23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sekapur Sirih Manusia Den Bukit: Cerdas, Terbuka, Berani “Trials and Errors”

Jro Gde Sudibya by Jro Gde Sudibya
October 19, 2021
in Esai
Sekapur Sirih Manusia Den Bukit:  Cerdas, Terbuka, Berani  “Trials and Errors”

Foto ilustrasi tatkala.co | Mursal Buyung

Akhir Desember 1971, saya  pindah dari Singaraja ke Jakarta. Beberapa bulan di Jakarta, saya kemudian menjadi mahasiswa kedinasan Akademi Dinas Perdagangan, Departemen Perdagangan, Jakarta.

Di tengah kegugupan dalam melakukan adaptasi di Ibu Kota, terus-terang saya mengalami semacam  gegar  budaya,, atau cultural shock (meminjam istilah penulis ternama Alvin Tofler dalam bukunya Cultural Shock).  

Saya berkenalan dengan mahasiswa seangkatan yang tampilannya keren, tampaknya datang dari kalangan “the have Jakarta”, bernama Rudi, putra Aceh. Dalam perkenalan awal, Rudi cerita  kakeknya Tengku Daud Sjah, pernah menjadi Gubernur Sunda Kecil di awal tahun 1950-an dan tinggal menetap di Singaraja.

Rudi dipesani oleh kakeknya. Dalam bahasa Rudi: “Luangkan waktu untuk datang ke Singaraja, kota yang nyaman untuk disinggahi, dan orang-orangnya bercirikan terbuka, cerdas dan punya kemauan keras untuk terus belajar”.

Sebagai orang Singaraja yang sedang mengalami cultural shock dan juga home sick  ke Singaraja, pernyataan rekan ini begitu membekas, dan memendam rasa ingin tahu yang mendalam untuk mencari tahu jawabannya.

Sayup-sayup rasa ingin tahu ini menghilang, setelah mampu melakukan adaptasi terhadap kehidupan Ibu Kota, yang merupakan  melting pot  budaya dari insan-insan manusia Indonesia.

Satu dasa warsa setelah itu, sekitar awal tahun 1980-an saya berkenalan dengan Bapak Ida Bagus Oka Puniatmadja, anggota DPR RI yang sekaligus Wakil Ketua Umum PHDI dan kemudian menjadi Ketua World Hindu Parisad.

Dalam berbagai kesempatan, tidak pernah ditanya, secara spontan beliau cerita tentang keunikan dan keunggulan budaya yang dimiliki oleh orang-orang Den Bukit, sebutan lain untuk Buleleng.

Pada awalnya saya tidak menanggapi, karena saya anggap  beliau sedang bernostalgia tentang kehidupan di masa remaja ketika menjadi siswa SMA Negeri Singaraja di awal tahun 1950-an.

 Pernyataannya yang konsisten tentang keunggulan dari manusia Den Bukit oleh agamawan ini, saya menjadi teringat kembali dengan pernyataan rekan Rudi  saat awal-awal berada di Jakarta.

Dua warsa kemudian, di awal tahun 1990-an, saya berkenalan dan kemudian bersahabat dengan ahli linguistik dan antropolog ternama  Bali, Prof.I Gst. Ngurah Bagus, yang menurut pengakuan beliau banyak meneliti aspek bahasa, budaya dan mencermati sejarah Den Bukit. 

Rekan senior Prof. Bagus tanpa diminta dan dalam berbagai kesempatan bercerita tentang keunggulan budaya manusia Den Bukit. Banyak orang mengetahui ilmuwan sosial ternama ini bukanlah sosok manusia yang suka basa-basi dan mudah memberikan pujian.

Dari testimoni Tengku Daud Sjah, rangkaian pernyataan Pak IB Oka Puniatmadja (nama beliau semasih walaka), uraian komprehensif dari Prof. Bagus, serta informasi dari sejumlah sumber lainnya, pernyataan Tengku Daud Sjah kepada cucunya Rudi, tentang ciri umum kepribadian orang-orang Singaraja yang berupa: terbuka, cerdas dan punya kemampuan kuat untuk belajar, bisa disebabkan oleh (tentatif) beberapa factor.

