap sunyi.
Dekranasda Bali Fashion Week (DBFW), yang digagas oleh Ni Putu Putri Suastini istri Gubernur Bali Wayan Koster, adalah salah satu manifestasi dari ‘arus kecil kebudayaan’ tersebut. Ini sebuah diplomasi lembut yang tidak hiruk, tetapi menyentuh. Dan menjadi karya nyata yang ‘bergaung’ serta berguna bagi masyarakat. Disainer yang berpartisipasi pada perhelatan ini antara lain ; Dode Moneko, Anggasari, Rani Ayu, Lusi Damayanti, Wirathi, Yeniati, dan masih banyak lagi.
“Wastra bukan hanya kain. Ia adalah ‘tubuh budaya’ kita. Ia bicara tentang siapa kita, bagaimana kita hidup, dan apa yang kita wariskan,” ujar Putri Suastini dalam pembukaan DBFW 2025. Di balik pernyataan itu, tersimpan kesadaran bahwa kekuatan budaya tidak selalu lahir dari pusat, tapi bisa pula dari pinggiran – dari desa-desa, dari dapur-dapur, dari para penenun atau para perajin di tepian, dari suara-suara yang selama ini tidak terdengar atau tak di dengar.

Konsep yang ada tentang “arus kecil kebudayaan” ini merujuk pada gerakan-gerakan yang tidak ‘spektakuler’, tetapi berdampak cemerlang. Ia tidak lahir dari institusi besar, melainkan dari praktik sehari-hari. Dalam konteks DBFW, ‘arus kecil’ itu adalah para penenun di Sidemen, Klungkung, Nusa Penida, Gianyar, dan lain-lain. Yang selama bertahun-tahun menenun bukan untuk pasar, tetapi untuk ritual, untuk keluarga, untuk hidup. Selain itu, juga para perajin asesori yang tersebar diseluruh Bali.
Ni Luh Sari, penenun dari Sidemen, berkata, “Saya tidak pernah berpikir kain saya akan dipakai di panggung fashion. Tapi sekarang, saya merasa tenunan saya punya suara. Ia bisa bicara kepada dunia.” Suara Ni Luh adalah suara ‘arus kecil’ – suara yang selama ini tenggelam dalam ‘narasi besar’ industri dan estetika global.
Dari sudut pandang relasi antara praktik tradisional dan panggung representasi kontemporer seperti fashion show. Boleh jadi, bagi Ni Luh Sari – yang hidup dalam ritme harian yang intim dengan benang, pewarna alam, dan warisan leluhur – konsep fashion show mungkin terasa asing, bahkan mungkin tidak relevan. Tapi justru di situlah letak ketegangan yang produktif dan lompatan imajinatif bermula.

Fashion show, dalam bentuknya yang paling umum, adalah panggung visual yang menampilkan hasil akhir dari proses panjang produksi busana. Ia sering kali menekankan estetika, tren, dan eksklusivitas.
Sementara itu, bagi penenun seperti Ni Luh Sari, kain bukan sekadar produk, melainkan jejak hidup – mengandung doa, memori, dan relasi ekologis. Maka, ketika kain hasil tenunannya dipakai di atas catwalk, ada semacam dislokasi makna: dari ruang intim ke ruang spektakel.
Namun, apakah ini berarti fashion show tidak layak bagi penenun? Jawabnya layak. Justru pertanyaannya bisa dibalik: bisakah fashion show diimajinasikan ulang agar menjadi ruang yang menghormati ritme, nilai, dan suara para penenun tradisional/ pinggiran?
Menurut saya, pendekatan etis akan menempatkan mereka sebagai mitra sejajar dalam penciptaan makna. Ini bukan soal membawa mereka ke dunia fashion, tapi membawa dunia fashion untuk mendengar dunia mereka. Sehingga fashion show sebagai simbol estetika, tidak mereduksi mereka menjadi ornament, tapi sebuah ‘daya otentik’ tentang eksotika tradisional.
