7 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Menanam Puisi di Emperan Matamu” – Melihat Esa Menanam Kata-Kata Tak Biasa

Ulfiatul Khilmi by Ulfiatul Khilmi
November 2, 2019
in Ulasan
“Menanam Puisi di Emperan Matamu” –  Melihat Esa Menanam Kata-Kata Tak Biasa

Mengulas buku antologi puisi berjudul Menanam Puisi di Emperan Matamu karya Wayan Esa Bhaskara adalah salah satu pengalaman berharga bagi saya. Pasalnya ini adalah kali pertama bagi saya untuk belajar mengulas sebuah buku sastra. Buku dengan sampul dominan berwarna biru dan putih ini memiliki tebal kurang lebih 106 halaman, dengan jumlah puisi yang termuat sebanyak 99 judul. Buku puisi ini diterbitkan di bawah naungan Mahima Institute Indonesia.

Hal pertama yang langsung menarik perhatian adalah sampul bukunya. Pada sampul bukunya terdapat gambar seorang wanita yang hampir tenggelam dalam air dengan menyisakan bagian mata sampai ujung kepala. Jelas di sini ada alasan mengapa bagian mata tidak ikut terendam. Sesuai dengan judul Menanam Puisi di Emperam Matamu, terdapat kata ‘mata’ yang terlihat menjadi fokus penulis. Mengapa harus bagian mata? Barangkali mata (penghilatan) adalah indera yang paling sering kita gunakan dalam merasakan, menilai, dan memahami berbagai macam perisiwa. Untuk itu, Esa sengaja memilih ‘mata’ sebagai perihal identik dengan isi antologi puisinya. Mungkin, mata bagi Esa adalah cara ia menemukan puisi-puisi miliknya ini.

Hal tersebut juga terlihat dalam judul buku Menanam Puisi di Emperan Matamu yang sengaja dipilih. Menanam Puisi di Emperan Matamu kiranya dapat dipahami setelah melihat isi buku ini sendiri, yakni dapat dilihat dari perspektif sebagian besar judul-judul puisi Esa dalam buku ini, seperti “Meminjam Sore”, “Lawar Buatan Nenek”, “Siang”, “Pagi”, “Malam”, “Bebek-Bebek Danau”, “Gula-gula Kapas”, “Ritual Minum Teh”, “Sambal Matah”, serta masih banyak judul-judul yang bersumber dari lingkungan yang dekat dengan kita, tetapi sering terabaikan. Pada buku antologi Puisi ini, Esa berniat menghadirkan hal-hal tersebut. Dengan demikian, Menanam Puisi di Emperan Matamu adalah kumpulan penghilatan mata seoarang penyair Esa yang terangkum dalam buku Antologi puisi.

Lebih dalam lagi, kita akan menemukan bahwa ada hal-hal yang menarik setelah membaca buku antologi puisi ini. Hal-hal yang terasa mencolok, tidak biasa, dan terkesan disengaja oleh Esa, yakni pemilihan diksi. Ada dua macam keunikan diksi yang bisa dilihat dari buku ini. Esa menyelipkan diksi tidak biasa dan diksi kaku yang ingin dileburkan dalam baris-baris puisi. Diksi-diksi yang jarang kita temui penggunaanya dalam karya sastra. Diksi yang cenderung digunakan dalam tulisan ilmiah, seperti artikel.

Dalam beberapa puisinya Esa sengaja memasukkan diksi tidak biasa, seperti Lelaron (bait ke-3, baris ke-3, puisi Sajak Tiga Bagian), Cecabang (bait ke-2, baris ke-4, puisi Sajak Tiga Bagian), dan Tetiba (bait ke-2, baris ke-3, puisi “Galungan”). Mari kita bahas mengenai diksi asing yang Esa selipkan di puisinya. Diksi ini sekilas seperti diksi baru, tetapi jika ditelurusi melalui proses pembentukkan kata maka akan ditemukan bahwa diksi ini tidak baru hanya saja belum sering digunakan, baik dalam lisan maupun tulisan. Diksi ini mengalami proses reduplikasi (pengulangan) sebagian yang mirip dengan proses pembentukan ‘lelaki’ dari kata jamak ‘laki-laki’ atau ‘bebunga’ dari kata ‘bunga-bunga’. Jadi diksi ‘cecabang’ adalah bentuk jamak dari ‘cabang-cabang’ begitupun dengan ‘lelaron’ atau ‘tetiba’. Hanya saja dediksi ini jarang digunakan dan Esa sengaja menyelipkan ini ke dalam puisi dengan tujuan khusus. Satu-satunya cara untuk mengetahui adalah menilik latar belakang penyair sendiri. Siapakah Esa?

Wayan Esa Baskhara selain seorang penulis yang bergaul di komunitas Mahima, Singaraja. Ternyata juga seorang pengajar bahasa Indonesia. Maka, kemungkinan terbaik yang bisa disimpulkan, yaitu Esa sengaja menciptakan “diksi baru” tersebut dengan motif ingin berkontribusi pada perkembangan kosakata bahasa Indonesia. Ia ingin membuktikan bahwa kata-kata tidak berbatas pada apa yang sudah biasa digunakan. Ia ingin mengenalkan banyak variasi kata lagi. Sebab jika melihat latar belakangnya yang menjadi seorang pengajar, rasanya tidak mungkin dediksi itu dihadirkan tanpa ada alasan tertentu.

