12 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Diobati Perempuan Penyembuh

Angga Wijaya by Angga Wijaya
March 12, 2026
in Esai
Diobati Perempuan Penyembuh

Ilustrasi tatkala.co | Canva

DUA bulan belakangan saya sering merasa lelah. Saya pikir mungkin ini burnout, lelah tidak hanya pada fisik tapi juga mental. Pada beberapa bagian tubuh saya muncul ruam, dan saya pikir juga ini akumulasi dari stres yang saya rasakan dan alami.

Dua hari lalu, pada dini hari, saya terbangun secara tiba-tiba. Jam di layar ponsel menunjukkan angka 03:09 WITA. Saya baru saja mengalami mimpi dalam tidur yang dalam. Saya terlibat percakapan dengan seseorang, dalam mimpi itu ada beberapa orang lain. Kami berbicara dengan nada tinggi.

Mimpi beralih ke “adegan” lain. Saya berada di sebuah padepokan, mirip ashram. Ada satu-dua foto guru yang dihormati di tembok. Saya duduk bersila di lantai. Di dekat saya tampak seorang perempuan yang sedang memeriksa kondisi saya. Dia berbicara dalam bahasa Bali, terjemahannya begini: “Kasihan orang ini, hampir tiap hari kena serangan.” Serangan mistik atau spiritual, maksudnya.

Lalu ia duduk bersila juga di belakang saya dan seperti gerakan menotok di punggung, ia mengobati saya. Mimpi selesai. Saya terbangun, dan dalam keadaan masih mengantuk mencoba mengurai apa yang alami dalam mimpi tersebut.

Setelah kejadian itu, badan dan pikiran saya terasa ringan; tidak lagi mudah lelah, dan merasa lebih baik. Ini membuat saya yakin, dalam mimpi—pertolongan dari alam astral itu ada. Kadang dari leluhur, guru, kerabat, dan sahabat yang baik dan peduli pada saya, bahkan setelah mereka meninggalkan tubuh fisiknya.  Dalam mimpi itu, ditunjukkan juga beberapa tempat sebagai petunjuk dan “kunci” dari apa yang saya alami dan penyebab gangguan yang saya alami.

Mimpi, religi, dan magi adalah hal yang menarik untuk dipelajari dan dipahami. Saya tidak tahu siapa perempuan itu. Ia bukan wajah yang saya kenal dalam kehidupan sehari-hari. Namun dalam mimpi itu ia hadir dengan sikap yang tenang, seperti seseorang yang sudah lama terbiasa menyentuh tubuh orang lain untuk menyembuhkan mereka. Gerakannya sederhana, tidak dramatis. Hanya duduk bersila di belakang saya, lalu menotok punggung dengan ritme pelan.

Dalam mimpi itu tidak ada mantra yang panjang, tidak ada asap dupa yang mengepul seperti dalam film-film mistik. Yang ada hanya ketenangan. Dan entah mengapa, setelah bangun, rasa ringan di tubuh saya terasa nyata.

Bagi sebagian orang, pengalaman seperti ini mungkin mudah dijelaskan sebagai proses psikologis, bahwamimpi sebagai cara pikiran bawah sadar meredakan ketegangan. Namun bagi orang yang tumbuh dalam kebudayaan seperti Bali, pengalaman mimpi jarang dipahami secara tunggal. Ia bisa berada di antara dunia psikologi, spiritualitas, dan tradisi.

Dalam bahasa Bali kita mengenal dua dunia, yakni sekala dan niskala. Sekala adalah dunia yang terlihat, yang bisa dijelaskan oleh logika sehari-hari. Sedangkan niskala adalah dunia yang tidak terlihat, tetapi diyakini ikut memengaruhi kehidupan manusia. Mimpi sering dianggap sebagai salah satu jembatan antara keduanya.

Ketika mempelajari kebudayaan manusia, para antropolog sering menemukan bahwa mimpi memiliki posisi yang penting dalam hampir semua masyarakat. Dalam banyak kebudayaan, mimpi bukan sekadar bunga tidur, melainkan saluran komunikasi antara manusia dengan dunia lain—entah itu roh leluhur, dewa, atau alam batin.

Antropolog seperti Bronislaw Malinowski pernah menjelaskan bahwa manusia menggunakan sistem kepercayaan, magi, dan ritual untuk menghadapi ketidakpastian hidup. Ketika seseorang sakit tanpa sebab yang jelas, atau mengalami tekanan batin yang tidak mudah dijelaskan, masyarakat sering mencari makna melalui simbol-simbol spiritual.

