6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ritus Maplengkungan dan Semburat Kenangan

Putu Eka Guna Yasa by Putu Eka Guna Yasa
October 15, 2025
in Esai
Ritus Maplengkungan dan Semburat Kenangan

Ritus Maplengkungan

BULAN merangkak diam-diam ke arah barat. Sementara rumput-rumput menggigil didekap embun. Daun nagasari yang biasa ceria menjadi pucat. Ia kehilangan nyala ditelan malam.

Meski sebagian anak telah tertidur pulas di pangkuan ibu atau neneknya yang telah lusuh dalam balutan pakaian adat, gambelan tak berhenti dimainkan para lelaki yang ujung destarnya sudah melunglai. Tempo ketukan mereka melambat karena sedari subuh sudah menabuh. Sesekali mereka harus menaikkan irama karena dua orang tengah mengadu tombak di depannya. Kalau jujur, mereka pasti lelah. Namun, satu kewajiban menjaga nafas tradisi tak mungkin ditinggalkan dan ditanggalkan di sasih kapat (Oktober-November) yang istimewa. Dalam suasana musim semi yang sesekali disambut gerimis, bunga-bunga mekar merekah, kala itulah tradisi matata gama atau maplengkungan [maplәṅkuṅan] dilakukan oleh krama Banjar Selat Tengah, Susut, Bangli.

Ritus ini adalah rangkaian tak terpisahkan dari piodalan di Pura Penataran Bale Agung banjar setempat yang berulang saban tahun. Secara lebih khusus, ritus digelar pada hari ke empat dari lima hari rangkaian upacara atau sehari sebelum Ida Bhatara ngluhur/nyimpen ‘kembali ke kahyanganNya’.

Malam ini, Bale Agung biasanya ditata cantik. Pada bagian atas, tampak tegenan dengan aneka buah sebagai cermin hasil terbaik dari tetes keringat para petani di masa lalu yang tekun mengolah tanah. Walaupun kini sebagian besar buah itu telah dibeli, tradisi tak diputus. Maka, segagah busana Bale Agung, krama banjar yang berasal dari 52 pekarangan juga tak mau kalah. Mereka berkumpul di jaba tengah pura sembari mengganti busana. Ikat kepala yang semula dipintal pada bagian depan dengan ujung menengadah ke atas diubah menjadi udeng lilit yang ujungnya menjuntai ke bawah. Sementara itu, kamen yang dikenakan di bagian bawahnya menyerupai busana Bhīma yang lebih dikenal dengan sebutan kancut mabulet. Keris dengan gagang kebanggaan sudah pasti menyelip di bagian bawah pinggang. Dengan busana itu, mereka seperti seorang prajurit yang tak akan mundur ketika menghadapi musuh-musuhnya di medan tempur.

Halaman Pura Panataran yang luas adalah arena yang ideal untuk ritus ini. Pura tersebut di bagian jeroan sesungguhnya dibagi menjadi dua. Masyarakat Selat Tengah biasa menyebut dengan nama Puri Kawanan dan Puri Kanginan. Perbatasannya ditandai dengan pohon nagasari yang selalu tumbuh dari generasi ke generasi.

Apabila dauh waktunya sudah tepat, Dulu Pamucuk [pucuk pimpinan upacara] akan memulai rangkaian ritus dengan memohon anugerah kepada Ida Bhaṭāra Śakti Bhūjangga yang berstana di Puri Kanginan diiringi oleh para peserta. Setelah itu, mereka memohon anugerah kepada Ida Bhaṭāra Uluning Bale Agung, tempat digelarnya ritus maplengkungan.

Usai memohon izin kepada beliau yang menjadi penguasa ruang, para peserta akan memohon tirta penglukatan kepada seluruh dewata yang berstana di Pasamuhan sebelum naik ke Bale Agung yang disucikan. Selanjutnya, dengan tuntunan Dulu Pamucuk, para peserta kembali menuju ke Puri Kawan untuk memohon anugerah dari Ida Bhaṭāra Dalem Pingit. Usai memohon wara nugraha kepada Ida Bhaṭāra Dalem, mereka kembali menuju ke Puri Kanginan untuk memohon anugerah kepada Ida Sang Hyang Aji Saraswatī berupa ceciri apuh atau pamor. Setelah selesai mendapatkan caciri, para peserta akan mengiringi Dulu Pemucuk membawa pasepan menuju ke Bale Agung.

Setiba di Bale Agung, Dulu Pamucuk mengambil keris untuk menghitung malang [nasi] yang akan didapatkan oleh para peserta. Kala itu, para peserta akan dibagi menjadi dua. Satu bagian menempati arah timur Bale Agung berdiri, sedangkan yang menempati posisi di sebelah barat Bale Agung tetap duduk.

