DUA bulan belakangan saya sering merasa lelah. Saya pikir mungkin ini burnout, lelah tidak hanya pada fisik tapi juga mental. Pada beberapa bagian tubuh saya muncul ruam, dan saya pikir juga ini akumulasi dari stres yang saya rasakan dan alami.
Dua hari lalu, pada dini hari, saya terbangun secara tiba-tiba. Jam di layar ponsel menunjukkan angka 03:09 WITA. Saya baru saja mengalami mimpi dalam tidur yang dalam. Saya terlibat percakapan dengan seseorang, dalam mimpi itu ada beberapa orang lain. Kami berbicara dengan nada tinggi.
Mimpi beralih ke “adegan” lain. Saya berada di sebuah padepokan, mirip ashram. Ada satu-dua foto guru yang dihormati di tembok. Saya duduk bersila di lantai. Di dekat saya tampak seorang perempuan yang sedang memeriksa kondisi saya. Dia berbicara dalam bahasa Bali, terjemahannya begini: “Kasihan orang ini, hampir tiap hari kena serangan.” Serangan mistik atau spiritual, maksudnya.
Lalu ia duduk bersila juga di belakang saya dan seperti gerakan menotok di punggung, ia mengobati saya. Mimpi selesai. Saya terbangun, dan dalam keadaan masih mengantuk mencoba mengurai apa yang alami dalam mimpi tersebut.
Setelah kejadian itu, badan dan pikiran saya terasa ringan; tidak lagi mudah lelah, dan merasa lebih baik. Ini membuat saya yakin, dalam mimpi—pertolongan dari alam astral itu ada. Kadang dari leluhur, guru, kerabat, dan sahabat yang baik dan peduli pada saya, bahkan setelah mereka meninggalkan tubuh fisiknya. Dalam mimpi itu, ditunjukkan juga beberapa tempat sebagai petunjuk dan “kunci” dari apa yang saya alami dan penyebab gangguan yang saya alami.
Mimpi, religi, dan magi adalah hal yang menarik untuk dipelajari dan dipahami. Saya tidak tahu siapa perempuan itu. Ia bukan wajah yang saya kenal dalam kehidupan sehari-hari. Namun dalam mimpi itu ia hadir dengan sikap yang tenang, seperti seseorang yang sudah lama terbiasa menyentuh tubuh orang lain untuk menyembuhkan mereka. Gerakannya sederhana, tidak dramatis. Hanya duduk bersila di belakang saya, lalu menotok punggung dengan ritme pelan.
Dalam mimpi itu tidak ada mantra yang panjang, tidak ada asap dupa yang mengepul seperti dalam film-film mistik. Yang ada hanya ketenangan. Dan entah mengapa, setelah bangun, rasa ringan di tubuh saya terasa nyata.
Bagi sebagian orang, pengalaman seperti ini mungkin mudah dijelaskan sebagai proses psikologis, bahwamimpi sebagai cara pikiran bawah sadar meredakan ketegangan. Namun bagi orang yang tumbuh dalam kebudayaan seperti Bali, pengalaman mimpi jarang dipahami secara tunggal. Ia bisa berada di antara dunia psikologi, spiritualitas, dan tradisi.
Dalam bahasa Bali kita mengenal dua dunia, yakni sekala dan niskala. Sekala adalah dunia yang terlihat, yang bisa dijelaskan oleh logika sehari-hari. Sedangkan niskala adalah dunia yang tidak terlihat, tetapi diyakini ikut memengaruhi kehidupan manusia. Mimpi sering dianggap sebagai salah satu jembatan antara keduanya.
Ketika mempelajari kebudayaan manusia, para antropolog sering menemukan bahwa mimpi memiliki posisi yang penting dalam hampir semua masyarakat. Dalam banyak kebudayaan, mimpi bukan sekadar bunga tidur, melainkan saluran komunikasi antara manusia dengan dunia lain—entah itu roh leluhur, dewa, atau alam batin.
Antropolog seperti Bronislaw Malinowski pernah menjelaskan bahwa manusia menggunakan sistem kepercayaan, magi, dan ritual untuk menghadapi ketidakpastian hidup. Ketika seseorang sakit tanpa sebab yang jelas, atau mengalami tekanan batin yang tidak mudah dijelaskan, masyarakat sering mencari makna melalui simbol-simbol spiritual.
