27 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

4:20 Hanya untuk “Chill” pada Acara “Ceng-Cet Riddim” di Kedai Kopi DeKakiang, Singaraja

Son Lomri by Son Lomri
April 22, 2025
in Panggung
4:20 Hanya untuk “Chill” pada Acara “Ceng-Cet Riddim” di Kedai Kopi DeKakiang, Singaraja

Acara “Ceng-Cet Riddim” di Kedai Kopi DeKakiang, Singaraja-Bali | Foto: Saka

SEBUAH lagu reggae dari King Masmus itu terdengar di meja DJ sedang diremix oleh 444 Kaum dalam acara “Ceng-Cet Riddim” yang diagendakan oleh Kolektif Gegap Gemilang di Kedai Kopi DeKakiang, Minggu, 20 April 2025.

420 adalah kode Hari Ganja Internasional. 4 (empat) diambil dari bulan April dan 20 diambil dari tanggal di bulan itu. Ada banyak versi yang dikaitkan dengan angka 420—yang konotasinya merujuk pada tokoh politik, lagu, dan atau penggunanaan cannabis sativa tadi.

Semisal, ada yang mengatakan jika 420 adalah diambil dari tanggal kelahirannya Adolf Hitler. Ada juga yang mengaitkannya dengan lagu Bob Dylan berjudul “Rainy Day Women #12 & 35”, yang mana jika 12 dikalikan dengan 5 akan menghasilkan 420.

Tapi yang lebih populer secara cerita, juga mendekati, kode 420 itu di dasari oleh kisah Geng Waldos yang beranggotakan 5 orang remaja dari SMA San Rafael di California pada kisaran tahun 1971. Kelima remaja itu adalah Steve Rafel, Dave Reddix, Jaffrey Noel, Larry Schwartz, dan Mark Gravich.

Suasana pada Acara “Ceng-Cet Riddim” di Kedai Kopi DeKakiang, Singaraja-Bali | Foto: tatkala.co/Son

Untuk menghisap ganja atawa nyimeng itu, 420 diambil dari jam 16.20 sore, sebagai waktu berkumpul mereka. Kelimanya bertemu di sebuah patung ahli mikrobiologi Prancis Louis Pasteur sepulang sekolah. Kebiasaannya menghisap mariyuana di patung itu, berawal ketika suatu waktu mereka mendengar kabar ada ladang ganja terbengkalai di Point Reyes milik seorang penjaga pantai.

Dan akhirnya sebuah petualangan mencari kebun itu pun direncanakan mereka. Sebelum pergi, menghisap ganja seperti sudah menjadi ritual yang menyenangkan. Pencarian kebun itu tak pernah sukses walaupun sudah berminggu-mingu dilakukan.

Tapi kebiasaan mereka bertemu di patung di jam yang sama, masih terus dilakukan hanya untuk menghisap daun itu. Alhasil, kode 420 dikenali sebagai waktu yang asik untuk nyimeng. Dan bagaimana kode itu hingga merebak ke seluruh dunia—hingga saat ini, adalah berkat kakak dari Dave ketika mengenalkannya ke Phil Lesh, yaitu basis Grateful Dead.

Dan Band itu kemudian menggunakan 420—sebagai kode ajakan nyimeng berjama’ah kepada penggemarnya di seantero dunia. Kabar 420 itu akhirnya menyeruak lebih serius, setelah salah satu wartawan dari majalah AS High Times tahu dan menyiarkannya lebih luas lagu dalam bentuk berita. Hingga kemudian meresmikan 20 April sebagai Hari Ganja Internasional.

Acara “Ceng-Cet Riddim” di Kedai Kopi DeKakiang, Singaraja-Bali | Foto: tatkala.co/Son

Dan Putu Mahardika sebagai ketua pelaksana acara “Ceng-Cet Riddim” di Kedai Kopi DeKakiang itu, menjelaskan akhirnya 4:20 identik dengan waktu sore-sore nyimeng ganja. Tapi dalam acara “Ceng-Cet Riddim” yang digagasnya itu—jangan salah—bukanlah acara untuk nyimeng.Tetapi hanya sekadar menikmati musik reggaenya saja di waktu sore.

“Menggunakan jam 4:20 sore itu sebenarnya hanya untuk gimmick saja, kami rayainnya dengan musik reggae yang dimixing DJ, ya, untuk chill saja,” kata Putu Mahardika yang di acara itu juga ia menjajakan beberapa botol arak dan menyediakan beberapa jajanan gratis.

