5 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

PACALANG: Antara Jenis Pajak, Kewaspadaan, dan Pertaruhan Jiwa

Putu Eka Guna Yasa by Putu Eka Guna Yasa
May 20, 2025
in Esai
PACALANG: Antara Jenis Pajak, Kewaspadaan, dan Pertaruhan Jiwa

Ilustrasi tatkala.co

MERESPON meluasnya cabang ormas nasional yang lekat dengan citra premanisme di Bali, ribuan pacalang (sering ditulis pecalang) berkumpul di kawasan Niti Mandala Renon, Denpasar. Dalam acara bertajuk Gelar Agung Pacalang itu, para pacalang menyatakan sikap dan menegakkan posisi dirinya sebagai abdi keamanan Bali dalam kehidupan masyarakat adat. Senada dengan pernyataan sikap para pacalang tersebut, kita tidak dapat memungkiri bahwa keberadaan pacalang kini berperan sangat vital. Tidak hanya dalam mengatur lalu lintas upacara agama dan kegiatan adat budaya, tetapi juga dalam cakupan yang lebih luas yaitu menjaga keamanan dan stabilitas desa di akar rumput. 

Lantas, sejak kapan konsep pacalang eksis? Apakah purwarupa dari kata pacalang? Apa sebenarnya makna kata pacalang? Tiga benih pertanyaan ini rasanya sudah lebih dari cukup untuk memenuhi kehausan batin dalam menelusuri kata pacalang dan dimensi kesejarahan bahasanya.  

Dari sejumlah informasi yang beredar luas di internet, setidaknya kata pacalang dihubungkan dengan dua bentuk, yaitu calang dan celang.

Tafsir relasi antara kata pacalang dengan calang disampaikan oleh seorang perwakilan pacalang Bali yang viral di media sosial sebelum Gelar Agung Pacalang itu dilaksanakan. Ia merujuk pustaka Pūrwādigama sebagai sumber sastra yang sudah memuat keberadaan pacalang. Kemampuan retorika dan rujukan sastra yang disampaikan oleh perwakilan pacalang ini patut dijadikan teladan karena ia merepresentasikan figur pacalangyang nyastraalias literat. Dalam banyak kasus, pemilihan pacalang seringkali hanya didasarkan pada ukuran tubuh yang besar dan kekar, bukan dipilih dari figur yang pintar, memiliki kemampuan komunikasi yang baik, dan keterampilan diplomasi yang mumpuni.

Lontar Pūrwādigama Koleksi Pusdok

Lebih jauh, apabila kita telusuri kata calang dalam kitab hukum Pūrwādigama, selengkapnya teks itu menyatakan sebagai berikut: luput sang kr̥tta ring rājawali, lwirnya nya ng waligara, panaṇḍung sěndi, palangkah bahan, bhaya, arik purik, calang cangkiran, pagotak (Pūrwādigama, 3a.18). Berdasarkan petikan pustaka ini, kata calang dimaknai sebagai suatu jenis pajak atau iuran tertentu yang diberikan kepada mangilala dṛwya haji ‘pejabat pemungut pajak’. Tidak ada penjelasan lebih lanjut apa yang dimaksud dengan kata calang dalam pustaka tersebut. Pustaka Pūrwādigama menyatakan konteks kata itu dalam tautannya dengan iuran yang diberikan kepada sekelompok orang yang memangku jabatan tinggi dengan sebutan sang kreta ‘hakim’. Jika kata dasar calang bermakna ‘jenis pajak’, maka awalan pa- yang menempel di depannya membuat kata pacalang boleh jadi berkembang menjadi seseorang yang bertugas untuk memungut pajak bernama cangkiran.

Selanjutnya, di samping kata calang, bentuk kata pacalang juga dihubungkan dengan kata celang dalam bahasa Bali. Dugaannya berasal dari perubahan bunyi e [ә] dalam kata celang [cәlaŋ] yang menjadi a [a] sehingga menjadi calang [calaŋ]. Jadi, dari celang menjadi calang. Kata celang secara harfiah bermakna ‘tajam inderanya’. Misalnya, celang kupingné ‘tajam pendengarannya’; celang paningalané ‘tajam penglihatannya’; dan aéng celangné ‘banyak akalnya’. Dari sinilah makna kata celang diperluas menjadi waspada. Jika dugaan ini benar, maka penambahan awalan pa- dalam kata pacalang bermakna seseorang yang memiliki ketajaman sekaligus juga kewaspadaan. Dalam konteks pelaksanaan tugasnya, pacalang barangkali diharapkan menjadi satuan petugas adat yang waspada untuk menjaga keamaan adat dan kelancaran pelaksanaan suatu upacara.