Di Bali, simbol-simbol itu sangat kaya. Ritual, mimpi, pertanda, hingga pengalaman spiritual pribadi sering dipahami sebagai bagian dari dialog manusia dengan alam semesta. Tidak selalu harus diterima secara harfiah, tetapi juga tidak sepenuhnya diabaikan.
Saya sendiri tidak ingin buru-buru memberi kesimpulan atas mimpi yang saya alami. Apakah itu sekadar proses psikologis? Apakah itu refleksi dari tubuh yang sedang kelelahan? Atau memang ada sesuatu dari dunia yang lebih luas yang sedang bekerja?
Saya tidak tahu. Namun pengalaman itu membuat saya kembali memikirkan sesuatu yang sering kita lupakan, bahwa manusia tidak hanya hidup dengan rasionalitas.
Antropolog Amerika Clifford Geertz pernah lama meneliti Bali. Dalam banyak tulisannya ia menunjukkan bahwa kehidupan masyarakat Bali dipenuhi oleh sistem simbol yang kompleks. Upacara, tarian, cerita rakyat, bahkan hubungan sosial sehari-hari sering mengandung makna simbolik yang dalam.
Bagi Geertz, agama dan kepercayaan bukan hanya soal iman, tetapi juga cara manusia memberi makna pada dunia yang sering terasa membingungkan.
Mungkin itu juga yang terjadi pada mimpi. Mimpi adalah ruang di mana pikiran kita bekerja tanpa sensor yang ketat dari kesadaran. Ia bisa menyusun kembali pengalaman hidup, rasa takut, harapan, bahkan kenangan lama yang tidak lagi kita ingat dalam keadaan sadar. Karena itu tidak mengherankan jika banyak kebudayaan memberi tempat khusus pada mimpi.
Di Bali, orang tua sering mengatakan bahwa mimpi kadang membawa pesan. Tidak semua mimpi penting, tentu saja. Banyak mimpi hanya serpihan dari aktivitas pikiran sehari-hari. Namun ada mimpi tertentu yang terasa berbeda—lebih terang, lebih jelas, dan meninggalkan kesan yang kuat setelah kita bangun.
Mimpi seperti itulah yang sering dianggap memiliki makna. Saya teringat pada cerita-cerita lama tentang para balian atau penyembuh tradisional di Bali. Banyak dari mereka mengatakan bahwa kemampuan menyembuhkan sering datang melalui mimpi.
Dalam mimpi mereka bertemu guru spiritual, leluhur, atau sosok yang memberi petunjuk tentang ramuan obat dan cara mengobati orang sakit.
Kisah seperti ini tentu tidak bisa diverifikasi secara ilmiah. Namun menariknya, cerita serupa muncul di banyak kebudayaan lain di dunia. Dalam masyarakat adat di Amerika, Afrika, hingga Asia, mimpi sering dianggap sebagai tempat seseorang menerima panggilan untuk menjadi penyembuh.
Antropolog melihat fenomena ini bukan semata-mata sebagai soal benar atau salah, melainkan sebagai bagian dari struktur budaya yang memberi makna pada pengalaman manusia. Dengan kata lain, mimpi menjadi bahasa simbolik yang dipakai masyarakat untuk memahami proses batin yang kompleks.
Beberapa tahun lalu saya pernah membaca tulisan dari psikiater Bali, Luh Ketut Suryani. Ia banyak meneliti hubungan antara kepercayaan tradisional Bali dengan kesehatan mental.
Menurut Suryani, dalam banyak kasus gangguan psikologis di Bali, pengalaman spiritual tidak bisa begitu saja dihapus dari cara orang memahami dirinya sendiri. Jika dokter hanya memakai pendekatan medis tanpa memahami latar budaya pasien, proses penyembuhan sering tidak berjalan dengan baik.
Artinya, pengalaman spiritual, termasuk mimpi, bagi sebagian orang memiliki fungsi terapeutik. Bukan karena mimpi itu secara harfiah menyembuhkan penyakit, tetapi karena ia membantu seseorang menyusun kembali keseimbangan batin.
Mungkin itulah yang saya alami. Bukan perempuan dalam mimpi itu yang menyembuhkan saya secara literal. Mungkin yang terjadi adalah tubuh dan pikiran saya akhirnya menemukan cara untuk beristirahat setelah lama berada dalam tekanan.
