8 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Zarifium, Mencintaimu, Klise

Silvia Maharani Ikhsan by Silvia Maharani Ikhsan
March 8, 2026
in Puisi
Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Zarifium, Mencintaimu, Klise

Silvia Maharani Ikhsan

ZARIFIUM

Langit hari itu mengandung muatan emosi
Yang dikubur terlalu lama dalam pori-pori langit
Hingga berubah menjadi semacam zat yang tak bisa larut.

Udara menjadi berat oleh kenangan yang belum pernah terjadi
Kenangan yang mencoba menjelma jadi aroma,
Tapi tersendat di leher dunia.
Ada sesuatu yang ingin jatuh, tapi tak tahu bentuknya.
Mungkin air, mungkin suara, mungkin wajah.
Tapi tak ada yang diizinkan keluar.
Karena mendung itu bukan langit.
Bukan awan.
Tapi penahanan yang belum menemukan alasannya sendiri.

Burung-burung yang biasa menari
Di sela-sela udara
Kini mengerut jadi titik bisu.
Mereka tahu langit itu sedang tidak berbahaya,
Namun juga tak bisa dipercaya.

Lalu datang angin.
Angin itu hanya lewat,
Membawa puing-puing dari tempat yang tidak sempat diberi arah.
Dan dalam desah yang terlalu pelan untuk disebut suara, terdengar:

“Aku pernah tahu bagaimana caranya melepaskan. tapi waktu itu aku masih punya nama.”

Tapi yang turun bukan hujan.
Yang turun adalah rasa yang sudah kehilangan bentuk.
Menjadi debu lembap yang tak mampu membasahi, tak mampu mengering.

Dan di saat itu, tanah pun menolak menyerap.

“Jatuhmu bukan milikku,” kata bumi dengan suara yang tidak lahir dari pusatnya.

Mendung itu terus mengandung
Sampai akhirnya menguap
Menjadi bentuk yang bahkan kabut pun malu untuk meniru.
Ia tidak pernah menangis.
Karena yang lupa,
Tak bisa diingatkan.
Dan yang menahan terlalu lama,
Akan menjadi sesuatu yang tak bisa dikenali lagi sebagai rasa.

Boyolali 26

MENCARI MAKNA

Aku tak lahir dari temu
Aku tak menuju temu
Aku tertanam dalam sulur Pikiran yang tak rindu akar

Segala bait tak kusebut sajak
Segala hukum tak kusebut landas
Kujahit teori dari benang-benang asing
yang tak pernah dianggap wajar oleh logika yang membatu

Jika nafasmu masih menunggu arah
Tutuplah lembar ini
Sebab yang kubawa bukan hikmah
Melainkan rintik keganjilan
Yang menolak dilahirkan
Teori ini lahir dari luka pikiran
Yang terlalu lama berbincang dengan ruang yang tak punya nama

Aku menyebutnya ”Surealis”
Hukum puisi berliku tanpa sudut pandang

Tiada batas makna
Tiada simpul jawaban
Tiada tempat berdiam

Yang ada hanya puing kalimat
Yang tak sudi menjelaskan dirinya sendiri

Boyolali 26

RAHIM BUMI, RAHIMKU

aku adalah tanah
yang pernah kau bajak tanpa permisi
kau gali sumurnya, kau tanami benihmu
lalu kau tinggalkan, tak pernah kau rawat
kering dan patah

aku adalah rahim
yang kau puja saat subur
dan kau kutuk saat berdarah
kau puji saat memberi
yang kau abaikan saat menanti

bumi dan aku sama-sama tahu
sakitnya dicintai hanya karena fungsi

kau tak pernah bertanya,
apa yang kami rasakan saat retak?
saat gempa merobek punggungku,
saat menstruasi memanggil langit dalam nyeri
saat akar tumbuh perlahan
dan tak kau lihat sama sekali

kami tak butuh diselamatkan
kami hanya ingin didengarkan
dipeluk tanpa rencana
dirawat tanpa ambisi

aku ingin kau tahu
bahwa dalam setiap denyutku
ada nyanyian daun
ada air susu ibu
ada nyeri yang suci
ada hidup yang memilih untuk terus mengalir

jika kau mau mencium bumi perlahan
maka ciumlah juga bekas luka di tubuhku
sebab kami satu
kami saudara
kami rumah
Boyolali 26