Di luar dua dugaan di atas, tampaknya ada hubungan yang menarik untuk ditelusuri antara kata pacalang dengan bentuk talang dalam bahasa Jawa Kuno. Dugaan ini didasarkan pada kemiripan bentuk dan kedekatan makna kata calang dan talang. Kedekatan bentuk inilah yang dijadikan dasar untuk menentukan wujud purba suatu kata dalam penelusuran sejarah bahasa. Asumsi dasarnya adalah: dalam proses waktu yang panjang, suatu kata dapat mengalami perubahan atau inovasi. Tentu banyak juga kata yang tidak berubah atau mengalami retensi. Kata yang berubah dan tidak berubah biasanya menunjukkan gejala yang tidak tunggal, tetapi juga didukung oleh fenomena serupa dalam kata lainnya. Hal ini disebabkan oleh hakikat bahasa sebagai suatu sistem yang menunjukkan keteraturannya. Singkatnya, bahasa itu berubah dalam suatu keteraturan.

Kembali ke hubungan antara kata pacalangdengan talangdalam bahasa Jawa Kuno yang diduga terwaris di Bali. Kita bisa melihatnya dari perspektif bentuk dan makna. Dilihat dari segi bentuknya, kata calang dengan talang cukup dekat. Perubahan, variasi, dan pertukaran bunyi c dalam kata calang dengan tdalam kata talangditopang oleh fenomena kebahasaan lainnya. Hal ini dapat dibuktikan dari bentuk cabya à tabya ‘cabai’, campur à tampur ‘campur’; tambra à cambra ‘tembaga’; celeng à teleng ‘jenis bunga’; tyaksu à caksu ‘lihat’; dan seterusnya. Sekali lagi, perubahan kata ini menunjukkan keteraturan dan keberlanjutan hingga saat ini. Dilihat dari segi maknanya, kata talang memiliki anyaman makna yang erat dengan pacalang, yaitu: 1. ‘siap mengorbankan jiwa’ dalam kata talang jiwa; 2. siap bertempur sampai akhir dalam kata atalang jurit; dan 3. mengorbankan diri dalam kata tumalangaken’ (Zoetmulder, 1994: 1185). Ketiga makna kata di atas berhubungan erat dengan fungsi-fungsi pacalang hingga saat ini yang berperan vital dalam penjagaan keamaan di Bali.  

Untuk menyangga kekuatan dugaan di atas, kita juga bisa melihat penggunaan kata talangdalam teks-teks Jawa Kuno. Pertama, karya sastra tertua yang memuat kata tumalangaken‘mengorbankan diri dengan rela’ dapat kita lihat dalam Kakawin Bhomakawya atau Bhomāntaka. Karya yang dalam tradisi Bali diduga ditulis oleh Mpu Bharadah pada era pemerintahan Erlangga sekitar abad X di Jawa ini memuat penggunaan kata tersebut dalam konteks tumalangaken awak naranātha (53.3)‘mengorbankan diri dengan rela bersama sang raja’.

Selanjutnya, kita juga bisa melihat penggunaan kata talang jiwa ‘siap untuk mengorbankan hidupnya’ dalam karya sastra Kakawin Sutasoma yang ditulis oleh Mpu Tantular sekitar abad XIV pada masa Majapahit. Kata talang jiwa digunakan dalam konteks kaharep nira matalanga jīwa saksaṇa (34.12)‘keinginannya hendak Bersiap untuk mengorbankan hidupnya seketika’. Satu bukti lagi penggunaan kata atalang jurit ‘siap bertempur sampai akhir’ dapat dilihat dalam karya sastra Kidung Rangga Lawe yang diduga ditulis di Bali. Kata atalang jurit dapat dilihat dalam konteks wani atalang jurit mamrep eng musuh (8.37)‘berani bertempur sampai akhir dalam menghadapi musuh’.

