24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Michael Essien? Ah, “Biase Gen” – Memahami Cara Pandang Orang Bali terhadap Pemain Top

Kambali Zutas by Kambali Zutas
February 2, 2018
in Esai

Michael Essien menjadi perwakilan Persib dalam peluncuran Liga 1, Senin (10/4/2017)./Foto: FIFA

Michael Essien begitu dikenal oleh publik Bandung, bahkan mungkin Indonesia. Pemain top atau marquee player status yang disandangnya setelah resmi dikontrak Persib Bandung. Nilai kontrak yang rumornya mencapai Rp 11 miliar menjadi ukuran pemain termahal sejagad Nusantara.

Kedatangan pemain yang pernah berseragam Real Madrid, AC Milan, dan Chelsea ini pun disambut dengan hinggar bingar. Bahkan saat latihan hingga ke hotel atau ke mana pun “sang bintang” dibuntuti. Tak sekadar ingin tahu, namun juga foto bersama dan minta tanda tangan menjadi ritual khusus ketika bertemu dengan “sang mega bintang”.

Klub dan sponsor tahu betul ini market karena menjadi magnet bagi suporter, fans, pendukung, penonton dan masyarakat umum. Publik Bandung mengelu-elukan sang bintang. Ingin melihat, menonton, berdampingan, dan meniru gaya bermain kalau bisa. Atau minimal memiliki jerseyhasil penggandaan dengan label orisinil.

Rasa penasaran publik Bandung terjawab ketika Essien diturunkan pada pertandingan uji coba. Puncaknya saat Maung Bandung (julukan Persib Bandung) meladeni Bali United dalam laga bertajuk uji coba di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), Sabtu (08/04/2017).

Meski hasilnya jauh dari kata memuaskan karena Persib secara mengejutkan kalah 1-2, namun publik Bandung tak lantas kecewa, meninggalkan stadion atau dengan ekspresi lain. Bahkan dalam laga itu diwarnai insiden “memalukan” ketika Essien mengejar Yabes Roni setelah tidak sengaja terkena bola sepakan pemain muda Bali United ini.

Insiden yang menjadi trending topic mewarnai pemberitaan di dalam negeri hingga luar negeri itu, tetap menempatkan Essien seorang bintangnya. Sedangkan Yabes, pemain baru kemarin jadi harus minta maaf atas insiden itu.

Nah, bagaimana kalau Essien gabung dengan Bali United bermain di Bali?

Tentu jawabannya tidak akan terjadi. Pertama karena Bali United tidak menghendaki, kedua mengapa harus mendatangkan pemain berlebel pemain bintang. Ukuran bintang di Bali jauh lebih tinggi dibandingkan di daerah lain. Bintang yang betul ada di langit, bukan bintang jatuh di bumi begitu kira-kira gambarannya.

Di Bali pemain punya nama dan berbintang atau berlebel marquee player (sekadar lebih gampang penyebutan) tidak akan disambut bak bintang. Jangankan dikerumuni, diajak foto bersama pun tidak. Apalagi ada yang teriak-teriak histeris, hingga nekat menerobos petugas keamanan dengan ingin memeluk sang idola. Tidak pernah seperti itu di Bali. “Biasa gen, biasa saja.” Begitu ujaran yang kerap terdengar.

Terbukti beberapa pemain top dunia berseliweran di Pantai Kuta, Ubud dan Bedugul. Mereka santai seperti wisatawan lain seperti tidak ada yang mengenalnya. Misalnya, tiba-tiba gelandang Timnas Jerman Sami Khedira meng-upload fotonya di Bali. Kiper Timnas Jerman Manuel Neuer mengambil gambar dengan background Pura Ulun Danu, Bedugul, Tabanan. Juga kiper muda sensasional Timnas Spanyol yang kini membela klub Manchester United (MU) David De Geadan Edwin Van der Sar (Belanda).

Kalau kita telusuri, tidak kurang 12 pesepak bola top dunia yang pernah menikmati indahnya Bali. Belum lama ini misalnya, legenda MU Ryan Giggs dan Garry Neville kedapatan berada di sebuah hotel di Kuta. Federico Bernardeschi dan Stephan El Shaarawy (Italia), Chris Smalling (Inggris-MU) yang mengalami kecelakaan bermain surfing. Juga mantan pemain MU, Luis Nani (Portugal).

