22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mungkinkah Bumi Tanpa Konflik? Jawabnya Bersama Angin | Dari ”Blowing in The Wind” Bob Dylan

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
February 9, 2025
in Esai
Syair Pilu Berbalut Nada, Dari Ernest Hemingway Hingga Bob Dylan

Ahmad Sihabudin

Berapa jalan yang harus disusuri manusia. Sebelum kau bisa menyebutnya manusia?
Berapa laut yang harus dilayari merpati putih. Sebelum dia bisa rebah di atas pasir?
Ya, berapa kali meriam harus ditembakkan. Sebelum akhirnya dilarang?
Jawabnya, kawan, ada bersama angin.
Berhembus bersama angin. (lirik lagu Blowing in the wind,- Bob Dylan)

Bob Dylan mempertanyakan sebab segenap angkara murka terkesan seolah kodrat alam yang alih-alih dicegah malah dibiarkan untuk selalu terjadi di planet bumi ini. Menurut Jaya Suprana (2018) dalam ulasannya atas lagu ini  pertanyaan Bob Dylan “How many times can a man turn his head. And pretend that he just doesn’t see?“ pada dasarnya merupakan suatu kegelisahan kemanusiaan. Kemelut kegelisahan yang menghantui lubuk sanubari ketika saya terpaksa dengan mata kepala sendiri menyaksikan bagaimana rumah dan bangunan warga Bukit Duri, atas nama pembangunan digusur secara sempurna melanggar hukum dan hak asasi manusia pada 28 September 2018 lalu.

Penggalan lirik lagu terkenal, Blowing in the Wind‘ dari Bob Dylan di atas sarat makna untuk menjelaskan berbagai dinamika kehidupan manusia dalam menjalani kehidupan nyata ini. Penulis lagunya kini berusia 83 tahun, bukan orang biasa. Dia ‘raksasa’ di dunia musik, hingga saat ini.

Lagu Blowing in The Wind perdana dirilis pada tahun 1962. Mahakarya perpaduan musik dan puisi Bob Dylan yang 53 tahun kemudian memperoleh anugerah penghargaan Nobel pada tahun 2016. Mempertanyakan penderitaan umat manusia akibat angkara murka, kekerasan, dan penindasan dilakukan oleh manusia terhadap sesama manusia.

Pertanyaan yang sama selayaknya juga menghantui setiap insan manusia yang masih memiliki sisa nurani kemanusiaan; yang terjadi dari masa ke masa, ketika menyaksikan penderitaan warga Kampung Pulo, Pasar Ikan, Sukomulyo, Tulang Bawang, Kulon Progo, Kendeng, Pulau Pasir, Papua, yang digusur atas nama pembangunan. Begitu pun penderitaan warga Rwanda, Kongo, Sudan, Bosnia, Rohingnya, Uighur, Afghanistan, Yaman, Suriah, Irak, Chechnya. Sampai saat ini di Gaza masih terjadi pembantaian, penindasan, penganiayaan, bahkan rencana pembinasaan oleh sesama manusia atas nama ideologi, kepercayaan, kerakusan dan kekuasaan.

Ini yang menjadi kegetiran Bob Dylan dalam lagu tersebut. Seperti pagar laut di Kabupaten Tangerang, pantai utara yang sedang trending topic. Terlepas dari apakah ini salah prosedur atau kelalaian pemerintah, jelas di sana terjadi pelanggaran hak pada masyarakat atas tanah, ladang, sawah, dan laut untuk mencari nafkah, karena pagar sepanjang 30 km membentang di Kecamatan Teluk Naga, Sepatan, Pakuhaji, Mauk, dan Keronjo. Selain lautnya dipagar untuk di kavling-kavling, juga lahan daratnya ”dipaksa” untuk di jual atas nama Proyek Pantai Indah Kapuk (PIK 2).  Perampasan hak asasi manusia terus berlangsung, dengan berbagai modus alasannya.

Tentang lagu Blowing in the wind  Dian Basuki (2019) mengemukakan, bila anda lahir dari generasi yang cukup ”jadul”, barangkali masih ingat kepada lirik yang membuat banyak orang bersenandung atau bersiul sembari memetik gitar:

How many roads must a man walk down
Before you call him a man ?
How many seas must a white dove sail
Before she sleeps in the sand ?
Yes, how many times must the cannon balls fly
Before they’re forever banned ?
The answer my friend is blowin’ in the wind
The answer is blowin’ in the wind.

Penggalan lagu Blowing in the Wind yang ditulis Bob Dylan pada 1962, dan populer di sini pada 1970-an, lagunya enak dinyanyikan namun liriknya getir.

Bob Dylan memulai perjalanan panjang dengan lagu-lagu folk di tengah masyarakat yang terguncang oleh terjebaknya AS dalam Perang Vietnam. Bersama Joan Baez, Dylan menyanyikan lirik-lirik yang menyuarakan protes kepada perang, menyerukan perdamaian dan kebebasan  (https://www.indonesiana.id/read/94322/nobel-sastra-untuk-penyanyi-bob-dylan )

Andaikan tidak ada penindasan, peperangan, konflik di dunia hanya ada rasa tentram, itu mimpi saya, setiap mendengar lagu ini, air mata langsung meleleh, mungkin cengeng saya tidak bisa untuk menahan air mata ini untuk tidak keluar.

