24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pengalaman Awal Mula Didiagnosa Skizofrenia

Angga Wijaya by Angga Wijaya
April 28, 2025
in Esai
Telenovela

Angga Wijaya

PRIA yang suka menulis novel itu tampak berbaring santai. Di sela jarinya, terselip sebatang rokok yang sedang menyala. Itu adalah rokok kesekian kalinya sore itu. Ia menghadiri acara diskusi tentang puisi dan terapi, dihubungkan dengan skizofrenia, penyakit mental yang belakangan banyak menghinggapi anak muda. Diskusi berlangsung di Denpasar, Bali, beberapa tahun lalu.

Namanya Saka. Ia tak mau dipanggil dengan nama lengkap. Saka sebenarnya keturunan Brahmana, pembagian sosial berdasarkankan profesi, memiliki tugas memberi pencerahan pada masyarakat. Saya menyapanya, dan ia menjawab dengan suara pelan. Ketika itu ia mulai aktif bergiat di Rumah Berdaya Denpasar, komunitas rehabilitasi psikososial dan pemberdayaan orang dengan gangguan jiwa (ODGJ), tempat kami bertemu kali pertama.

Kala itu, ia datang dengan tampilan wah; berkaca mata hitam, mengendari sepeda motor sport tetapi dengan pakaian tak lazim bahkan bisa dibilang bertolak belakang. Saya menyangka ia seorang seniman. Gaya bicaranya lugas, seperti ciri khas masyarakat pesisir. Benar saja, saat kami mengobrol, ia mengaku berasal dari Buleleng, kabupaten yang pada masa penjajahan Belanda merupakan ibu kota Sunda Kecil, wilayah yang membawahi Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur.

Saka banyak menyebut soal telepati, ia percaya memiiki kekuatan supranatural tersebut. Ia bicara tentang hal tersebut dengan sangat percaya diri. Bagi saya yang memang sejak dulu menyukai spiritualitas dan meditasi, apa yang ia bicarakan bukan merupakan hal yang asing, sebab dahulu saya pernah tertarik mempelajari bidang itu.

Melihat dan mengenal Saka, saya seperti berhadapan dengan cermin. Dulu, saya pernah kuliah, banyak membaca buku, dan suka berdiskusi. Debat menjadi sesuatu yang tak terhindarkan saat saya bertemu dengan narasumber sebuah diskusi, dalam seminar atau di luar ruang kuliah. Saya terus merasa gelisah, belum merasa puas atas pelajaran atau ilmu yang didapat dari kampus.

Kepintaran dan kecerdasan tak membuat saya puas, malah membuat saya arogan. Ada kepuasan saat melihat lawan bicara atau diskusi menyerah kalah, atau menjadi marah pada saya. Tak hanya diskusi di dunia nyata, tapi juga di dunia maya. Waktu itu internet mulai masuk di Indonesia,  saya kuliah sembaru bekerja menjadi operator warung internet (warnet) di Denpasar, membuat saya bisa online sepanjang waktu.

Saya masih ingat; waktu itu hari menjelang malam, saya dijemput oleh ayah saya, beliau mengendarai sepeda motor butut, menempuk jarrah ratusan kilometer demi bertemu saya, yang oleh petugas keamanan disebut mengamuk di dekat sebuah warung di sebuah wilayah di Buleleng. Terakhir yang saya ingat, saya duduk bersila di bawah sebuah pohon, meminta pertolongan Tuhan karena saya tak sanggup lagi mendengar bisikan suara yang semakin keras di telinga saya. Suara itu menyatakan sesuatu, bahwa saya akan ditangkap karena aktivisme saya.

Keyakinan itu muncul saat berada di rumah seorang bibi di Singaraja, sehari sebelum peristiwa tersebut. Kala itu, saya bersama keponakan mengendarai sepeda motor dari Negara, Jembrana, menuju kota di ujung utara Pulau Bali tersebut. Kami bermaksud menjenguk sang bibi. Beliau dalam masa pemulihan usai menjalani operasi tulang setelah terpeleset di kamar mandi. Bibi saya hanya sekilas mengenali kami. Maklum saja, usia beliau saat itu sudah sangat renta.