Alternatif—Kreatif

Dan penampil dalam acara itu tidak hanya datang dari 444 Kaum, tetapi juga ada Nend, Ekaput, Irama Utara, dan Devs menjadi penampil pada malam itu. Mereka dari Buleleng. Acara ini dimulai pada kisaran jam 5 sorean dari yang direncanakan di jam 4:20 itu, diulur karena ditimpa hujan. Tidak apa, katanya. Musik terus berlanjut dimulai setelah hujan reda.

Acara “Ceng-Cet Riddim” di Kedai Kopi DeKakiang, Singaraja-Bali | Foto: Saka

Di meja DJ yang di depannya beberapa orang sedang berjoget, terbentang bendera Jamaica di meja itu. Dan beberapa orang itu terus berjoget seakan mengikuti tempo musiknya yang slow, menikmati lagu Vegan Vegetarian yang di mixing dj itu seakan sedang terbang—alias fly. Ya, arak membuatnya mabuk. Dan musik dj itu agaknya berhasil membuat siapa saja yang hadir dan larut kedalamnya—enjoy.

Acara merayakan 4:20 semacam ini sepoertinya baru kali pertama dilakukan oleh Kolektif Gegap Gemilang. Antusiasme orang-orang untuk hadir mendengarkan lagu reggae dengan space kedai yang sejuk di bawah pohon mangga rindang daun-daunnya itu, membuat suasana pengunjung terasa intim dan betul-betul dirasakan tambah chill ketika musik diperdengarkan.

Orang-orang hadir memesan kopi, lalu duduk. Orang-orang saling duduk berhadapan dengan teman sebaya atau pacarnya masing-masing. Mereka mengobrol sambil sesekali meliukan tubuhnya. Sebagaimana genre reaggae dengan rhythm musiknya yang khas, yang mendamaikan dan menjogetkan bahu seseorang.

“Ya, ini untuk mempertemukan orang-orang untuk bertemu dan ngobrol juga sih,” kata Putu Mahardika.

Acara “Ceng-Cet Riddim” di Kedai Kopi DeKakiang, Singaraja-Bali | Foto: tatkala.co/Son

Musik asal Pulau Karibia, Jamaika, ini dapat dibilang banyak pemianatnya bukan hanya karena musiknya yang enak didengar, tetapi wacana kedamaiannya juga terasa menyecap di jiwa. Musiknya bisa dinikmati secara musik dan liriknya. Hal itu bisa dilihat dari makna mendalam dari warna benderanya, seperti warna hijau, emas, dan hitam.

Negara ini barangkali satu-satunya negara yang tidak mengandalkan warna merah untuk mempresentasikan jiwa semangat dan optimis. Warna hitam dilambangkan sebagai kekuatan dan kreativitas rakyat Jamaika, sedang emas melambangkan sinar matahari dan kekayaan alam, dan warna hijau melambangkan harapan dan kekayaan pertanian mereka.

“Ganja itu kan tumbuhan. Banyak pula manfaatnya, tapi karena dilarang di negara kita, alternatifnya kita gunakan arak atau kopi untuk enjoy, yang penting sensasinya adalah reggae, kedamaian,” kata Putu Mahardika.

“Tidak lebih dari itu, hanya untuk chill. Acara ini betul-betul hanya sekadar untuk mendengar musik, dan bagaimana orang-orang datang dan mengobrol. Itu saja.” lanjut lelaki itu di sela gulung kabel selesai acara.

Acara “Ceng-Cet Riddim” di Kedai Kopi DeKakiang, Singaraja-Bali | Foto: Saka

Bagi Kolektif Gegap Gemilang, acara semacam itu pula dijadikannya sebagai bentuk latihan diri membuat event kreatif tanpa mesti menyentuh pelanggaran hukum. Dan mencari alternatif adalah kreatif.

Kolektif ini baru dibentuk oleh Putu Mahardika sendiri. Dan tidak hanya untuk menyoal acara reggae dalam merayakan 4:20—kecil-kecilan, katanya. Kolektif atau komunitas ini juga membuka diri untuk kolaborasi dengan komunitas lain dalam hal membuat event yang lain, semacam menjadi Event Organization (EO). [T]

Repoter/Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Sawig, Album “Lakuta”, dan Lakuta Bali Tour di Singaraja
Oratorium Panji Sakti, Ragam Nusantara dan “Shortcut” — Catatan Malam Apresiasi Seni HUT Kota Singaraja
Renggama, Kelompok Musik Anyar yang Tak Biasa-biasa Saja dari Bali Utara
Tags: kedai kopimusikSingaraja
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menghidupkan Warisan Leluhur, I Gusti Anom Gumanti Pimpin Tradisi Ngelawar di Banjar Temacun Kuta

Next Post

Menjernihkan ‘Bias Citra’ Antara Dewi Danu, Jaya Pangus, dan Putri Cina

Son Lomri

Son Lomri

Mahasiswa Undikhsa, tinggal di Singaraja

Related Posts

Bangkitkan Legong Lasem Kelandis, Komunitas Ni Pollok Hidupkan Kembali Jejak Maestro di Pesta Kesenian Bali 2026

by Nyoman Budarsana
June 26, 2026
0
Bangkitkan Legong Lasem Kelandis, Komunitas Ni Pollok Hidupkan Kembali Jejak Maestro di Pesta Kesenian Bali 2026

Rasa penasaran tampak jelas dari raut wajah ribuan penonton yang memadati Kalangan Angsoka, Taman Budaya Bali, Kamis 25 Juni 2026....

