Buddha Kĕcapi[i] merupakan judul salah satu lontar pengobatan yang dikenal luas oleh para pengusadha di Bali. Judul ini didasarkan atas tokoh utama dalam lontar tersebut yang bernama Buddha Kĕcapi. Ia adalah seorang ahli penyakit, pendiagnosa yang akurat, dan penyembuh dengan kemampuan yang utuh dalam ramuan serta berbagai teknik pengobatan.
Kekuatan yang dimiliki Buddha Kĕcapi tidak dapat dilepaskan dari usaha keras dan keteguhanya dalam menggelar tapa, brata, yoga, dan samadhi di kuburan. Puja yang dipanjatkannya dengan penuh keheningan hati ternyata bisa membelah celah bumi hingga sampai di tujuh lapisan tanah (sapta patala) dan menembus tujuh lapisan atmosfer (sapta loka). Hal inilah yang menyebabkan Bhaṭāra Śiwa tergetar lalu berkenan turun ke Cungkub Kahyangan Dalĕm. Dari tempat itu, beliau memerintahkan Bhaṭāra Hyang Nini Dalĕm (Durga) menuju tempat pembakaran di kuburan (setra pangĕsĕngan) untuk memberikan anugerah kepada Buddha Kĕcapi.
Setelah bertemu langsung dengan Buddha Kĕcapi di kuburan, Bhaṭāra Nini Dalĕm merasa kasihan kepada pertapa itu karena telah sekian lama bersamadhi. Bahkan, dengan kukuh menjadikan kuburan yang angker seperti rumahnya sendiri. Atas tapanya yang mahaberat, Bhaṭāra Nini Dalĕm memberikan sejumlah anugerah sesuai permohonan Buddha Kĕcapi.
Anugerah tersebut berupa pengetahuan tentang hakikat semesta raya dan semesta di dalam diri (bhuwana agung mwang bhuwana alit); batin yang sempurna sakti sehingga tak terkalahkan (wyadnyane siddi śakti). Buddha Kĕcapi juga memohon ajaran tentang berbagai jenis penyakit (katattwaning lara) seperti desti, tĕluh, tarañjana, tiwang, moro, pamala pamali dĕngĕn pitra dewa, termasuk berbagai jenis racun berupa upas, wiṣya, mraṇa dan wiṣya mandhi. Untuk melengkapi pengetahuannya, ia memohon keahlian mendiagnosa (tatĕngĕr pati urip). Terakhir, ia juga meminta perkenan Bhaṭāra Nini Dalĕm agar memberikan limpahan kekuatan berupa tuah atas segala ucapan (siddhi ngucap).
Mendengar permintaan itu, Bhaṭāra Nini Dalĕm lalu merajah lidah Buddha Kĕcapi sebagai kedudukan Hyang Saraswatī. Pada saat yang bersamaan, Śakti Śiwa tersebut juga membentangkan ajaran tentang hakikat aksara kepada Buddha Kĕcapi. MenurutNya, aksara-aksara yang tersebar di seluruh tubuh bisa dijadikan sarana oleh seorang pengusadha untuk menjaga diri pada saat mengobati dan mempercepat proses penyembuhan seseorang.
Anugerah Bhaṭāra Nini Dalĕm tersebut diabdikan oleh Buddha Kĕcapi untuk membantu masyarakat dalam dunia pengobatan sehingga ia semakin dikenal sebagai pengusadha yang katham dalam seluk beluk kesehatan.
Kalimoṣadha dan Kalimoṣadhi
Kemampuan ini pula yang menyebabkan dua orang pengusadha lain bernama Kalimoṣadha dan Kalimoṣadhi menjadikannya guru. Sebelumnya, dua orang balian laki-laki yang berasal dari Desa Lĕmah tulis tersebut sempat kehilangan kemampuannya dalam menyembuhkan penyakit. Padahal, Sang Kalimoṣadha sangat termasyur tak pernah gagal dalam menyembuhkan pasien-pasiennya. Demikian pula Sang Kalimoṣadhi, ia selalu berhasil dalam mengobati orang yang terkena racun. Kekurangan mereka berdua hanya satu, yaitu tidak menguasai pengetahuan tentang mendiagnosa penyakit (tan wruh ri patngeraning gring).
