23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Surga Bagi Anak Kita” – Jerit Galau Ibu yang Sibuk di Rumah

Radinna Nandakita by Radinna Nandakita
February 2, 2018
in Esai

Foto: koleksi penulis

IBU saya pernah memberikan sebuah nasihat bijak saat dulu saya berkata bahwa nanti, sesudah melahirkan, saya ingin kembali bekerja sebagai pramugari.

“Kalau seorang ibu bekerja, meninggalkan anak dengan niatan membantu ekonomi keluarga, itu pahalanya luar biasa. Karena itu adalah bentuk tanggung jawab terhadap keputusannya memiliki anak. Tapi kalau alasannya bekerja dengan niatan agar terhindar dari urusan anak dan rumah, maka jatuhnya itu dosa. Ia tidak bertanggung jawab dan ia tidak siap untuk menjadi surga dari anak-anaknya. Jadi semuanya bergantung ke niatan kita pergi meninggalkan anak-anak… Apa murni untuk anak atau menghindari tanggung jawab?”

Saya bisa saja membohongi orang-orang dan berkata bahwa saya bekerja untuk anak, tapi saya tidak akan pernah bisa membohongi diri saya sendiri. Kenyataannya saya memang mulai lelah dengan pekerjaan baru saya sebagai ibu rumah tangga. Itupun jika ibu rumah tangga bisa dikategorikan sebuah profesi, mengingat tidak adanya gaji yang saya terima setiap bulannya.

Kelahiran Akira bertepatan dengan proses training suami saya untuk menjadi Captain dan kepindahan rating pesawat baru ke Airbus. Berbulan-bulan kami hidup dari gaji pokok suami yang setelah dipotong cicilan dan kewajiban ini-itu, hanya menyisakan sekitar empat juta rupiah di ATM-nya.

Saya tahu, banyak istri lain yang penghasilan suaminya lebih sedikit. Tapi tetap saja, gaya hidup kami merosot tajam. Kami bahkan tidak bisa melanjutkan kontrak di rumah kami sebelumnya dan dengan berat hati harus pindah ke sebuah apartment model studio di kawasan Tangerang.

Mendengar kata apartment, tolong jangan membayangkan sebuah hunian mewah di kawasan elite seperti apartment Sudirman Park di Jakarta Pusat atau apartment Mediteranian di Jakarta Barat yang harga sewanya bisa mencapai 6-10 juta/bulan. Ini adalah apartment Modernland yang jauh dari kata mewah dan lebih cocok disebut rumah susun warga.

Saya pun tidak lagi didampingi pembantu sehingga otomatis semua pekerjaan rumah dan merawat Akira harus saya handle sendiri. Kegiatan sehari-hari diawali dengan pergi ke pasar, memasak, memberi sarapan dan memandikan Akira, beres-beres rumah, mencuci dan menjemur pakaian, istirahat siang, memberi makan sore dan memandikan Akira, lanjut beres-beres rumah dan setelah Akira tidur barulah saya bisa bebas mengerjakan hobi, entah itu sekedar tulisan-tulisan ringan di status facebook atau menggarap video untuk channel youtube.

Tak jarang, saya kehilangan waktu untuk kegiatan terakhir karena setelah Akira tertidur, saya pun ikut ketiduran. Hampir setiap hari saya terbangun dengan kaki yang sakit meskipun dengan telaten suami saya memijatnya setiap kali saya terlihat kesakitan.

Hampir setiap hari saya sendawa dan buang angin meskipun setiap malam, suami mengerok punggung saya dengan harapan saya tidak masuk angin lagi. Tapi berat badan saya yang melonjak 18 kilogram membuat saya tidak seatletis dan selincah dulu. Rasanya kaki saya tidak sanggup menumpu bobot tubuh saya yang setiap bulan makin bertambah.

Belum lagi setiap malam kadang saya tertidur dengan punggung terbuka karena menyusui Akira, alhasil saya meriang hampir di setiap harinya. Rutinitas yang melelahkan, tubuh yang tidak terurus, rentetan pekerjaan rumah yang seolah tidak pernah habis, fase adaptasi dengan gaya hidup sederhana dan shock seorang Ibu baru sering membuat saya menangis diam-diam saat mandi.

Biasanya, airmata saya hilang dihapus guyuran air segar dan hilang sementara. Tapi saya tidak pernah menyangka bahwa suatu hari bendungan airmata itu berujung dengan teriakan histeris.

Seperti yang saya alami beberapa minggu lalu. Saya yang biasanya bisa mengontrol diri tiba-tiba saja kehilangan kendali. Saya menangis di kamar mandi sesaat setelah Akira menangis tanpa saya ketahui apa maunya. Semakin Akira menangis, semakin saya menjerit. Sedih. Lelah. Tertekan. Depresi. Menyesal.

Belum lagi ditambah omongan orang yang minggu ini saja sudah saya dengar dua kali dari dua teman yang berbeda. “Kamu kan enak, cuma di rumah. Gue nih, terbang subuh pulang malem. Capek banget!”

