23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pernikahan, Sartre dan Berang-berang Pacarnya

I Putu Agus Phebi Rosadi by I Putu Agus Phebi Rosadi
February 14, 2021
in Esai
Pernikahan, Sartre dan Berang-berang Pacarnya

Jean Paul Sartre/theparisreview.org [diambil dari IDN Times]

Seorang teman yang nasib hidupnya tak lebih baik setelah menikah, bertanya kepada saya yang memang mempunyai rencana menikah dalam waktu dekat,” Apa kamu akan menikah?”, “Dalam wabah Corona begini, bukankah tidak boleh menikah?” saya bertanya balik. Dia tak menyahut. Tiap kali pertanyaan semacam itu membawa saya pada identifikasi yang itu-itu juga ; pernikahan adalah keharusan demi belanjutnya kehidupan manusia. Tiap kali pula hal semacam itu membawa saya pada sebuah kemungkinan baru untuk membalikkan fakta yang itu-itu juga.  Setiap pernikahan, seyogyanya membawa nasib masing-masing dan mengandung kemungkinan tak terduga. Entah pernikahan membawa nasib ke arah yang lebih baik atau kearah yang lebih buruk.

Saya kemudian teringat kisah Sartre dan Berang-berang pacarnya. Jean Paul Satre amat tenar di kalangan para mahasiswa, kaum revolusioner di masanya, bahkan hingga sekarang. Laki-laki yang bertubuh kecil dan berkacamata tebal yang dicap, bahwa hanya saat ia tidur, ia tak berpikir. Sikap politiknya amat selaras dengan era jayanya Che Guevara. Namun, diantara sikap politik dan pemikiran-pemikiran filsafatnya, dalam hidupnya Satre mengalami kisah cinta yang menggantung.

Pada suatu hari, di Paris tahun 1929, saat Jean Paul nongkrong di sebuah kafe di Latin Quarter dengan Raymond Aron Maurice Marleau-Ponty, tiba-tiba seorang perempuan bertubuh tinggi ikut bergabung. Sekejap saja gadis itu sanggup bertaut dengan obrolan filsafat. Dialah Simone de Beauvoir. Selisih usia mereka 3 tahun. Sartre 24 tahun dan Simone 21 tahun.  Sartre memandang Simone sebagai perempuan manis, cantik, dan kerap mengenankan pakaian keren. Dalam diskusi yang berlangsung lama itu, seketika kawan-kawan dari Sartre memberi julukan “Berang-berang” pada Simone karena ia berpendafat seperti menunjukkan sebuah kerja keras dan berenergi.

Tanpa disadari, dalam pertemuan itu, Sartre telah menaruh hati pada Simone dan mengatakan bahwa ia akan melindungi Simone dalam kepakan sayapnya. Mereka kerap bepergian berdua dan beradu pendapat. Meskipun Simone begitu pintar, namun ia selalu kalah bila beradu isi kepala dengan Sartre. Simon kerap memberikan pendapat-pendapat dan kritik tepat sasaran. Hal itulah yang membuat Sartre merasa menjadi tumbu bertemu tutup. Mereka akhirnya menjalin hubungan yang lebih serius. Tapi mereka sama memandang bahwa sebuah hubungan yang serius tidakalh sesuai dengan sudut pandang filosofis. Sikap hubungan pacaran yang konvensional menurutnya meski dihindari.

Mereka akhinya membuat sikap bahwa hubungan mereka harus bersifat terbuka. Tidak ada ikatan, tidak ada komitmen.  Mereka sering bepergian ke rumah makan di Left Blank, ke kafe-kafe. Betapa saya membayangkan saat Julliette Greco menyanyikan lagu , Whaterver you do, you become.” dan Satre dan si berang-berang mendengarkannya di sebuah meja dengan obrolan-obrolan filsafat yang berserakan di meja sambil sesekali berciuman dan tertawa menertawakan dirinya masing-masing. Lalu mereka pulang, dan bercinta di ranjang sambil memperdebatkan sisa-sisa filsafat yang masih berserakan di atas meja kafe itu.