Suatu ketika, Sang Kalimoṣadha diminta untuk membantu seseorang bernama Śrī Antaka yang sedang terkena penyakit parah. Seorang utusan datang ke rumah Sang Kalimoṣadha untuk memohon agar ia pergi ke tempat Śrī Antaka. Sang Kalimoṣadha tidak menolak. Sesampai di rumpah pasien, ia segera memberikan ramuan berupa param dan menyemburnya. Setelah beberapa saat, ternyata orang yang bermaksud disembuhkan justru meninggal dunia. Betapa sedih Sang Kalimoṣadha melihat kenyataan bahwa ramuan yang diberikannya tidak berhasil membantu menyembuhkan penyakit yang diderita Śrī Antaka, tetapi sebaliknya justru membuat pasiennya itu kehilangan nyawa.
Kejadian serupa juga dialami Sang Kalimoṣadhi. Ia yang terkenal sangat ahli dalam ilmu racun sempat mendapat undangan untuk mengobati seorang perempuan tua bernama Śrī Dani. Setelah memeriksa kepala dan kaki, Sang Kalimoṣadhi menyatakan bahwa Śrī Dani terkena racun. Ia menyatakan racun seperti ini sudah biasa ditangani dan disembuhkannya. Kala itu dengan cekatan Sang Kalimoṣadha meracik ramuan dan param serta obat sembur untuk segera menyembuhkan perempuan tua yang tengah kesakitan di hadapannya. Akan tetapi naas. Śrī Dani menjadi linglung, rebah, dan tidak sadarkan diri. Hingga akhirnya ia pun tak tertolong.
Peristiwa yang dialami oleh Kalimoṣadha dan Kalimoṣadhi inilah yang menyebabkan mereka sadar untuk kembali menambah daya pengetahuannya dalam dunia pengobatan. Sang Kalimoṣadhi sebenarnya ingin berguru kepada Sang Kalimoṣadha. Namun, Sang Kalimoṣadha menolak. Ia mengajak Sang Kalimoṣadhi berguru kepada Sang Buddha Kĕcapi. Apalagi, Buddha Kĕcapi telah tersohor berhasil mendapatkan anugerah dari Bhaṭāra Nini Dalĕm setelah melakukan samadhi.
Setuju dengan hal itu, Sang Kalimoṣadha dan Sang Kalimoṣadhi berangkat ke kuburan untuk bertemu dengan Sang Buddha Kĕcapi. Dengan penuh ketulusan, mereka berdua akhirnya berguru kepada Sang Buddha Kĕcapi.
Berbagai pertanyaan yang diajukan oleh Sang Kalimoṣadha dan Kalimoṣadhi kepada Sang Buddha Kĕcapi tentang dunia pengobatan inilah yang dipaparkan dalam lontar Buddha Kĕcapi. Ajaran Sang Buddha Kĕcapi tentang usadha hingga saat ini menjadi sumber rujukan utama sistem pengetahuan tentang pengobatan di Bali yang dipelajari dan dipraktikkan oleh para pengusadha. Ajaran tersebut meliputi filosofi penyakit dan pengobatan (gĕring lawan tamba). Yang penting juga adalah landasan etik seorang pengusadha dalam mempraktikkan pengetahuannya termasuk imbalan yang berhak diterimanya (sĕsantun). Buddha Kĕcapi juga membabar ajaran tentang diagnosa penyakit agar seorang pengusadha tidak salah memberikan obat (tatĕngĕr pati urip mwang pĕjah). Pengetahuan tentang pengobatan dan berbagai ramuan yang bisa diterapkan dalam mengobati penyakit seperti jampi, sĕba, dan yang lainnya menjadi pelengkap isi lontar ini.
Berspirit Śaiwa Tantra
Menyimak narasi teks Buddha Kĕcapi di atas, sesungguhnya tak banyak usadha yang disajikan dalam bentuk cerita dan dialog dalam khazanah naskah pengobatan Bali. Di antara kering dan kurangnya teks usadha yang menguraikan ajaran pengobatan dengan cara seperti itu, usadha Taru Prāmaṇa merupakan usadha yang bentuknya paling dekat dengan Buddha Kĕcapi. Sebab, teks ini disajikan dengan kisah kegagalan Mpu Kuturan ketika hendak mengobati pasiennya. Lalu melalui tapa brata yang teguh di kuburan, ia berhasil memperoleh anugerah kasidian dari Hyang Durga. Dengan bekal kekuatan dari shakti Śiwa itulah ia kemudian memanggil lebih dari 150 jenis tumbuhan untuk berdialog dan menjelaskan fungsi serta khasiatnya.
