1 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pendekatan Dialogis Pendidikan

Doni Sugiarto Wijaya by Doni Sugiarto Wijaya
December 5, 2020
in Esai
Pendekatan Dialogis Pendidikan

Pendekatan Dialogis Sokola. Gambar dalam tulisan ini diambil saat pameran seni yang diadakan di Kulidan Kitchen and Space tanggal 12 Februari 2020

Pendekatan Dialogis Sokola. Itu judul ilustrasi dalam tulisan ini yang diambil saat pameran seni yang diadakan di Kulidan Kitchen and Space tanggal 12 Februari 2020. Ilustrasi yang dibuat oleh Oceu Apristawijaya ini menggambarkan Pendekatan dialogis pendidikan dimana sejatinya harus bermanfaat bagi komunitas dan mau berhadapan langsung dengan permasalahan yang sedang dan akan dihadapi oleh komunitas. Pada deskripsi tersebut tergambar seorang dari Sokola Institute sedang memberi pendidikan pada murid dan komunitas dimana mereka bermata pencaharian sebagai penggembala kerbau. Guru dan murid sedang duduk bersama di padang rumput beristirahat untuk berdialog mengenai materi pendidikan. Para pendidik ikut terjun dalam keseharian masyarakat sekitar.

Kritik atas Pendidikan yang Berlangsung

Jika berkaca dengan situasi pendidikan yang diterima oleh mayoritas anak anak dan remaja di Indonesia termasuk Bali ada hal yang harus dipertanyakan mengenai proses pendidikan saat ini. Pendidikan formal hanya mengarahkan anak anak jadi sekrup atau suku cadang untuk ditempatkan ke dalam mesin industri. Ivan Illich menyebut sekolah sebagai pencetak tukang tukang yang diperintah dan mengejarkan instruksi dari atasan.

 Di sekolah atasan ini adalah guru. Paulo Freire menyebut pendidikan demikian sebagai pendidikan sistem bank dimana guru merupakan subjek yang memiliki pengetahuan dan dalam proses belajar murid jadi objek. Di sini tidak ada dialog sejati. Dialog harus bersandar pada cinta kasih, kerendahan hati dan semangat peduli. Pendidikan yang bersifat dialog berasaskan pada pengharapan yang berakar di dalam kesadaran bahwa manusia itu mahluk yang belum selesai.

Pendidikan anti dialogis ditandai dengan usaha membuat siswa tunduk , pasif, menyesuaikan diri dengan keadaan. Pendidikan dialogis untuk mambangun struktur baru yang membebaskan hanya mungkin terwujud dengan pemahaman situasi menyeluruh masyarakat. Pendidikan anti dialogis memanipulasi dengan menghambat masyarakat untuk berpikir secara kritis dengan menciptakan mitos mitos yang disebarkan oleh sistem status quo dalam hal ini sekolah formal. Contoh mitos yang disebarkan adalah pembangunan infrastruktur oleh negara itu hampir selalu baik. Menurut Paulo Freire  , dunia ini bukanlah suatu tatanan yang statis dan pasti dimana seseorang harus menerima dan menyesuaikan diri melainkan dunia ini adalah suatu masalah yang harus diselesaikan

Manusia saling mendidik satu sama lain dengan perantara dunia. Tidak ada proses pendidikan yang netral. Pendidikan dapat berfungsi sebagai sarana yang digunakan untuk mempermudah integrasi generasi muda ke dalam logika dari sistem yang sedang berlaku dan menghasilkan kesesuaian atau menjadi praktik pembebasan yakni sarana dengan apa manusia berurusan secara kritis dan kreatif dengan realitas serta menemukan bagaimana cara  berperan serta untuk mengubah dunia mereka(1).