DAGU

Ada yang duduk di atas tulang rahang tapi bukan wajahnya
Ia tidak pernah bernafas tapi selalu kehabisan udara
Ketika selatan diri retak bukan retaknya yang terdengar
Tapi napas nenek moyang yang tak sempat dilahirkan
Di situ dagu tak tumbuh
Ia menunggu perintah dari poros yang tidak punya pusat
Hanya gerak tanpa arah dan arah tanpa gerak

Waktu itu tubuh menyangka Ia rumah
Tapi kunci pintunya adalah suara yang tak bisa dieja
Mereka menyebutnya kebesaran
Padahal yang mereka lihat hanya bayang-bayang
Tidak ada pantulan
Hanya gema yang tidak tahu siapa yang bersuara
Dagu itu seandainya tumbuh hanya akan menjadi jembatan bagi perahu yang tak percaya pada air

Dan ketika sorot mata menatap ke dalam tengkorak
Ia tidak melihat otak
tapi sawah yang ditanam dengan ego orang lain
Maka tumbuhlah Ilalang yang bisu tapi tajam menyayat perasaan yang bukan miliknya
Menyakiti luka yang Tak pernah dialami
itulah sebabnya dagu itu memilih tidak tumbuh
sebab jika Ia tumbuh, Maka seluruh selatan akan bergeser
dan kita semua akan terbangun di utara yang tidak kita kenal
Boyolali 26

AKU ADA ATAU TIADA

Aku berjalan di antara batas-batas yang tak terlihat, sebuah garis halus yang membelah kenyataan dan ilusi. Langkahku ringan, tapi jejaknya tak pernah tertinggal. Seakan keberadaan ku hanyalah bayangan, diterpa angin lalu hilang tanpa pernah benar-benar ada.

Aku bertanya—pada langit yang tak menjawab, pada tanah yang tak bergeming, pada malam yang selalu diam. Mungkinkah aku hanyalah gema dari suara yang telah lama padam Ataukah aku adalah riak kecil di lautan, yang datang hanya untuk menghilang?

Dalam tidurku, aku melihat dunia yang tak dikenal, dimana waktu tidak berputar, dan nama-nama tidak pernah diberikan. Aku ada di sana, tapi aku bukan aku. Aku mendengar bisikan yang berasal dari kesunyian, suara-suara yang menuturkan kisah tanpa kata.

Seseorang menyentuh dadaku—dingin, tapi lembut seperti embun yang jatuh tanpa suara. Dia berkata, “Lupakan dunia yang kau genggam. Kau tak perlu dikenali untuk tetap ada. Kau tak perlu diingat untuk tetap berarti.”

Aku tersenyum, atau mungkin tidak.
Aku hidup, atau mungkin mati.
Aku tak tahu, dan aku pun tak peduli.

Karena aku adalah angin yang berbisik di antara celah pintu, aku adalah hujan yang jatuh tanpa pernah ditunggu, aku adalah kisah yang tak pernah ditulis, tapi tetap ada dalam benak mereka yang tak ingin melupakan.
Boyolali 26

MENCINTAIMU

Aku mencintaimu
Seperti doa manis yang khusyu kau mohonkan dalam sunyi
Ketika dia terpejam dalam lelap
Dan kau sedang melukis wajahnya dalam bingkai cemas

Aku mencintaimu
Tanpa pernah bercermin tentang rasa sayang yang telah kau habiskan hanya untuk satu nama
Sementara aku rinai gerimis yang tak pernah kau sentuh sedikitpun

Aku mencintaimu
Lewat kata tak pernah kuucap ataupun tertulis
Hanya sekedar keheningan caraku memanggil Tuhan
Untuk selalu menjagamu

Aku mencintaimu
Tanpa harus selalu menunggu hatimu terketuk
Cukup menikmati adamu dalam bumi yang sama tempat kita berpijak