Berbeda dengan Taru Prāmaṇa, usadha Buddha Kĕcapi memuat tiga dialog. Pertama, dialog antara Śiwa dengan Bhaṭārī Hyang Nini Dalĕm ketika hendak memberikan anugerah kepada Buddha Kĕcapi. Kedua, dialog antara Bhaṭārī Hyang Nini Dalĕm dengan Buddha Kĕcapi kala memberi anugerah dan merajah lidah pengusadha itu. Ketiga, dialog antara Buddha Kĕcapi dengan Kalimoṣadha dan Kalimoṣadhi dalam proses berguru ilmu pengobatan yang disebut dengan aguru wāktra.
Kerangka dialog sebagai sarana untuk menyampaikan ajaran dalam Buddha Kĕcapi mirip dengan teks-teks tantra bergenre tattwa di Nusantara seperti Wṛhaspati Tattwa, Dharma Pātañjala, Gaṇapati Tattwa, dan yang lainnya. Wṛhaspati Tattwa memuat dialog antara Śiwa dengan Bhagawan Wṛhaspati; Dharma Pātañjala memuat dialog antara Śiwa dengan Kumara; Gaṇapati Tattwa memuat dialog antara Śiwa dengan Gaṇa. Dialog antara Śiwa dengan keluarga batih dan pendeta terpilih ini bertujuan untuk menyampaikan isi ajaran kepada orang yang tepat sekaligus mencegah terjadinya ‘pencemaran’ pengetahuan apabila dimanfaatkan oleh orang yang salah. Oleh sebab itulah ikatan hubungan antara guru dengan sang siswa menjadi kuat, baik di tingkat intelektual maupun spiritual. Kerahasiaan (esoterisme) ini juga menjadi salah satu ciri khas tantra.
Spirit tantra ini diperkuat oleh narasi teks yang sejak awal telah mendudukkan Śiwa sebagai pemiliki otoritas pemberi ajaran ketika akan memberi anugerah kepada Buddha Kĕcapi. Melalui saktiNya, yaitu Durga dalam manifestasinya sebagai Bhaṭāra Nini Dalĕm, berbagai kasiddhian dianugerahkan kepada sang pengusadha di kuburan. Ritual di kuburan yang disebut sebagai śmaśānāgama untuk memohon kekuatan adikodrati dari Durga adalah karakter partikular tantra. Maka, bukan suatu kebetulan Durga merajah lidah Buddha Kĕcapi. Di samping untuk membuatkan altar untuk Saraswatī dalam tubuh, dari segi tattwa-nya memang Durga adalah muasal dari seluruh aspek prakṛti di dalam diri yang berujung di lidah. Ujung lidah merupakan puncak atas dari seluruh elemen lima materi kasar (pañca māhabhūta) yang berasal dari Māya, sedangkan ujung hidung adalah puncak bawah dari unsur kesadaran (Śiva).
Di lidah itulah rajah berbagai aksara diinstal oleh Bhaṭāra Nini Dalĕm. Dengan demikian ada proses peneraan aksara atau swarawyañjana nyāsa di dalam tubuh Buddha Kĕcapi. Pada saat yang bersamaan, melalui bija-bija aksara yang serupa barcode itu kekuatan halus para dewata diakses dan diaktivasi karena tubuh seseorag dapat dipastikan telah bertransformasi menjadi brahmā pura ‘istana Ilahi’. Ketika seorang pengusadha dengan kekuatan batin tertentu menguncarkan mantra dan yantra ‘bebantenan’ yang saling berhubungan maka kekuatan yang sesungguhnya digunakan untuk mengobati tidak semata bersumber dari kekuatan insani, tetapi ilahi yang sudah menunggal di dalam dirinya.
Tak hanya di dalam lidah, dalam uraian selanjutnya juga dijelaskan mengenai sejumlah aksara organ tubuh dengan dewatanya masing-masing. Aksara Ang bertempat di nyali sebagai linggastana Brahmā. Aksara Ung di empedu sebagai stana Wisnu. Aksara Mang di jantung sebagai linggastana Śiva. Dengan menjadikan organ tubuh sebagai sarana tempat aksara dan dewata, seseorang sesungguhnya telah menjadikan altar dirinya sebagai bhuvana śarīra: tubuh dengan alam semesta tak berbeda.