Saya memutuskan menginap di rumah bibi, sedangkan keponakan saya menginap di rumah pamannya, kakak dari ibunya. Kami berpisah malam itu. Sepeda motor yang kami kendarai ia serahkan pada saya. Keanehan mulai muncul, saat membaca koran sebuah harian lokal, mata saya tertuju pada surat pembaca yang seingat saya berisi pendapat, orang-orang yang kritis sebaiknya dihukum mati. Saya ketakutan membacanya, merasa tulisan tersebut ditujukan pada diri saya. Saat itu adalah mahasiswa yang terbilang kritis. Terkadang saya kurang sadar, apa yang saya tulis di berbagai mailing list (milist) waktu itu bisa berujung pada hal yang buruk. Itu perasaan saya yang saya yakini sebagai sebuah hal yang nyata dan benar adanya.

Malam itu saya benar-benar takut. Di telinga, terdengar bisikan yang menyuruh saya untuk balik pulang ke Negara, karena jika tidak saya akan dibunuh. Saya berpamitan pada penjaga rumah bibi, kemudian mengendarai sepeda motor yang dipakai keponakan saya, tanpa ia mengetahuinya. Saya merasa bisikan di telinga tersebut harus diikuti dan dituruti saat itu juga. Malam itu, saya berangkat dengan bensin yang sedikit, tanpa membawa perbekalan, baik uang atau makanan.

Karena bensin yang tak mencukupi, sepeda motor yang saya kendarai berhenti di wilayah barat Singaraja. Di sebuah perempatan jalan, yang sepertinya berdekatan dengan sebuah pasar. Hari hampir tengah malam, bisikan suara makin kencang terdengar..Saya mencari cara untuk bermalam di jalanan. Akhirnya, saya bersembunyi di sebuah halaman merajan atau pura keluarga. Saya takut, melihat cahaya kendaraan bagai melihat api leak, entitas gaib yang dipercaya masyarakat Bali sebagai sesuatu yang negatif. Satu kota sepertinya mengejar saya.

Saya berada di pura itu hingga menjelang fajar. Semalam saya terjaga dan tidak tidur. Keesokan harinya, saat para tukang ojek mulai muncul, saya berbicara pada salah satu dari dua tukang ojek untuk diantarkan ke Singaraja, menemui kembali keponkan saya dan menjelaskan tentang keadaan diri saya. Kunci sepeda motor yang saya bawa entah hilang kemana, pada kegelapan malam yang menakutkan.

Di tas saya tersimpan sebuah kamera lama, saya membayar jasa tukang ojek dengan barang tersebut. Saat tiba di rumah bibi saya, tampak keponakan saya merasa aneh dengan diri saya. Ia agak panik, di matanya tampak ada juga kesedihan. Ketika itu hari Senin, saya meyakininya karena paman dari keponakan saya memakai baju seragam dan saat menjemput saya dia menelepon rekan kerja untuk meminta izin terlambat mengikuti upacara bendera.

Dia menanyakan di mana sepeda motor yang saya kendarai. Saya menjawab, sepeda motor ada di wilayah ujung barat Singaraja. Lalu kami bersama ke sana menaiki sepeda motor miliknya. Sepeda motor yang saya bawa masih terparkir di pinggir jalan. Dia kemudian mencari tukang kunci agar sepeda motor bisa dibawa kembali ke Singaraja. Olehnya saya diberi uang sebagai ongkos bus yang akan membawa saya kembali ke Negara, Jembrana, kampung halaman saya. Kami kemudian berpisah, dan saya telah mendapatkan bus untuk pulang.