Ketika proses penghitungan tengah berlangsung, dua orang teruna bunga melaksanakan pedargitan yang dipilih oleh Dulu Malinggih. Dalam sayup-sayup tembang yang dilantunkan spontan oleh dua orang yang baru beranjak dewasa itu, di Bale Agung acara dilanjutkan dengan persiapan memakan labaan. Sebelumnya para peserta telah membersihkan tangannya menggunakan toya procot yang telah disajikan. Nasi yang dikenal bernama nasi bira (nasi berwarna putih dan kuning) dengan lauk ikan sungai/be luah (isin tukad seperti udang yuyu be nyalian) dan saur siap dinikmati. Usai menyantap nasi bira, para peserta melengkapinya dengan menenggak tuak dan arak menggunakan daun pisang yang dibentuk seperti gelas bernama selanggi. Setelah tubuh para peserta menjadi sedikit hangat dengan dua minuman itu, para peserta lalu menyusur lekesan (sirih, pinang, dan kapur). Pada bagian akhir persiapan, mereka menyuntingkan bunga pucuk bang. Dengan memohon anugerah kepada Bhaṭāra Tulak Senjata berupa keris yang berstana di Pura Penataran, krama Banjar Selat Tengah yang mengikuti ritus maplengkungan secara simbolis telah siap melaksanakan ‘peperangan’.

Melalui pengamatan terhadap keseluruhan ritus, para penabuh secara intuitif biasanya menaikkan irama gambelan senada perang.

Sementara itu, di Bale Agung, Dulu Malinggih mengambil canang rebong sebagai tanda perang telah dimulai. Usai canang rebong, beliau yang menjadi kelompok pemimpin spiritual di tingkat banjar ini mengambil sate kelupak untuk diadu. Terakhir, beliau juga menarikan hulu babi (kepala babi).

Simbolisme perang yang dilakukan menggunakan kepala babi oleh para Dulu Malinggih ini menjadi pertanda ritus maplengkungan telah dimulai untuk selanjutnya dilakoni oleh seluruh krama banjar. Sekali lagi, ada 52 peserta yang mengikuti ritus matatagama ini. Meski seharusnya semuanya ikut, sesuai dengan firasat dan kendala lain seperti sakit, peserta diperkenankan untuk tidak berpartisipasi.

Ketika ritus maplengkungan telah dimulai, satu pasang krama yang berasal dari sisi timur dan barat Bale Agung mementaskan atraksi ‘perangnya’. Tak ada durasi yang mengatur ritus ini. Mereka bebas menentukan sesuai keinginan pasangan masing-masing. Tak jarang, meskipun suasana menyerupai perang, mereka mementaskan atraksi yang mengundang tawa semua orang. Yang lebih serius, biasanya saling kejar, bergulat, beradu tombak, dan yang lainnya. Setiap orang memiliki ciri khasnya yang hampir selalu sama saban tahun. Maka para penonton ritus ini sesungguhnya sudah punya idolanya masing-masing yang akan dinanti untuk beratraksi.

Riuh sorai penonton diiringi dengan tempo gambelan membuncah semangat para krama untuk menunjukkan tarian terbaik sesuai versinya. Tak sedikit pula yang masih malu-malu karena kehilangan gaya setiba di kalangan.

Ia yang kehilangan tarian, mengundang tawa setiap peserta.

Itulah ritus maplengkungan yang diakhiri dengan memohon tirta penayuh kepada Ida Batara Dalem Pingit dan Bale Agung. Hampir sekitar 3 jam upacara ini berlangsung hingga pagi menjelang. Letih krama banjar yang melakukan upacara selama empat hari mengalami katarsis sepenuhnya melalui ritus ini. Meski ritus serupa tari perang, tak ada dendam yang melekat di hati para peserta selepas acara. Mereka kembali ke kehidupan keseharian sebagai penakik kayu, pengukir paras dan pasir, pengayuh cangkul dan yang lebih beruntung sebagai pegawai pemerintahan.

Tak ada yang tahu pasti kapan ritus ini dimulai dan apa gagasan yang ada di baliknya. Warga masyarakat Banjar Selat Tengah yang secara historis diyakini berasal dari wilayah pegunungan utara Bali, tepatnya di wilayah Kintamani boleh jadi memanifestasikan ritus ini sebagai bentuk perang yang mereka lakukan pada masa silam.

Konon, menurut penuturan satu babad, masyarakat yang tinggal di perbatasan Bangli dan Gianyar ini dulunya adalah pasukan khusus bernama Sikep Batur. Mereka bermigrasi dari wilayah asalnya karena ada permintaan Raja Bangli kepada sugra pakulun Dewi Danu untuk untuk menghalau perluasan kekuasaan Raja Gianyar. Setelah serangan Gianyar berhasil diredam dengan menempatkan Sikep Batur di perbatasan, pasukan itu tetap tinggal di wilayah yang kini bernama Selat Tengah.

Dengan latar beranasir mitohistoris ini, sangat masuk akal apabila hingga kini masyarakat Banjar Selat Tengah mewarisi sistem yang khas Bali Mula atau Bali Aga, yaitu Ulu Apad (sistem adat berbasis pengalaman dan senioritas keahlian).