Pertama, manusia yang menghuni Den Bukit (kurang lebih 30 persen dari luas pulau Bali), adalah orang-orang yang secara sengaja menjauhi pusat kekuasaan, terutama sejak pusat pemerintahan pindah dari Gelgel ke Semarapura, orang-orang bebas, yang punya kemerdekaan dalam mengembangkan kepribadian, komunitas dan kebudayaannya.

Kalau boleh mengambil analogi (yang tidak seluruhnya pas),eksodus ini seperti  sejarah eksodus orang Eropa yang pindah ke sebuah benua yang di kemudian hari menjadi negara AS.

Kedua, penyebutan nama Den Bukit (di seberang bukit, yang membentang dari Bantiran sampai Tejakula), secara kosmologi ruang Bali sudah memberikan penjelasan dengan sendirinya, self explanation, terhadap kekhasadan kultur manusia penghuninya.

Ketiga, kehidupan yang relatif lebih egaliter, melahirkan sebut saja “kenyamanan ” sosial bagi warganya untuk mengambil keputusan, keberanian mengambil risiko, berani trials and errors, mencoba dan salah, membentuk kepribadian insan-insan manusianya dan pembentukan sistem nilainya.

Kemudian timbul pertanyaan reflektif: dengan keunggulan budaya ini, termasuk di dalamnya adaptasi merespons perubahan, kenapa keunggulan budaya ini belum berkonribusi maksimal terhadap peningkatan kesejahteraan ekonomi dan sosial kultural warganya?

Pertanyaan itu semestinya segera dijawab oleh kalangan intelektual  Den Bukit, Kabupaten Buleleng yang masih punya kepedulian. [T]

Tags: bulelengdenbukitSingaraja
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tirtour Yatour Edisi Bangli | Bukan Hanya Sekadar Gigs Gradag-Grudug

Next Post

Syakieb Sungkar, Kolektor yang Melukis, Lukisan yang Banyak Cerita

Jro Gde Sudibya

Jro Gde Sudibya

Ketua FPD (Forum Penyadaran Dharma) Denpasar. Sekarang menetap di Banjar Pasek, Desa Tajun, Den Bukit, Bali Utara. Pengarang buku: Hindu Menjawab Dinamika Zaman, Agama Hindu & Budaya Bali (Bunga Rampai Pemikiran), penulis epilog dalam buku: Dharma Agama & Dharma Negara.

Related Posts

Wajah Indonesia Bopeng

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

Read moreDetails

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails
Next Post
Syakieb Sungkar, Kolektor yang Melukis, Lukisan yang Banyak Cerita

Syakieb Sungkar, Kolektor yang Melukis, Lukisan yang Banyak Cerita

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026
Budaya

Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026

Semarak Buleleng Festival 2026 terus memuncak. Pada malam kelima, suasana Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja dipenuhi canda, musik, dan...

by tatkala
August 23, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [5]: Penerbit yang Tidak Pernah Menolak

Buka KBM App, atau Wattpad, atau NovelToon, atau GoodNovel, atau salah satu dari selusin platform serupa yang tumbuh dalam ekosistem...

by Andre Syahreza
August 23, 2026
PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers
Pendidikan

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers

SEBANYAK 102 anggota dan calon anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bali mengikuti Orientasi Kewartawanan dan Keorganisasian (OKK) di Gedung PWI...

by Dede Putra Wiguna
August 23, 2026
Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   
Opini

Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

IRONI yang sulit diterima ketika seseorang yang berdiri di puncak lembaga pendidikan justru berhadapan dengan hukum karena dugaan praktik yang...

by I Ketut Suar Adnyana
August 23, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Wajah Indonesia Bopeng

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas
Kritik Sastra

Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas

ADA satu kesalahpahaman yang terlalu lama mengiringi cara kita memandang Tuli: seolah-olah Tuli hanya dapat dibicarakan dari apa yang tidak...

by Bagja Wiranandhika Prawira
August 23, 2026
Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud
Panggung

Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

KETIKA musik itu dimainkan, nadanya terasa enak, liriknya menyentuh hati, dan langsung terbayang cerita drama seri yang sangat populer. Melodinya...

by Nyoman Budarsana
August 23, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co