Peran Sokola Institute Mendidik Orang Rimba

Ada sebuah kisah dimana Butet Manurung menjadi sukarelawan mengajar anak anak rimba tentang ilmu pengetahuan alam. Temanya adalah terjadinya siang dan malam. Orang rimba menganggapnya tidak cocok karena menurut mereka malam terjadi ketika raksasa menelan matahari dan memuntahkannya lagi di pagi hari. Pendidikan bukan semata mengenalkan pengetahuan sebagai fakta tapi harus memperhatikan nilai nilai yang dianut masyarakat setempat. Pendidkan harus menjawab persoalan yang dihadapi sebuah komunitas. Pendidikan yang dijalankan sokola berprinsip pada setiap tempat adalah sekolah , setiap orang adalah guru. Tidak hanya di gedung, tapi juga di hutan, kebun, pasar, sawah, sungai dan laut.

Memutus mater ajar dengan aspek aspek utama kehidupan itu sama dengan mengisolasi anak didik dari kehidupan sesungguhnya. Ruang Kelas sekolah menjadi penjara. Ini sering buat anak jenuh dan tertekan. Pendidikan bukan hanya sekedar baca tulis dan memahami isi buku materi pelajaran. Pengetahuan dan kearifan lahir dari pengalaman kehidupan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Sekolah harus jadi pusat kegiatan komunitas dan terhubung dengan permasalahan mereka sehari hari.

Saat proses pendidikan baca tulis berlangsung, muncul pertanyaan? Apa gunanya dapat membaca dan menulis kalau hutan hancur juga? Apa gunanya pintar kalau dipaksa oleh aturan Taman Nasional untuk keluar dari hutan? Pendidikan kontekstual berbasis persoalan komunitas yaitu sebuah periode dimana pengajaran yang dijalankan didasarkan pada kebutuhan pihak yang menerimanya. Penyelenggaraan pendidikan disesuaikan dengan konteks kehidupan komunitas termasuk konteks budayanya agar proses pendidikan terintegrasi dengan ritme kehidupan harian.

Ada kasus seorang guru mengajari anak anak rimba matematika berapa hasilnya dua pertiga ditambah satu pertiga. Seorang murid tak mengerti. Guru menganalogikan bahwa satu kue dibagi kepada tiga orang, tiap orang dapat satu per tiga. Anak rimba bilang “itu salah , tetap dapat satu tapi lebih kecil. Sang murid protes: itu tidak berguna bagi kami yang belanja kebutuhan ke pasar, tidak ada yang namanya beli sepertiga atau dua pertiga kilogram. Yang ada beli setengah kilo, satu kilo, satu setengah kilo, atau dua kilo.”

Dalam proses pengajaran yang dilakukan oleh Sokola terdapat tiga tahap untuk memberdayakan warga Rimba supaya mempertahankan hak haknya dan memanfaatkan fasilitas dunia modern untuk keberlangsungan hidupnya seperti obat obatan .

Pada tahap pertama ,dalam proses belajar mengajar, kosa kata yang dipakai dalam pengajaran harus sesuai dengan kehidupan sehari hari. Kata kata hutan, rusa, ladang, konservasi, taman nasional , pasar dan desa lebih sesuai dengan konteks kehidupan daripada kulkas, salju dan boneka. Ini membuat komunitas rimba senang karena tidak terasa asing. Di sinilah penerapan gagasan Ivan Illich bahwa murid harus belajar dari dunia dia tinggal bukan tentang dunia yang begitu jauh dari tempat dimana ia berada.

 Tahap kedua adalah literas terapan. Proses ini berisi beragam materi ajar tematis yang disesuaikan dengan konteks kebutuhan serta situasi dan kondisi di lokasi. Diarahkan pada fungsionalisasi dalam mengatasi perosalan kehidupan harian dan menguatkan identitas kultural. Murid murid diajarkan cara membaca petunjuk minum obat yang tertulis dibungkus atau label. Kemudian berhitung tematis dengan pendekatan soal cerita  berlatar kasus belanja di pasar. Literasi terapan mencakup materi wawasan kerimbaan berupa dongeng, aturan adat, sejarah kawasan , pengaturan hutan dan lain lain yang diajarkan dengan megikutsertakan tokoh adat setempat.