Lama berselang, setelah masa akhir ujian kelas Filsafat diumumkan, Sartre menduduki peringkat pertama, sedangkan Simone menduduki peringkat kedua. Sungguh pasangan yang sempurna. Era Filsafat Prancis sedang menemukan generasi emas. Namun akhirnya Sartre dan Simone dihadapkan dengan peristiwa dunia nyata yang harus dihadapi ; Simone mengajar dan Sartre manjalani wajib militer. Sartre sadar, bahwa hubungannya dengan Simon adalah hubungan yang istimewa, amka ia membuat sebuah komitmen baru yang menyatakan bahwa Ia dan Simone menjalani ikatan kontrak dua tahun. Sartre mengusulkan selama dua tahun hubungan mereka akan bersifat affair. Banyak orang yang mengatakan bahwa Prancis adalah kota yang romantic bagi sebuah hubungan. Namun Sartre dan simon jalas-jelas membantahnya dan melakukannya bahkan di jantung Prancis.

Sartre akhirnya benar-benar menjalani wajib militer dan menjadi serdadu paling buruk setelah Bustre Keaton. Karena ia adalah serdadu yang buruk, Satre akhirnya memilih unit meteorology dan menjadi penerbang balon cuaca di bawah pimpinan temannya Raymond Aron. Dalam masa wajib militer itu, Sartre kerap menerima surat-surat dari Simone dengan salam yang sama sekali tidak romantic, “ Hey, aku telah menemukan teori baru!”

Sebetulnya Sartre tidaklah menemukan teori baru, namun ia hanya merusak teori yang telah ada. Ia mengatakan Descartes keliru, Kant tidak lengkap, dan Hegel sangat Borjuis hingga akhirnya ia kecewa pada diri sendiri yang menggeluti filsafat. Menurutnya filsafat sama sekali tak mampu mencekram kehidupan nyata. Tapi Raymond Aron membantahnya, ia mengatakan bahwa filsafat telah sejak lama mencakup kehidupan nyata. Ia memberikan contoh bahwa jika ia sanggup bicara mengenai fenomenologi sebuah botol di atas meja, maka itu adalah fisafat. Hal itulah kemudian membuat Sartre ingin menghabiskan waktunya di Fennch Institute untuk memahami filsafat Husserl yang dikatakan Aron tadi.

Melihat kisah cinta mereka, saya jadi ingat novelis Gibson dan Atwood yang memandang pernikahan juga sebagai sesuatu yang boleh tak dilakukan. Dalam puisinya “ Habitation” ia mengatakan bahwa pernikahan membutuhkan usaha yang banyak untuk mempertahankannya. Dan Satre-Simone, bukan tipe orang yang mau diribetkan dengan hal semacam itu. Simone mengatakan perasaan negatif kepada perempuan.

Ia mengatakan bahwa kehamilan adalah kutukan yang menjadikan manusia lemah dan pasif. Dan sekali lagi saya tegaskan, tak perlu kiranya dijelaskan lagi. Dalam hal cinta, mereka adalah filsafat itu sendiri. Biarlah cara berhubungan mereka tetap menjadikan pernikahan sebagai sebuah pilihan, bukan keharusan. Sementara saya sendiri, tetap menimbang-nimbang, apakah akan meniru Sartre ataukah mengambil keputusan manusia pada umumnya. [T]

Tags: cintafilsafatJean Paul Sartrepernikahan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menulis, Menjaga Kelestarian Otak Kita

Next Post

Duku dan Duka | Kisah Kematian Pohon-Pohon

I Putu Agus Phebi Rosadi

I Putu Agus Phebi Rosadi

Setelah menempuh pendidikan di Singaraja, ia kembali ke kampung halamannya di Jembrana untuk menjadi petani sembari nyambi jadi guru. Selain menulis puisi, ia juga menulis esai dan cerpen.

Related Posts

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails

Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

by Dede Putra Wiguna
August 18, 2026
0
Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

SETIAP kali upacara bendera dimulai, ada orang-orang yang berdiri di bawah matahari dan ada pula yang di bawah tenda. Yang...

Read moreDetails
Next Post
Duku dan Duka | Kisah Kematian Pohon-Pohon

Duku dan Duka | Kisah Kematian Pohon-Pohon

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co