23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Surga Bagi Anak Kita” – Jerit Galau Ibu yang Sibuk di Rumah

Radinna Nandakita by Radinna Nandakita
February 2, 2018
in Esai

Foto: koleksi penulis

IBU saya pernah memberikan sebuah nasihat bijak saat dulu saya berkata bahwa nanti, sesudah melahirkan, saya ingin kembali bekerja sebagai pramugari.

“Kalau seorang ibu bekerja, meninggalkan anak dengan niatan membantu ekonomi keluarga, itu pahalanya luar biasa. Karena itu adalah bentuk tanggung jawab terhadap keputusannya memiliki anak. Tapi kalau alasannya bekerja dengan niatan agar terhindar dari urusan anak dan rumah, maka jatuhnya itu dosa. Ia tidak bertanggung jawab dan ia tidak siap untuk menjadi surga dari anak-anaknya. Jadi semuanya bergantung ke niatan kita pergi meninggalkan anak-anak… Apa murni untuk anak atau menghindari tanggung jawab?”

Saya bisa saja membohongi orang-orang dan berkata bahwa saya bekerja untuk anak, tapi saya tidak akan pernah bisa membohongi diri saya sendiri. Kenyataannya saya memang mulai lelah dengan pekerjaan baru saya sebagai ibu rumah tangga. Itupun jika ibu rumah tangga bisa dikategorikan sebuah profesi, mengingat tidak adanya gaji yang saya terima setiap bulannya.

Kelahiran Akira bertepatan dengan proses training suami saya untuk menjadi Captain dan kepindahan rating pesawat baru ke Airbus. Berbulan-bulan kami hidup dari gaji pokok suami yang setelah dipotong cicilan dan kewajiban ini-itu, hanya menyisakan sekitar empat juta rupiah di ATM-nya.

Saya tahu, banyak istri lain yang penghasilan suaminya lebih sedikit. Tapi tetap saja, gaya hidup kami merosot tajam. Kami bahkan tidak bisa melanjutkan kontrak di rumah kami sebelumnya dan dengan berat hati harus pindah ke sebuah apartment model studio di kawasan Tangerang.

Mendengar kata apartment, tolong jangan membayangkan sebuah hunian mewah di kawasan elite seperti apartment Sudirman Park di Jakarta Pusat atau apartment Mediteranian di Jakarta Barat yang harga sewanya bisa mencapai 6-10 juta/bulan. Ini adalah apartment Modernland yang jauh dari kata mewah dan lebih cocok disebut rumah susun warga.

Saya pun tidak lagi didampingi pembantu sehingga otomatis semua pekerjaan rumah dan merawat Akira harus saya handle sendiri. Kegiatan sehari-hari diawali dengan pergi ke pasar, memasak, memberi sarapan dan memandikan Akira, beres-beres rumah, mencuci dan menjemur pakaian, istirahat siang, memberi makan sore dan memandikan Akira, lanjut beres-beres rumah dan setelah Akira tidur barulah saya bisa bebas mengerjakan hobi, entah itu sekedar tulisan-tulisan ringan di status facebook atau menggarap video untuk channel youtube.

Tak jarang, saya kehilangan waktu untuk kegiatan terakhir karena setelah Akira tertidur, saya pun ikut ketiduran. Hampir setiap hari saya terbangun dengan kaki yang sakit meskipun dengan telaten suami saya memijatnya setiap kali saya terlihat kesakitan.

Hampir setiap hari saya sendawa dan buang angin meskipun setiap malam, suami mengerok punggung saya dengan harapan saya tidak masuk angin lagi. Tapi berat badan saya yang melonjak 18 kilogram membuat saya tidak seatletis dan selincah dulu. Rasanya kaki saya tidak sanggup menumpu bobot tubuh saya yang setiap bulan makin bertambah.

Belum lagi setiap malam kadang saya tertidur dengan punggung terbuka karena menyusui Akira, alhasil saya meriang hampir di setiap harinya. Rutinitas yang melelahkan, tubuh yang tidak terurus, rentetan pekerjaan rumah yang seolah tidak pernah habis, fase adaptasi dengan gaya hidup sederhana dan shock seorang Ibu baru sering membuat saya menangis diam-diam saat mandi.

Biasanya, airmata saya hilang dihapus guyuran air segar dan hilang sementara. Tapi saya tidak pernah menyangka bahwa suatu hari bendungan airmata itu berujung dengan teriakan histeris.

Seperti yang saya alami beberapa minggu lalu. Saya yang biasanya bisa mengontrol diri tiba-tiba saja kehilangan kendali. Saya menangis di kamar mandi sesaat setelah Akira menangis tanpa saya ketahui apa maunya. Semakin Akira menangis, semakin saya menjerit. Sedih. Lelah. Tertekan. Depresi. Menyesal.

Belum lagi ditambah omongan orang yang minggu ini saja sudah saya dengar dua kali dari dua teman yang berbeda. “Kamu kan enak, cuma di rumah. Gue nih, terbang subuh pulang malem. Capek banget!”