Masalah diksi dalam puisi Esa tidak berhenti menciptakan kesimpulan-kesimpulan baru, ditambah soal diksi-diksi kaku yang Esa masukkan ke dalam baris-baris puisi. Kata-kata yang amat jarang berada dalam sebuah puisi romantis. Hal ini menjadi kontradiktif dengan tema-tema yang ia ambil. Puisi Esa adalah puisi yang lahir dari seorang yang berlatar belakang dekat dengan alam, puisi yang lahir dari cerita-cerita kecil yang begitu tenang. Sungguh terasa kontra apabila ia memasukkan diksi-diksi kaku dan beku. Diksi seperti itu sebenarnya pernah diterapkan oleh penyair Afrizal Malna yang memiliki latar belakang kehidupan kota. Puisi Afrizal kebanyakan tidak berangkat dari alam, tetapi berangkat dari kehidupan kota dan segala kekakuannya. Dalam kasus ini diksi kaku terasa pas dalam puisi Afrizal. Kita ambil contoh judul puisi “Arsitektur Hotel” miliknya tahun1984. Diksi kaku “arsitektur” terasa pas dengan tema yang menceritakan segala kondisi kota yang identik dengan hal berbau “kaku”.

Dalam permasalahan ini, beberapa diksi kaku milik Esa serasa tidak pas dengan tema yang ia ambil, seperti diksi seafood dan de javu pada puisi “Ikan Bakar” dan “Seporsi Sore” atau diksi bermetamorfosa pada puisi “Sajak Sepotong Rindu”. Dalam kasus ini diksi pilhan Esa terlalu kaku untuk gaya puisi yang berlatar belakang puisi romansa. Seakan saya melihat baris-baris puisi milik Esa adalah tempat bereksperimen dengan kata-kata. Bagi saya kata-kata itu tidak sepenuhnya menyatu. Tiap membaca selalu ada yang mengganjal di perasaan. Selalu saya terpikir, “Oh harusnya begini! Pakai kata ini! tidak begini!”. Namun, tidak semua diksi kaku ternyata tidak bisa menyatu.

Beberapa diksi Esa ada yang mampu melebur, seperti diksi café pada puisi “Di Kota Asing” Ini atau diksi prototype pada puisi “Perang”. Dalam hal ini Esa mampu membuat diksi kaku tersebut hadir untuk menggambarkan suasana dalam puisinya. Kata café dalam kasus ini mampu menjadi ciri hadirnya suasa kota dalam puisi “Di Kota Asing Ini”, atau prototype yang mampu melebur dalam puisi “Perang”. Inilah kemudian yang masih menjadi PR untuk Esa dalam eksperimen kata-katanya: meleburkan kata-kata kaku agar mampu menggambarkan isi dan tema puisi miliknya. Esa boleh saja beranggapan tidak ada aturan dalam memilih kata seperti apa. Patut kita hargai hal tersebut, tetapi tetap dengan batasan tidak mengusik kenikmatan pembaca.

Dalam sebuah karya sastra biasanya selalu termuat beberapa hal yang menggambarkan siapa penyair. Begitupun dalam buku ini. Latar belakang penulis secara sadar atau tidak akan muncul dalam karyanya. Wayan Esa Baskhara adalah pemuda asli Bali yang berasal dari Kabupaten Tabanan. Hal tersebut sangat nampak pada beberapa unsur budaya miliknya yang ia masukkan dalam buku puisi ini, seperti puisi “Tarung Jago” (tradisi mengadu ayam jago yang biasa dilakukan oleh kaum pria di Bali ), “Galungan” (hari raya masyarakat Hindu bali), “Tumpek Landep” (perayaan setelah hari Saraswati), “Saraswati” (perayaan atas turunnya ilmu pengetahuan), “Nyepi” (hari raya agama Hindu), “Sambal Matah” (sambal khas Bali) dll. Kita tahu bahwa beberapa contoh judul di atas memiliki hubungan atau merupakan bagian budaya Bali sendiri. Esa mungkin sengaja menyisipkan budaya Bali karena memang budaya Bali telah menjadi bagian dari kehidupannya. Untuk itu, sedikit banyak dari buku antologi puisi Menanam Puisi di Emperam Matamu sudah dapat dibaca latar belakang penyair yang tema puisinya berhubungan dengan budaya miliknya.