Read moreDetails

‘A Night of Broadway’: Ketika Anak-Anak Janawati Academy of Performing Arts (JAPA) Bawakan Kisah-Kisah Dunia dalam Satu Panggung Musikal

by Dede Putra Wiguna
June 25, 2026
0
‘A Night of Broadway’: Ketika Anak-Anak Janawati Academy of Performing Arts (JAPA) Bawakan Kisah-Kisah Dunia dalam Satu Panggung Musikal

PERNAHKAH Anda menyaksikan kisah Aladdin, Rapunzel, atau The Little Mermaid? Pada Sabtu malam, 20 Juni 2026, kisah-kisah yang selama ini...

Read moreDetails

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026

by Nyoman Budarsana
June 23, 2026
0
Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026

DRAMA gong ternyata masih memiliki tempat di hati masyarakat Bali. Hal itu terlihat saat Sanggar Seni Nong Nong Kling dari...

Read moreDetails

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
0
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

Read moreDetails

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
0
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

Read moreDetails

“Aji Pemalik Sumpah” dari Sekaa Dramatari Arja Sudhamala di Pesta Kesenian Bali 2026: Pertama dan Total

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
0
“Aji Pemalik Sumpah” dari Sekaa Dramatari Arja Sudhamala di Pesta Kesenian Bali 2026: Pertama dan Total

SEKAA Dramatari Arja Sudhamala ini baru pertamakali pentas di ajang Pesta Kesenian Bali (PKB). Bahkan, sekaa kesenian tradisional Bali yang...

Read moreDetails

Ekpresi Anak-anak SLB dalam Pergelaran Tari Bali di Pesta Kesenian Bali 2026

by Nyoman Budarsana
June 20, 2026
0
Ekpresi Anak-anak SLB dalam Pergelaran Tari Bali di Pesta Kesenian Bali 2026

Ini pergelaran tari Bali biasa, tetapi orang-orang yang hadir justru membludak. Maklum, pentas seni itu dibawakan oleh anak-anak dari Sekolah...

Read moreDetails

Universitas Negeri Yogyakarta di Pesta Kesenian Bali 2026: Sendratari Ciptoning Mintaraga, Beber Warna Tari Yogya

by Nyoman Budarsana
June 20, 2026
0
Universitas Negeri Yogyakarta di Pesta Kesenian Bali 2026: Sendratari Ciptoning Mintaraga, Beber Warna Tari Yogya

GEMERLAP cahaya panggung di Gedung Ksirarnawa mempertegas para penari tampil dengan karakter dan busana yang berbeda. Beragam busana itu tentu...

Read moreDetails

Semarak Baleganjur “Seet Wangsul” Buleleng di Pesta Kesenian Bali 2026 —Terinspirasi dari Tradisi Bebayuhan Sanan Empeg di Desa Anturan

by Nyoman Budarsana
June 19, 2026
0
Semarak Baleganjur “Seet Wangsul” Buleleng di Pesta Kesenian Bali 2026 —Terinspirasi dari Tradisi Bebayuhan Sanan Empeg di Desa Anturan

Kabupaten Buleleng, tepatnya di Desa Anturan, terdapat sebuah ritual peruwatan yang masih hidup dan diwariskan secara turun-temurun. Namanya Bebayuhan Sanan...

Read moreDetails

Tiongkok di BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Perpaduan Seni Musik Pertunjukan, Tarian Tradisional hingga Pameran Warisan Budaya Tak Benda

by Nyoman Budarsana
June 18, 2026
0
Tiongkok di BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Perpaduan Seni Musik Pertunjukan, Tarian Tradisional hingga Pameran Warisan Budaya Tak Benda

MUSIK tradisional Opera Beijing "Gong dan Drum Tradisional Hakka" membuat penonton terkesima dengan perpaduan luar biasa antara kekuatan ritme yang...