Di Bali, simbol-simbol itu sangat kaya. Ritual, mimpi, pertanda, hingga pengalaman spiritual pribadi sering dipahami sebagai bagian dari dialog manusia dengan alam semesta. Tidak selalu harus diterima secara harfiah, tetapi juga tidak sepenuhnya diabaikan.

Saya sendiri tidak ingin buru-buru memberi kesimpulan atas mimpi yang saya alami. Apakah itu sekadar proses psikologis? Apakah itu refleksi dari tubuh yang sedang kelelahan? Atau memang ada sesuatu dari dunia yang lebih luas yang sedang bekerja?

Saya tidak tahu. Namun pengalaman itu membuat saya kembali memikirkan sesuatu yang sering kita lupakan, bahwa manusia tidak hanya hidup dengan rasionalitas.

Antropolog Amerika Clifford Geertz pernah lama meneliti Bali. Dalam banyak tulisannya ia menunjukkan bahwa kehidupan masyarakat Bali dipenuhi oleh sistem simbol yang kompleks. Upacara, tarian, cerita rakyat, bahkan hubungan sosial sehari-hari sering mengandung makna simbolik yang dalam.

Bagi Geertz, agama dan kepercayaan bukan hanya soal iman, tetapi juga cara manusia memberi makna pada dunia yang sering terasa membingungkan.

Mungkin itu juga yang terjadi pada mimpi. Mimpi adalah ruang di mana pikiran kita bekerja tanpa sensor yang ketat dari kesadaran. Ia bisa menyusun kembali pengalaman hidup, rasa takut, harapan, bahkan kenangan lama yang tidak lagi kita ingat dalam keadaan sadar. Karena itu tidak mengherankan jika banyak kebudayaan memberi tempat khusus pada mimpi.

Di Bali, orang tua sering mengatakan bahwa mimpi kadang membawa pesan. Tidak semua mimpi penting, tentu saja. Banyak mimpi hanya serpihan dari aktivitas pikiran sehari-hari. Namun ada mimpi tertentu yang terasa berbeda—lebih terang, lebih jelas, dan meninggalkan kesan yang kuat setelah kita bangun.

Mimpi seperti itulah yang sering dianggap memiliki makna. Saya teringat pada cerita-cerita lama tentang para balian atau penyembuh tradisional di Bali. Banyak dari mereka mengatakan bahwa kemampuan menyembuhkan sering datang melalui mimpi.

Dalam mimpi mereka bertemu guru spiritual, leluhur, atau sosok yang memberi petunjuk tentang ramuan obat dan cara mengobati orang sakit.

Kisah seperti ini tentu tidak bisa diverifikasi secara ilmiah. Namun menariknya, cerita serupa muncul di banyak kebudayaan lain di dunia. Dalam masyarakat adat di Amerika, Afrika, hingga Asia, mimpi sering dianggap sebagai tempat seseorang menerima panggilan untuk menjadi penyembuh.

Antropolog melihat fenomena ini bukan semata-mata sebagai soal benar atau salah, melainkan sebagai bagian dari struktur budaya yang memberi makna pada pengalaman manusia. Dengan kata lain, mimpi menjadi bahasa simbolik yang dipakai masyarakat untuk memahami proses batin yang kompleks.

Beberapa tahun lalu saya pernah membaca tulisan dari psikiater Bali, Luh Ketut Suryani. Ia banyak meneliti hubungan antara kepercayaan tradisional Bali dengan kesehatan mental.

Menurut Suryani, dalam banyak kasus gangguan psikologis di Bali, pengalaman spiritual tidak bisa begitu saja dihapus dari cara orang memahami dirinya sendiri. Jika dokter hanya memakai pendekatan medis tanpa memahami latar budaya pasien, proses penyembuhan sering tidak berjalan dengan baik.

Artinya, pengalaman spiritual, termasuk mimpi, bagi sebagian orang memiliki fungsi terapeutik. Bukan karena mimpi itu secara harfiah menyembuhkan penyakit, tetapi karena ia membantu seseorang menyusun kembali keseimbangan batin.

Mungkin itulah yang saya alami. Bukan perempuan dalam mimpi itu yang menyembuhkan saya secara literal. Mungkin yang terjadi adalah tubuh dan pikiran saya akhirnya menemukan cara untuk beristirahat setelah lama berada dalam tekanan.

Namun simbol yang muncul dalam mimpi itu—perempuan penyembuh, padepokan, dan gerakan menotok di punggung—memberi bentuk pada proses pemulihan tersebut. Ada sesuatu yang menarik tentang sosok perempuan dalam mimpi saya.