Don’t you remember? Saya juga pernah jadi pramugari. At least pramugari masih punya  selama 9 jam. Saya? Tidur selalu terganggu karena dua-tiga jam sekali Akira bangun untuk menyusu. Saya tidak memiliki hari libur, saya bahkan tidak memiliki waktu untuk mengurus diri saya sendiri karena 24 jam yang saya miliki bahkan terasa kurang untuk mengurus rumah dan anak.

Mereka mengira punya bayi itu semenyenangkan yang diperlihatkan iklan-iklan produk bayi di televisi. Iklan hanya menampilkan bayi ceria yang tersenyum menggemaskan. Apa ada yang menampilkan bayi yang rewel saat demam? Apa ada yang menampilkan bayi yang menangis jerit-jerit hingga 7 oktaf tanpa bisa dimengerti apa kemauannya?

Beberapa orang seringkali menyepelekan pekerjaan ibu rumah tangga yang full time mengurus anak dan rumah tanpa pembantu ataupun baby sitter. Ketika seorang ibu rumah tangga mengeluh sedikiiit saja, kami dipandang manja. Mereka selalu berkata, memang sudah kodrat wanita untuk diam di rumah dan mengurus anak. Mungkin mereka lupa, ini sudah tahun 2016 di mana emansipasi wanita sudah berkembang dengan pesatnya.

Alih-alih menenangkan, komentar orang-orang malah lebih sering menyudutkan. Akhirnya, karena tidak ingin disudutkan, kami para ibu rumah tangga menyimpan keluhan kami rapat-rapat. Ingin terlihat kuat, ingin terlihat super, ingin terlihat mandiri.

Ironis sekali betapa sekeliling kita bukannya mensupport, malah membuat kita bersembunyi dari kenyataan. Tapi seorang ibu tetaplah ibu, sesuper apapun fisiknya, ia tetap manusia yang masih dibatasi kesabarannya. Ketika lelah dan keluhannya disimpan hingga berhari-hari dan suatu hari meledak menjadi amarah, lagi-lagi orang lain kembali dengan komentar pedasnya, berkata bahwa kita tidak menyayangi anak-anak kita sendiri.

Itulah yang menyebabkan saya mengamuk. Saya menjerit dan mengambil dokumen-dokumen yang diperlukan untuk melamar kerja. Belaian suami untuk menenangkan saya tidak berhasil menghentikan saya membongkar lemari untuk mencari-cari surat keterangan kerja dan kartu keluarga. Pokoknya saya mau kembali bekerja. Saya mau terbang lagi sebagai pramugari. Saya ingin dandan cantik setiap hari, saya ingin waktu istirahat yang cukup, saya ingin penghasilan sendiri, saya ingin saya yang dulu!

Tapi semua terhenti saat mata saya melihat mata bulat Akira yang menatap penuh harap dan tangannya yang terjulur kepada saya. Matanya sayu karena habis menangis. Entah mengapa, saya merasa waktu berputar kembali, mengantarkan saya ke masa saat masih mengandungnya. Saat saya berjuang melahirkannya. Tiba-tiba saja nasihat bijak ibu saya tadi menghentikan semuanya. Meredam amarah yang sebelumnya begitu menggebu-gebu.

Ada alasan di balik kalimat ‘surga di bawah telapak kaki ibumu’. Dan saya ingin menjadi surga yang pantas untuk Akira. Bukan sekedar ibu yang melahirkan, lalu pergi karena tidak tahan dengan tugas dan tanggung jawabnya.

Kalaupun suatu saat nanti saya bisa kembali bekerja, saya ingin pekerjaan saya nanti tidak membuat saya menelantarkan tugas saya sebagai seorang ibu. “Ibu ingin menjadi surgamu, Nak… Tolong semangati ibu…” (T)

Tags: anak-anakibupramugarisurga
Share60TweetSendShareSend
Previous Post

Kata Agus Suradnyana: “Pura-pura Terzolimi itu Lagu Lama,” – Benarkah?

Next Post

Proses Kreatif Kurnia Effendi 5# Sumber Ilham dan Buku

Radinna Nandakita

Radinna Nandakita

Lahir di Singaraja, Bali, sempat mukim di Jakarta, kini kembali tinggal di Singaraja. Mantan pramugari yang gila menulis. Tulisannya tentang "pramugalau" - kehidupan dirinya sebagai pramugari dan sebagai ibu yang super, digemari ribuan penggemar di radinnanandakita.blogspot.co.id

Related Posts

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails

Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

by Dede Putra Wiguna
August 18, 2026
0
Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

SETIAP kali upacara bendera dimulai, ada orang-orang yang berdiri di bawah matahari dan ada pula yang di bawah tenda. Yang...

Read moreDetails
Next Post

Proses Kreatif Kurnia Effendi 5# Sumber Ilham dan Buku

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co