23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Esensi Mendaki Gunung: Antara Cerita, Realita dan Harapan

IG Arta by IG Arta
February 4, 2022
in Esai
Esensi Mendaki Gunung: Antara Cerita, Realita dan Harapan

Foto: IG Arta

Andai Tuhan tak sabar memberi kesempatan saya untuk masih menjadi guru, mungkin saya sudah menjadi orang terkenal yang diiberitakan dan diperbincangkan dimana-mana. Bukan menjadi selebritis atau selebgram, tapi menjadi headlines sebuah berita di media massa.

Judulnya mungkin seperti ini: “Seorang guru tewas terjatuh di lereng Batukaru saat mendakii. Menghebohkan tapi tragis”.

Itu bermula dari suatu senja, di akhir Desember 2020, tiga serdadu SIDHABU (sebutan untuk anggota dan mantan SIspala DHArma BUwana, SMP N 2 Melaya)  berkunjung ke rumah dengan misi,  bukan saja untuk menjaga hubungan baik, antara guru dan mantan murid,   tetapi yang utama adalah permintaan untuk mengawal mereka mendaki  Gunung Batukaru.

Mereka sangat paham bahwasanya saya sangat sulit menolak untuk diajak kegiatan seperti itu. Karena mereka tahu, kami berada pada frekuensi yang sama, yaitu sebagai mahluk penikmat kesunyian dan pemuja rimbunnya belukar.

Singkat cerita, kami memutuskan untuk merayakan Natal dengan mendaki Gunung Batukaru.

Setelah memperdebatkan rencana aksi, dan mempersiapkan segala keperluan, keesokan pagi, sekitar jam 5.30 kami berenam, terdiri dari tiga anggota SHIDABU, satu teman SMA  mereka, saya  dan anak lelaki saya, ,bergerak  dari Negara dengan tiga sepeda motor menuju Pura Malen, di Pujungan, Pupuan, Tabanan. Pura Malen  sebagai Starting point pendakian.

Sekitar jam 10.00 kami memulai pendakian dengan semangat yang sangat membara. Bukan hanya karena pengalaman kami yang masih minim dalam mendaki,  yang menumbuhkan rasa antusias yang tinggi,  tetapi lebih kepada sensasi menelusuri hutan yang masih sangat asri dan seni.

Ada ketakjuban yang tak terkatakan. Juga harapan, andai saja semua gunung dan hutan di semua tempat masih seperti ini. Tentu keberadaban kita terhadap mahluk lain  yang katanya masih di bawah kita levelnya, tidak perlu diperdebatkan lagi.

Setelah hampir tujuh jam pendakian, karena kami memang tidak ngegas pol untuk segera sampai ke puncak, karena prinsip kami justru proses pendakianlah yang menjadi skala prioritas untuk dinikmati. Kami sampai di puncak dengan bahagia.

Bergegas kami membangun dua tenda, karena gerimis mulai turun. Kemudian segala bentuk rutinitas berkemah di puncak gunung pun kami lalui. Mulai dari kegiatan masak sederhana, bermodalkan mie instan, telur rebus dan sosis, bermain gitar, dan menyalakan api unggun “sampah”, serta obrolan ringan pengantar tidur.

Hal istimewa yang bisa dikenang malam itu adalah dinginnya udara yang sangat menyengat. Logikanya, di puncak ketinggian pasti dingin, tapi ini lebih dari biasanya, menurut saya.

Saya mengenakan dua celana panjang tebal, kaos kaki ganda, dengan kombinasi dua kaos lengan pendek dan panjang, jacket tebal, kupluk di kepala, serta selop tangan tebal, tidak mampu membendung dinginnya udara malam itu.

Akhirnya dengan mengkonsumsi air panas, saya baru bisa terlelap beberapa saat. Sungguh pengalaman pertama menghabiskan malam dengan sangat kedinginan.

Keesokan pagi, setelah berfoto-foto bersama dengan sunrise dan suasana sekitar,  kenangan yang tak terlupakan itu terjadi. Saat itu, saya bersama anak memutuskan untuk mendahului turun dengan pertimbangan agar tidak terlalu jauh tertinggal dan bisa sampai di bawah bersamaan, mengingat kemampuan fisik saya yang berbeda dengan mereka.

Mereka setuju dengan syarat saya dikawal salah satu dari mereka. Bahkan mereka juga membekali saya dengan trekking pole –nya. Juga, di saat turun itu, saya menemukan sebuah tongkat bekas pendaki lain yang terbuang. Tongkat itu saya berikan ke anak saya untuk digunakan. 

Beberapa menit berjalan, keteledoran kecil yang berdampak saya nyaris celaka, atau bahkan nyaris pulang tinggal nama. Saya terjatuh ke lereng gunung yang terjal dan dalam. Setapak yang nampak normal, dengan rumput yang masih utuh, ketika diinjak ternyata lubang yang tidak berisi tanah.

Hujan yang terus menerus di musim itu rupanya telah menggerus tanah di bawah rumput.  Saya terjatuh dalam posisi salto dua kali, dan beruntung ada pohon paku atau pakis besar bisa saya raih.

Kepanikan anak dan murid pengawal saya terdengar dari teriakan mereka yang terus menerus memanggil nama saya. Saya baru bisa membalas panggilan itu setelah menyadari bahwa saya baik-baik saja. Hanya kupluk kesayangan saya yang hilang. Selebihnya semua aman.