Dalam banyak tradisi spiritual di Nusantara, perempuan sering diasosiasikan dengan energi penyembuhan. Banyak balian, dukun, atau tabib perempuan yang dikenal memiliki kepekaan batin yang kuat.

Dalam cerita rakyat Bali, kita juga mengenal tokoh-tokoh perempuan dengan kekuatan spiritual yang besar—baik yang digunakan untuk kebaikan maupun untuk kehancuran.

Simbol perempuan dalam mimpi sering dihubungkan dengan aspek intuitif dari diri manusia, yakni, bagian dari diri kita yang memahami sesuatu tanpa harus menjelaskannya dengan kata-kata.

Mungkin perempuan dalam mimpi itu bukan orang lain. Mungkin ia adalah bagian dari diri saya sendiri yang selama ini saya abaikan. Bagian yang tahu bahwa tubuh saya sedang lelah, yang meminta saya berhenti sejenak.

Hidup modern sering membuat kita terlalu sibuk dengan dunia sekala. Kita bekerja, menulis, membaca berita, mengejar tenggat, memikirkan uang, memikirkan masa depan. Semua itu penting, tentu saja. Namun dalam kesibukan itu, kita sering lupa bahwa tubuh dan pikiran memiliki batas.

Ketika batas itu terlampaui, tubuh memberi sinyal, seperti rasa lelah, ruam, insomnia, atau kegelisahan yang sulit dijelaskan. Barangkali mimpi adalah salah satu cara tubuh berbicara kepada kita. Ia tidak menggunakan bahasa logika, tetapi bahasa simbol.

Dan kadang simbol itu muncul dalam bentuk yang aneh; padepokan yang tidak pernah kita kunjungi, guru yang tidak pernah kita kenal, atau perempuan penyembuh yang tiba-tiba datang dari suatu tempat yang tidak kita pahami.

Saya tidak berniat mengajak siapa pun percaya bahwa mimpi saya adalah pengalaman mistik yang luar biasa. Tidak. Saya justru lebih tertarik pada pertanyaan yang lebih sederhana, seperti, mengapa pengalaman seperti ini terasa begitu nyata bagi manusia? Mengapa mimpi kadang bisa memengaruhi perasaan kita sepanjang hari? Mengapa setelah mimpi tertentu kita merasa lega, sedih, atau bahkan tercerahkan?

Pertanyaan-pertanyaan ini sebenarnya sudah lama menarik perhatian para ilmuwan, psikolog, dan antropolog. Namun sampai sekarang, mimpi tetap menjadi salah satu misteri paling menarik dalam kehidupan manusia.

Bagi saya pribadi, mimpi tentang perempuan penyembuh itu menjadi pengingat kecil bahwa hidup tidak selalu harus dijelaskan secara tuntas. Ada pengalaman yang cukup kita rasakan saja. Selain itu, ada juga pengalaman yang tidak perlu dibuktikan kepada siapa pun. Yang penting adalah bagaimana pengalaman itu membuat kita lebih peka terhadap diri sendiri.

Setelah mimpi itu, saya mencoba memperlambat ritme hidup. Tidur lebih cukup, mengurangi pekerjaan yang tidak terlalu penting, dan memberi ruang bagi tubuh untuk beristirahat. Barangkali itu bentuk penyembuhan yang paling sederhana.

Bukan melalui ritual yang rumit, atau melalui kekuatan gaib yang spektakuler. Tetapi melalui kesadaran bahwa kita juga manusia yang bisa lelah. Saya masih belum tahu siapa perempuan dalam mimpi itu. Namun saya bersyukur ia datang—entah sebagai simbol, entah sebagai bayangan dari pikiran saya sendiri. Karena setelah ia menotok punggung saya dalam mimpi, sesuatu di dalam diri saya terasa berubah. Tubuh saya terasa lebih ringan. Dan untuk pertama kalinya setelah beberapa minggu, saya merasa benar-benar ingin tidur lagi. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Korban Dipermalukan, Pelaku Dilupakan: Kebusukan Moral ‘Victim Blaming’ di Indonesia

Next Post

Mlaspas dan Ngenteg Linggih Meru Tumpang Solas di Pura Ulun Danu Batur, Linggastana Ida Bhatari Sakti Dewi Danuh

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Korban Dipermalukan, Pelaku Dilupakan: Kebusukan Moral ‘Victim Blaming’ di Indonesia

by Muhammad Khairu Rahman
March 12, 2026
0
Korban Dipermalukan, Pelaku Dilupakan: Kebusukan Moral ‘Victim Blaming’ di Indonesia

Fenomena victim blaming — yaitu kecenderungan sosial untuk menyalahkan korban atas kekerasan atau kejahatan yang menimpa mereka — bukan sekadar...