Aku mencintaimu
Sampai nafas ini memutus rasa
Dan aku berpulang membawa secuil rasa yang selalu kujaga tanpa dusta

Nanti bila rasa ini jatuh pada hatimu
Itulah hidayah yang lambat kau pahami dari adaku

Boyolali 26

KLISE

Aku menulis pengakuan
Ketika matahari belum bangun
Dan daun-daun belum mandi
Sepucuk puisi yang kutulis seperti angin yang gemetar
Hingga cangkir menumpahkan ampas kopi di wajahku

Isinya hampir sama dengan semut yang berbisik di telingamu
Tentang selembar daun yang pernah jatuh
Ingin kembali bergandengan dengan ranting

Ditiap paragraf angka-angka adalah remah cahaya yang kupungut dari patahan wajah bulan
Bukan pantulan dari surealisme yang sedang berkaca
Atau dari ketukan hujan di atas balkon rumahmu
Bukan pula mata angin yang diam-diam mengintip dari jendela kamar mandimu

Bila kau membacanya hanya serupa buih sabun sisamu beronani
Biarkan aksaraku mencari klimaks nya sendiri

Boyolali 26

.

Penulis: Silvia Maharani Ikhsan
Editor: Adnyana Ole

Tags: Puisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Anak-anak Ceria dalam Buka Puasa Bersama IHKA BPD Bali dan Yayasan Fastabhikul Khoirut

Next Post

Manual Menghapus Manusia | Cerpen Aksara Caramellia

Silvia Maharani Ikhsan

Silvia Maharani Ikhsan

Lahir di Yogyakarta pada 4 September 1992. Penulis dan penyair yang menempatkan kata-kata sebagai cermin perasaan, sejarah, dan pengalaman hidup. Kini menetap di Karang gede, Boyolali, Jawa Tengah, Silvia aktif menulis puisi dan esai yang meresapi keseharian sekaligus menyentuh dimensi emosional pembacanya. Karya-karyanya mencakup antologi puisi dan kompilasi sastra, antara lain Kompilasi Jejak-jejak Sajak (2013) dan Kompilasi Pena Kartini (2013). Pada 2025, Silvia bersama Iwan Setiawan menerbitkan Kitab Puisi Melankolia, sebuah karya yang memadukan nuansa sufistik, melankolis, dan reflektif, menegaskan kepekaannya terhadap perasaan dan spiritualitas manusia

Related Posts

Puisi-puisi Syeftyan Afat | Mencatat Dingin, Mengeriap Hangat

by Syeftyan Afat
March 6, 2026
0
Puisi-puisi Syeftyan Afat | Mencatat Dingin, Mengeriap Hangat

Mencatat Dingin, Mengeriap Hangat : umbu landu paranggi tubuhku mencatat dingindengan huruf-huruf kaburdi halaman kulit tipis gembur. bubuhkan sepenggal kalimatsebagai...

Read moreDetails

Puisi-puisi Pitrus Puspito | Jarak Mencuri Kau Dariku

by Pitrus Puspito
March 1, 2026
0
Puisi-puisi Pitrus Puspito | Jarak Mencuri Kau Dariku

JARAK MENCURI KAU DARIKU Ketika cinta mulai terjelaskanjarak telah mencuri kau dariku. Sementara pagi tak menjanjikanbahwa kau akan datang,setiap detik...

Read moreDetails

Puisi-puisi Aura Syfa Muliasari  |  Mampir di Nakarempe

by Aura Syfa Muliasari
February 28, 2026
0
Puisi-puisi Aura Syfa Muliasari  |  Mampir di Nakarempe

MAMPIR DI NAKAREMPE angin berlalu liarmenelisik dan menjelma lalim yang jemawamembawa perkarabersoal tentang pendapa di ujung desa tapi atap ijuknya...

Read moreDetails

Puisi-puisi Vito Prasetyo | Hidup Bagai Galeri Ponsel

by Vito Prasetyo
February 27, 2026
0
Puisi-puisi Vito Prasetyo | Hidup Bagai Galeri Ponsel

Hidup Bagai Galeri Ponsel Tatapanmu seperti sinar yang tersasardi antara bantal-bantal bau peluhkita bicara soal hidup sambil mengunyah gorengantapi hening...