Mencermati berbagai sulaman ajaran yang menyusun Buddha Kĕcapi mulai dari ajaran yang bersumber dari mata air pengetahuan Śiwa dengan perantara śaktiNya, praktik śmaśānāgama, swarawyañjana nyāsa, dan transformasi kesadaran berorientasi pada bhuwana śarīra tidak dapat diragukan lagi ada pendar Tantra dalam teks Buddha Kĕcapi. Tentu, seperti pula karakteristik kebanyakan teks lainnya, anasir-anasir Buddha tidak dapat dipisahkan. Buddha Kĕcapi menyebut sejumlah pengetahuan yang ajarannya diotoritasi oleh Mpu Bharadah untuk menaklukkan Rangdeng Dirah bersama anak buahnya. Hal bukanlah hal yang baru sama sekali, sifat leluhur Nusantara yang eklektif memberi ruang kepada berbagai sulaman ajaran untuk dimanfaatkan demi berbagai pengobatan, apalagi pengobatan.
Śāsana Balian Bali
Meski dalam banyak hal praktisi tantra dapat melakukan berbagai tindakan transgresif, Buddha Kĕcapi mendaraskan bahwa seorang penekun dunia pengobatan diikat oleh suatu disiplin atau etika yang ketat. Menariknya, Buddha Kĕcapi memuat hal ini mulai dari aspek moral hingga material sehingga seorang penekun dunia pengobatan dapat menjadi profesional.
Sejak dalam proses belajar atau aguron-guron, Buddha Kĕcapi menekankan pentingnya mencari guru bagi seorang pengusadha pemula. Melalui proses belajar yang disebut secara eksplisit sebagai aguru wāktra, seorang pelajar usadha mendapatkan sari-sari pengetahuan yang diperas melalui pengalaman gurunya. Namun sebelum diangkat menjadi murid, Buddha Kĕcapi memberi syarat kesiapan muridnya untuk mendalami segala ajian utama, hakikat ajian Taru Gĕsĕng, dan keutamaan aksara. Di samping itu, jika sang guru, anak, dan cucunya mengalami kesulitan akibat serangan orang jahat, mereka siap mempertaruhkan nyawa. Usai menyanggupi hal ini, barulah ladang gersang murid akan digarap oleh seorang guru. Dari benih pertanyaan yang ditabur seorang siswa, kelak buah pengetahuan kemudian dipetiknya. Dengan proses ini maka lahirlah Balian Usadha atau pengusadha yang terpelajar. Bukan melalui jalur instan katakson, karauhan, dan sejenisnya.
Setelah tamat belajar dan mulai mempraktikkan ajaran guru, seorang pengusada sangat disarankan untuk melakukan diagnosis terlebih dahulu sebelum mengobati pasiennya. Ini adalah bagian yang sangat penting dalam teks Buddha Kĕcapi. Jika ada orang yang menyatakan bahwa seorang pengusadha boleh mengira-ngira dalam menentukan penyakit seorang pasien, teks ini justru menyarankan adanya kehati-hatian yang luar biasa. Seorang pengusadha tidak diperbolehkan mendalih atau memfitnah. Ia mesti memuja Sang Hyang Adnyana Sidhi agar diagnosanya memiliki akurasi yang tinggi. Apabila dalam keadaan tertentu, seorang pengusadha mendiagnosa dengan cara tidak benar ia bisa saja dikutuk oleh entitas yang difitnahnya. Misalnya, jika sakit itu disebabkan dewa, lalu dikatakan penyakit itu dari leluhur, leluhur itu akan mengutuk sang pengusadha akibat keteledorannya dalam mendiagnosa.
Selanjutnya adalah dalam proses pengobatan. Seorang pengusadha menurut teks Buddha Kĕcapi diharuskan melakukan pemeriksaan terhadap pasien atau parikṣa melalui mata, kulit, hembusan nafas, dan seterusnya. Secara tidak langsung, seorang pengusadha diharapkan mampu membaca simptom atau tanda dari apa yang tampak pada tubuh luar pasiennya. Misalnya, melalui sinar mata si pasien akan tampak Brahmā, Wiṣṇu, Mahiśwāra yang dapat menuntunnya menuju keadaan penyakit panas, dingin, hangat sang pasien. Termasuk pula gejala hidup dan matinya. Seorang pengusadha disarankan jika tanda-tanda ajal sang pasien tiba sudah tampak, ia tidak boleh melakukan melakukan pengobatan. Atau apabila ia merasa kasihan, obat yang diberikan tidak disertai rapalan mantera.