Read moreDetails

Harimu Terasa Kacau? Mungkin Karena Lagi ‘Mercury in Retrograde’

by Putu Ayu Arundhati Gitanjali
March 12, 2026
0
Harimu Terasa Kacau? Mungkin Karena Lagi ‘Mercury in Retrograde’

MALAM itu, muncul notifikasi di layar ponsel saya. Pesan WhatsApp dari seorang teman. “Kok masalah datang keroyokan ya?” Beberapa detik...

Read moreDetails

Pariwisata, Ritual, dan Tanah Bali

by Agung Sudarsa
March 11, 2026
0
Pariwisata, Ritual, dan Tanah Bali

Ritual Lama, Tradisi Baru Malam menjelang Hari Raya Nyepi, yang dikenal sebagai Pengerupukan, pada mulanya merupakan ritual yang sangat sederhana....

Read moreDetails

Antara Sunyi Nyepi dan Gema Takbir: Menakar Kejujuran dalam Beragama

by I Gede Joni Suhartawan
March 11, 2026
0
Antara Sunyi Nyepi dan Gema Takbir: Menakar Kejujuran dalam Beragama

PANCASILA seringkali kita bicarakan seolah-olah ia adalah mantra ajaib yang otomatis menyatukan, padahal ia adalah sebuah "kesepakatan sunyi" yang menuntut...

Read moreDetails

Pergeseran Silaturahmi Idulfitri dan Krisis Komunikasi Antarpersona

by Ashlikhatul Fuaddah
March 11, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

LEBARAN tahun ini sepertinya akan terasa berbeda dari yang saya ingat waktu kecil. Bukan karena ketupat yang semakin jarang dibuat...

Read moreDetails

Takbiran dalam Gening: Ngempet Raga di Tanah Dewata

by Nur Kamilia
March 10, 2026
0
Takbiran dalam Gening: Ngempet Raga di Tanah Dewata

PERTEMUAN antara malam Takbiran (Idul Fitri) dan hari raya Nyepi di Bali bukan sekadar fenomena kalender yang langka. Peristiwa ini...

Read moreDetails

Perang Iran dan Kebangkrutan Solidaritas Multipolar

by Elpeni Fitrah
March 10, 2026
0
Refleksi di Hari Media Sosial Nasional

OPERATION Epic Fury sudah berjalan sebelas hari. Lebih dari 1.700 orang tewas. Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dibunuh dalam...

Read moreDetails

Marwah yang Tak Terbeli

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

MELALUI sejarah kita tahu bahwa dari zaman ke zaman, kekuasaan selalu memiliki semacam bahasa untuk menjelaskan wajah kekuasaan itu. Dalam...

Read moreDetails

Ketika Imunisasi Terlewat, Campak Mengancam Anak

by Ni Made Erika Suciari
March 10, 2026
0
Ketika Imunisasi Terlewat, Campak Mengancam Anak

KEMAJUAN ilmu kedokteran telah membuat banyak penyakit menular sebenarnya dapat dicegah melalui imunisasi. Namun meningkatnya kembali kasus campak menjadi pengingat...

Read moreDetails

SIAPA BHATARA GURU DI KEMULAN (?) — MEMAHAMI KAWITAN DAN PITARA: Antara Atma yang Universal dan Jiwa yang Personal — [Bagian 2]

by Sugi Lanus
March 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

Orang Bali memuja leluhur sebagai Jiwa Suci Personal (Pitara-Pitari) dan memuja leluhur sebagai Asal Muasal Kehidupan dan sekaligus Guru Kehidupan...

Read moreDetails
Next Post
Mlaspas dan Ngenteg Linggih Meru Tumpang Solas di Pura Ulun Danu Batur, Linggastana Ida Bhatari Sakti Dewi Danuh

Mlaspas dan Ngenteg Linggih Meru Tumpang Solas di Pura Ulun Danu Batur, Linggastana Ida Bhatari Sakti Dewi Danuh

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sanggar Suara Mustika, Buleleng: Dari Gong Warisan Kakek Menuju Pesta Kesenian Bali

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Buleleng International Rhythm Festival, Ajang Pertunjukan Seni dan Ruang Persahabatan Antar Negara
Budaya

Buleleng International Rhythm Festival, Ajang Pertunjukan Seni dan Ruang Persahabatan Antar Negara

Rasa bangga dan syukur karena Buleleng kembali dipercaya menjadi tuan rumah pertemuan budaya dunia. Buleleng International Rhythm Festival (BIRF) ini...

by tatkala
March 12, 2026
Mlaspas dan Ngenteg Linggih Meru Tumpang Solas di Pura Ulun Danu Batur, Linggastana Ida Bhatari Sakti Dewi Danuh
Budaya