Melalui bukti-bukti penggunaan kata talang ini, pada saat yang bersamaan kita juga dituntun pada suatu dugaan kapan konsep pacalang mulai eksis. Jika penjejakan atas penggunaan kata talang di atas benar, konsep calang yang diduga dari kata talang setidaknya sudah mulai digunakan pada masa pemerintahan Raja Erlangga di Jawa abad X di Jawa. Penggunaan kata tersebut terus mengalir pada masa Majapahit pada abad XIV lalu bermuara di Bali hingga saat ini.

Demikianlah sejumlah kemungkinan purwarupa kata pacalang apabila kita bersandar pada bukti tekstual yang ada. Walaupun kita telah berusaha melihat berbagai kemungkinan bentuk pacalang melalui kedekatannya dengan kata calang, celang, dan talang. Kritik tetap harus diberikan untuk memberikan celah dugaan lain yang lebih akurat. Kata calang ‘jenis pajak’ yang diduga menjadi muasal kata pacalang belum disangga oleh bukti-bukti teks yang lebih luas, terutama prasasti dan kitab hukum lainnya. Demikian pula kata celang ‘waspada’ yang diyakini menurunkan bentuk pacalang perlu ditopang oleh fenomena perubahan bahasa yang lebih banyak dan lebih teratur. Terakhir, dugaan kata pacalang yang berasal dari talang ‘pengorbanan diri’ perlu ditelusuri kesinambungan perubahan bentuk katanya dalam proses pengimbuhan (morfologis) yang lebih luas.

Meski tinjauan atas perubahan bentuk tersebut perlu diperluas, makna kata pacalang yang berhubungan dengan pemungutan pajak (retribusi), kewaspadaan, dan nilai-nilai keberanian melalui pengorbanan diri masih relevan dengan nyala semangat pacalang Bali saat ini. Dalam proses pemungutan retribusi di tingkat adat, para pacalang perlu memiliki aturan yang jelas dan tata cara yang sudah sesuai dengan payung hukum sehingga tidak menjadi pungutan liar. Tentu kita tidak berharap, pacalang justru menjadi ‘preman lokal’ yang berlindung di bawah payung adat. Demikian pula nilai-nilai kewaspadaan sudah semestinya menjadi penuntun setiap ayunan langkah para pacalang dalam melakukan pengabdiannya. Terakhir, spirit keberanian dalam mempertaruhkan jiwa juga mesti digarisbawahi dengan dasar kebenaran dan pengabdian yang terang, sama seperti Arjuna yang membaktikan panah paśupatinya hanya kepada Dharmaputra sebagai simbul kebenaran di dunia.

Satu hal kecil yang perlu disadari oleh para pacalang Bali saat ini hanya standar ganda: di satu sisi menolak ormas luar, tetapi di sisi yang lain memberi celah ormas di dalam yang potensial sama-sama bermotif preman. Kita perlu semakin sadar bahwa sikap orang dan orang-orang Bali memiliki sisi keambiguitasannya sendiri. Peneliti luar menyebut sikap ini sebagai: benteng pintu terbuka. [T]

Paris, 19 Mei 2025

Penulis: Putu Eka Guna Yasa
Editor: Adnyana Ole

  • BACA artikel lain dari penulis PUTU EKA GUNA YASA
Persembahan Perempuan di Altar Perang Puputan Klungkung
Menjernihkan ‘Bias Citra’ Antara Dewi Danu, Jaya Pangus, dan Putri Cina
DI BALIK TOPENG DALEM SIDDHAKARYA
Pancaka Tirta: Melihat Unsur Api dalam Air sebagai Peleburan Melalui Adi Parwa dan Japatuan
Tags: balidesa adatpecalang
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mujri, Si Penjaja Koran: Sejak 22 Tahun Tetap Setia Berkeliling di Seririt

Next Post

Mari Kita Jaga Nusantara Tenteram Kerta Raharja

Putu Eka Guna Yasa

Putu Eka Guna Yasa

Pembaca lontar, dosen FIB Unud, aktivitis BASAbali Wiki

Related Posts

Menjual Sepi: Ketika ‘Healing’ di Bali Berubah Menjadi Industri

by Nur Kamilia
May 5, 2026
0
Menjual Sepi: Ketika ‘Healing’ di Bali Berubah Menjadi Industri

- Sebuah Refleksi tentang Komodifikasi Kesunyian dan Pergeseran Makna Ruang Sakral BALI kini tengah menjual sesuatu yang paling mahal di...