Namun simbol yang muncul dalam mimpi itu—perempuan penyembuh, padepokan, dan gerakan menotok di punggung—memberi bentuk pada proses pemulihan tersebut. Ada sesuatu yang menarik tentang sosok perempuan dalam mimpi saya.
Dalam banyak tradisi spiritual di Nusantara, perempuan sering diasosiasikan dengan energi penyembuhan. Banyak balian, dukun, atau tabib perempuan yang dikenal memiliki kepekaan batin yang kuat.
Dalam cerita rakyat Bali, kita juga mengenal tokoh-tokoh perempuan dengan kekuatan spiritual yang besar—baik yang digunakan untuk kebaikan maupun untuk kehancuran.
Simbol perempuan dalam mimpi sering dihubungkan dengan aspek intuitif dari diri manusia, yakni, bagian dari diri kita yang memahami sesuatu tanpa harus menjelaskannya dengan kata-kata.
Mungkin perempuan dalam mimpi itu bukan orang lain. Mungkin ia adalah bagian dari diri saya sendiri yang selama ini saya abaikan. Bagian yang tahu bahwa tubuh saya sedang lelah, yang meminta saya berhenti sejenak.
Hidup modern sering membuat kita terlalu sibuk dengan dunia sekala. Kita bekerja, menulis, membaca berita, mengejar tenggat, memikirkan uang, memikirkan masa depan. Semua itu penting, tentu saja. Namun dalam kesibukan itu, kita sering lupa bahwa tubuh dan pikiran memiliki batas.
Ketika batas itu terlampaui, tubuh memberi sinyal, seperti rasa lelah, ruam, insomnia, atau kegelisahan yang sulit dijelaskan. Barangkali mimpi adalah salah satu cara tubuh berbicara kepada kita. Ia tidak menggunakan bahasa logika, tetapi bahasa simbol.
Dan kadang simbol itu muncul dalam bentuk yang aneh; padepokan yang tidak pernah kita kunjungi, guru yang tidak pernah kita kenal, atau perempuan penyembuh yang tiba-tiba datang dari suatu tempat yang tidak kita pahami.
Saya tidak berniat mengajak siapa pun percaya bahwa mimpi saya adalah pengalaman mistik yang luar biasa. Tidak. Saya justru lebih tertarik pada pertanyaan yang lebih sederhana, seperti, mengapa pengalaman seperti ini terasa begitu nyata bagi manusia? Mengapa mimpi kadang bisa memengaruhi perasaan kita sepanjang hari? Mengapa setelah mimpi tertentu kita merasa lega, sedih, atau bahkan tercerahkan?
Pertanyaan-pertanyaan ini sebenarnya sudah lama menarik perhatian para ilmuwan, psikolog, dan antropolog. Namun sampai sekarang, mimpi tetap menjadi salah satu misteri paling menarik dalam kehidupan manusia.
Bagi saya pribadi, mimpi tentang perempuan penyembuh itu menjadi pengingat kecil bahwa hidup tidak selalu harus dijelaskan secara tuntas. Ada pengalaman yang cukup kita rasakan saja. Selain itu, ada juga pengalaman yang tidak perlu dibuktikan kepada siapa pun. Yang penting adalah bagaimana pengalaman itu membuat kita lebih peka terhadap diri sendiri.
Setelah mimpi itu, saya mencoba memperlambat ritme hidup. Tidur lebih cukup, mengurangi pekerjaan yang tidak terlalu penting, dan memberi ruang bagi tubuh untuk beristirahat. Barangkali itu bentuk penyembuhan yang paling sederhana.
Bukan melalui ritual yang rumit, atau melalui kekuatan gaib yang spektakuler. Tetapi melalui kesadaran bahwa kita juga manusia yang bisa lelah. Saya masih belum tahu siapa perempuan dalam mimpi itu. Namun saya bersyukur ia datang—entah sebagai simbol, entah sebagai bayangan dari pikiran saya sendiri. Karena setelah ia menotok punggung saya dalam mimpi, sesuatu di dalam diri saya terasa berubah. Tubuh saya terasa lebih ringan. Dan untuk pertama kalinya setelah beberapa minggu, saya merasa benar-benar ingin tidur lagi. [T]
Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole




