Mlaspas dan Ngenteg Linggih Meru Tumpang Solas di Pura Ulun Danu Batur, Linggastana Ida Bhatari Sakti Dewi Danuh

Masyarakat Desa Adat Batur, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, melaksanakan upacara Mlaspas dan Ngenteg Linggih Meru Tumpang Solas Pura Ulun Danu...

by tatkala
March 12, 2026
Diobati Perempuan Penyembuh
Esai

Diobati Perempuan Penyembuh

DUA bulan belakangan saya sering merasa lelah. Saya pikir mungkin ini burnout, lelah tidak hanya pada fisik tapi juga mental....

by Angga Wijaya
March 12, 2026
Korban Dipermalukan, Pelaku Dilupakan: Kebusukan Moral ‘Victim Blaming’ di Indonesia
Esai

Korban Dipermalukan, Pelaku Dilupakan: Kebusukan Moral ‘Victim Blaming’ di Indonesia

Fenomena victim blaming — yaitu kecenderungan sosial untuk menyalahkan korban atas kekerasan atau kejahatan yang menimpa mereka — bukan sekadar...

by Muhammad Khairu Rahman
March 12, 2026
Harimu Terasa Kacau? Mungkin Karena Lagi ‘Mercury in Retrograde’
Esai

Harimu Terasa Kacau? Mungkin Karena Lagi ‘Mercury in Retrograde’

MALAM itu, muncul notifikasi di layar ponsel saya. Pesan WhatsApp dari seorang teman. “Kok masalah datang keroyokan ya?” Beberapa detik...

by Putu Ayu Arundhati Gitanjali
March 12, 2026
‘Langkah Kita’, Langkah Awal ‘Vertical Limit’ Menembus Batas
Pop

‘Langkah Kita’, Langkah Awal ‘Vertical Limit’ Menembus Batas

LEWAT single perdana “Langkah Kita”, Vertical Limit menandai langkah awal perjalanan karir bermusik mereka. Band yang digawangi empat remaja ini...

by Dede Putra Wiguna
March 12, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Prinsip ‘Lex Prior Tempore Potior Jure’ dalam Penyelesaian Konflik Kawasan Hutan —Analisis Kebijakan Pertanahan dan Kehutanan Indonesia

KONFLIK penguasaan lahan di kawasan hutan Papua menampilkan paradoks mendasar dalam kebijakan agraria dan kehutanan Indonesia. Di satu sisi, negara...

by I Made Pria Dharsana
March 12, 2026
Ogar-Ogar Ogoh-Ogoh Ketika Rock, Gamelan, dan Energi Banjar Menemukan Suaranya dalam Musik TRABASENJA
Panggung

Ogar-Ogar Ogoh-Ogoh Ketika Rock, Gamelan, dan Energi Banjar Menemukan Suaranya dalam Musik TRABASENJA

ADA sesuatu yang selalu terasa menjelang malam pengerupukan di Bali. Jalan-jalan desa mulai ramai, anak-anak muda berkumpul di bale banjar,...

by Pranita Dewi
March 12, 2026
Pariwisata, Ritual, dan Tanah Bali
Esai

Pariwisata, Ritual, dan Tanah Bali

Ritual Lama, Tradisi Baru Malam menjelang Hari Raya Nyepi, yang dikenal sebagai Pengerupukan, pada mulanya merupakan ritual yang sangat sederhana....

by Agung Sudarsa
March 11, 2026
Antara Sunyi Nyepi dan Gema Takbir: Menakar Kejujuran dalam Beragama
Esai

Antara Sunyi Nyepi dan Gema Takbir: Menakar Kejujuran dalam Beragama

PANCASILA seringkali kita bicarakan seolah-olah ia adalah mantra ajaib yang otomatis menyatukan, padahal ia adalah sebuah "kesepakatan sunyi" yang menuntut...

by I Gede Joni Suhartawan
March 11, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Pergeseran Silaturahmi Idulfitri dan Krisis Komunikasi Antarpersona

LEBARAN tahun ini sepertinya akan terasa berbeda dari yang saya ingat waktu kecil. Bukan karena ketupat yang semakin jarang dibuat...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 11, 2026
Takbiran dalam Gening: Ngempet Raga di Tanah Dewata
Esai

Takbiran dalam Gening: Ngempet Raga di Tanah Dewata

PERTEMUAN antara malam Takbiran (Idul Fitri) dan hari raya Nyepi di Bali bukan sekadar fenomena kalender yang langka. Peristiwa ini...

by Nur Kamilia
March 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co