Tahap ketiga adalah pengorganisasian dimana proses pembelajaran didorong untuk kemandirian, mampu mengorganisasi diri dalam menyelenggarakan proses pendidikan dan tahu cara menyelesaikan persoalan di kehidupannya. Kader Sokola Rimba yang awalnya jadi asisten mengajar di fasilitas berperan untuk mengadvokasi komunitas sebagai respon atas diberlakukannya zonasi taman nasional bukit dua belas yang mengabaikan orang Rimba.

Gerakan Pendidikan di Komunitas Kajang

Sokola institute melalukan gerakan pendidikan dialogis di pulau Sulawesi. Sokola menemukan permasalahan pendidikan pada orang kajang yang hidup di desa Tana Toa, kabupaten Bulukumba Sulawesi Selatan. Wilayah orang Kajang menyempit karena perkebunan korporasi mengepung tanah adat. Dulu mereka menggembala melampaui kecamatan Kajang sekarang lahan penggembalaan menyusut karena eksklusi oleh korporasi. Sekolah dibangun di luar kawasan adat. Murid murid yang bersekolah tidak diajari bahasa Konjo tapi bahasa Indonesia, Makassar dan Inggris. Sekolah tidak pernah mengajari pelajaran kontekstual yang berkaitan dengan menanam jagung atau menggembala kerbau. Sekolah formal membuat kebanyakan anak anak sering membolos karena menggembala ternak atau menenun pakaian tope leleng dengan gunakan bahan pewarna alami daun tarung dan digasak dengan bilalu ( cangkang siput laut). Orang Kajang yang bersekolah formal meninggalkan kampung halaman dan pindah ke kota.

Pendidikan di sekolah formal membenarkan alih fungsi lahan yang dilakukan atas alasan pembangunan dan modernitas . Sistem di situ mulai dari fasilitas fisik tidak menghormati adat istiadat orang Kajang yang pantang gunakan bata dan semen tapi gunakan keduanya. Anak anak dianggap membolos karena menggembala kerbau dan diberi sanksi. Sekolah lebih mengajarkan siswa untuk melayani tamu daripada melayani kebutuhan sehari hari komunitas di sekitarnya.

Tenaga pendidikan di Kajang adalah pendatang yang ditempatkan di desa tersebut. Komunitas tidak pernah dilibatkan secara langsung dalam merencanakan materi ajar maupun saat pengajaran. Sistem sekolah formal merawat stigma negatif seperti budaya terbelakang sehingga orang Kajang memilih ke kota untuk menghapus kesan itu dan pendidikan formal gagal membongkar stigma dan memberikan posisi tawar lebih baik untuk komunitas.

Paulo Freire menyebut unsur utama dialog adalah praksis. Praksis merupakan sebuah aksi yang bersumber dari refleksi kritis yang dilakukan bersama sama dan mengarah pada perubahan sosial. Pendidikan dialogis akan membangkitkan kesadaran kritis. Proses pendidikan harus merespon kondisi yang aktual dan merefleksikan aspirasi komunitas yang akan tersinergi bersama di tataran pemikiran dan aksi nyata. Proses ini harus melahirkan aksi konstruktif dan rekontruktif. Pendidikan aktual tidak semata mata konkret tapi mengandung aspirasi dari orang orang yang berada di dalamnya.

Program sekolah di kecamatan Kajang berbeda dengan di komunias orang orang rimba karena lingkungan geografis, cara hidup dan permasalahan. Di Kajang, Sokola mengajarkan pertanian organic menjawab masalah komunitas yang terdesak oleh perkebunan swasta dan pertanian modern.

Komunitas sebagai Rekan Pendidikan

Realitas adalah proses transformasi yang tidak statis .Komunitas adat rentan terhadap proses proses hegemoni yang kerap  mengisi dan menguasai kehidupan mereka. Program pendidikan yang melibatkan komunitas dalam tahap perencanaan , pelaksaan maupun evaluasi akan memberikan keberanian bagi komunitas untuk merekontruksi kondisi yang ada. Proses yang ditempuh Sokola untuk menjalankan program pendidikan di dalami dengan pencarian data yang lebih detail dengan kajian pustaka kemudian dikonfirmasi langsng di lokasi.