Read moreDetails
Next Post
Menjernihkan ‘Bias Citra’ Antara Dewi Danu, Jaya Pangus, dan Putri Cina

Menjernihkan ‘Bias Citra’ Antara Dewi Danu, Jaya Pangus, dan Putri Cina

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kunang-Kunang yang Menghilang di Bali —Ketika Cahaya Kecil Padam, Apa yang Sesungguhnya Sedang Hilang dari Kesadaran Kita?
Esai

Kunang-Kunang yang Menghilang di Bali —Ketika Cahaya Kecil Padam, Apa yang Sesungguhnya Sedang Hilang dari Kesadaran Kita?

"Gemerlap lampu Manhattan tidak pernah mampu menggantikan cahaya seekor kunang-kunang." KALIMAT itu memang tidak pernah ditulis secara harfiah oleh Umar...

by Agung Sudarsa
June 27, 2026
Melepas Dunia, Mengetuk Langit
Ulas Musik

Melepas Dunia, Mengetuk Langit

DALAM sejarah musik populer abad ke-20, sedikit lagu yang mampu merangkum pengalaman eksistensial manusia dalam lirik sesederhana “Knockin’ on Heaven’s...

by Ahmad Sihabudin
June 27, 2026
Bangkitkan Legong Lasem Kelandis, Komunitas Ni Pollok Hidupkan Kembali Jejak Maestro di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Bangkitkan Legong Lasem Kelandis, Komunitas Ni Pollok Hidupkan Kembali Jejak Maestro di Pesta Kesenian Bali 2026

Rasa penasaran tampak jelas dari raut wajah ribuan penonton yang memadati Kalangan Angsoka, Taman Budaya Bali, Kamis 25 Juni 2026....

by Nyoman Budarsana
June 26, 2026
Tak Ada Kata Terlambat —Dari Ratnakara, Lubdhaka, Sri Ramakrishna hingga ‘The Turning Point Fritjof Capra’
Esai

Tak Ada Kata Terlambat —Dari Ratnakara, Lubdhaka, Sri Ramakrishna hingga ‘The Turning Point Fritjof Capra’

"Di mata Sang Guru, tidak ada dosa yang tidak dapat ditebus, tidak ada jiwa yang berada di luar pelukan kasih-Nya."...

by Agung Sudarsa
June 26, 2026
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro
Cerpen

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu
Puisi

Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

Tuhan Beri Aku Waktu Tuhan, di sisa napas ini beri aku mengadudalam gelombang hidup yang tak pernah pastiTuhan, beri aku...

by IBW Widiasa Keniten
June 26, 2026
Dari Ornamen ke Gagasan: Menata Ulang Masa Depan Seni Tradisional Bali
Kritik Seni

Dari Ornamen ke Gagasan: Menata Ulang Masa Depan Seni Tradisional Bali

“Tradisi tidak mati karena berubah; ia mati ketika berhenti dipikirkan.” PELESTARIAN seni tradisional di Bali tidak dapat berhenti pada estetika...

by Wayan Gde Yudane
June 26, 2026
Tanggung Jawab Moral Media Massa pada Pesta Kesenian Bali
Esai

Tanggung Jawab Moral Media Massa pada Pesta Kesenian Bali

PESTA Kesenian Bali (PKB) memerlukan media massa untuk publikasi dan dokumentasi, sedangkan media massa memerlukan PKB untuk menunjukkan tanggung jawab...

by I Nyoman Darma Putra
June 26, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Negeri Pesugihan

SIDANG pembaca yang budiman, coba anda buka Netflix atau platform streaming apa pun yang sedang populer. Tidak perlu menggulir lama-lama,...

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 26, 2026
Bagaimana Seharusnya Generasi Muda Menyikapi Inovasi Seni di Masa Kini?
Khas

Bagaimana Seharusnya Generasi Muda Menyikapi Inovasi Seni di Masa Kini?

 “Karya sampah ini. Kok bisa muncul di PKB?" KALIMAT itu masih diingat betul oleh Agung Rahma Putra. Sekitar satu dekade...

by Dede Putra Wiguna
June 26, 2026
Pengabdian Internasional Undiksha & Ubon Ratchathani University —Perkuat Kesadaran Antarbudaya Bali-Thailand
Pendidikan

Pengabdian Internasional Undiksha & Ubon Ratchathani University —Perkuat Kesadaran Antarbudaya Bali-Thailand

SINGARAJA – TATKALA.CO | Tim Pengabdi Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Undiksha sukses menggelar International Community Service-Based Workshop bertajuk “PROMOTING...

by tatkala
June 25, 2026
Semantik Logistik Modern: Kargo, Ekspedisi, dan Paket
Bahasa

Semantik Logistik Modern: Kargo, Ekspedisi, dan Paket

BAGI orang awam di bidang kargo seperti saya, kata kargo selalu memantik imajinasi tentang gudang yang pengap, deru mesin, aroma...

by I Made Sudiana
June 25, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co