Secara garis besar membaca antologi puisi Menanam Puisi di Emperan Matamu karya Wayan Esa Baskhara seperti mendengar si penyair bercerita soal dirinya. Bagaimana cara Esa memandang bagian-bagian hidup, pengalaman, dan hal-hal sederhana. Bagaimana Esa merekam jejaknya sendiri dalam puisi dengan keberanian bereksperimen kata-kata. Bagaimana sosok Esa menghadirkan diri dalam puisi, sosok pengajar dan penyair. Dalam buku ini Esa beberapa kali mengangkat kisah-kisah mengenai pagi, siang, malam, serta orang terkasih. Bagi saya, puisi Esa ini adalah gambaran seorang Esa yang berbicara dengan romantis. Terlepas dari ketidaksetujuan akan beberapa hal, saya h tiap-tiap lembarnya. Membaca dimanapun sesempatnya, di kelas, kantin kampus, lapangan Renon, juga kost-an, rasanya tetap sama: menyenangkan. Saya merasa Esa seperti sedang mendongeng dan bercerita soal perjalanan hidupnya kepada saya. Berikut kutipan puisi milik Esa yang mengena pada perasaan saya.

Nyeri-nyeri pernah buat ibu cemas

Dan tiap kali aku tertawa

Lututku luka

Ia kembali berujar, “jangan cepat besar ya, Nak!”

(2015)

(“Luka di Lutut Kiri” hlm.17)

Puisi milik Esa menyajikan banyak hal sederhana yang sering kita lupa. Bagaimana waktu berjalan, sepertinya Esa melihatnya dengan sangat jeli. Dari pagi, siang, dan malam tidak satupun yang luput jadi puisi. Hal-hal sederhana yang mampu ia ubah menjadi rentetan puisi yang mampu membuat kita berdebar tiap kali membacanya. Setelah membacanya, beberapa puisi Esa membuat saya bertanya, “Puisi untuk waktuku sendiri seperti apa? Apa pagi kali ini kesiangan? Apa siang kali ini ketiduran? Apa tidur kali ini kemalaman?”

Tags: BukuPuisiresensi buku
Share46TweetSendShareSend
Previous Post

Kebudayaan Keluarga Bali dalam “Antologi Cerpen Belog” Menurut Kacamata Pendatang

Next Post

Membaca Bagaimana Peristiwa ‘65 Disembunyikan Lewat Karya Sastra

Ulfiatul Khilmi

Ulfiatul Khilmi

Mahasiswa Semester III Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, UniveristasUdayana. Lahir di Lamongan, Jawa Timur pada tahun 1999. Pemudi yang baru menjejaki dunia Seni dan Sastra sejak satu tahun belakangan. Ikut tergabung dalam Teater Orok Unud dan Teater Cakrawala.

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Membaca Bagaimana Peristiwa ‘65 Disembunyikan Lewat Karya Sastra

Membaca Bagaimana Peristiwa ‘65 Disembunyikan Lewat Karya Sastra

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rampung Sebelum Penghabisan | Cerpen Kadek Indra Putra
Cerpen

Rampung Sebelum Penghabisan | Cerpen Kadek Indra Putra

SUARA pintu diketuk membangunkanku dari tidur siang. Dengan lemas aku berdiri menuju arah pintu untuk membukakan seseorang yang ada di...

by Kadek Indra Putra
March 6, 2026
Puisi-puisi Syeftyan Afat | Mencatat Dingin, Mengeriap Hangat
Puisi

Puisi-puisi Syeftyan Afat | Mencatat Dingin, Mengeriap Hangat

Mencatat Dingin, Mengeriap Hangat : umbu landu paranggi tubuhku mencatat dingindengan huruf-huruf kaburdi halaman kulit tipis gembur. bubuhkan sepenggal kalimatsebagai...

by Syeftyan Afat
March 6, 2026
Hilangkan Background Foto dengan Hasil Profesional: Panduan Lengkap Menghilangkan Latar Belakang Foto
Pop

Edit Foto Profesional dengan CapCut: Hilangkan Latar Belakang Foto dan Ubah Background Foto dengan Mudah

Di era digital saat ini, kemampuan mengedit foto telah menjadi kebutuhan penting. Baik untuk keperluan media sosial, konten kreatif, maupun...

by tatkala
March 6, 2026
‘Earth Song’ di Tengah Deru Mesiu
Ulas Musik

‘Earth Song’ di Tengah Deru Mesiu

Dunia seakan berhenti sejenak, bukan karena damai, tetapi karena ngeri oleh ledakan mesiu yang tiba-tiba memekakkan dan menyengat. Saat itu,...

by Nyoman Sukaya Sukawati
March 6, 2026
Etika Universal: Menembus Batas Agama, Merajut Persahabatan Global
Esai

Etika Universal: Menembus Batas Agama, Merajut Persahabatan Global

“I am not a man of religion, but religion alone cannot solve all our problem.” (Beyond Religion: Ethics for a...

by Agung Sudarsa
March 6, 2026
Hilangkan Background Foto dengan Hasil Profesional: Panduan Lengkap Menghilangkan Latar Belakang Foto
Pop

Hilangkan Background Foto dengan Hasil Profesional: Panduan Lengkap Menghilangkan Latar Belakang Foto

Di era digital saat ini, kemampuan untuk membuat foto terlihat profesional menjadi sangat penting, terutama bagi pembuat konten dan pebisnis...

by tatkala
March 6, 2026
Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co