Tentu modifikasi pasti terjadi mengingat jumlah warga yang terbatas dan kewajiban yang dipikulnya. Sistem Ulu Apad di banjar ini hanya teridiri atas Dulu Malinggih, Dulu Teben, Tampul, dan krama desa yang berbeda dengan tatanan Ulu Apad yang ada di Batur, Bayung Gede, Sukawana, dan yang lainnya. Tatanan Ulu Apad inilah yang menyebabkan ritus maplengkungan juga disebut sebagai matatagama. Kata agama di sini tidak berarti agama, tetapi lebih ke tatanan pemerintahan adat yang berbasis senioritas dengan landasan spiritual.

Lantas apa makna kata maplengkungan?

Geguritan Megāntaka sebagai salah satu karya sastra berspirit panji memuat kata ini dalam salah satu adegan ketika Raja Megāntaka ingin menikahi Dewi Ambarasari. Raja Megāntaka sendiri bukan pasangan sejati Dewi Ambarasari, melainkan Raden Panji.

Dalam suasana pernikahan itulah Raja Megāntaka menggelar acara palengkungan di istana. Teksnya menyatakan sebagai berikut. Tan kocapan Rahaden prihatin, kawarna Raden Megantaka, rahina wĕngi kayune, Raden Dewi kagulgul, kaajakin ike ida kedeh tan arsa, yan kalaning rauh, raris sungkan pramangkin, pasemengan, I Megantaka duk tinangkil, ngadayang papelengkungan. [Geguritan Megantaka, Pupuh Dangdang Gula: 13].

Pada saat maplengkungan berlangsung, para pemuda diikutsertakan untuk datang ke istana (tarunane katedunang sami, kabencingah marowang-rowangan). Sorak sorai orang yang menonton memenuhi alun-alun. Mereka yang datang berasal dari semua kalangan.

Meski sangat samar-samar, adegan paplengkungan yang digambarkan dalam karya sastra ini menunjukkan bahwa maplengkungan adalah suatu pergelaran yang sempat populer pada zamannya. Pergelaran apakah bentuknya? Berdasarkan penjelasan Kidung Sundāyana kita tahu bahwa paplengkungan adalah jenis pertarungan tombak (yang ujungnya terbungkus dari cambuk).

Penjelasan kedua karya sastra tersebut relevan dengan ritus maplengkungan yang hingga kini dan saat ini dilangsungkan sebagai simbolisme perang oleh masyarakat Banjar Selat Tengah.

Jika dulu mereka berperang dalam kenyataan, kini pertempuran itu tersaji dalam pergelaran. Begitulah cara masyarakat merawat memori kolektifnya agar tidak karam ditadah zaman.

Kepada seseorang yang kini maplengkungan di alamNya. Tulisan ini saya persembahkan dari negeri yang sangat jauh. [T]

Paris, 9 Oktober 2025

Penulis: Putu Eka Guna Yasa
Editor: Adnyana Ole

Tags: Hindu Baliritussastra baliupacara
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Melepaskan, Membahagiakan…

Next Post

9 Mata Lomba, 370 Peserta — Utsawa Dharma Gita se-Bali Digelar 24-29 Oktober 2025

Putu Eka Guna Yasa

Putu Eka Guna Yasa

Pembaca lontar, dosen FIB Unud, aktivitis BASAbali Wiki

Related Posts

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
0
Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

Read moreDetails

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

Read moreDetails

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
0
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

Read moreDetails

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

Read moreDetails

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
0
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

Read moreDetails

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
0
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

Read moreDetails

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

Read moreDetails

Suryak Siu

by Dede Putra Wiguna
March 2, 2026
0
Suryak Siu

DALAM bahasa Bali, ‘suryak’ berarti bersorak dan ‘siu’ berarti seribu. ‘Suryak siu’ secara harfiah berarti ‘sorakan seribu’ ─ gambaran tentang...

Read moreDetails

Konflik Iran dan Ujian Kedewasaan Diplomasi Indonesia

by Elpeni Fitrah
March 2, 2026
0
Refleksi di Hari Media Sosial Nasional

SAYA menulis ini pada Minggu, 1 Maret 2026, tepat sehari setelah dunia dikejutkan oleh serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel...

Read moreDetails

Tatkala Duta Pariwisata Indonesia Mengulik Bali

by Chusmeru
March 1, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MENJELANG tutup tahun 2025 jagat media sosial diramaikan dengan unggahan video yang mengabarkan Bali sepi wisatawan. Langsung saja memicu perdebatan....

Read moreDetails
Next Post
9 Mata Lomba, 370 Peserta — Utsawa Dharma Gita se-Bali Digelar 24-29 Oktober 2025

9 Mata Lomba, 370 Peserta -- Utsawa Dharma Gita se-Bali Digelar 24-29 Oktober 2025

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co