Demikan pula ketika melakukan pengobatan, seorang pengusadha tidak diperkenankan memberikan obat yang sama sampai dua, tiga, empat, hingga lima kali untuk satu orang jika penyakitnya tidak berkurang. Teks Buddha Kĕcapi dengan sangat tegas menyatakan bahwa orang yang seperti itu tak pantas disebut pengusadha, tetapi dukun yang hanya ingin memeras uang dan beras. Pengusadha itu akan dikutuk oleh dewa yang dipujanya!
Terakhir, apabila seorang pengusadha telah melakukan kewajibannya, teks Buddha Kĕcapi tidak melarangnya untuk menerima imbalan atas jasanya. Namun, ada kearifan yang terselip dalam proses pemberian ucapan terima kasih atau honor kepada sang pengusadha. Alih-alih menetapkan harga, teks yang disebut sebagai babon tertua Uṣadha Bali ini memberikan perhitungan sebagai berikut. Apabila uang persembahan yang diberikan oleh pasien sebesar sepuluh ribu, seorang pengusadha hanya mengambil tujuh ribu. Jika uang persembahan itu sebesar tujuh ribu, seorang pengusadha hanya mengambil dua ribu. Jika uang persembahan itu sebesar seribu, sang pengusadha hanya mengambil lima ratus. Uang persembahan yang boleh diambil semuanya adalah yang dipersembahkan oleh orang melahirkan dan orang keguguran. Sementara itu, orang yang membayar kaul, uang persembahannya patut dibagi tiga.
Berbagai varian tarif yang diterima dan dikembalikan oleh pengusadha di atas tentu sangat disesuaikan dengan jenis penyakit dan ramuan obat yang diberikannya. Namun yang pasti, seorang pengusadha tidak mengambil semua uang yang diberikan oleh pasiennya, kecuali untuk orang melahirkan dan keguguran. Perhitungan spesifik tentang pembayaran ini adalah bagian teks yang barangkali hanya ditemukan dalam Buddha Kĕcapi.
Renungan
Menyimak uraian di atas, sampai di titik ini kita tentu bertanya, kenapa teks Buddha Kĕcapi berkali-kali menekankan landasan moral dan material itu kepada seorang pengusadha? Tentu yang pertama adalah untuk menjaga keprofesionalan seorang pengusadha dalam proses pengobatan yang melibatkan nyawa manusia. Namun demikian, yang paramapenting dari uraian di atas khususnya bagian pemberian obat dan pembayarannya adalah untuk mencegah terjadinya eksploitasi di dunia kesehatan.
Orang yang sedang sakit dan menderita tidak boleh dijadikan komodifikasi alias ‘barang dagangan’ yang harus diraupi keuntungan sebesar-besarnya oleh seorang pengobat atau pengusada. Oleh sebab itu, pemberian obat yang sama untuk satu penyakit yang tidak kunjung dapat disembuhkan menjadi sinyalemen ke arah eksploitasi itu. Dengan arif teks ini melarangnya.
Demikian pula pemberian semacam ‘diskon’ untuk imbalan kepada orang yang sakit dan keluarganya merupakan sebentuk dukungan moral sekaligus material oleh seorang pengusadha. Maka tak heran, hingga saat ini mereka yang berhasil disembuhkan oleh seorang pengusadha yang siddhi akan mengabdikan dirinya tanpa syarat dan sepanjang hayat.
Purnama Kapat, Paris, 5 Oktober 2025
- Artikel ini ditulis sebagai pengisi waktu luang dalam studi yang didukung oleh proyek ERC Mantrata
Penulis: Putu Eka Guna Yasa
Editor: Adnyana Ole
[i] Sumber lontar yang digunakan untuk tulisan ini adalah foto digital lontar Buddha Kecapi yang diakses dari British Library dengan nomor EAP_1241_MuseumPLDP_BudhaKecapi di bawah Andrea Acri. Sumber lainnya yang juga diguakan adalah alih aksara dan terjemahan lontar Budha Kecapi yang diunggah di situs Ringing Rock yang dikerjakan oleh Tim Fakultas Sastra Universitas Udayana dengan koordinator I Nyoman Suarka.


