Bahkan bintang David Beckham (Inggris) pernah menikmati indahnya panorama Bali. Cristiano Ronaldo (Real Madrid) dengan segala daya tariknya baik di dalam lapangan maupun di luar lapangan hijau juga pernah menginjakkan kaki dan “bermain” bola di Bali, dua kali. Terakhir mega bintang asal Portugal ini menanam mangrove waktu itu (25/06/2013) pun tidak ada antusias (selain ada udang di balik batu).

Lalu, di level domestik Persegi Bali FC pernah mendatangkan pemain sekaliber Oscar Aravena. Pemain yang dipuja-puja selama membela Persela Lamongan, namun di sini, ya, diterima seperti pemain lainnya. Bali United pun pernah mencoba “membintangkan” Irfan Bachdim. Pemain yang moncer di Liga Jepang dan dielu-elukan saat membela Timnas Indonesia ini akan disambut bak bintang. Mulai dari bandara dibuat dokumentasi dengan cara diintai layaknya realty show.

Namun hasilnya, Bachdim ya Bachdim, bukan siapa-siapa. Ia pemain sepak bola yang akan dielu-elukan, disambut tepuk tangan jika di lapangan bermain bagus. Lebih-lebih mencetak gol sehingga Bali United menang.

Di Bali seakan tidak ada pemain bintang kecuali seorang pemain yang penampilannya jempolan sepanjang pertandingan. Nama tidak akan disematkan kecuali ia bermain perfect punya peran lebih di dalam skuat. Kalau hanya nama bukan skill dan kebutuhan tim, maka jangan harap tujuan meningkatkan kualitas dan pemasaran klub tercapai.

Maka jangan heran jika manajemen Bali United berfikir ulang dan mengulur-ulur akan mendatangkan pemain berstatus Marquee player atau designated player. Bahkan sekarang menunggu kondisi tim dalam beberapa pertandingan Liga I.

Kalau kita telusuri cara pandang masyarakat Bali terhadap orang penting seolah menjadi subkultur tersendiri. Bukan hanya pemain sepak bola ternama yang pernah ke Bali, namun ribuan selebriti, pakar orang istimewa, penerima Nobel, gangster yang berkunjung ke Bali. Para selebriti pribumi dan asing itu datang secara terbuka, jalan-jalan di tempat ramai, mandi dan berjemur di pantai.

Kesempatan mengobrol dengan mereka dan minta tanda tangan sangat terbuka, namun tidak melakukannya. Bagaimana hingar-bingar berita media nasional dan internasional memberitakan shooting Julia Robert dalam proses pembuatan film Eat, Pray, Love, namun tidak berlaku bagi masyarakat di Ubud. Biasa saja. Mereka justru ada yang merasa terganggu karena tidak bisa beraktivitas di pasar. Seolah-olah semua itu sudah sangat biasa, dan tak apa-apa kalau dibiarkan berlalu begitu saja.

Lalu Gde Aryantha Soethama berujar “Maha Penting Bali” dalam bukunya “Menitip Mayat di Bali” (Penerbit Kompas: 2016). Bali sesungguhnya sebuah pulau maha penting, karena saban tahun dikunjungi tokoh-tokoh berwibawa, orang-orang penting, manusia-manusai terkenal dan brilian.

Namun entah kenapa Bali seolah tak pernah punya kepentingan terhadap manusia-manusia penting itu. Bali terasa hanya membutuhkan rupiah dan dolar yang tersimpan di kocek mereka. Tentu tak keliru kalau muncul komentar, Bali telah menyia-nyiakan banyak kesempatan yang diberikan industri pariwisata. (T)

Tags: baliIndonesiaolahragasepakbola
Share18TweetSendShareSend
Previous Post

Kuningan Tradisi Sunda Kuno?

Next Post

“Perang Jempana” atau “Battle of Palanquins”: Cara Bahagia Meluapkan Rasa Terima Kasih

Kambali Zutas

Kambali Zutas

Lahir di Nganjuk, Jawa Timur, kini tinggal di Denpasar, Bali. Kesibukan sehari-hari selain jurnalis, juga menulis esai, puisi, dan cerpen. Berkecimpung di organisasi profesi sebagai Anggota Bidang Etika dan Profesionalisme AJI Kota Denpasar.

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post

“Perang Jempana” atau “Battle of Palanquins”: Cara Bahagia Meluapkan Rasa Terima Kasih

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co