Tujuannya untuk mengenal komunitas lebih jauh termasuk memahami permasalahan yang dihadapi lalu mendiskusikan pendidikan seperti apa yang mereka butuhkan kemudian menyusun rencana program materi belajar apa yang dibutuhkan, apa saja isinya, dimana lokasi berlangsungnya pembelajaran, waktu yang cocok untuk proses pembelajaran , sampai seperti apa rencana tahapan kegiatan yang akan dilaksanakan.

Di luar kegiatan pembelajaran para relawan terlibat aktif dalam komunitas untuk terus berdialog baik dengan murid, orangtua siswa dan anggota komunitas lainnya. Modal dasar yang dimiliki pengajar adalah membumi, keyakinan pada komunitas menjadi modal kuat dalam proses pelibatan komunitas sebagai mitra. Membangun aksi dan melakukan refleksi terhadap masalah dan program pendidikan yang akan dilakukan.

Rasa kasih adalah rasa yang mendorong keberpihakan pada komunitas, mencegahnya dari sikap mendominasi dan manipulatif , memberikan dorongan untuk terus bersikap menghargai dan yakin pada keberdayaan komunitas dalam mentransformasi kehidupannya. Di Sokola anak anak tidak dikenali melalui kepintaran kepintaran nilai. Mereka dibimbing berdasarkan kemampuan yang mereka miliki dan pendidikan yang mereka kuasai sesuai kemampuan mereka. Murid yang senang menggambar tidak pernah dipaksa untuk tetap dapat mengerjakan soal bahasa atau matematika misalnya(2).

Sumber

  1. Freire, Paulo.2008. Pendidikan Kaum Tertindas. Jakarta. Pustaka      LP3ES
  • Manurung, Butet, dkk. 2019. Melawan Setan Bermata Runcing. Jakarta. Sokola Institute
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

3 Puisi Santi Dewi || Perempuan Sangkar Kata

Next Post

Lontar Leak

Doni Sugiarto Wijaya

Doni Sugiarto Wijaya

Lulus Kuliah tahun 2017 dari Universitas Pendidikan Nasional jurusan ekonomi manajemen dengan IPK 3,54. Mendapat penghargaan Paramitha Satya Nugraha sebagai mahasiswa yang menulis skripsi dengan bahasa Inggris. Sejak tahun 2019 pertengahan bulan Oktober, Doni mulai belajar menulis di blog secara otodidak. Doni menulis untuk bersuara kepada publik mengenai isu isu lingkungan hidup, sosial dan satwa liar.

Related Posts

Menimbang Ulang ‘May Day’ Bagi Pekerja Budaya

by Arief Rahzen
May 1, 2026
0
Menimbang Ulang ‘May Day’ Bagi Pekerja Budaya

TIAP tanggal satu Mei tiba, ingatan kita biasanya langsung tertuju pada lautan manusia di jalanan protokol Jakarta. Memori kita terikat...

Read moreDetails

Oppenheimer: Sains, Sastra, dan Filsafat

by Agung Sudarsa
April 30, 2026
0
Oppenheimer: Sains, Sastra, dan Filsafat

Ilmuwan di Persimpangan Zaman Nama J. Robert Oppenheimer selalu menghadirkan paradoks: seorang ilmuwan jenius yang sekaligus menjadi simbol kegelisahan moral...

Read moreDetails

BALI SEDANG KRISIS KEBERANIAN? —‘Cari Aman’, ‘Koh Ngomong’ dan ‘Sing Nyak Uyut’ yang Menghancurkan Bali

by Sugi Lanus
April 30, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 29 April 2026 Di permukaan dan kasat mata: Bali sedang menghadapi darurat sampah. Pengerusakan hutan...