Read moreDetails

Aoroville: Kota Eksperimental

by Agung Sudarsa
May 4, 2026
0
Aoroville: Kota Eksperimental

Pertemuan yang Mengubah Arah: Mirra Alfassa dan Sri Aurobindo Ada pertemuan-pertemuan dalam sejarah yang tidak sekadar mempertemukan dua individu, tetapi...

Read moreDetails

Hidup Ini Sederhana, yang Rumit Hanya Tafsir di Media Sosial

by Angga Wijaya
May 4, 2026
0
Hidup Ini Sederhana, yang Rumit Hanya Tafsir di Media Sosial

SAYA perlu memulai tulisan ini dengan satu catatan kecil. Saya meminjam sebuah gagasan dari Pramoedya Ananta Toer, bukan sebagai hiasan...

Read moreDetails

Seremoni Hardiknas dan Krisis Literasi

by Ahmad Fatoni
May 2, 2026
0
Seremoni Hardiknas dan Krisis Literasi

Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) semestinya tidak terjebak pada rutinitas seremonial yang berulang dan kehilangan makna. Ia perlu dimaknai sebagai...

Read moreDetails

Di Balik Siswa Merundung Guru: Ketika Gizi Anak Tercukupi, Akhlak Malah Terdegradasi

by Dodik Suprayogi
May 2, 2026
0
Di Balik Siswa Merundung Guru: Ketika Gizi Anak Tercukupi, Akhlak Malah Terdegradasi

Kejadian sekelompok siswi SMA di Purwakarta, Jawa Barat yang merundung gurunya sendiri itu benar-benar tidak manusiawi. Maksudnya, hati siapa yang...

Read moreDetails

Guru Profesional Bekerja Proporsional

by I Nyoman Tingkat
May 2, 2026
0
Guru Profesional Bekerja Proporsional

TEMA Hardiknas2026 adalah Menguatkan Partisipasi  Semesta Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua. Frase “partisipasi semesta” pertama muncul melalui Konsolidasi Nasional Pendidikan...

Read moreDetails

Mengeja Ulang Arah Pendidikan Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
May 2, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

TANGGAL 2 Mei adalah hari yang keramat bagi dunia pendidikan Indonesia. Ada suasana yang khas menyelimuti hati para pendidik dan...

Read moreDetails

‘Maburuh’ dan Tubuh yang Tak Pernah Diam

by Angga Wijaya
May 2, 2026
0
‘Maburuh’ dan Tubuh yang Tak Pernah Diam

Di Bali, saya jarang benar-benar melihat orang menganggur. Bahkan ketika tidak ada pekerjaan tetap, selalu saja ada yang dikerjakan. Menyapu...

Read moreDetails

Menimbang Ulang ‘May Day’ Bagi Pekerja Budaya

by Arief Rahzen
May 1, 2026
0
Menimbang Ulang ‘May Day’ Bagi Pekerja Budaya

TIAP tanggal satu Mei tiba, ingatan kita biasanya langsung tertuju pada lautan manusia di jalanan protokol Jakarta. Memori kita terikat...

Read moreDetails

Oppenheimer: Sains, Sastra, dan Filsafat

by Agung Sudarsa
April 30, 2026
0
Oppenheimer: Sains, Sastra, dan Filsafat

Ilmuwan di Persimpangan Zaman Nama J. Robert Oppenheimer selalu menghadirkan paradoks: seorang ilmuwan jenius yang sekaligus menjadi simbol kegelisahan moral...

Read moreDetails
Next Post
Syair Pilu Berbalut Nada, Dari Ernest Hemingway Hingga Bob Dylan

Mari Kita Jaga Nusantara Tenteram Kerta Raharja

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bukan Hanya Salah Kaprah, “Sepakat 1.000%” Juga Cacat Logika
Bahasa

Bukan Hanya Salah Kaprah, “Sepakat 1.000%” Juga Cacat Logika

PERNAHKAH Anda mendengar orang mengatakansepakat seribu persen? Saya sendiri kerap mendengar pejabat, figur publik, atau teman sendiri berteriak sepakat seribu...

by I Made Sudiana
May 5, 2026
Menjual Sepi: Ketika ‘Healing’ di Bali Berubah Menjadi Industri
Esai