Namun setelah berada di dalam bus, bisikan suara itu datang lagi, dan terus berulang. Ada suara yang membisiki dan menyuruh saya keluar dan berganti bus. Itu terjadi berulang, hingga sekitar tiga kali. Sampai uang yang saya benar-benar habis, dan saya memutuskan untuk berjalan kaki, pulang menuju Negara, Jembrana, untuk meminta perlindungan. Saya amat takut, tetapi dalam lubuk hati saya tetap tenang. Di jalan, bibir saya tak berhenti mengucapkan doa dan mengulang-ualng nama suci Tuhan, seperti apa yang saya yakini dan pelajari sejak usia remaja.

Saya berjalan kaki cukup jauh, ada kira-kira tujuh kilometer, hingga tertakhir berada di sebuah desa. Perjalanan saya berakhir ketika petugas keamanan mengamankan saya. Tiba-tiba saya telah berada di mobil patrol dengan anggota polisi lengkap. Ayah yang menjemput saya kemudian menelepon kakak sepupu saya yang seorang pemandu wisata. Kebetulan dia sedang berada di sebuah destinasi wisata di Buleleng. Kami bertiga pulang dengan mobil yang dibawa kakak sepupu itu. Keesokan harinya, oleh ayah dan ibu kandung saya melalui diskusi keluarga, saya dibawa berobat ke Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Provinsi Bali yang berada di Kabupaten Bangli.

Dari hasil pemeriksaan, saya didiagnosa mengidap skizofrenia paranoid, dan diharuskan dirawat untuk beberapa waktu di RSJ. Waktu itu, saya dirawat selama dua minggu. Apa yang saya alami menjadi pelajaran penting bagi saya dan keluarga, untuk lebih memperhatikan kesehatan mental. Bisikan suara yang saya dengar adalah halusinasi (pendengaran), dan keyakinan akan ditangkap karena aktivitas saya semasa mahasiswa tidak lain adalah kecurigaan dan ketakutan berlebihan yang menjadi ciri utama dari skizofrenia paranoid. Dengan minum obat-obat dari psikiater, gejala dan gangguan yang terasa hilang sama sekali. Enam belas tahun berlalu, saya setiap bulan tetap kontrol secara rutin dan mengkonsumsi obat hingga sekarang. Kini saya stabil dan pulih.

Kejadian di atas berlangsung pada 2009. Kuliah tidak bisa saya selesaikan dan kembali menetap di kampung halaman untuk menjalani pengobatan dan pemulihan. Setelah lima tahun, saya memberanikan diri kembali ke Denpasar untuk bekerja. Proses yang tidak mudah mengingat kepercayaan diri hilang, selain stigma yang kuat terhadap pengidap gangguan mental oleh masyarakat. Sejak 2015 saya bekerja sebagai jurnalis. Hingga kini, saya telah menulis 14 buku dan aktif berbagi ilmu kepenulisan dan pengalaman sebagai penyintas skizofrenia. Ikut membangun Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI) simpul Bali pada 2016 bersama dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ, psikiater yang berperan besar atas kepulihan saya dari skizorenia. Semoga kisah saya bisa dijadikan pelajaran oleh para pembaca. Terima kasih. Salam. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole


BACA artikel lain dari penulis ANGGA WIJAYA

Post-Therapy: Semua Orang Pernah Sakit dan Terluka
“Inguh”, Refleksi Kolektif Masyarakat Bali | Catatan Usai Berkunjung ke Yayasan Bali Bersama Bisa
Ibu Menemaniku Saat Skizofrenia Mendera
Tags: kesehatan jiwakesehatan mentalskizofrenia
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Persembahan Perempuan di Altar Perang Puputan Klungkung

Next Post

Perempuan Dalam Sinema di Living World Denpasar, Tayangkan 12 Film Peran Perempuan

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Perempuan Dalam Sinema di Living World Denpasar, Tayangkan 12 Film Peran Perempuan

Perempuan Dalam Sinema di Living World Denpasar, Tayangkan 12 Film Peran Perempuan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co