Read moreDetails

Rahasia Daya Tarik yang Tidak Bisa Dibeli atau Dipoles

by T.H. Hari Sucahyo
April 29, 2026
0
Rahasia Daya Tarik yang Tidak Bisa Dibeli atau Dipoles

DI tengah dunia yang begitu bising oleh standar dan penilaian, banyak orang tumbuh dengan keyakinan bahwa daya tarik ditentukan oleh...

Read moreDetails

Annam Brahman: Makanan adalah Tuhan

by Agung Sudarsa
April 28, 2026
0
Annam Brahman: Makanan adalah Tuhan

Dari Dapur Menuju Kesadaran Ungkapan Annam Brahman dari Taittiriya Upanishad sering terdengar sederhana, bahkan terasa “terlalu duniawi” untuk ukuran nilai-nilai...

Read moreDetails

Buku Terbit, Lalu Terlalu Banyak Selebrasi

by Angga Wijaya
April 28, 2026
0
Buku Terbit, Lalu Terlalu Banyak Selebrasi

BUKU terus lahir, hampir setiap waktu. Dari penulis lama, penulis baru; dari yang sudah punya nama, sampai yang masih mencari...

Read moreDetails

Sensasi dan Kejutan Seba Baduy 2026 sebagai Diplomasi Budaya

by Asep Kurnia
April 27, 2026
0
Sensasi dan Kejutan Seba Baduy 2026 sebagai Diplomasi Budaya

TAK dapat dipungkiri lagi bahwa Seba Baduy bukan lagi dimaknai hanya sebagai acara ritual sakral semata, tapi sudah melebihi dari...

Read moreDetails

Bulan Pemberdayaan Perempuan Melalui Pendidikan

by I Nyoman Tingkat
April 27, 2026
0
Bulan Pemberdayaan Perempuan Melalui Pendidikan

DUNIA mengakui1 April adalah tanggal olok-olok. Orang boleh berbohong pada 1 April yang disebut dengan April Mop. Tidak demikian dengan...

Read moreDetails

Masalahnya Bukan Hanya Anggaran

by Isran Kamal
April 27, 2026
0
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram

SETIAP kali angka besar muncul di ruang publik, reaksi yang mengikuti hampir selalu serupa, yakni cepat, emosional, dan penuh kecurigaan....

Read moreDetails

Ketika Orang Bali Terpapar Jadi Pasukan Payuk Jakan & Cicing Borosan

by Sugi Lanus
April 27, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 27 April 2027 Lihatlah berbagai kejadian orang Bali cekcok, adu mulut terbuka, saling berhadapan-hadapan, berkelahi...

Read moreDetails
Next Post
Covid-19 dalam Alam Pikir Religi Nusantara – Catatan Harian Sugi Lanus

Lontar Leak

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menimbang Ulang ‘May Day’ Bagi Pekerja Budaya
Esai

Menimbang Ulang ‘May Day’ Bagi Pekerja Budaya

TIAP tanggal satu Mei tiba, ingatan kita biasanya langsung tertuju pada lautan manusia di jalanan protokol Jakarta. Memori kita terikat...

by Arief Rahzen
May 1, 2026
’Siti Mawarni Ya Incek’: Amarah dalam Nama Tuhan
Ulas Musik

’Siti Mawarni Ya Incek’: Amarah dalam Nama Tuhan

FENOMENA viralnya lagu “Siti Mawarni Ya Incek” tidak bisa dibaca sekadar lagu hiburan digital yang lewat begitu saja. Ia adalah...

by Ahmad Sihabudin
May 1, 2026
SWR Bali Kembali dari Istirahat Panjang, “Palas” Jadi Penanda Babak Baru
Pop

SWR Bali Kembali dari Istirahat Panjang, “Palas” Jadi Penanda Babak Baru

SETELAH hampir satu dekade tenggelam dalam kesibukan masing-masing, SWR Bali akhirnya kembali menyapa pendengar dengan karya terbaru bertajuk “Palas”. Band...

