23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kenapa Harus Dokter Spesialis?

Putu Arya Nugraha by Putu Arya Nugraha
February 22, 2021
in Esai
Kenapa Harus Dokter Spesialis?

Dokter Arya (penulis) memeriksa pasien

Saat ini, lulusan dokter umum di Indonesia mempunyai beberapa jalur karir untuk dipilih. Kalau dilihat pada umumnya, ada empat jalur karir pilihan mereka meliputi, tetap sebagai dokter umum, melanjutkan pendidikan dokter spesialis, menjadi dosen preklinik/peneliti di universitas atau bergabung dengan TNI/POLRI sebagai dokter militer. Yang pertama adalah yang terbanyak, mereka antara lain berpraktek sebagai dokter umum atau saat ini mengarah sebagai dokter keluarga yang bekerja di puskesmas atau praktek mandiri. Dokter umum juga dapat bekerja di instalasi gawat darurat (IGD) rumah sakit, menjadi pegawai struktural di rumah sakit atau dinas kesehatan juga sebagai staf medis pada perusahaan farmasi, asuransi dan lain-lain seperti tambang dan industri. Pilihan untuk melanjutkan pendidikan ahli merupakan primadona saat ini, namun terkendalan keterbatasan daya tampung universitas. Pilihan sebagai dosen, tidak sekencang daya tarik menjadi dokter spesialis meski kebutuhan dosen sebetulnya cukup tinggi. Yang terakhir, menjadi dokter militer tampaknya paling kecil proporsinya, karena memang kuotanya tidak terlampau banyak dan mereka bekerja pada rumah sakit TNI/POLRI dengan mobilisasi yang sangat cepat.

Harus diakui, dari ketiga pilihan karir tersebut, pada umumnya penghasilan sebagai dokter ahli masih paling tinggi. Bahkan pada beberapa keahlian, pendapatannya sedemikian fantastik jauh di atas pendapatan rata-rata kedua pilihan karir dokter yang lain. Penghasilan yang sangat besar tersebut didapatkan dari jasa medis bekerja di rumah sakit ditambah penghasilan praktek rawat jalan, yang dapat meliputi di tiga tempat kerja. Bahkan untuk dokter spesialis konsultan, selain tiga tempat kerja tadi, masih diizinkan di beberapa tempat tambahan lagi mengingat keahliannya yang lebih spesialistik karena diperlukan oleh masyarakat. Di luar itu, seorarng dokter ahli tak jarang mendapat job tambahan sebagai pembicara dalam pertemuan-pertemuan ilmiah medis seperti seminar atau pelatihan. Maka saat ini, menjadi seorang dokter spesialis umumnya adalah semacam protap karena telah menjanjikan penghasilan yang wah untuk bisa hidup nyaman atau mungkin mentereng. Sebuah harapan alamiah pada diri setiap manusia.

Menjadi dokter umum sesungguhnya dapat memberikan penghasilan yang cukup memadai. Apabila pasien di praktek sore banyak, penghasilan dokter umum kadangkala dapat melebihi income dokter ahli. Jika misalnya pasien umum sedikit, saat ini dengan skema kapitasi pasien BPJS, terjadi peluang pemerataan penghasilan di kalangan dokter umum yang melayani pasien BPJS. Dibandingkan dengan pegawai pemerintah yang lain pada golongan yang sama, tentu seorang dokter akan memiliki potensi penghasilan tambahan dengan kompetensinya  menjual jasanya sebagai dokter praktek. Demikian pula pilihan menjadi dosen dan peneliti di universitas atau staf medis pada perusahaan farmasi dan asuransi, umumnya merupakan pilihan kedua setelah prioritas pertama untuk menjadi dokter spesialis tidak terwujud. Sistem yang berlaku saat ini di Indonesia, memberikan kesempatan kepada seorang dokter dosen untuk juga bisa berpraktek sebagai dokter praktek mandiri di sore atau malam harinya. Bahkan bisa bekerja pada klinik atau mengambil jaga malam di IGD rumah sakit.