Tidak ada kekerasan di planet bumi ini mungkin hanya angan-angan saja; utopis kata para filsuf. Zaman telah memasuki detik-detik terakhirnya. Konflik, pertikaian dan pertarungan tak kunjung mereda. Apinya berkobar semakin dahsyat dan menjadi-jadi. Jiwa dan darah pun menjadi barang murah yang mudah sekali ditumpahkan.

Perang merupakan salah satu cara yang dipahami oleh beberapa negara dalam menyelesaikan konflik serta masalah yang mereka hadapi dengan negara lain di samping cara diplomasi. Perang dalam arti sempit adalah kondisi permusuhan dengan menggunakan kekerasan dan biasanya menggunakan senjata sehingga perang seringkali membawa kerugian bagi para pelakunya.

***

Hati manusia semakin resah. Hidup mereka penuh dengan kegelisahan dan rasa pesimis. Sampai kapan konflik ini akan terus terjadi? Pertanyaan besar orang-orang Palestina, di Gaza sana.                                 

Kapan kegaduhan ini akan berakhir? Rasa aman menjadi barang langka. Sebagian dari mereka yang belum kuat imannya mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri. Lebih baik mati daripada melihat kekejian yang tak kunjung habis ini, kata mereka. Tapi mungkinkah menghapus konflik di muka bumi ini? Sementara yang bertarung adalah antar pengikut haq dan batil. Tak hanya itu, para pengikut kebatilan juga saling menyerang. Dan yang paling menyedihkan, para pengikut kebenaran yang sama-sama berucap syahadat juga saling bertikai (https://inilah.com/mozaik/2274387/mungkinkah-mewujudkan-dunia-tanpa-konflik).

 Menurut para filsuf, konflik adalah bagian dari perubahan. Di dunia ini berjalan sistem yang amat teratur dan rapi. Berputarnya bumi, terbitnya matahari dari timur dan tenggelam di barat. Api yang membakar, air yang mengalir, dan segala sesuatu yang berjalan sesuai aturan alam ini disebut Sunnatullah. Konflik adalah termasuk Sunnatullah yang pasti terjadi. Bukan berarti Allah SWT ingin keburukan bagi hamba-Nya, namun konflik ini adalah suatu kelaziman yang harus terjadi.

Tanpa adanya konflik, kehidupan manusia tidak akan berjalan. Contohnya laut dipagar, timbul konflik; dan di dalam konflik ada pergerakan kehidupan. Semuanya jadi geger dan repot, sampai urusan pagar bambu saja, TNI AL harus turun tangan. Pada hal cukup urusan ini selesai di Babinsa Desa, seloroh saya hehehe…, harus orang pusat semuanya yang turun tangan. Konflik membuat semuanya jadi hidup. Mungkin interpretasi saya yang keliru.

 Lalu mungkinkah konflik di dunia ini dihapuskan? Jawabnya seperti dalam penggalan bait lagu blowing in the wind. Sebuah pertanyaan retoris tentang perdamaian, perang, dan kebebasan., “Berapakali kau harus mendongak sebelum kau lihat langit? Berapa telinga yang harus kita punya untuk mendengar tangisan? Berapa banyak lagi kematian di bumi. Hingga kita sadar terlalu banyak yang mati?. Jawabnya, kawan, bersama angin, Berhembus bersama angin.” [T]

Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole

  • BACA artikel lain dari penulis AHMAD SIHABUDIN
Syair Pilu Berbalut Nada, Dari Ernest Hemingway Hingga Bob Dylan
Selamat Ulang Tahun Bob Dylan: Panjang Umur Seni dan Perlawanan
Belajar Filsafat dari Anak Band Sekaliber Bob Dylan
Tags: Bob Dylanlagulirik lagu
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Merajut Kebersamaan di Hari Turunnya Ilmu Pengetahuan | Cerita Hari Suci Saraswati di UPMI Bali

Next Post

Dramaturgi Politik Gas Melon

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails

Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

by I Made Sudiana
October 19, 2026
0
Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

SEBUAH tulisan di ruang publik pada hakikatnya adalah undangan terbuka untuk berdiskusi. Melalui tanggapan kritis yang disampaikan oleh IGA Darma...

Read moreDetails

Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

by Angga Wijaya
October 18, 2026
0
Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

MALAM  itu saya menghubungi Aryantha Soethama melalui WhatsApp. Ia adalah penulis senior asal Bali yang mengawali kegiatan menulis sejak remaja,...

Read moreDetails
Next Post
Suburnya Politik Dinasti di Pulau Dewata

Dramaturgi Politik Gas Melon

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran
Bahasa

“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran

DUNIA kuliner di Bali saat ini sedang ramai-ramainya dengan berbagai pilihan olahan. Dari tradisi babi guling yang legendaris hingga tren...

by I Made Sudiana
October 19, 2026
Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional
Pendidikan

Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional

SINGARAJA | TATKALA.CO -- Kabar membanggakan datang dari dunia pendidikan teknologi di Kabupaten Buleleng. Langit Biru, siswa Timedoor Academy Singaraja,...

by Rusdy Ulu
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co