Read moreDetails

Puisi- Puisi Ida Ayu Made Dwi Antari | Resonansi Jiwa

by Ida Ayu Made Dwi Antari
February 22, 2026
0
Puisi- Puisi Ida Ayu Made Dwi Antari | Resonansi Jiwa

LENTERA DI AMBANG PINTU Penghujung tahun ini dinginTangis seperti membendung waktuMenyesakkan batin Ada seseorang pernah jadi muara harapKini pupusKecewa mendekapkuHarapan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Wayan Esa Bhaskara | Hikayat Begadang

by Wayan Esa Bhaskara
February 21, 2026
0
Puisi-puisi Wayan Esa Bhaskara | Hikayat Begadang

Hikayat Begadang satu peringatan, bayangkanada tangga menuju surga, dan aku siap-siap menaridi bawahnya, malam kliwon baru saja usai tak ada...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Chusmeru | Aku Tanpa-Mu

by Chusmeru
February 20, 2026
0
Puisi-Puisi Chusmeru | Aku Tanpa-Mu

Aku Tanpa-Mu Ramadan hari iniSama seperti saat lalu ya RabbMenghitung pinta yang tak habis di sela doaMenagih nyata yang tak...

Read moreDetails

Puisi-puisi I Wayan Kuntara | Aku Benci Politik

by I Wayan Kuntara
February 15, 2026
0
Puisi-puisi I Wayan Kuntara | Aku Benci Politik

Aku Benci Politik aku benci politikdatang dengan senyum licikmanis kata-kata penuh retoriknamun di baliknya tersimpan taktik aku benci politikJanji-janji menggema...

Read moreDetails

Puisi-puisi Made Bryan Mahararta | Hipokrit

by Made Bryan Mahararta
February 14, 2026
0
Puisi-puisi Made Bryan Mahararta | Hipokrit

Sepintas Kita pernah berjumpa meski sesaatdari pagi yang masih terasa beratsampai langit semakin gemerlapdan lampu jalan redup perlahan, padam Ku...

Read moreDetails

Puisi-puisi Maria Utami | Dongeng Robusta Nusantara

by Maria Utami
February 13, 2026
0
Puisi-puisi Maria Utami | Dongeng Robusta Nusantara

Pengakuan Si Pahit dari Sumatra Aku tidak punya waktu untuk urusan asmaradi ketinggian yang manja.Lahir dari tanah Lampung yang keras...

Read moreDetails
Next Post
Manual Menghapus Manusia | Cerpen Aksara Caramellia

Manual Menghapus Manusia | Cerpen Aksara Caramellia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sanggar Suara Mustika, Buleleng: Dari Gong Warisan Kakek Menuju Pesta Kesenian Bali

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Sugianto Membongkar Bali
Ulas Buku

Sugianto Membongkar Bali

Judul Buku    : Aib Penulis          : I Made Sugianto Penerbit        : Pustaka Ekspresi Cetakan         : Pertama, Januari 2026 Tebal              :...

by Wayan Esa Bhaskara
March 8, 2026
Dari Senja di Kawasan Catur Muka, 16 Ogoh-Ogoh Terbaik Denpasar Buka ‘Kasanga Festival 2026’
Panggung

Dari Senja di Kawasan Catur Muka, 16 Ogoh-Ogoh Terbaik Denpasar Buka ‘Kasanga Festival 2026’

KETIKA kulkul dipukul, Kasanga Festival 2026 pun resmi dibuka di jantung Kota Denpasar. Hari itu, Jumat, 6 Maret 2026, tepat...

by Dede Putra Wiguna
March 8, 2026
Manual Menghapus Manusia | Cerpen Aksara Caramellia
Cerpen

Manual Menghapus Manusia | Cerpen Aksara Caramellia

NAMAKU Galang. Usiaku tiga puluh lima tahun. Dulu, aku seorang aktivis. Sekarang, aku hanya mantan sesuatu yang tak sempat selesai....

