SETELAH hampir tujuh tahun sejak album terakhir mereka, Scared Of Bums (SOB) akhirnya kembali bangkit ke permukaan. Lewat perhelatan bertajuk “Before It Burns”, unit punk rock asal Denpasar ini siap menggebrak lagi — bukan cuma sebagai band yang rindu panggung, tapi sebagai api lama yang menemukan nyalanya kembali.
Bagi SOB, Before It Burns bukan sekadar ajang dengar lagu baru. Ini pesta tentang bertahan hidup, menua bersama amarah, dan belajar berevolusi tanpa kehilangan taji. “Sudah lama kami nggak bikin acara sendiri, dan orang-orang masih terpaku di dua album terakhir. Sekarang saatnya bergerak maju lagi,” ungkap Eka Janantha alias Bo-Care, vokalis sekaligus gitaris SOB.
Acara yang akan dilaksanakan pada Jumat malam, 31 Oktober 2025 di Berbagi Kopi Peguyangan ini juga jadi momentum perkenalan delapan materi baru, fondasi album keempat yang mulai digodok sejak lama. “Dulu album pertama sempat ‘bocor’ ke warnet, tapi justru dari situ banyak orang kenal SOB. Kali ini kami sengaja kasih bocoran lebih dulu, biar yang datang jadi saksi pertama,” tambah Nova Fuxnbumz, drummer SOB sambil tertawa.

Before It Burns: Sebelum Menyala, Mari Dengarkan
Judul Before It Burns punya dua sisi. Secara harfiah, “burn” berarti proses duplikasi audio ke medium fisik atau digital. Tapi di level yang lebih simbolik, ini semacam mantra: sebelum semuanya benar-benar menyala dan dilempar ke publik.
“Konsep Pesta Sesi Dengar ini muncul dari keinginan untuk bikin sesuatu yang berbeda. Bukan sekadar tampil di panggung, tapi menciptakan ruang yang lebih dekat: ngobrol, ngerokok, dan mendengarkan bareng,” jelas Arx Bums, bassist SOB.
Delapan lagu baru yang dibocorkan malam itu tetap bernafas punk, cepat, keras, tapi kini dengan denyut yang lebih introspektif. “Tema besar album ini tetap tentang amarah, tapi bukan marah yang kosong. Ada kecewa, ada sedih, tapi semua itu jadi bahan bakar untuk jalan terus,” ucap Eka Paramatha alias Poglak, gitaris SOB.
Secara musikal, SOB bermain lebih dinamis tanpa kehilangan identitasnya. “Kami ubah beberapa nada dasar, nambah referensi baru, tapi tetap menjaga beat dan rasa yang khas SOB: keras, jujur, tapi punya kedalaman,” lanjut Nova Fuxnbumz.
Di balik dapur rekaman, SOB menggandeng Utha Kusuma Widhiana sebagai music director di beberapa lagu. “Utha bantu kami lihat SOB dari sisi yang lebih segar,” ujar Bo-Care.
Kolaborasi juga datang dari Man Angga dan Guna Warma alias Kupit (Nosstress) yang ikut membantu kurasi lirik dan melodi untuk salah satu lagu. Tapi seperti biasa, jalan menuju album baru tak pernah mulus.
“Berantem terus, makanya prosesnya lama. Tapi itu bagian dari perjalanan. Kami belajar lagi menyatukan kepala yang udah beda-beda arah, tapi masih punya akar yang sama,” ungkap Arx Bums.
Dan dari benturan-benturan itu, justru muncul hangatnya kebersamaan. “Waktu sesi demo malah lebih banyak ngobrol ketimbang rekaman. Tapi di situ chemistry-nya balik. Kami sadar: SOB bukan cuma band, ini keluarga,” ujar Poglak.

Punk, Tetap DIY, Tetap Hidup
Lebih dari 15 tahun berkarier, SOB masih tegak dengan semangat punk DIY (Do It Yourself) yang membesarkan mereka. “Kami masih urus semua sendiri. Dari konsep, teknis, sampai detail produksi, dibantu tim yang udah kayak saudara,” tutur Bo-Care.
Dalam Before It Burns, SOB menggandeng ALUHSUN dan Rock The Beat Music Studio sebagai tim produksi utama, dengan dukungan teknis dari Harmonic Labs dan Telaga Swara. Dokumentasi dipercayakan pada Soca Creative, sementara energi komunitas mengalir dari Go Ahead Music, Berbagi Kopi, Sloji, dan Cheapy Eyewear.
“Kolaborasi lintas komunitas itu penting banget. Apalagi di Bali, semua tumbuh dari kultur kebersamaan. Itu yang bikin energi skena tetap hidup,” kata Nova Fuxnbumz.
SOB masih berteriak lantang tentang keresahan sosial dan perlawanan, tapi kini dengan kedewasaan yang tak menghilangkan taring. “Identitas punk kami nggak hilang, tapi kali ini kami menyampaikannya dengan cara yang lebih jujur dan personal,” ujar Poglak.
Before It Burns bukan sekadar acara musik. Ia adalah perayaan keberanian dan kebersamaan — antara SOB, komunitas musik, dan para pendengar yang tumbuh bersama mereka hampir dua dekade lamanya.
“Acara ini bukan cuma buat kami, tapi buat semua yang lagi berjuang mulai lagi dari awal. Kami masih di sini, masih berapi-api, dan masih punya banyak hal untuk diteriakkan,” pungkas Bo-Care dengan nada bersemangat.
Setelah pesta ini, Scared Of Bums (SOB) bersiap melanjutkan perjalanan menuju album penuh keempat mereka, dimulai dengan perilisan single baru dalam waktu dekat.
Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole



























