MUNGKIN terdengar aneh, seseorang yang awalnya tidak terbiasa membaca dan menulis, tapi lewat jalan pendidikan yang cukup berliku, ia akhirnya ketagihan membaca, menulis, dan aktif dalam pelatihan jurnalistik.
Itulah yang dialami oleh Putu Bela Inggrid Cahyanti (17) ─ akrab disapa Bela ─ siswi SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam). Ia yang awalnya tak suka membaca dan menulis, kini justru berhasil menjadi juara satu dalam lomba menulis feature (berita kisah) tingkat SMA/K se-Bali.
Pada Jumat, 24 Oktober lalu, dalam ajang Pekan Jurnalistik UPMI Bali 2025, Bela berhasil keluar sebagai juara satu lomba menulis feature, setelah melewati dua tahap: penilaian naskah dan presentasi karya. Kemenangan itu mengejutkan banyak pihak, termasuk dirinya sendiri.
“Saya nggak nyangka bisa menang. Soalnya nggak suka baca, nggak suka nulis. Dan, ternyata menang. Itu rasanya luar biasa. Saya kira bakat saya bukan di sini, tapi ternyata saya bisa,” ujarnya, tersenyum.

Bela tinggal di Jimbaran, Badung. Tetapi, ia adalah gadis kelahiran Singaraja, 11 Oktober 2008, dan besar di Desa Munduk, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng. Ia menempuh pendidikan di TK Kumara Giri Wanagiri, SD Negeri 6 Munduk, SMP Negeri 2 Banjar Desa Kayu Putih, dan kini melanjutkan pendidikan di Jurusan Farmasi Klinis dan Komunitas, SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar.
Selama bersekolah, Bela tinggal di asrama, karena orang tuanya tidak mengizinkannya ngekos. “Orang tua takut saya salah pergaulan, apalagi saya anak tunggal,” katanya.
Putri dari pasangan Putu Ary Adnyana dan Luh Dian Wismayani ini mengaku sempat bimbang menentukan sekolah saat hendak melanjutkan pendidikan menengah.
“Awalnya saya mau jadi polwan. Bapak juga ingin punya anak polwan. Tapi saya banyak keraguan. Akhirnya saya masuk ke jurusan farmasi. Kebetulan tante saya yang bekerja di bidang itu, bilang peluangnya besar,” ucap gadis berambut pendek itu.

Bela juga mengaku sempat berniat bersekolah di salah satu SMA di Singaraja. Namun karena satu dan lain hal, ia justru berakhir di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar. Di sanalah jalan hidupnya mulai berbelok ─ secara perlahan namun berarti.
“Dulu sempat menyesal, sempat mikir salah jurusan karena merasa nggak cocok di Kesehatan. Tapi makin ke sini, mulai nyaman. Mungkin, memang jalannya ke sini,” ungkapnya.
Kendati demikian, cita-citanya menjadi polisi wanita belum sepenuhnya padam. “Setelah lulus nanti, saya mau coba daftar polwan dulu. Kalau nggak berhasil sekali, saya lanjut kuliah di bidang farmasi, sambil bekerja kalau bisa,” jelasnya.
Di sekolah, kini Bela aktif dalam berbagai kegiatan, termasuk kegiatan tulis-menulis. Ia tergabung dalam ekstrakurikuler Paskibra, klub membaca, dan jurnalistik. Dari semua kegiatan itu, justru jurnalistiklah yang membuka jalan baginya untuk mengenal dunia tulis-menulis.
“Awalnya saya ikut jurnalistik karena suka ngedit dan bikin desain. Tapi lama-kelamaan saya jadi terbiasa membaca dan mulai suka menulis,” katanya.
Melalui kegiatan jurnalistik di sekolah, Bela mulai belajar menulis berita, cerpen, laporan kegiatan, dan feature. Ia juga beberapa kali mengikuti lomba news anchor, esai dan Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI), meski hasilnya belum memuaskan.
“Dulu sering ikut lomba, tapi paling mentok juara harapan, atau terkadang hanya berharap juara,” ujarnya, tergelak.

Kemenangan di lomba feature kali ini menjadi titik balik. Ia merasa perjuangan dan pembelajarannya selama ini terbayarkan. Dalam lomba itu, Bela menulis feature profil tentang guru Bahasa Indonesia sekaligus pustakawan di sekolahnya, yang berjudul: “Hasbi Romadhoni, Sang Penjaga Literasi di Sebelah Kantin”. Ceritanya sederhana, barangkali sangat sederhana dibanding peserta lain. Namun, tak disangka, kisah sederhana itu berhasil mengantarkannya menjadi juara satu pada lomba tersebut.
“Saya ikut lomba feature ini awalnya cuma coba-coba. Tapi ternyata hasilnya di luar dugaan. Padahal waktu nulis, saya banyak bingung dan naskahnya baru selesai mendekati hari pengumpulan,” ungkap Bela.
Bela mengaku sangat terbantu oleh bimbingan pembina jurnalistik di sekolahnya. Sang pembina sering memberikan nasihat sederhana, namun bermakna.
“Kata pembina saya, rajin-rajinlah menulis. Tidak harus jadi penulis untuk bisa menulis. Bisa saja jadi apoteker yang bisa menulis, atau perawat yang bisa menulis,” katanya menirukan pesan gurunya.
Ucapan itu ternyata menjadi penyemangat tersendiri bagi Bela. Ia mulai menyadari bahwa menulis bukan soal profesi, tapi soal kemauan dan kebiasaan. Kini, ia perlahan menemukan kesenangan dalam dunia yang dulu ia hindari, bahkan takuti.
“Sekarang saya mulai suka menulis cerpen, berita-berita untuk jurnalistik sekolah, dan suka baca-baca fiksi juga,” tuturnya dengan semangat.

Di balik penampilannya yang tenang, Bela dikenal sebagai sosok yang cerdas, kreatif, dan tekun. Sebagai seorang gadis yang berambut pendek dan berkacamata, membuatnya tampak seperti siswi yang penuh keseriusan. Namun tidak sepenuhnya demikian. Di balik itu, ia menyimpan rasa ingin tahu yang besar dan semangat untuk terus belajar.
“Menulis itu ternyata menyenangkan. Saya bisa cerita banyak hal tanpa harus ngomong,” katanya pelan, menutup perbincangan.
Keberhasilan Bela dalam lomba menulis feature menjadi contoh bagaimana minat dapat tumbuh lewat proses dan peluang. Dari yang awalnya tidak tertarik membaca dan menulis, ia kini berhasil menunjukkan kemampuannya di bidang jurnalistik. Hal tersebut memperlihatkan bahwa dengan bimbingan dan lingkungan yang mendukung, setiap siswa memiliki peluang untuk menemukan potensi terbaiknya. [T]
Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole
BACA JUGA:



