Daya tarik yang sangat memikat untuk menjadi seorang dokter spesialis dapat menciptakan potensi praktek-praktek tidak fair di masa depan. Dan ini bukanlah hal sederhana namun dapat menjadi sumber permasalahan yang besar dan serius bagi kalangan medis di Indonesia. Dalam persaingan yang sangat ketat, berbagai cara dapat dilakukan dan bukan tidak mungkin mengarah pada komersialisasi pendidikan. Dengan demikian, peluang mereka yang sesungguhnya qualified semakin kecil jika tak didukung oleh modal dana yang kuat. Maka pemerintah mesti mulai memikirkan hal ini. Sebaiknya ada regulasi yang dapat mengatur pendapatan dokter dengan berbagai pilihan karirnya tersebut agar tidak terjadi kesenjangan yang terlalu tajam. Uang tak kan pernah memuaskan manusia dan ini pun dapat menjauhkan seorang dokter dari tugas mulianya sebagai pelayan sesama. Dengan demikian, seorang dokter akan dapat menentukan pilihan karirnya sesuai dengan bakat dan panggilan jiwanya. Jika ia punya ketertarikan menjadi dosen misalnya, ia tak kan memaksakan diri bersekolah dokter spesialis hanya karena akan mendapatkan uang lebih banyak jika kelak menjadi dokter spesialis.

Memang banyak yang beralasan, dokter ahli wajar menerima pendapatan lebih besar karena pendidikannya yang berat dan pekerjaannya yang penuh risiko. Argumentasi ini cukup logis. Namun jika itu sudah merupakan pilihan seseorang maka kedua tantangan tersebut seharusnya menjadi ringan dengan sendirinya. Lagi pula jika dokter keluarga telah bekerja dengan efektif, maka jumlah pasien yang kemudian menjadi berat dan complicated yang memerlukan dokter ahli akan semakin berkurang. Pada akhirnya akan ada pergeseran pola pelayanan pasien di Indonesia mengikuti pola di negara-negara maju yaitu dokter keluarga dengan risiko dan tingkat kesulitan lebih rendah harus melayani pasien dalam jumlah yang banyak dan sebaliknya dokter ahli akan menangani sedikit pasien dengan tingkat kesulitan dan risiko yang lebih tinggi. Untuk itu keduanya wajar menerima pendapatan yang setara. Maka pilihan untuk menjadi salah satu dari keduanya betul-betul didasarkan oleh minat seorang dokter. Apakah ia lebih suka memberi edukasi kepada masyarakat sebagai dokter keluarga atau lebih tertantang untuk melakukan tindakan medis canggih misalnya.

Tak akan ada lagi gambaran dokter ahli seperti saat ini, “berburu” pasien untuk meraih sebanyak-banyaknya penghasilan meski kemudian berisiko kelelahan dan dijauhkan dari keluarga. Sebab pada dasarnya, seseorang tidak mungkin dan tak etis, berharap menjadi kaya raya hanya dengan menjadi dokter karena mereka berurusan dengan orang sakit. Kalau untuk dapat hidup nyaman dan terpandang, profesi dokter cukup memberi ruang. Namun jika ingin kaya raya, menjadi pengusahalah pilihannya. Demikian pula, pemerintah harus memberi penghargaan yang cukup bagi dokter yang kemudian panggilan jiwanya menjadi dosen atau peneliti. Sehingga kedua pilihan karir ini tidak cenderung menjadi pilihan kedua atau ketiga. Regulasi yang baik dari pemerintah akan dapat menjaga posisi terhormat seorang dokter sekaligus memberikan standar hidup yang cukup baik untuk semua dokter tanpa kecuali. [T]

KOLOM DOKTER SELENGKAPNYA…

Tags: dokterdokter spesialiskesehatan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Semua Kabupaten/Kota di Bali Sudah Bangun Gedung Majelis Desa Adat

Next Post

Ayah, Rumah Pohon, dan Cara Elegan Menghadapi Problematika Masa Muda

Putu Arya Nugraha

Putu Arya Nugraha

Dokter dan penulis. Penulis buku "Merayakan Ingatan", "Obat bagi Yang Sehat" dan "Filosofi Sehat". Kini menjadi Direktur Utama Rumah Sakit Umum Daerah Buleleng

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Ayah, Rumah Pohon, dan Cara Elegan Menghadapi Problematika Masa Muda

Ayah, Rumah Pohon, dan Cara Elegan Menghadapi Problematika Masa Muda

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co