Fashion show mungkin jauh dari jangkauan pemahaman Ni Luh Sari dalam bentuknya yang sekarang. Tapi jika kita bersedia mendengarkan, membongkar struktur representasi, dan menciptakan ruang yang lebih ‘empatik’, maka fashion show bisa menjadi panggung perjumpaan, meramu ‘eksistensi tradisional’ menuju dunia global.
DBFW memberi ruang bagi suara-suara itu. Ia tidak hanya menampilkan busana dan asesori, tetapi juga narasi. Ia tidak hanya merayakan keindahan, tetapi juga keberlanjutan, keadilan, pemulihan, dan ‘denyar kehidupan’.
Dalam dunia yang sering terpecah oleh ideologi dan kepentingan, fashion menawarkan bahasa yang ‘subtil’. Ia tidak memaksa, tetapi mengundang. Ia tidak menggurui, tetapi menyentuh. DBFW yang digelar dari tanggal 1 hingga 7 Nopember 2025 ini menjadikan wastra sebagai medium ‘diplomasi budaya’ yang tidak agresif, tetapi penuh makna, penuh seluruh.
“Kita berdiplomasi melalui keindahan. Melalui motif yang diwariskan, melalui tangan yang menenun, melalui kain yang dipakai dengan hormat,” ungkap Putri Suastini Koster. Dalam pernyataan itu, diplomasi bukanlah negosiasi kekuasaan, tetapi perjumpaan nilai. Ia adalah cara Bali menyapa dunia dengan ‘subtil’, dengan kelembutan.
Seperti kita ketahui, Bali sebagai salah satu tujuan wisata – banyak dikunjungi wisatawan manca negara dengan membawa latar Budaya masing-masing. Akulturasi Budaya terjadi. Budaya luar tersebut, juga berpengaruh pada kain Bali.
Banyak desainer internasional yang tertarik bekerja sama dengan pengrajin lokal Bali, menciptakan produk hybrid yang tetap menghormati akar budaya sambil menjawab selera global.
Pengaruh budaya luar mendorong pengrajin untuk menggabungkan motif tradisional Bali dengan elemen desain yang dibawa oleh para wisatawan. Pengaruh disain tersebut diantaranya dari Jepang, Eropa, atau India, menciptakan kain yang lebih universal dan menarik bagi wisatawan dan dunia global.

Globalisasi memperkenalkan teknik baru seperti eco-print, endek kontemporer, dan pewarnaan alami yang dipadukan dengan teknik tenun tradisional Bali. Proses senyawa Budaya ini mengingatkan analisis sejarawan Denis Lombard.
Dalam buku triloginya “Nusa Djawa Silang Budaya”. Lombard menerapkan pendekatan histoire totale (sejarah total) yang menggabungkan sejarah politik, ekonomi, sosial, budaya, dan simbolik. Busana, menjadi salah satu anasir kajian.
Ia menyusun Jawa sebagai “persimpangan budaya” dengan berbagai lapisan pengaruh: India, Islam, Tionghoa, Eropa, dan lokal. Dalam kerangka ini, busana muncul sebagai salah satu ekspresi visual dari percampuran budaya dan perubahan zaman.
Lombard tidak menulis sejarah dari pusat kekuasaan semata, melainkan juga dari pinggiran yang hidup – dari pasar, pelabuhan, bahasa, dan benda-benda sehari-hari. Dari ‘arus kecil kebudayaan’.
Di antara benda-benda itu, busana hadir bukan sebagai ornamen, melainkan sebagai arsip: sebuah teks yang dikenakan, sebuah narasi yang dibawa tubuh. Sebab, menurutnya busana adalah bahasa yang tak diucapkan, tetapi dibaca melalui warna, lipatan, jahitan, motif, disain dan cara mengenakannya.
Busana, tandas Lombard – dalam kerangka sejarah total bukan sekadar penutup tubuh, tetapi penanda zaman. Ia mencerminkan pergeseran nilai, pertemuan budaya, dan negosiasi identitas. Lombard mencatat bagaimana kebaya, dan kain tradisional menjadi medan tafsir antara lokalitas dan globalitas.