Don’t you remember? Saya juga pernah jadi pramugari. At least pramugari masih punya  selama 9 jam. Saya? Tidur selalu terganggu karena dua-tiga jam sekali Akira bangun untuk menyusu. Saya tidak memiliki hari libur, saya bahkan tidak memiliki waktu untuk mengurus diri saya sendiri karena 24 jam yang saya miliki bahkan terasa kurang untuk mengurus rumah dan anak.

Mereka mengira punya bayi itu semenyenangkan yang diperlihatkan iklan-iklan produk bayi di televisi. Iklan hanya menampilkan bayi ceria yang tersenyum menggemaskan. Apa ada yang menampilkan bayi yang rewel saat demam? Apa ada yang menampilkan bayi yang menangis jerit-jerit hingga 7 oktaf tanpa bisa dimengerti apa kemauannya?

Beberapa orang seringkali menyepelekan pekerjaan ibu rumah tangga yang full time mengurus anak dan rumah tanpa pembantu ataupun baby sitter. Ketika seorang ibu rumah tangga mengeluh sedikiiit saja, kami dipandang manja. Mereka selalu berkata, memang sudah kodrat wanita untuk diam di rumah dan mengurus anak. Mungkin mereka lupa, ini sudah tahun 2016 di mana emansipasi wanita sudah berkembang dengan pesatnya.

Alih-alih menenangkan, komentar orang-orang malah lebih sering menyudutkan. Akhirnya, karena tidak ingin disudutkan, kami para ibu rumah tangga menyimpan keluhan kami rapat-rapat. Ingin terlihat kuat, ingin terlihat super, ingin terlihat mandiri.

Ironis sekali betapa sekeliling kita bukannya mensupport, malah membuat kita bersembunyi dari kenyataan. Tapi seorang ibu tetaplah ibu, sesuper apapun fisiknya, ia tetap manusia yang masih dibatasi kesabarannya. Ketika lelah dan keluhannya disimpan hingga berhari-hari dan suatu hari meledak menjadi amarah, lagi-lagi orang lain kembali dengan komentar pedasnya, berkata bahwa kita tidak menyayangi anak-anak kita sendiri.

Itulah yang menyebabkan saya mengamuk. Saya menjerit dan mengambil dokumen-dokumen yang diperlukan untuk melamar kerja. Belaian suami untuk menenangkan saya tidak berhasil menghentikan saya membongkar lemari untuk mencari-cari surat keterangan kerja dan kartu keluarga. Pokoknya saya mau kembali bekerja. Saya mau terbang lagi sebagai pramugari. Saya ingin dandan cantik setiap hari, saya ingin waktu istirahat yang cukup, saya ingin penghasilan sendiri, saya ingin saya yang dulu!

Tapi semua terhenti saat mata saya melihat mata bulat Akira yang menatap penuh harap dan tangannya yang terjulur kepada saya. Matanya sayu karena habis menangis. Entah mengapa, saya merasa waktu berputar kembali, mengantarkan saya ke masa saat masih mengandungnya. Saat saya berjuang melahirkannya. Tiba-tiba saja nasihat bijak ibu saya tadi menghentikan semuanya. Meredam amarah yang sebelumnya begitu menggebu-gebu.

Ada alasan di balik kalimat ‘surga di bawah telapak kaki ibumu’. Dan saya ingin menjadi surga yang pantas untuk Akira. Bukan sekedar ibu yang melahirkan, lalu pergi karena tidak tahan dengan tugas dan tanggung jawabnya.

Kalaupun suatu saat nanti saya bisa kembali bekerja, saya ingin pekerjaan saya nanti tidak membuat saya menelantarkan tugas saya sebagai seorang ibu. “Ibu ingin menjadi surgamu, Nak… Tolong semangati ibu…” (T)

Tags: anak-anakibupramugarisurga
Share60TweetSendShareSend
Previous Post

Kata Agus Suradnyana: “Pura-pura Terzolimi itu Lagu Lama,” – Benarkah?

Next Post

Proses Kreatif Kurnia Effendi 5# Sumber Ilham dan Buku

Radinna Nandakita

Radinna Nandakita

Lahir di Singaraja, Bali, sempat mukim di Jakarta, kini kembali tinggal di Singaraja. Mantan pramugari yang gila menulis. Tulisannya tentang "pramugalau" - kehidupan dirinya sebagai pramugari dan sebagai ibu yang super, digemari ribuan penggemar di radinnanandakita.blogspot.co.id

Related Posts

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails

Integritas Itu Soal Salah Hitung Angka atau Salah Hitung Dosa?

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 20, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong...

Read moreDetails

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa “Indonesia Bangkrut”

by Afgan Fadilla
June 18, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

DI tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes pemborosan anggaran, kenaikan biaya hidup, dan berbagai proyek pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada...

Read moreDetails
Next Post

Proses Kreatif Kurnia Effendi 5# Sumber Ilham dan Buku

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co