by Dede Putra Wiguna
May 1, 2026
‘Vision for All’ Hadirkan Penglihatan Lebih Jelas, 1000 Kacamata Resep bagi Warga Jimbaran
Kesehatan

‘Vision for All’ Hadirkan Penglihatan Lebih Jelas, 1000 Kacamata Resep bagi Warga Jimbaran

SUASANA pagi pada Kamis, 30 April 2026, di Wantilan Kuari, Jimbaran, terasa berbeda. Bukan sekadar hiruk-pikuk aktivitas yang terdengar sejak...

by Nyoman Budarsana
April 30, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Problem Keadilan dalam Pembagian Harta Bersama: Dari Norma ke Uji Konstitusi

Dia luka yang tidak pernah benar-benar terlihat dalam putusan pengadilan berkaitan dengan pembagian harta gono gini dalam perpisah/pecahnya perkawinan  karena...

by I Made Pria Dharsana
April 30, 2026
Oppenheimer: Sains, Sastra, dan Filsafat
Esai

Oppenheimer: Sains, Sastra, dan Filsafat

Ilmuwan di Persimpangan Zaman Nama J. Robert Oppenheimer selalu menghadirkan paradoks: seorang ilmuwan jenius yang sekaligus menjadi simbol kegelisahan moral...

by Agung Sudarsa
April 30, 2026
Dialog Dini Hari Rilis ‘Di Jumah’: Lagu Tentang Rumah yang Tak Sederhana  
Panggung

Dialog Dini Hari Rilis ‘Di Jumah’: Lagu Tentang Rumah yang Tak Sederhana  

SEJAK dibentuk pada 2008 di Bali, Dialog Dini Hari konsisten mempertahankan pendekatan musik yang tenang dan reflektif. Kini, band indie...

by Dede Putra Wiguna
April 30, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

BALI SEDANG KRISIS KEBERANIAN? —‘Cari Aman’, ‘Koh Ngomong’ dan ‘Sing Nyak Uyut’ yang Menghancurkan Bali

— Catatan Harian Sugi Lanus, 29 April 2026 Di permukaan dan kasat mata: Bali sedang menghadapi darurat sampah. Pengerusakan hutan...

by Sugi Lanus
April 30, 2026
Mengenal Banyumas, Wisata Alam dan Kuliner yang Autentik
Tualang

Mengenal Banyumas, Wisata Alam dan Kuliner yang Autentik

NAMA Kabupaten Banyumas selalu identik dengan bahasa “Ngapak” yang sering dijadikan lelucon dalam film dan komedi. Banyumas lantas seolah mendapat...

by Chusmeru
April 30, 2026
Resistensi Penutur: antara “Mempunyai” dan “Memunyai” dalam Bahasa Indonesia
Bahasa

Resistensi Penutur: antara “Mempunyai” dan “Memunyai” dalam Bahasa Indonesia

BARU-BARU ini, dalam perhelatan Seminar Nasional Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (Sandibasa) IV, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia, saya mempresentasikan sebuah makalah...

by I Made Sudiana
April 29, 2026
Sambeng Agung, Perang Hama dari Canggu di Pesta Kesenian Bali 2025
Budaya

Pesta Kesenian Bali 2026 Angkat Isu-isu Sosial Aktual Lewat Panggung dan Seminar Seni

Pesona Pesta Kesenian Bali (PKB) masih memukau, dinamis dan relevan. Buktinya, pesta seni milik masyarakat Bali ini berhasil mempertahankan tradisi,...

by Nyoman Budarsana
April 29, 2026
Rahasia Daya Tarik yang Tidak Bisa Dibeli atau Dipoles
Esai

Rahasia Daya Tarik yang Tidak Bisa Dibeli atau Dipoles

DI tengah dunia yang begitu bising oleh standar dan penilaian, banyak orang tumbuh dengan keyakinan bahwa daya tarik ditentukan oleh...

by T.H. Hari Sucahyo
April 29, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co