Menurut Lombard, busana menjadi jejak dari pertemuan yang tak pernah selesai – pertemuan yang membentuk tubuh sebagai ruang silang budaya. Ini parallel dengan pendapat Putri Suastini Koster bahwa Wastra Atau kain adalah ‘tubuh budaya’.
.
Interpretasi saya, DBFW bukan hanya soal estetika, tetapi soal ‘arkeologi makna’. Ia mengajak kita untuk melihat tubuh sebagai medan sejarah, dan busana sebagai lapisan-lapisan waktu yang dikenakan.
Dalam semangat Lombard, kita tidak hanya mengumpulkan benda, tetapi menghidupkan narasi. Demikian juga dengan Putri Suastini. Ia tidak hanya memamerkan kain, tetapi membuka ruang dengar bagi sejarah yang subtil, yang berbisik melalui motif, disain, dan kreatifitas tanpa henti. Serta membuka pintu ‘arus kecil kebudayaan’ ke dunia global. Membuka pintu ‘pertarungan global’ bagi para disainer muda Bali.
Desainer muda seperti I Made Arya, yang berkolaborasi langsung dengan penenun lokal, menyatakan, “Saya belajar bahwa inovasi tidak harus datang dari luar. Justru dari motif tua, dari teknik tenun yang nyaris punah, saya menemukan bentuk baru.” Pernyataan Arya menunjukkan bahwa ‘arus kecil’ tidak hanya melengkapi arus besar, tetapi bisa mengubahnya dengan tawaran keindahan.

DBFW menjadi ruang di mana pinggiran menjadi pusat. Di mana perempuan penenun menjadi ‘narator utama’. Di mana kain bukan hanya produk, tetapi peristiwa budaya. Di mana tubuh Bali bicara dengan tubuh dunia – melalui motif, warna, gerak yang cantik, dan eksistensi ilmu pengetahuan leluhur .
Inisiasi yang cemerlang dari Putri Suastini Koster dengan format ‘arus kecil kebudayaan’ ini, mampu mengundang beberapa individu ‘papan atas’ dari pusat. Ibu kota negara. Diantaranya, Megawati Sukarno Putri, Selvi Ananda Gibran, AA Ayu Heni Rosan, dan lain-lain.
Dekranasda Bali Fashion Week adalah persembahan dari tubuh Bali. Ia lahir dari tangan, dari tanah, dari waktu yang sabar. Ia bukan proyek maha besar, tetapi gerakan pelan yang mengubah cara kita melihat budaya. Ia adalah ‘arus kecil’ yang menolak dilupakan.
Sebagaimana diungkapkan Ni Putu Putri Suastini Koster, “Kita tidak perlu menjadi besar untuk didengar. Kita hanya perlu jujur, tekun, dan penuh cinta.” DBFW adalah bukti bahwa diplomasi budaya bisa lahir dari dapur, dari benang, dari motif yang diwariskan nenek kepada cucu.
Barangkali, yang perlu diperhatikan juga – adalah keberadaan ‘kapital besar’ di Bali, agar tak mendominasi dan ‘menghalangi’ pertumbuhan ‘arus kecil’ tersebut. Sistem ‘perlindungan’ pada produksi UMKM perlu dipikirkan, sebagaimana menkeu Purbaya membatasi ekspor pakaian bekas. Upaya Purbaya, salah satunya adalah melindungi eksistensi UMKM, melindungi ‘arus kecil Melalui Wastra Hitakara, Bali menunjukkan bahwa kebaikan bisa ditenun. Bahwa pemulihan bisa dimulai dari kain. Dan bahwa ‘arus kecil kebudayaan’ adalah kekuatan yang paling tahan lama – karena ia lahir dari kehidupan itu sendiri. ‘Arus Kecil Kebudayaan’ ini membuat saya jadi ingat quote Putri Suastini Koster ; “Berbuat Hal Kecil dengan Cinta yang Besar”. [T]
Penulis: Hartanto
Editor: Adnyana Ole



