Menjual Sepi: Ketika ‘Healing’ di Bali Berubah Menjadi Industri

- Sebuah Refleksi tentang Komodifikasi Kesunyian dan Pergeseran Makna Ruang Sakral BALI kini tengah menjual sesuatu yang paling mahal di...

by Nur Kamilia
May 5, 2026
Desa Adat Batur Bangun ‘Cihna’ di Titik Nol Batur Let —Songsong Seratus Tahun Rarud Batur
Budaya

Desa Adat Batur Bangun ‘Cihna’ di Titik Nol Batur Let —Songsong Seratus Tahun Rarud Batur

DESA Adat Batur melaksanakan upacara ngruwak sebagai langkah awal pembangunan Cihna (tanda) Titik Nol Batur Let (pusat permukiman Desa Adat...

by Nyoman Budarsana
May 4, 2026
Aoroville: Kota Eksperimental
Esai

Aoroville: Kota Eksperimental

Pertemuan yang Mengubah Arah: Mirra Alfassa dan Sri Aurobindo Ada pertemuan-pertemuan dalam sejarah yang tidak sekadar mempertemukan dua individu, tetapi...

by Agung Sudarsa
May 4, 2026
Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh
Persona

Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

DI antara deretan tapel ogoh-ogoh yang dipajang rapi di ruang lomba UPMI Bali, sosok Bagus Dedy Permata Putra (13) tampak...

by Dede Putra Wiguna
May 4, 2026
Lomba Tapel Ogoh-ogoh di UPMI Bali: Menumbuhkan Kreativitas Tanpa Batas
Panggung

Lomba Tapel Ogoh-ogoh di UPMI Bali: Menumbuhkan Kreativitas Tanpa Batas

“Ogoh-ogoh itu bukan lagi kesenian musiman. Tetapi kesenian yang dikerjakan sepanjang masa.” Kalimat pembuka itu meluncur dari Dr. I Made...

by Dede Putra Wiguna
May 4, 2026
Antara Proses dan Hasil: Cara Pemain Menentukan Nilai Akun di Valorant
Gaya

Antara Proses dan Hasil: Cara Pemain Menentukan Nilai Akun di Valorant

TIDAK semua pemain menikmati perjalanan yang sama dalam game. Ada yang menghargai setiap tahap perkembangan, ada juga yang lebih fokus...

by tatkala
May 4, 2026
Refracted — Perspektif yang Menolak Keutuhan
Ulas Rupa

Refracted — Perspektif yang Menolak Keutuhan

Artikel ini adalah catatan kuratorial pameran seni rupa “Refracted” pada 2 Mei 2026 di Ruang Arta Derau, Tegallalang. Tak pernah...

by Made Chandra
May 4, 2026
Hidup Ini Sederhana, yang Rumit Hanya Tafsir di Media Sosial
Esai

Hidup Ini Sederhana, yang Rumit Hanya Tafsir di Media Sosial

SAYA perlu memulai tulisan ini dengan satu catatan kecil. Saya meminjam sebuah gagasan dari Pramoedya Ananta Toer, bukan sebagai hiasan...

by Angga Wijaya
May 4, 2026
Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari
Cerpen

Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

“Risa, aku sudah melihat hasil pengumuman itu,” ucap Bagus lirih, nyaris tenggelam dalam gemuruh angin senja. Aku menoleh, menatap wajahnya...

by Kadek Windari
May 4, 2026
Puisi-puisi Kim Young Soo | Di Candi Gedong Songo
Puisi

Puisi-puisi Kim Young Soo | Di Candi Gedong Songo

DI CANDI GEDONG SONGO Di lereng bukittercurah sinar matahari siang di khatulistiwapada ubun-ubun anemiaterdapat stupa batu yang terlupakanmenghapuskan bayangannya dengan...

by Kim Young Soo
May 3, 2026
Tanpa Protokol dan Jarak, Diskusi Pendidikan dan Titik Nol di Bawah Gerimis Kota Singaraja
Khas

Tanpa Protokol dan Jarak, Diskusi Pendidikan dan Titik Nol di Bawah Gerimis Kota Singaraja

JUMAT sore, bertepatan dengan Hari Buruh, 1 Mei, saya mampir ke Bichito sebuah kafe baru di Jalan Gajah Mada, Singaraja,...

by Gading Ganesha
May 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co