by Aksara Caramellia
March 8, 2026
Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Zarifium, Mencintaimu, Klise
Puisi

Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Zarifium, Mencintaimu, Klise

ZARIFIUM Langit hari itu mengandung muatan emosiYang dikubur terlalu lama dalam pori-pori langitHingga berubah menjadi semacam zat yang tak bisa...

by Silvia Maharani Ikhsan
March 8, 2026
Anak-anak Ceria dalam Buka Puasa Bersama IHKA BPD Bali dan Yayasan Fastabhikul Khoirut
Budaya

Anak-anak Ceria dalam Buka Puasa Bersama IHKA BPD Bali dan Yayasan Fastabhikul Khoirut

Anak-anak itu datang dengan wajah ceria. Busananya sopan, terlihat nyaman dan segar. Jika diajak bicara mereka sangat ramah, dan cepat...

by Nyoman Budarsana
March 7, 2026
Kedaulatan di Pesisir TPA Suwung: Menolak ‘Kuda Troya’ Hukum Pusat
Opini

Kedaulatan di Pesisir TPA Suwung: Menolak ‘Kuda Troya’ Hukum Pusat

PERSOALAN TPA Suwung kini bukan lagi sekadar urusan tumpukan residu atau aroma tak sedap yang menusuk hidung. Ketika pemerintah pusat...

by I Gede Joni Suhartawan
March 7, 2026
Edit Foto dan Ubah Background Foto: Panduan Lengkap Membuat Gambar Lebih Profesional
Pop

Edit Foto dan Ubah Background Foto: Panduan Lengkap Membuat Gambar Lebih Profesional

PERKEMBANGAN teknologi digital membuat kebutuhan akan gambar berkualitas semakin meningkat, baik untuk media sosial, bisnis online, maupun kebutuhan pribadi. Banyak...

by tatkala
March 7, 2026
Gerabah dan Manusia yang Berubah
Ulas Rupa

Gerabah dan Manusia yang Berubah

Dalam pameran Bali Bhuwana Rupa oleh ISI Denpasar di ARMA Museum Ubud, yang bertajuk ' Adhi Jnana Astam (Mastery-Mind-Marvel), banyak...

by Mas Ruscitadewi
March 7, 2026
PENITI Generation  ‘Mebaleganjuran Ngarap’,  Dari Panggung Lomba ke Panggung Nyata di Tengah Masyarakat
Panggung

PENITI Generation  ‘Mebaleganjuran Ngarap’,  Dari Panggung Lomba ke Panggung Nyata di Tengah Masyarakat

BAGAIMANA jika sebuah panggung pentas untuk atraksi baleganjur ngarap terjadi langsung di tengah-tengah masyarakat, bukan di atas panggung dalam sebuah...

by Agus Suardiana Putra
March 7, 2026
Kompres Video dan Gabung Foto: Panduan Lengkap Membuat Konten Visual Lebih Menarik
Pop

Kompres Video dan Gabung Foto: Panduan Lengkap Membuat Konten Visual Lebih Menarik

PERKEMBANGAN teknologi digital membuat kebutuhan akan konten visual semakin meningkat. Banyak orang membuat video untuk media sosial, presentasi, promosi bisnis,...

by tatkala
March 7, 2026
Simakrama: Ruang Bersama yang Hilang
Esai

Simakrama: Ruang Bersama yang Hilang

SETIAP Sabtu pagi di akhir bulan, Wantilan DPRD Renon bukan sekadar bangunan terbuka dengan tiang-tiang kokoh dan lantai semen yang...

by Agung Sudarsa
March 7, 2026
Refleksi Pendidikan dalam Bioskop India Jalan-Jalan di Karangasem
Panggung

Refleksi Pendidikan dalam Bioskop India Jalan-Jalan di Karangasem

LAYAR putih besar sudah terpasang di panggung aula Yayasan Yasa Kerthi, Karangasem, Jumat (6/3) malam. Gedung seluas 500 m2 yang...

by Ni Kadek Grace Vernita
March 7, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co