Dengan tenaga yang tersisa saya perlahan mulai mendaki mendekati mereka . Kesulitan terjadi saat saya harus naik ke setapak, sementara kondisi medan licin dan longsor. Beruntung saya dbekali trekkng pole dan tongkat pungut tadi.

Dengan kerja keras,  masing-masing dari mereka menarik saya dengan bantuan tongkat-tongkat itu..  Kami menenangkan diri sesaat sebelum melanjutkan perjalanan turun. Sambil menghela nafas  saya merenung, ternyata ada hikmah dari trekkng pole  dan tongkat pungut itu. Mereka telah menyelamatkan saya.

Dan yang lebih beruntung lagi, pengalaman gelap itu tak mampu menghitamkan passion saya untuk mendaki dan masuk hutan lagi. Kecintaan saya masih sangat besar dan utuh. Justru, itu memotivasi saya untuk mendaki lagi dan lagi. Tentu dengan memprioritaskan  keselamatan dan keamanan pendakian.

Bahkan ada keinginan untuk mengajak lebih banyak orang lagi, untuk lebih mencintai alam  dengan kegiatan ini.

Bagi sebagian orang, dari cerita mereka yang saya dengar dan baca, selain sebagai bentuk pembuktian keperkasaan diri menaklukan ketinggian dengan berjalan kaki,  mendaki juga bagus untuk menyegarkan pikiran dari kejenuhan rutinitas. Disamping, kegiatan mendaki juga terkatagori kegiatan yang sangat ramah dengan sosial media. Dan masih banyak lagi alasan lainnya yang bersifat personal.

Namun bagi saya, mendaki adalah ruang untuk berbalas budi atas apa yang gunung dan hutan telah berikan. Sekaligus,  sebagai ajang untuk beramah tamah dengan semesta. Dengan mendaki, keinginan untuk melestarikan alam, khususnya gunung beserta isinya semakin tinggi. Selalu tumbuh niat untuk menjaganya dari kerusakan. 

Penulis, suatu pagi di sebuah ketinggian…

Mungkin terdengar naif dan sangat klise, tapi itulah perasaan yang tidak bisa saya pungkiri. Bagi saya dengan mendaki, kita bisa lebih  mengakrabkan diri dengan alam, mengenali dan memahami dari dekat, sehingga timbul rasa cinta, yang berujung pada rasa sayang yang dalam dan tulus.

Walaupun memang  tak semua kegiatan mendaki berdampak positf bagi alam. Masih sering kita jumpai beberapa aksi yang kurang terpuji dari beberapa oknum pendaki, yang menurut saya,  mereka masih belum siap mental untuk memahami esensi dan sensasi dari mendaki.

Seperti, masih ada saja pendaki yang membuang sampah plastik bawaan mereka atau anorganik lainnya disepanjang perjalanan pendakian. Atau tindakan menulisi pohon dengan pisau atau tinta sebagai bentuk pengakuan eksistensi. Mereka hanya butuh kesadaran diri tanpa perlu menambah regulasi lagi. Dan itu butuh proses.

Juga, meski mendaki memilki dampak negatif lainnya, utamanya bagi pendaki, seperti mengalami kedinginan, atau terjatuh, atau hal lain  yang bahkan sangat membahayakan jiwa pendaki jika terjadi kesalahan dalam melakukannya, menurut saya, itu adalah hal biasa yang  juga bisa terjadi pada kegiatan atau aktivitas yang lain. Sebagaimana konsep Rwa bhineda, hitam dan putih pasti akan selalu ada di setiap aspek kehidupan sebagai bentuk sebuah keselarasan. [T]

Tags: Gunung BatukarulingkunganMendaki Gunungpecinta alam
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Aksara Bali di Ruang Publik | Yang Ditulis Suaranya, Bukan Menyalin Hurufnya

Next Post

Konservasi Lontar di Jembrana | Lontar di Dadya Kayu Selem Desa Budeng Sebagian Lapuk

IG Arta

IG Arta

Guru. Tinggal di Kelurahan Lelateng, Negara, Jembrana

Related Posts

Wajah Indonesia Bopeng

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

Read moreDetails

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails
Next Post
Konservasi  Lontar di Jembrana | Lontar di Dadya Kayu Selem Desa Budeng Sebagian Lapuk

Konservasi Lontar di Jembrana | Lontar di Dadya Kayu Selem Desa Budeng Sebagian Lapuk

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers
Pendidikan

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers

SEBANYAK 102 anggota dan calon anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bali mengikuti Orientasi Kewartawanan dan Keorganisasian (OKK) di Gedung PWI...

by Dede Putra Wiguna
August 23, 2026
Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   
Opini

Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

IRONI yang sulit diterima ketika seseorang yang berdiri di puncak lembaga pendidikan justru berhadapan dengan hukum karena dugaan praktik yang...

by I Ketut Suar Adnyana
August 23, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Wajah Indonesia Bopeng

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas
Kritik Sastra

Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas

ADA satu kesalahpahaman yang terlalu lama mengiringi cara kita memandang Tuli: seolah-olah Tuli hanya dapat dibicarakan dari apa yang tidak...

by Bagja Wiranandhika Prawira
August 23, 2026
Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud
Panggung

Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

KETIKA musik itu dimainkan, nadanya terasa enak, liriknya menyentuh hati, dan langsung terbayang cerita drama seri yang sangat populer. Melodinya...

by Nyoman Budarsana
August 23, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co